**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pohon Teh yang Tua
Mereka berangkat hari Rabu, empat hari setelah Darmawan ditahan.
Kijang tua Pak Surya mengangkut enam orang dengan sesak. Haryo menyetir, Kardi duduk di sebelahnya dengan topi di pangkuan, dan Ibu di bangku tengah bersama Sekar. Laras, Bima, dan Dimas berdesakan di belakang. Pak Surya sendiri tidak ikut. Ia mengaku badannya tidak enak, dan tak seorang pun mendesaknya.
Jalan menanjak berkelok-kelok, makin sempit, makin dingin. Kabut turun di antara deretan pinus, dan kebun-kebun teh muncul seperti permadani hijau yang digulung miring di lereng bukit. Ibu menatap jendela tanpa bicara sejak Temanggung. Tangannya yang terlipat di pangkuan sesekali meremas ujung tas.
"Ibu pernah lewat jalan ini?" bisik Sekar.
"Dua kali. Waktu datang, dan waktu lari." Ibu tersenyum tipis tanpa menoleh. "Dua-duanya Ibu menangis."
"Sekarang?"
"Sekarang Ibu cuma ingin cepat sampai."
Di bangku depan, Kardi mengarahkan jalan dengan suara sangat pelan, seperti takut mengganggu seseorang yang sedang tidur. Belok kiri di warung tutup. Lurus sampai tikungan tajam. Haryo mengangguk di setiap petunjuk, dan sesekali melirik tangan lelaki tua itu yang gemetar di atas tongkat.
---
Rumah lama itu masih berdiri. Papan kayunya hitam oleh lumut, atap sengnya berkarat, tetapi pintu depannya benar-benar tidak terkunci, hanya diganjal batu. Kardi berhenti di halaman dan tidak maju lebih jauh.
"Aku tidak masuk," katanya. "Itu rumahmu, Rukmini. Bukan lagi rumahku."
Ibu menatap pintu itu lama. Lalu ia menggeleng pelan. "Bukan juga rumahku. Ibu tidak akan masuk."
"Jadi di mana?" tanya Bima.
Kardi mengangkat tongkatnya, menunjuk ke atas lereng, ke jalan setapak yang hampir tertutup semak. "Tanah yang kuceritakan. Dua ratus meter."
Mereka mendaki berurutan. Kabut menempel di rambut dan kerudung, dan bau daun teh basah memenuhi dada. Dimas dan Sekar berjalan paling depan tanpa diminta, bahu mereka hampir bersentuhan. Bima membawa dua sekop pinjaman dari tetangga Kardi, dan Laras mendengar adiknya menghela napas setiap kali kakinya menginjak lumpur.
Pohon itu berdiri di tengah hamparan, jauh lebih tua dan lebih besar daripada deretan tanaman di sekelilingnya. Batangnya hitam dan berbonggol, cabangnya melebar seperti payung yang dirawat seratus tahun. Di bawahnya tanah tampak lebih gembur, dan ada sesuatu yang aneh: sebuah batu pipih kecil, hampir tertutup rumput, dengan satu huruf yang diukir kasar.
*H.*
"Dia sendiri yang pasang," kata Kardi, terengah di belakang. "Waktu terakhir datang, tiga bulan sebelum meninggal."
Dimas menatap batu itu. "Bapak naik ke sini dalam keadaan sakit?"
"Tiga jam dia mendaki. Aku bilang jangan, dia keras kepala." Kardi tersenyum samar. "Dia bilang, 'Ini hutang terakhirku, Kardi, harus kubayar sendiri.'"
---
Sekar yang mengambil sekop pertama.
Ia menancapkannya di sisi batu itu, menginjak tepinya dengan sepatu, lalu mengangkat tanah basah dalam gumpalan besar. Dimas menyusul di sisi lain. Mereka bekerja tanpa bicara, dua orang dengan ritme yang sama, seperti sudah berlatih seumur hidup.
Sepuluh menit. Dua puluh. Laras melihat Ibu berdiri di tepi lubang yang makin dalam, tangannya terlipat di dada, matanya tak lepas dari tanah. Bima menggantikan Dimas ketika napas lelaki muda itu mulai berat. Haryo menggantikan Sekar, meski Sekar menolak.
Pada kedalaman sedada, sekop Haryo berdenting menghantam sesuatu keras.
Semua berhenti.
"Hati-hati," bisik Ibu.
Haryo berlutut, menyingkirkan tanah dengan tangan. Sebuah peti kecil dari kayu jati muncul perlahan, dibungkus plastik tebal berlapis-lapis dan diikat tali nilon. Panjangnya tak lebih dari dua kali telapak tangan. Di tutupnya, tulisan yang kini sangat Laras kenal, tegak dan miring ke kanan, dibakar dengan solder.
*UNTUK SEKAR DAN DIMAS. BUKA BERDUA.*
Haryo mengangkatnya dengan dua tangan seperti mengangkat bayi, lalu menyerahkannya pada Sekar. Sekar menatap Dimas.
"Berdua," katanya.
Dimas mengangguk, matanya merah.
Mereka duduk di rumput basah di bawah pohon tua itu. Peti diletakkan di antara lutut mereka, dan keduanya memegang satu sisi tutupnya. Pada hitungan tanpa suara, mereka mengangkatnya bersama.
---
Isinya hanya empat benda.
Pertama, sebuah buku tabungan dengan nama dua orang: Sekar Prasetyo dan Dimas Prasetyo. Nomor rekening yang sama, setoran pertama dua puluh dua tahun lalu, setiap bulan tanpa lompat. Saldonya membuat Dimas menyentuh bibirnya dengan punggung tangan.
Kedua, selembar sertifikat tanah, tanda tangan dan cap basah, atas nama keduanya.
Ketiga, kaset kecil dalam tabung plastik, dengan label tulisan tangan: *buat kalian dengar sendiri*.
Keempat, sepucuk surat panjang, lembar demi lembar, tulisan tangan yang makin goyah di halaman-halaman akhir.
Sekar mengambil surat itu. Suaranya ketika membuka lipatan pertama nyaris tak terdengar.
"*Sekar dan Dimas. Bapak tidak akan bilang 'Bapak', karena Bapak tahu kalian punya hak memilih mau memanggil Bapak apa. Panggil Hartono saja kalau lebih nyaman.*
*Ada satu hal yang tidak Bapak ceritakan pada siapa pun, bahkan pada Wulan. Kalian pantas tahu kenapa Bapak tidak berani berhenti membayar Darmawan selama tiga puluh tahun, padahal Bapak tahu itu memeras Bapak sampai kering.*
*Bapak bukan korban yang tidak bersalah.*"
Sekar berhenti. Dimas mengambil alih lembar berikutnya, dan suaranya lebih mantap.
"*Tahun 1993, Darmawan datang ke bengkel Bapak dengan satu kertas dan satu penawaran. Bapak waktu itu hampir bangkrut. Istri Bapak sedang hamil Laras, dan Bapak tidak punya uang membayar dokter. Darmawan bilang, kalau Bapak mau jadi saksi atas satu surat jual-beli tanah di Wonosobo, tanpa perlu membaca isinya, dia akan menutup semua utang bengkel Bapak.*
*Bapak tanda tangan. Bapak tidak bertanya. Bapak pura-pura tidak tahu bahwa tanah itu milik seorang lelaki yang sedang dipenjara, dan tanda tangannya dipalsukan.*
*Surat itu yang membuat Kardi kehilangan kebunnya. Dan tanda tangan Bapak ada di bawahnya.*"
Dimas berhenti. Di belakang mereka, Kardi mengeluarkan bunyi aneh dari tenggorokan, bunyi orang yang menelan sesuatu terlalu besar.
"*Bapak baru tahu apa yang Bapak lakukan lima tahun kemudian,*" lanjut Sekar dengan suara goyah, mengambil surat itu kembali. "*Waktu Kardi keluar penjara dan datang ke toko Bapak mencari adik Wulan. Bapak melihat wajahnya, dan Bapak mengerti. Darmawan tidak memeras Bapak karena Wulan. Dia memeras Bapak karena dia punya surat itu. Satu kertas dengan tanda tangan Bapak, dan itu cukup untuk memenjarakan Bapak kapan saja.*
*Setiap bulan Bapak membayar bukan hanya demi Laras, bukan hanya demi kalian. Bapak membayar karena Bapak pengecut yang takut dihukum atas dosanya sendiri.*"
Kabut bergerak pelan di antara cabang-cabang pohon. Tak seorang pun bicara.
"*Bapak tahu ini bukan pembelaan,*" Dimas membaca halaman terakhir. "*Tanah ini Bapak beli kembali dengan uang tabungan Bapak, supaya yang dirampas bisa dikembalikan. Rekening itu Bapak isi setiap bulan sejak kalian lahir, sebagai satu-satunya hal yang bisa Bapak berikan tanpa meminta maaf. Tapi maaf tetap Bapak minta, walau terlambat. Maafkan Bapak, kalian bertiga. Dan Kardi, kalau kau sedang berdiri di sini, maafkan Bapak juga.*"
Ia melipat surat itu pelan. Bibirnya bergetar.
Kardi sudah berlutut di tanah basah tanpa suara. Haryo berjongkok di sampingnya, satu tangan di punggung lelaki tua itu, dan Laras melihat air mata mengalir di wajah Haryo untuk pertama kalinya.
---
Ibu menjadi yang pertama bergerak. Ia melangkah mendekati kotak itu, mengambil kaset kecil di dalamnya, dan menimbangnya di telapak tangan.
"Kaset apa itu, Bu?" tanya Laras.
"Bapakmu selalu merekam hal-hal penting di kaset. Dari kecil kamu juga direkam." Ibu menggeleng pelan. "Tapi ini bukan untuk kita. Ini untuk Sekar dan Dimas."
"Kita boleh dengar bareng," kata Sekar. "Aku ... aku nggak mau dengar sendirian."
Mereka menemukan pemutar kaset tua di dasbor Kijang, peninggalan zaman sebelum Haryo lahir. Kaset itu dimasukkan dengan tangan gemetar. Mereka berdiri berkelompok di pinggir jalan setapak, enam orang dalam kabut, ketika suara Bapak, kali ini jauh lebih muda dan lebih bertenaga, memenuhi mobil.
*"Tes, tes. Ini Hartono, bulan Maret tahun 1995. Kalian berdua baru umur setahun, belum bisa baca ini. Tapi kalau suatu hari kalian dengar, Bapak mau bilang sesuatu yang tidak sempat Bapak bilang pada ibu kalian."*
Terdengar bunyi kursi berderit, napas panjang.
*"Waktu Ratna melahirkan kalian di Wonosobo, Bapak ada di sana. Bukan di dalam kamar, di luar, di pohon teh tua itu. Bapak memanjat dan menunggu semalaman. Dan Bapak mendengar tangis kalian berdua, bersahutan, satu keras satu pelan. Bapak berjanji pada diri sendiri, apa pun yang terjadi, Bapak akan memastikan kalian berdua tahu satu sama lain."*
Suara itu pecah sebentar.
*"Bapak gagal. Tapi kalau kaset ini sampai di tangan kalian, mungkin Tuhan memberi Bapak satu kesempatan lagi, lewat orang lain."*
Kaset berdesis. Berhenti.
Sekar menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan Dimas, setelah ragu sedetik, menarik bahunya ke dalam pelukan. Mereka berdiri begitu di tengah kabut, dua saudara kembar yang baru dikenalkan oleh orang yang sudah mati.
Laras mundur selangkah, memberi ruang, dan sadar tangannya digenggam seseorang. Bima. Adiknya tidak menatapnya. Ia hanya berdiri di sampingnya, rahang bergetar, dengan genggaman yang makin erat.
---
Ponsel Laras bergetar di saku jaketnya.
Pesan dari Pak Surya. Hanya satu baris, dikirim empat menit lalu, dengan satu lampiran foto.
*Mbak Laras, maafkan saya. Saya tidak enak badan itu bohong. Saya tidak berani datang karena ada yang perlu Mbak lihat sendiri.*
Laras membuka lampirannya. Selembar kertas tua berkop pemerintah, tulisan ketik rapat, bertanggal Agustus 1993. *Akta Jual-Beli Tanah.* Pembeli: Darmawan Sentosa. Penjual: Kardi bin Sastro. Saksi: Hartono.
Dan di bagian paling bawah, di atas kolom pengesahan, dua cap bulat yang berhimpit. Satu cap kantor pertanahan. Satu lagi, lebih kecil, lebih tajam, dengan nama yang terbaca jelas bahkan dari foto yang diambil terburu-buru:
*SURYA ADIWIJAYA, S.H. — NOTARIS & PPAT.*
Laras mengangkat pandangan perlahan, melewati kabut, melewati pohon tua, sampai ke Kardi yang sedang ditopang Haryo untuk berdiri.
Pak Surya tidak pernah sekadar berutang pada Darmawan. Ia ikut menulis surat yang merampas kebun itu, dua puluh tiga tahun sebelum ia membacakan wasiat Bapak di ruang tamu mereka.