NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

“Kita belum selesai bicara,” kata Rangga tajam.

Jingga menatap pria yang masih sah menjadi suaminya itu tanpa gentar. “Aku sudah selesai. Minggir, Rangga!“

“Kau pikir setelah merekam kami, kau bisa pergi begitu saja?!”

“Aku tidak perlu meminta izinmu untuk pergi!”

Rangga melirik tas Jingga, kemudian menatap ponsel yang digenggamnya. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya, meskipun ia berusaha menyembunyikannya dengan kemarahan.

“Hapus rekaman itu sekarang.”

Jingga menggeleng. “Tidak!”

“Jingga, jangan membuatku kehilangan kesabaran!” Rangga menggertakan giginya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Memukulku lagi?” Jingga menatapnya lurus. “Kau sudah pernah melakukannya. Aku tidak akan membiarkanmu mengulangi hal yang sama.”

Rangga terdiam sesaat. Kalimat itu mengingatkannya pada peringatan Jingga beberapa waktu lalu, ketika perempuan tersebut mulai berani melawan perlakuan kasarnya. Namun, alih-alih menyadari kesalahannya, ia justru merasa harga dirinya kembali diinjak.

“Kau selalu membesar-besarkan masalah,” gerutunya. “Apa yang terjadi tadi tidak seperti yang kau bayangkan.”

Jingga tertawa hambar. “Aku melihat kalian berpelukan dan berciuman. Apa yang sebenarnya harus kubayangkan lagi?”

“Itu hanya kesalahan sesaat.”

“Kesalahan sesaat yang dilakukan dua orang dewasa dengan sadar?”

Rangga tahu Jingga tidak akan mudah mempercayai alasan apa pun setelah melihat kejadian itu secara langsung. Namun, ia tetap mencoba mencari celah untuk mengendalikan keadaan.

“Dira sedang berduka setelah kehilangan Bang Tara. Dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya, aku hanya berusaha membantu.”

Jingga menatap pria itu dengan kekecewaan yang semakin dalam. “Jangan gunakan kematian Bang Tara untuk membenarkan pengkhianatan kalian! Itu Menjijikkan! Membantu seseorang tidak mengharuskanmu mencium perempuan itu, apalagi ketika kau masih memiliki istri!”

Rangga mengepalkan tangan. Ia tidak menyukai cara Jingga berbicara seolah dirinya tidak memiliki alasan yang bisa diterima.

“Kau tidak tahu apa yang kami rasakan.”

“Memang benar aku tidak tahu apa yang kalian rasakan, tapi aku tahu apa yang kalian lakukan!”

Jingga mencoba melewatinya, tetapi Rangga kembali menghadang.

“Dengar baik-baik! Kau tidak boleh menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Terutama kepada Ibuku.” Ancam Rangga.

Jingga mengerutkan kening. “Jadi, sekarang kau memikirkan perasaan ibumu?”

“Jangan menyindirku!”

“Kenapa? Kau takut Ibumu mengetahui bahwa putranya mengkhianati istrinya sendiri dengan istri mendiang kakaknya?”

“Jaga ucapanmu!”

Rangga meninggikan suara. Dari arah ruang keluarga, Dira tampak gelisah mendengar pertengkaran mereka. Ia ingin mendekat, tetapi urung ketika melihat tatapan Rangga yang memperingatkannya agar tidak ikut campur.

Jingga menyadari sikap Dira itu. Bahkan dalam keadaan tertangkap basah, perempuan tersebut masih memilih berlindung di balik diamnya.

“Kalian tidak perlu khawatir,” ujar Jingga sambil menatap keduanya bergantian. “Aku tidak akan datang ke sini lagi untuk mengurusi kehidupan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan perceraian ini.”

“Kalau begitu, hapus rekamannya!” Rangga membentak.

“Tidak.”

Jawaban itu kembali membuat Rangga kehilangan kesabaran. Ia meraih pergelangan tangan Jingga, berusaha mengambil ponsel dari genggamannya. Jingga segera menarik tangannya dan mundur, lalu menatap lelaki itu dengan kemarahan yang tidak lagi disembunyikannya.

“Lepaskan aku!”

“Berikan ponselmu!”

“Tidak akan!”

Dira akhirnya bergerak mendekat. “Rangga, cukup!”

“Kau diam saja!”

Dira terperanjat. Untuk sesaat, ia terlihat tersinggung karena Rangga membentaknya di hadapan Jingga. Namun, ia segera menyadari bahwa lelaki itu sedang panik dan tidak ingin rahasia mereka terbongkar.

Jingga memanfaatkan jeda tersebut untuk menjauh dari Rangga. “Kau tidak bisa mengancamku agar melindungi kebohonganmu! Aku sudah cukup lama diam setiap kali kau menyakitiku, tapi kali ini berbeda!”

Rangga menatap Jingga dengan rahang mengeras. “Kau akan menyesal kalau rekaman itu sampai tersebar.”

Jingga menghela napas. “Aku tidak berniat menyebarkannya untuk mempermalukan siapa pun. Aku menyimpannya sebagai bukti untuk proses perceraian. Kalau kau tidak melakukan apa pun yang memalukan, kau tidak perlu takut pada rekaman itu.”

“Kau sengaja ingin menghancurkan namaku!”

“Tidak! Aku hanya berhenti melindungi namamu dengan mengorbankan diriku sendiri!”

Perkataan Jingga membuat Rangga terdiam. Ia tidak memiliki jawaban yang mampu membantahnya. Selama ini, ia terbiasa melihat Jingga sebagai perempuan yang akan terus bertahan, memaafkan, dan kembali meskipun berkali-kali disakiti. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari perempuan itu akan berdiri di hadapannya tanpa memohon sedikit pun.

Namun, bukannya mengakui kesalahannya, Rangga kembali menggunakan ancaman.

“Kalau kau sampai memberitahukan masalah ini kepada keluargaku, jangan harap aku akan mempermudah perceraianmu. Aku bisa membuat prosesnya jauh lebih sulit daripada yang kau bayangkan.”

Jingga merasakan dadanya sesak, tetapi ia tidak membiarkan ketakutannya terlihat. Ancaman itu justru memperjelas bahwa Rangga tidak menyesali perbuatannya. Ia hanya menyesali kenyataan bahwa Jingga telah memergokinya.

“Kalau kau ingin mempersulit semuanya, silakan! Aku akan menempuh proses yang semestinya dan mencari bantuan hukum jika diperlukan. Aku tidak akan membatalkan keputusanku hanya karena kau mengancamku.”

Rangga menatapnya tajam. “Kau benar-benar sudah berubah.”

“Aku hanya tidak lagi membiarkanmu memperlakukanku sesukamu!"

Jingga melangkah menuju pintu. Kali ini, Rangga tidak langsung menghalanginya. Ia masih berdiri dengan wajah penuh kemarahan, seolah sedang mencari cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

Sebelum Jingga keluar, Dira akhirnya memanggilnya. “Jingga, tunggu.”

Jingga berhenti, tetapi tidak berbalik sepenuhnya.

“Aku tahu kau marah, aku juga tahu apa yang terjadi tadi salah.”

Jingga menoleh perlahan. “Kalau kau tahu itu salah, kenapa kau tetap melakukannya?”

“Aku minta maaf.“

“Permintaan maaf tidak menghapus apa yang sudah kalian lakukan. Aku juga tidak ingin menjadi orang yang harus menghibur kalian setelah kalian sendiri memilih untuk menyakitiku.” Jawab Jingga dingin.

Wajah Dira memucat. “Aku tidak pernah ingin mengambil apa pun darimu.“

“Lalu kenapa kau mengambil kesempatan untuk melakukan ini dengannya?”

Dira tidak sanggup menjawab. Jingga pun tidak menunggu lagi. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan dua orang yang kini harus menghadapi rahasia mereka sendiri.

Begitu berada di luar rumah, Jingga berhenti sejenak untuk mengatur napas. Tangannya masih gemetar, dan luka yang dirasakannya belum hilang. Namun, ia tahu bahwa meninggalkan rumah itu merupakan keputusan yang benar.

Di dalam rumah, Rangga berjalan mondar-mandir. Ia masih memikirkan rekaman yang dibawa Jingga dan ancaman perceraian yang kini terasa semakin nyata.

“Bagaimana kalau Jingga benar-benar melaporkan semuanya kepada Mama, dan Papa tau?” tanyanya kepada Dira.

Dira menatap pria itu dengan kesal. “Kenapa kau terus bertanya tentang Jingga? Bukankah kau sendiri yang mengatakan tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kalian?”

“Ini bukan waktunya berdebat!”

“Lalu kau ingin aku melakukan apa?”

Rangga menyadari bahwa Dira tidak sedang berusaha mendekat kepadanya seperti yang ia harapkan. Perempuan itu justru terlihat ingin menjauh dari persoalan yang mereka ciptakan bersama.

“Aku hanya ingin kau mengatakan bahwa kita akan menghadapi ini bersama,” ujar Rangga.

Dira memalingkan wajah. “Aku tidak pernah menjanjikan apa pun kepadamu.”

Jawaban wanita itu terasa seperti tamparan. Rangga menatap Dira dengan kekecewaan yang bercampur amarah, sedangkan perempuan itu mulai menyadari bahwa permainan yang selama ini ia kendalikan mungkin akan membawa akibat yang tidak bisa lagi ia atur.

1
Mundri Astuti
ga sabar ...segala kebusukkan Rangga dan Dira terbongkar didepan keluarga besarnya Rangga termasuk papanya rangga
Nani Haryatiyati
bolehkah aku bahagia di atas masalah mu Rangga?🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
ada kemauan,and i like it☺️
Rohmi Yatun
Ohh berarti yg benar Samudera ya Thor.. okeeyyy..
lanjut Thor👍
Rohmi Yatun
Ohh ternyata dewangga dan samudra itu orang yg sama.. kemarin sempat agak bingung sih....
Nani Haryatiyati: iya kak, sama. smpat heran dan spekulasi sendiri,mngkin namanya Samudra Dewangga. Krn formalitas d panggilnya dokter dewangga...gituuu
total 4 replies
Agunk Setyawan
ayo gebukin kak biar otaknya sadar😆😆
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mundri Astuti
Leo kamu ke nya jangan terlalu berharap deh sama jingga, kamu masih ada embel" sama masa lalu kelamnya jingga, mending jingga sama dewangga yg sama" pernah nikah
𝓡𝓡: Nah iya, semoga jg gk terobsesi s Leo ini takutnya jd jahat 😳
total 1 replies
Mundri Astuti
dasar biang kerok tu org berdua...pake nyalahin org lain ...sok paling tersakiti...enek banget dah
Venty Imama
aduh songong itu si rangga ngapain baru sekarang setelah bercerai, setelah rumah tangganya hancur baru kepoin mantan kemana sebelumnya ketika istrinya kesusahan,kemana ketika istri dan anaknya yang sekarat membutuhkannya...manjain wanita dan anak orang lain meski itu keponakannya setelah ditinggal baru tahu rasa sukurin
𝓡𝓡: laki laxknat baru cemburu lah gmn Jingga yagg serasa mau ikut mati pas anaknya meninggal tp dia gak peduli 😬
total 1 replies
Mundri Astuti
biarin aja foto itu sampai pada Rangga, biar ga sombong tu org...jingga berhak bahagia dng org baru, yg lebih baik dari mantan, lebih menghargainya ...

thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu
Sarmini Isang
situ waras rangga,laki2 gak tau diri...masa dr segitu banyaknya keluargamu semuanya bodoh,harusnya ada yg pinter dong cari tau siapa dalang penyebaran berita itu
Agunk Setyawan
lanangan edan
Mundri Astuti
katanya keluarga kaya dan terpandang...masa gitu aja ga bisa cari pelaku penyebaran
Mundri Astuti
dih maling teriak maling
Sarmini Isang
dira janda gatal,tudak bermoral,murahan....kl otaknya dipakai masih punya keluarga kan,ya pulang bodoh,kecuali punya rumah sendiri gak campur mertua dan ipar silahkan tetep tinggal dirmh itu,sadar diri janda gatal murahan
Venty Imama
telat bu rumah tangga anakmu sudah hancur
Rohmi Yatun
lanjut thor.. 🙏
Nani Haryatiyati
nahhhhh....bener tu. si Dira emang ga punya malu
Mundri Astuti
oiiii Rangga tau ngga kamu sama perempuan itu telah mengkhianati pasangan masing", kalian sdh menyakiti bnyk org, tmsk ortu kalian, kalau kalian sama" suka knapa ga nikah aja sana, ngga usah cari" pasangan yg pada akhirnya kalian sakiti. Untung kakakmu dah meninggal, nah jingga ...
Agunk Setyawan
emang enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!