NovelToon NovelToon
Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Klarina_za29

Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan dari Kursi Singgasana

Aurelia yang sedang memoles kuku jarinya dengan ekstrak bunga mawar menggelengkan kepalanya pelan.

"Mereka bukan mengantre karena menyukaiku, Marta," desis Aurelia dingin sembari menatap tumpukan surat itu. "Para bangsawan itu bagaikan burung pemakan bangkai. Mereka hanya mendekati siapa pun yang memegang porsi kekuatan terbesar di istana ini. Hari ini mereka tersenyum padaku, besok mereka bisa menusukku jika aku menunjukkan kelemahan."

"Lalu... apa yang harus kita lakukan dengan undangan-undangan ini, Nona Muda?"

"Tolak seluruh undangan minum teh pribadi," tegas Aurelia. "Biarkan mereka tetap merasa penasaran dan segan. Semakin sulit aku digapai, semakin tinggi nilai pengaruh yang kumiliki di mata mereka."

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu terdengar. Seorang kasim senior dari Istana Utama melangkah masuk membawa nampan berlapis sutra biru.

"Salam untuk Lady Aurelia," sapa kasim itu sopan. "Hamba membawakan dokumen pengalihan aset Pavilion Selatan. Mulai hari ini, seluruh kendali atas anggaran harian, pelayan, dan fasilitas wilayah selatan resmi dipindahkan di bawah wewenang Anda."

Aurelia menerima dokumen berstempel lilin merah itu. Dengan pengalihan ini, Aurelia kini menguasai dua dari empat pavilion utama di Istana Interior. Kekuatan wilayahnya kini berdiri sejajar dengan Faksi Vance milik Genevieve.

"Sampaikan terima kasihku kepada Yang Mulia Raja," sahut Aurelia halus.

Ketika kasim itu pergi, Aurelia berjalan menuju jendela kamar kerjanya, menatap keluar ke arah Pavilion Barat yang tampak hening dari kejauhan.

Ia tahu betul bahwa Genevieve saat ini sedang menyusun taktik baru di balik kelambu mewahnya. Kejatuhan Evelyn hanyalah pembersihan terhadap bidak-bidak kecil. Pertempuran sejati antara dirinya dan sang Bayangan Ratu akan meletus sepenuhnya pada malam Perayaan Musim Panas minggu depan.

"Bisikan para bangsawan ini baru permulaan, Genevieve," bisik Aurelia sembari mengusap stempel kerajaan di tangannya. "Sebab sebentar lagi, nama Montclair tidak hanya akan dibisikkan di koridor... tetapi akan diumumkan sebagai penguasa baru di atas tahta ini."

Matahari siang berada di puncak tertinggi, membiaskan sinar terik yang menyiram pelataran arena latihan prajurit di Istana Utama. Suara dentang pedang baja yang saling menghantam bergema nyaring di udara, bersahut-sahutan dengan teriakan para prajurit elite berseragam zirah perak.

Raja Julian berdiri di atas balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arena latihan. Pria tegap itu telah menanggalkan mantel jubah kerajaannya, kini hanya mengenakan kemeja linen putih dengan lengan yang tergulung hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar dan terlatih. Tangannya menumpu pada pagar batu pualam, matanya yang kelam menatap lurus ke bawah.

Namun, fokus sang Raja saat ini bukanlah pada pertarungan pedang para prajuritnya.

Pandangan mata Julian tertuju sepenuhnya pada sosok wanita yang sedang melintasi koridor berlapis pilar di seberang arena latihan.

Aurelia melangkah anggun di bawah naungan atap koridor, dikawal oleh dua prajurit pilihan yang ditempatkan Julian. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna zamrud gelap yang mempertegas lekuk tubuhnya yang indah dan warna kulitnya yang putih pualam. Rambut cokelat kemerahannya ditata rapi dengan hiasan pin mutiara sederhana namun sangat elegan.

Setiap gerak-gerik Aurelia—mulai dari cara melangkahkan kaki yang teratur, cara memegang kipas di tangannya, hingga tatapan matanya yang dingin dan lurus ke depan—memancarkan sebuah wibawa yang sangat alami. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis manja yang dulu selalu mencari perhatiannya dengan cara-cara konyol.

Julian menyempitkan matanya. Dadanya bergetar pelan oleh sebuah rasa penasaran yang kian hari kian menggerogoti pikirannya.

Sejak insiden pengasingan Selir Evelyn dua hari lalu, Julian mendapati dirinya semakin sering memikirkan selir barunya itu. Aurelia tidak hanya berhasil membalikkan jebakan asam Vitriol secara sempurna di hadapan ratusan bangsawan, melainkan juga memanfaatkan momen tersebut untuk memaksa Genevieve mengorbankan sekutunya sendiri di depan umum.

Bagaimana bisa seorang gadis belasan tahun memiliki insting politik yang begitu kejam dan presisi? batin Julian sembari meraba gagang pedangnya.

Tiba-tiba, seolah merasakan tatapan intens yang menghantam dirinya, Aurelia menghentikan langkahnya di tengah koridor.

Wanita itu memutar tubuhnya perlahan, lalu mengangkat kepalanya menatap lurus ke arah balkon lantai dua—tempat Julian berdiri.

Di tengah teriknya sinar matahari dan jarak puluhan meter yang memisahkan mereka, pandangan mata cokelat tajam milik Aurelia beradu lurus dengan mata kelam sang Raja.

Aurelia tidak buru-buru menunduk panik atau melempar senyuman manja seperti selir-selir lainnya jika tertangkap basah ditatap oleh Raja. Sebaliknya, Aurelia justru menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang begitu tenang, misterius, dan sarat akan tantangan terselubung. Ia memberikan penghormatan formal yang sangat anggun, lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa menghentikan ketukan tumit sepatunya.

Julian membeku di tempatnya. Senyuman tipis dan tatapan mata Aurelia tadi terasa bagaikan sebuah ketukan halus yang meruntuhkan pertahanan emosinya.

"Yang Mulia?" panggil Komandan Pengawal Utama yang berdiri di sampingnya, menyadari perubahan raut wajah sang Raja. "Apakah ada instruksi khusus mengenai pergerakan Lady Aurelia di Pavilion Selatan?"

Julian tidak langsung menjawab. Matanya tetap mengekor pada bayangan gaun zamrud Aurelia hingga wanita itu menghilang di belokan koridor.

"Komandan," suara Julian terdengar berat dan dalam. "Apakah laporan mengenai persiapan Perayaan Musim Panas dari Lady Genevieve sudah lengkap?"

"Sudah, Yang Mulia. Selir Keagungan telah menyerahkan susunan acara dan daftar tamu utama tadi pagi."

"Ubah susunan tempat duduk di meja utama," tegas Julian tanpa memalingkan wajahnya.

Komandan itu terkejut. "Maksud Anda, Yang Mulia?"

"Tempatkan Lady Aurelia dari Montclair tepat di sebelah kananku pada saat perjamuan malam puncak," perintah Julian dengan nada mutlak yang tak boleh dibantah.

"T-tapi Yang Mulia!" potong Komandan itu cemas. "Menurut tradisi kerajaan, kursi di sebelah kanan Raja hanya diperuntukkan bagi Selir Keagungan, Lady Genevieve! Jika tempat duduk itu diberikan pada Lady Aurelia, Faksi Vance akan menganggapnya sebagai sebuah penghinaan politik yang sangat besar!"

Julian memutar tubuhnya, menatap sang Komandan dengan sepasang mata kelam yang menyala penuh dominasi.

"Biarkan mereka menganggapnya sebagai penghinaan," desis Julian dingin. "Aku ingin melihat bagaimana reaksi Faksi Vance ketika tempat keagungan mereka digeser... dan aku ingin memastikan bahwa wanita dari Montclair itu berada cukup dekat di sisiku saat badai politik meletus di pesta nanti."

Sang Komandan membungkuk dalam-dalam, tak berani membantah lebih jauh. "Hamba melaksanakan titah Anda, Yang Mulia!"

Julian menyandarkan punggungnya pada dinding pualam balkon, menatap langit siang yang mulai berawan. Tatapan dari kursi singgasana kini telah sepenuhnya terkunci pada sosok Aurelia.

Sang Raja yang selama ini dianggap tak tersentuh oleh cinta atau emosi, kini telah secara sukarela melangkahkan kakinya masuk ke dalam jaringan perangkap berdarah yang dirancang oleh selirnya sendiri.

~ To Be Continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!