IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Ketulusan yang Sulit Diakui
Meski tekad untuk berhenti mencoba telah ia ucapkan dengan penuh keyakinan malam itu, takdir rupanya memiliki rencana lain bagi Brooklyn. Seminggu setelah insiden kekerasan yang begitu menyakitkan itu, cuaca New York berubah drastis, hujan dingin turun tanpa henti selama beberapa hari, membawa angin musim semi yang tidak menentu dan menyebabkan banyak orang jatuh sakit—termasuk Liam.
Semuanya bermula ketika Liam pulang dari kantor dalam keadaan basah kuyup akibat hujan deras yang mengguyur kota tanpa peringatan, dan keesokan paginya, ia tidak bisa bangun dari ranjangnya sama sekali. Demam tinggi membakar tubuhnya, disertai batuk kering yang membuat dadanya terasa sesak setiap kali ia bernapas.
Brooklyn, yang mendengar suara batuk keras dari kamar Liam pagi itu, segera memeriksa keadaan suaminya meski hubungan mereka masih diliputi luka dari kekerasan yang baru saja terjadi seminggu sebelumnya. Ketika ia menyentuh dahi Liam dan merasakan panasnya yang luar biasa, naluri kepeduliannya sebagai manusia—terlepas dari segala luka yang telah ia terima—tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Kau demam tinggi," ucap Brooklyn, suaranya terdengar khawatir meski masih menjaga jarak emosional yang telah ia bangun sejak malam mengerikan itu. "Aku akan memanggil dokter."
"Tidak perlu," gumam Liam lemah, suaranya serak dan hampir tidak terdengar. "Aku hanya butuh istirahat."
Namun kondisi Liam terus memburuk sepanjang hari itu. Demamnya tidak kunjung turun meski telah diberikan obat penurun panas, dan batuknya semakin parah hingga membuatnya kesulitan bernapas dengan normal. Brooklyn, meski hatinya masih dipenuhi luka dari perlakuan Liam sebelumnya, tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut tanpa penanganan yang layak.
Ia memanggil dokter keluarga yang biasa menangani kesehatan keluarga Whitmore, dan setelah pemeriksaan singkat, dokter tersebut mendiagnosis Liam menderita bronkitis akut yang cukup serius, membutuhkan perawatan intensif di rumah selama setidaknya satu minggu ke depan.
...***...
Selama berhari-hari berikutnya, Brooklyn mengambil alih tugas merawat Liam dengan penuh dedikasi, meski tidak ada seorang pun yang memintanya untuk melakukan hal tersebut. Ia bisa saja meminta perawat profesional untuk menangani kondisi Liam, mengingat kemampuan finansial keluarga mereka yang lebih dari cukup untuk itu. Namun entah kenapa, sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk merawat Liam secara langsung, meski luka dari perlakuan pria itu masih begitu segar dalam ingatannya.
Setiap pagi, Brooklyn menyiapkan bubur ayam hangat dengan resep khusus yang dipercaya bisa membantu memulihkan tubuh yang lemah karena sakit, ditambah dengan ramuan jahe dan madu untuk meredakan batuk Liam yang terus mengganggu. Ia menyuapkan bubur itu perlahan ketika Liam terlalu lemas untuk makan sendiri, meski beberapa kali Liam menolak dengan gumaman lemah yang jauh berbeda dari bentakan-bentakan kasar yang biasa ia lontarkan ketika kondisinya sehat.
"Kau perlu makan sesuatu, Liam," ucap Brooklyn lembut suatu pagi, menyendokkan sedikit bubur hangat ke mulut Liam yang terbaring lemas di ranjangnya. "Tubuhmu butuh energi untuk melawan infeksi ini."
Liam, yang terlalu lelah untuk membantah atau menunjukkan amarahnya seperti biasa, hanya menerima suapan itu dalam diam, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan perlawanan apa pun.
Selain menyiapkan makanan, Brooklyn juga membantu Liam membersihkan tubuhnya yang berkeringat akibat demam tinggi yang terus naik turun sepanjang hari. Ia mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu dengan lembut menyeka wajah, leher, dan lengan Liam yang basah oleh keringat dingin.
"Kau tidak perlu melakukan ini," gumam Liam lemah suatu sore, ketika Brooklyn sedang menyeka dahinya yang masih panas oleh demam.
"Aku tahu," jawab Brooklyn tenang, tidak menghentikan gerakan tangannya. "Tapi seseorang harus melakukannya, dan aku di sini."
Kata-kata sederhana itu entah kenapa membuat Liam terdiam, matanya menatap Brooklyn yang sedang sibuk mengurusnya dengan penuh perhatian, tanpa sedikit pun tanda kebencian atau dendam yang seharusnya wajar ia tunjukkan mengingat perlakuan kasar yang telah Liam berikan selama ini.
...***...
Malam-malam berikutnya, ketika demam Liam kembali naik hingga membuatnya menggigil kedinginan meski tubuhnya terasa panas membara, Brooklyn duduk berjaga di sampingnya, mengompres dahinya dengan kain basah setiap beberapa jam, memastikan suhu tubuhnya tidak melonjak terlalu tinggi hingga membahayakan.
Suatu malam, ketika Liam terbangun di tengah malam akibat batuk yang tidak kunjung reda, ia mendapati Brooklyn masih duduk di kursi samping ranjangnya, matanya setengah terpejam menahan kantuk namun tetap berjaga meski sudah larut malam.
"Kau belum tidur?" tanya Liam lemah, suaranya masih serak akibat batuk yang terus mengganggu tenggorokannya.
"Aku ingin memastikan kau baik-baik saja," jawab Brooklyn, bangkit dari kursinya untuk mengambilkan segelas air hangat dan obat batuk yang perlu diminum Liam sesuai jadwal.
Liam menatap Brooklyn yang bergerak dengan gesit di sekitar kamarnya, tubuhnya yang lelah karena sakit membuat pikirannya jauh lebih jujur dibandingkan biasanya, tidak lagi tertutup oleh ego dan kesombongan yang biasa ia gunakan sebagai tameng. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan bagaimana Brooklyn merawatnya—bukan dengan keterpaksaan atau kewajiban semata, melainkan dengan ketulusan yang begitu jelas terlihat di setiap gerakannya.
Sesuatu dalam dirinya merasa terganggu oleh kesadaran itu. Bagaimana mungkin wanita yang baru saja ia tuduh sebagai pelacur, yang baru saja ia sakiti dengan begitu kejam, kini merawatnya dengan penuh dedikasi tanpa sedikit pun tanda dendam atau kebencian?
"Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya tiba-tiba, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, hampir seperti bisikan. "Setelah semua yang telah kulakukan padamu, kenapa kau masih repot-repot merawatku seperti ini?"
Brooklyn terdiam sejenak, menatap Liam yang berbaring lemah di ranjangnya, matanya yang biasanya dingin dan penuh amarah kini tampak begitu rapuh karena kondisi fisiknya yang lemah.
"Karena terlepas dari segala yang telah terjadi di antara kita," jawab Brooklyn akhirnya, suaranya tenang namun penuh ketulusan, "kau tetap manusia yang sedang sakit dan membutuhkan bantuan. Aku tidak bisa membiarkan seseorang menderita tanpa mencoba membantu, terlepas dari bagaimana perasaanku terhadap orang tersebut."
Jawaban itu membuat Liam terdiam untuk waktu yang cukup lama, pikirannya dipenuhi kebingungan yang sulit ia definisikan. Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas dengan sinisme seperti biasa, mengatakan bahwa semua ini hanyalah kepura-puraan lain dari Brooklyn. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ketulusan yang ia saksikan malam ini, dan berhari-hari sebelumnya, tidak mungkin dipalsukan sedemikian rupa.
Ia merasa kesal—bukan pada Brooklyn, melainkan pada dirinya sendiri karena mulai meragukan segala prasangka yang telah ia bangun terhadap wanita yang kini menjadi istrinya. Kesombongannya menolak untuk mengakui bahwa mungkin, selama ini, ia telah salah menilai Brooklyn sepenuhnya.
"Kau seharusnya membenciku," gumam Liam pelan, lebih kepada dirinya sendiri dibandingkan untuk didengar oleh Brooklyn. "Setelah semua yang telah kulakukan, kau seharusnya membenciku dan membiarkanku menderita sendirian."
Brooklyn, yang mendengar gumaman itu, hanya tersenyum tipis—senyum yang tidak lagi penuh harap seperti dulu, melainkan senyum seorang wanita yang telah belajar menerima kenyataan pahit dari pernikahannya sendiri. "Mungkin aku memang seharusnya membencimu, Liam. Tapi kebencian tidak akan mengubah apa pun. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang tega membiarkan seseorang menderita, apa pun yang telah terjadi di antara kita."
Liam tidak menjawab lagi malam itu, hanya menatap langit-langit kamar dalam diam, pikirannya dipenuhi pergolakan batin yang tidak pernah ia duga akan muncul. Ia mulai mempertanyakan segala prasangka dan kebenciannya terhadap Brooklyn, meski keangkuhannya masih terlalu besar untuk mengakui hal itu secara terbuka.
Ia membenci dirinya sendiri karena mulai merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Brooklyn—bukan lagi sekadar kebencian atau ketidakpedulian, melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit yang enggan ia definisikan.
Dan ketika akhirnya kantuk mulai menguasainya malam itu, pikiran terakhir yang melintas dalam benaknya sebelum tertidur adalah bayangan Brooklyn yang duduk setia di sampingnya, merawatnya dengan penuh ketulusan yang tidak pernah ia pahami sebelumnya—ketulusan yang, tanpa ia sadari, mulai perlahan meretakkan tembok kebencian dan penolakan yang telah ia bangun begitu tinggi selama ini.