Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balapan....
Sore hari di distrik Roppongi, kilau lampu neon dan deretan gedung eksklusif mulai menyala terang, menandai kebangkitan kehidupan malam kelas atas Tokyo. Di selasar parkir khusus VVIP The Obsidian Lounge—sebuah high-end private club paling tertutup di Jepang yang hanya melayani jajaran miliarder dan pewaris tahta konglomerat—dua supercar meluncur membelah lengang.
Di depan, Ferrari F8 Spider warna putih mutiara milik Yoona mendarat mulus. Tepat di belakangnya, suara raungan mesin berbekal daya pacu tinggi menyusul: sebuah Porsche 911 GT3 RS warna abu-alun kustom yang dikemudikan oleh Lisa.
Cr. Pinterest
Selama ini di kampus, Lisa kerap terlihat sebagai sahabat Yoona yang heboh dan seru. Namun, begitu melangkah keluar dari Porsche GT3 RS miliknya, aura asli seorang heiress konglomerat media dan otomotif terbesar di Asia Pasifik terhampar tanpa celah.
Lisa tampil dengan gaya edgy-streetwear super mahal.
Lisa mengenakan white cropped tee ketat yang mengekspos perut ratanya yang kencang dan pinggang rampingnya. Atasan itu dipadu dengan celana Chrome Hearts Denim washing jeans warna biru gelap bertabur bordir salib khas yang nilainya setara harga satu unit mobil keluarga. Di kepalanya, melingkar topi baseball Celine warna putih bersih, dengan masker medis putih yang menutupi separuh wajah cantiknya. Alas kakinya dibalut sneakers Louis Vuitton merah-putih yang trendi.
REFERENSI OUTFIT by LISA BLACKPINK
Namun, yang paling bikin merinding adalah tas yang melingkar di jemari lentiknya: sebuah Hermès Birkin Faubourg 'House Birkin' warna putih-krem edisi sangat langka, tas kolektor seharga miliaran rupiah yang bahkan tidak bisa dibeli dengan sekadar uang tunai tanpa akses jalur privat.
"Siap membantai suasana sore ini, Babe?" tanya Lisa sambil membetulkan topi Celine-nya, menyunggingkan seringai seksi dari balik maskernya.
Yoona yang melangkah di sampingnya—sore ini setelah dari kampus Yoona hangout berdua dengan Lisa.
Penampilan Yoona hari ini memancarkan nuansa all-white luxury monochrome yang amat sangat bersih, elegan, dan mahal.
Yoona mengenakan setelan kasmir putih dari brand high-end BARRIE. Atasannya berupa Cropped Cashmere Jacket warna putih bersih beraksen garis jahitan kontras warna hitam pekat serta dua saku dada yang membalut crop top di dalamnya. Bawahannya dipadukan dengan celana pendek kasmir senada, BARRIE Cashmere Shorts warna putih dengan detail jahit garis hitam dan aksen distressed tipis di lipatan bawah yang memamerkan kaki jenjang mulusnya.
Tampilannya yang serba putih semakin berkilau dengan deretan aksesori mewah. Kalung mutiara panjang CHANEL Long Pearl Necklace melingkar indah di dadanya dengan liontin logo double C yang ikonik. Di jemari lentiknya, melingkar dua buah cincin emas Chanel Coco Crush Ring yang memantulkan pendaran kemewahan klan Uchiha.
REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK
The Obsidian Lounge hanya memiliki sepuluh meja VVIP, dan malam itu aura ketegangan mendadak mencuat di area lounge sofa kulit putih.
Di salah satu meja sudut terbaik, lima cewek influencer dan anak pengusaha lokal sedang duduk berkumpul. Mereka sibuk memamerkan tas-tas merek desainer biasa dan bersua foto dengan botol sampanye kelas menengah. Pemimpin geng tersebut, seorang cewek bernama Clara yang merasa paling berkuasa di lingkungan sosialnya, sedang menatap pintu masuk dengan pandangan angkuh.
Saat Lisa dan Yoona melangkah masuk, keheningan melanda area lounge. Ketukan sepatu LV merah-putih milik Lisa dan langkah anggun Yoona seketika menyedot seluruh perhatian bartender hingga para pengawal privat di ruangan tersebut.
Clara yang merasa panggungnya tersaingi langsung menyilangkan kaki, melirik penampilan Lisa dan Yoona dengan pandangan mencibir.
"Duh, jaman sekarang private lounge kelas atas kok bisa kemasukan cewek-cewek bergaya streetstyle begini sih?" celetuk Clara dengan suara yang disengaja kencang, memutar-mutar gelas kristalnya. "Palingan juga cuma cewek modelan pamer baju seksi yang nyewa meja reguler."
Teman-teman Clara tertawa meremehkan, ikut melirik sinis ke arah celana jins Chrome Hearts Lisa dan atasan transparan Yoona.
Lisa menghentikan langkahnya. Di balik topeng masker putihnya, mata Lisa menyipit jenaka. Dia tidak emosi, melainkan melangkah santai menghampiri meja Clara, lalu meletakkan tas Hermès Birkin Faubourg 'House Birkin' miliknya tepat di atas meja kaca di hadapan cewek-cewek itu.
BRAK.
"Bisa ulangi kata-katamu tadi, Mbak?" tanya Lisa dengan nada suara yang sangat santai tapi dipenuhi intimidasi tingkat tinggi.
Clara melotot, matanya tertambat pada bentuk tas mungil bermotif jendela rumah di meja. Sebagai cewek yang hobi panjat sosial, Clara tahu betul tas apa yang ada di depannya. Itu adalah Hermès Snow Faubourg—tas impian seluruh selebritas dunia yang jumlahnya di bumi ini bisa dihitung dengan jari!
"I-Ini... Birkin Faubourg?!" gumam teman Clara di sampingnya dengan suara gemetar, mukanya mendadak pucat pasi.
"Oh, tahu juga ternyata?" kekeh Lisa pelan, menurunkan sedikit maskernya untuk memperlihatkan senyuman savage-nya. "Gue pikir otak kalian cuma sekelas tas grosiran. Dengar ya, cewek-cewek berisik... tempat yang lagi kalian tempati sekarang ini dibangun oleh perusahaan keluarga gue. Dan seluruh botol minuman yang kalian minum di sini? Bahkan tidak cukup untuk membayar satu kancing celana Chrome Hearts gue."
Yoona melangkah mendekat di samping Lisa, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil menyilangkan tangan di dada. Atasan transparan Margiela-nya memantulkan pendar lampu kristal lounge, memamerkan aura seksi yang amat sangat berkelas.
"Lisa," panggil Yoona pendek dengan suara es Antartika-nya. "Kenapa menyiakan waktumu berbicara dengan orang-orang yang isi tabungannya bahkan tidak bisa menyewa garasi rumahmu?"
"Kamu benar, Na," sahut Lisa tertawa meremehkan. Lisa memanggil manajer utama lounge dengan lambaian jari.
Manajer The Obsidian Lounge langsung berlari menggegas, membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Lisa dengan wajah tegang. "A-Ada yang bisa saya bantu, Nona Muda Lisa?"
"Kosongkan meja ini," perintah Lisa dingin tanpa lirikan. "Gue tidak suka bau parfum murah mengotori area VIP gue. Blacklist nama mereka dari seluruh jaringan klub di Tokyo."
"Baik, Nona Lisa! Segera kami laksanakan!"
Clara dan gengnya berdiri mematung di tempat dengan muka merah padam bercampur malu yang luar biasa. Para pengawal bertubuh tinggi besar langsung mengawal Clara dan teman-temannya keluar dari lounge diiringi tatapan tertawa dari pengunjung kelas atas lainnya. Skakmat total tanpa perlawanan.
Di sudut kegelapan bar yang temaram, Hatake Kakashi berdiri bersandar di pilar kayu. Pria berusia 30 tahun itu memegang segelas air es, matanya yang tajam di balik kacamata hitam mengawasi Yoona dan Lisa. Senyum tipis terukir di balik maskernya. Pria itu tahu betul bahwa selama Yoona bersama Lisa, tidak akan ada satu pun manusia di publik yang sanggup menyentuh kedua ratu tersebut.
Malam makin larut ketika Yoona dan Kakashi akhirnya kembali ke kediaman utama klan Uchiha.
Namun, alih-alih sepi, area pelataran dalam kediaman Uchiha tampak diterangi oleh lampu-lampu sorot halogen raksasa. Di kompleks belakang kediaman Uchiha yang tersembunyi di balik benteng hutan bambu, terhampar sebuah fasilitas rahasia yang hanya diketahui oleh lingkaran dalam klan: Sirkuit Sirkuit Balap Privat Uchiha (Uchiha Underground Track).
Sirkuit itu dibangun dengan standar internasional F1, memiliki belasan tikungan tajam, trek lurus sepanjang dua kilometer, serta sensor waktu digital canggih.
Di pinggir lintasan pit-stop, Sasuke sedang berdiri di samping sebuah mobil balap raksasa tanpa spakbor: Satu unit mobil F1 kustom berspesifikasi lintasan balap (Track-Spec Hyper-Monocoque) warna hitam dop bertuliskan lambang kipas Uchiha. Sasuke sudah mengenakan baju balap (racing suit) bagian bawah yang diturunkan di pinggang, memamerkan kaus lekton hitamnya.
"Yo, Nana!" seru Sasuke begitu melihat Yoona melangkah mendekat bersama Kakashi. Sasuke memutar helm balap di jarinya dengan cengiran sengak. "Gimana? Berani terima tantangan gua malam ini? Udah lama kita nggak adu kecepatan di lintasan!"
Yoona menghentikan langkahnya. Di balik topeng dinginnya, ada kilatan antusiasme liar yang membara di mata Yoona. Selain menjadi mahasiswi dan putri Yakuza, hanya sedikit orang yang tahu bahwa Yoona dan Sasuke adalah pembalap lintasan kelas atas yang memiliki insting mengemudi gila di atas rata-rata.
"Mobilku sudah disiapkan?" tanya Yoona pada Kakashi.
"Sudah, Nuna. Semuanya dalam kondisi sempurna," sahut Kakashi lembut.
Kakashi membukakan pintu garasi pit-lane. Di dalam garasi berlampu terang itu, terparkir mobil F1 kustom milik Yoona: Satu unit mobil balap F1 berbodi serat karbon ringan (Carbon-Fiber Formula Machine) berwarna putih perak berkilau dengan garis warna crimson.
Yoona menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat badass. Dia melepas tas Chanel dan kemeja mesh-nya, menggantinya dengan racing suit hitam-merah yang membungkus lekuk tubuh rampingnya dengan sangat pas. Rambut panjangnya diikat tinggi, dan helm balap custom dipasang di kepalanya.
"Jangan menangis kalau kau kalah lagi seperti tahun lalu, Sasuke," celetuk Yoona dingin lewat radio helm.
"BHA! Lihat saja nanti siapa yang bakal cium debu di tikungan kelima!" balas Sasuke sesumbar sambil melompat masuk ke dalam kokpit mobil F1 hitamnya.
BRUMMMMM! BRRRRUUUMMMMM!
Dua mesin V10 raungan tinggi mobil F1 raksasa itu meraung bersamaan, menggetarkan permukaan jalanan aspal dan membubarkan sunyinya malam Tokyo! Suara raungan mesin melengking itu menggema dahsyat ke udara.
Di atas menara kontrol sirkuit yang gelap dan temaram, jendela kaca tebal berdiri memandang ke lintasan.
Di balik kaca itu, berdiri sosok sang Patriark. Pemimpin tertinggi Yakuza Uchiha itu berdiri bersedekap, mengenakan kimono hitam mewahnya. Di sampingnya, Itachi berdiri tegap mengenakan jas resminya, sementara Shisui duduk di kursi lipat sambil memangku seekor kucing.
Ketiganya menyaksikan secara diam-diam tradisi balap gila antara Sasuke dan Yoona.
"Sasuke terlalu percaya diri di trek lurus," gumam Itachi pendek dengan suara es Arktik-nya. "Yoona jauh lebih agresif di titik pengereman (late-braking)."
"Biarkan saja mereka melepas stres," sahut Shisui tertawa pelan. "Yoona jarang terlihat se-bersemangat ini kalau tidak sedang balapan atau bermain dengan kucing."
Sang Patriark tidak bersuara. Matanya yang pekat menatap dua titik mobil yang bersiap di garis start. Namun, pandangan batin sang Patriark tidak tertuju pada mobil balap, melainkan pada sosok Kakashi yang berdiri tegap di tepi lintasan pit-lane dengan bendera start di tangannya.
Di mata sang Patriark, pendaran Benang Merah Takdir antara Kakashi dan Yoona berkilau merah pekat di tengah kegelapan malam, bergetar menyelaraskan detak jantung mereka yang terikat abadi.
BZZZT!
Lampu hijau lintasan menyala!
SZZZTTT! BRRRUUUUMMMM!
Dua mobil F1 itu melesat bagaikan kilat menyambar aspal! Mendorong kecepatan hingga lebih dari 320 km/jam dalam hitungan detik!
Yoona mengendalikan mobil balap putihnya dengan insting luar biasa gila. Di tikungan tajam berbentuk huruf S, Yoona tidak menurunkan kecepatannya—dia melakukan teknik late-braking yang sangat berbahaya, memotong jalur dalam mobil Sasuke hingga ban mereka nyaris bergesekan dan memercikkan bunga api!
"ANJIR! INI BOCAH GILA BGT!" teriak Sasuke di dalam kokpit mobilnya saat melihat mobil Yoona menyalipnya dari celah sempit yang mustahil!
Yoona menyunggingkan senyum kemenangan di balik visor helmnya, menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mobil F1 putihnya melintasi garis finish dua meter di depan Sasuke!
CHECKERED FLAG!
Yoona menang telak!
Mobil F1 Yoona berhenti anggun di tepi pit-lane. Sasuke melompat keluar dari mobilnya, melepas helmnya sambil mengacak-acak rambutnya kesal tapi tertawa bangga. "Gila lu, Nana! Pengereman di tikungan tiga tadi bener-bener gak ada takut-takutnya!"
Yoona membuka visor helmnya, mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit basah oleh keringat. Aura seksi, cantik, dan kemenangan memancar kuat dari wajahnya.
Kakashi melangkah mendekat ke sisi kokpit Yoona. Pria berusia 30 tahun itu mengulurkan tangannya yang kekar untuk membantu Yoona keluar dari mobil balap yang sempit. Begitu Yoona berdiri di aspal, Kakashi menyelimutkan jaket tebal mewahnya ke bahu Yoona agar gadis itu tidak tersengat angin malam yang dingin.
"Kemenangan yang sangat indah, Nuna," bisik Kakashi lembut di depan wajah Yoona.
Kakashi menyerahkan sebuah botol air mineral dan handuk kecil, lalu tanpa ragu menyapu sisa bulir keringat di pelipis Yoona menggunakan ibu jarinya yang lembut.
Yoona tersenyum manis—sisi manja dan anggunnya kembali terpancar penuh. Yoona menyandarkan kepalanya di dada tegap Kakashi di depan mobil F1-nya, membiarkan tangan besar Kakashi melingkar protektif di pinggangnya di bawah pendar lampu sirkuit malam itu.
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.