Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Hampir Saja
Saka baru saja selesai membaca rentetan pesan dari sekretarisnya yang mengabarkan keadaan Daniswara Group. Sambil memijat pelipis yang terasa pening, ia mempertimbangkan untuk kembali ke Jakarta dan menghentikan pencariannya di Yogyakarta. Dua minggu bergerak ke sana kemari tanpa hasil telah menguras hampir seluruh tenaganya.
Namun, sebelum memutuskan apa pun, pandangannya tertuju pada sosok perempuan yang baru saja turun dari sebuah mobil bersama dua perempuan lainnya. Mereka berjalan menuju lobi utama gedung medis Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Perempuan itu mengenakan hijab pastel dan gamis bermotif bunga-bunga.
Saka seketika menegakkan tubuh.
Dari tempatnya duduk di sudut kafe, ia memperhatikan setiap gerakan perempuan tersebut. Meski wajahnya tertutup masker medis, ada sesuatu yang terasa begitu familier. Cara berjalan, cara memegang tali tas, hingga gerakan tangannya saat membenarkan letak hijab, semuanya mengingatkan Saka pada Arunika.
Bahkan motif bunga pada gamisnya merupakan salah satu motif yang sejak dulu disukai mantan istrinya.
Jantung Saka berdegup kencang. Harapan yang hampir padam kembali menyala, mengalahkan rasa lelah yang sejak tadi membebani tubuhnya.
Ia segera berdiri, meninggalkan Bram yang masih berada di meja pemesanan.
"Arunika!"
Teriakan parau itu menggema di lobi rumah sakit, mengundang perhatian beberapa orang yang berada di sekitarnya.
Langkah Arunika mendadak terhenti.
Tubuhnya menegang. Suara yang selama ini ingin ia tinggalkan kembali terdengar begitu dekat, membangkitkan kenangan yang tidak ingin diingatnya. Untuk sesaat, ia seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak. Napasnya terasa sesak, sementara jemarinya mencengkeram tali tas dengan kuat.
Anggita yang berdiri di sampingnya segera menyadari perubahan itu.
“Mbak Nika, terus berjalan,” bisiknya tegas di balik masker. “Jangan menoleh ke belakang.”
Sejak Anggita berpapasan dengan Saka di Kaliurang beberapa hari sebelumnya, mereka sepakat untuk selalu mengenakan masker ketika harus keluar rumah. Mereka tidak ingin keberadaan Arunika diketahui, terlebih karena perempuan itu sedang mengandung dan membutuhkan ketenangan.
Dengan memantapkan hati, Arunika mengikuti tarikan tangan Anggita. Ibu Sandra berjalan di sisi mereka, wajahnya yang tertutup cadar hitam tampak waspada.
Di sudut lain lobi, Mahendra baru saja selesai menjenguk rekan sekretariat dekanat UGM yang melahirkan. Ia sedang berjalan bersama seorang rekan dosen menuju pintu keluar ketika teriakan Saka membuatnya berhenti.
Nama Arunika terdengar jelas.
Mahendra menoleh cepat. Tatapannya langsung menemukan Saka yang tengah bersiap mengejar tiga perempuan bermasker dan bercadar tersebut. Ia kemudian menyapu pandangan ke seluruh lobi, berusaha memastikan arah yang dituju Arunika.
Mahendra tidak perlu berpikir lama untuk memahami situasinya.
Saka telah menemukan mereka.
Saat Saka baru melangkah beberapa jengkal, ponsel di saku jasnya bergetar. Nama Pak Baskoro terpampang di layar.
Saka mengumpat pelan. Ia ingin segera mengejar perempuan yang diyakininya sebagai Arunika, tetapi panggilan dari pengacara senior keluarga Daniswara itu tidak mungkin diabaikan begitu saja.
Dengan wajah kesal, ia menerima panggilan tersebut.
“Tuan Saka, hentikan pencarian Anda di Yogyakarta dan segera kembali ke Jakarta!” Suara Pak Baskoro terdengar dingin. “Ketidakhadiran Anda selama dua minggu tanpa kabar telah membuat Daniswara Group kembali goyah. Kontrak proyek strategis dan persetujuan likuiditas bank tertunda karena membutuhkan keputusan serta tanda tangan Anda.”
Saka mengepalkan tangan.
“Hari ini, dewan komisaris dan Tuan Agung Daniswara menuntut Anda kembali ke Jakarta malam ini juga. Anda harus mempertanggungjawabkan kelalaian tersebut.”
“Sampaikan kepada Kakek bahwa saya membutuhkan sedikit waktu lagi,” jawab Saka ketus. “Saya baru saja menemukan Arunika.”
Tanpa menunggu tanggapan, ia memutuskan panggilan.
Saka begitu yakin bahwa perempuan yang dilihatnya adalah mantan istrinya hingga tidak memikirkan konsekuensi tindakannya. Baginya, hukuman apa pun dari perusahaan bisa dihadapi kemudian. Yang terpenting sekarang adalah memastikan Arunika tidak kembali menghilang.
Ia bahkan seolah melupakan kenyataan bahwa mereka telah resmi bercerai dan Valerie adalah istrinya saat ini. Selama dua minggu, Valerie menunggunya di Jakarta tanpa mengetahui kapan suaminya akan kembali.
Sementara itu, jeda singkat akibat panggilan tersebut memberikan kesempatan berharga bagi Mahendra.
Ia berpamitan kepada rekan dosennya, lalu bergerak cepat mengikuti arah yang diambil Arunika, Anggita, dan Ibu Sandra. Masker hitam yang dikenakannya menutupi sebagian wajahnya ketika ia memasuki lift lain menuju lantai dua.
Di lantai tersebut terdapat area poliklinik kandungan.
Mahendra tidak mengetahui secara pasti tujuan kedatangan Arunika. Namun, ia tidak berniat membiarkan perempuan itu menghadapi Saka sendirian.
Begitu panggilan terputus, Saka menyimpan ponselnya dengan gerakan kasar. Napasnya memburu ketika ia berlari menuju lift, tidak lagi memedulikan orang-orang yang menoleh karena tingkahnya.
Ia menyusuri lorong lantai dua hingga pandangannya tertuju pada deretan kursi tunggu di depan ruang praktik dokter spesialis kandungan.
Di sana, seorang perempuan berhijab pastel sedang duduk bersama dua perempuan lain.
Saka mengenali gamis bermotif bunga itu.
“Arunika!”
Ia melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka. Ketika jarak tinggal sekitar dua meter, Saka bersiap mendekat untuk memastikan identitas perempuan yang wajahnya masih tertutup masker tersebut.
Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri di hadapannya.
Pria itu menghalangi jalan Saka dengan sikap tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dilewati.
Saka terpaksa berhenti.
Rahangnya mengeras ketika menatap pria bermasker hitam dan berkacamata itu. Karena pikirannya dipenuhi Arunika, ia tidak mengenali sosok yang berdiri di hadapannya. Masker, pencahayaan koridor, dan situasi yang terburu-buru membuat wajah pria tersebut tampak asing baginya.
“Jaga sopan santun Anda di fasilitas medis ini, Tuan,” ujar pria itu dengan suara datar. “Anda sudah mengganggu ketenangan istri orang lain.”
Saka terbelalak.
“Istri?” Ia menatap pria tersebut dengan tidak percaya. “Jangan membual! Saya tahu siapa perempuan di belakang Anda. Dia Arunika, mantan istri saya yang kabur!”
“Dia istri saya,” potong Mahendra tenang.
Pernyataan itu membuat Saka terdiam sesaat.
Mahendra sendiri belum mengetahui alasan pasti Arunika datang ke poliklinik tersebut. Namun, ketika melihat perut perempuan itu yang tampak membesar di balik pakaiannya, ia menduga Arunika sedang mengandung.
Ia tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Saka berada terlalu dekat, dan Arunika terlihat tegang di kursinya.
Karena itu, Mahendra memutuskan menggunakan kebohongan untuk menghentikan Saka.
“Kami datang untuk memeriksakan kandungan anak kami,” lanjutnya, tanpa menunjukkan keraguan.
Mahendra menoleh sedikit ke arah Ibu Sandra dan Anggita yang duduk tegang di belakangnya.
“Ini ibu mertua saya dan saudara perempuan istri saya. Mereka mendampingi kami sejak tadi.” Tatapannya kembali mengarah kepada Saka. “Sekarang, silakan tinggalkan tempat ini. Jika Anda terus mengganggu, saya akan meminta petugas keamanan untuk menangani masalah ini.”
Saka membeku.
Ia menatap pria asing itu, lalu mengalihkan pandangan kepada dua perempuan yang duduk di belakangnya. Wajah mereka tertutup masker dan cadar sehingga ia tidak dapat mengenali siapa pun. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa salah satunya adalah Anggita, gadis yang telah menyesatkannya ke Gunungkidul beberapa hari lalu.
Pandangannya kemudian kembali tertuju pada perempuan berhijab pastel.
Dari balik bahu Mahendra, ia bisa melihat bentuk tubuh perempuan itu dengan lebih jelas. Perutnya tampak membuncit, jauh berbeda dari ingatan Saka tentang Arunika sebelum mereka berpisah.
Pemandangan itu membuat pikirannya kacau.
Arunika hamil?
Saka segera menolak kemungkinan tersebut. Ia mengingat dengan jelas malam ketika dirinya kehilangan kendali dan memaksa Arunika. Keesokan paginya, sebelum berangkat ke kantor, ia memastikan telah memberikan obat pencegah kehamilan berdosis tinggi yang biasa dikonsumsi Valerie setelah mereka berhubungan. Obat itu dicampurkannya ke dalam minuman Arunika karena ia tidak ingin mantan istrinya mengandung anaknya.
Dalam keyakinannya sendiri, tindakan tersebut sudah cukup untuk mencegah kehamilan. Ia hanya menginginkan anak dari Valerie setelah pernikahan mereka.
Kini, melihat perut perempuan di hadapannya dan mendengar pengakuan pria yang berdiri melindunginya, Saka mulai meragukan penglihatannya sendiri.
Bagaimana jika ia memang salah orang?
Setelah dua minggu mencari tanpa hasil, kelelahan telah mengaburkan penilaiannya. Ia tidak memiliki bukti bahwa perempuan itu benar-benar Arunika selain kemiripan penampilan dan kebiasaannya.
Saka menarik napas panjang. Amarah yang sejak tadi membara perlahan mereda, digantikan rasa malu dan keputusasaan.
“Maaf,” ucapnya lirih. “Saya salah orang.”
Ia tidak lagi berusaha mendekati perempuan itu. Dengan bahu merosot dan pandangan kosong, Saka berbalik meninggalkan lorong poliklinik.
Langkahnya terasa berat ketika ia menjauh, tanpa menyadari betapa dekat dirinya tadi dengan kebenaran yang selama ini dicarinya.
Di belakang Mahendra, Arunika masih duduk diam. Jemarinya perlahan mengendur dari tali tas yang sejak tadi dicengkeramnya. Anggita mengusap lengannya pelan, sedangkan Ibu Sandra tetap mengawasi sampai Saka benar-benar menghilang dari pandangan.
Mahendra baru berani mengembuskan napas setelah memastikan pria itu pergi. Ia belum tahu bagaimana Arunika akan menjelaskan semua ini, tetapi setidaknya untuk saat itu, Saka tidak lagi berada di hadapannya.
Ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun di lorong tersebut.
Obat pencegah kehamilan yang diberikan Saka kepada Arunika pada pagi setelah malam kelam itu tidak sempat bertahan di dalam tubuhnya. Arunika muntah tidak lama setelah meminumnya.
Saka tidak pernah mengetahui hal tersebut.
Dan ketidaktahuannya itulah yang membuatnya pergi dengan keyakinan keliru bahwa perempuan yang baru saja ditemuinya bukanlah Arunika.
tp aku jd pnsran,dia udh nglkuin apa aja y buat bls dndm sm suami dn slngkuhannya????🤔🤔🤔
nikah masal aja biar rame..😂😂😂😂
udah keliatan buncit..
masih sanggup bayar orang²mu..🤭🤭🤭
istrinya mau nrima msa lalu suaminya,atw lbh mmilih brpsah...
scra pngkhianatan smp mnghsilkn ank,sngt mnjjikan.....🤮🤮🤮
jgn kulkas sm dinda,tar bnrn jtuh cnta trs bucin parah.....
tntang mreka dr msa lalu,biarlh mreka nrima akibtnya..
rumitnya hdp saka....pdhl orng2 udh tau rhsia hdpnya,cma dia doang yg ga tau....mspn akhrnya tau jg sih msti trlmbat....