Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5: tamu pertama yang menjadi target alia
CCTV itu sekecil kancing baju koko.
Hitam, ada lampu merah kedip yang kalau tidak diperhatikan, dikira lampu jam dinding.
Mami Asih yang masang 10 menit sebelum Ustadz Mahmud datang. Tangannya gemetar karena takut ketahuan.
"Alia, ingat ya. Jangan dilawan kalau dia maksa belai. Kamu senyum aja, suruh dia mandi dulu. Mami di parkiran belakang. Motor nyala terus. CCTV ini nyambung ke HP Mami. Mami lihat kamu dari luar. Kalau kamu keluar dari kamar, langsung lari ke parkiran. Jangan tengok belakang," bisik Mami sebelum keluar lewat pintu belakang kamar 203.
Aku mengangguk. Tanktop hitamku terasa sesak karena jantungku berdegup kencang.
TOK TOK TOK.
Ustadz Mahmud masuk. Koko putih bersih, peci hitam, sorban putih melingkar di leher. Wangi oud menyengat.
Dia duduk di sofa kamar Hotel Melati itu, tersenyum. Senyum yang dulu kukira senyum wali.
"Alia ya? Kata Mami kamu baru. Masih perawan desa? Mata kamu bagus. Mata orang dendam, cocok sama Ustadz."
Dia mulai merayu. Tangannya bergerak, mau meraih tanganku yang ada di atas meja. Mau membelai rambutku yang aku cat coklat ujungnya.
Aku tahan mual. Aku lihat ke atas, ke jam dinding. Lampu merah kecil itu kedip. Mami pasti lihat dari parkiran.
Aku tarik tanganku pelan, bukan kasar. Aku tersenyum. Senyum solehot yang Mami ajarkan.
"Ustadz, maaf ya... Ustat seharian belum mandi. Bau keringat. Ustadz mandi dulu ya biar wangi? Alia sudah siapin handuk baru dan sabun paling wangi di kamar mandi. Nanti Alia temenin Ustadz ngobrol lama di sini."
Ustadz Mahmud ketawa. Ketawa menang.
"Wah pinter kamu. Manja. Ya sudah, Ustadz mandi dulu. Kamu jangan kemana-mana ya, Sayang. Tunggu di kasur."
Dia berdiri. Melepas sorban putihnya, ditaruh di atas meja. Melepas peci hitamnya. Melepas HP iPhone putihnya juga, ditaruh di atas sorban itu. Kebiasaan orang sombong, semua taruh di meja biar kelihatan.
Lalu dia masuk ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi dikunci dari dalam.
Suara shower langsung nyala kencang.
Ditambah suara dia bersenandung sholawat pelan dari dalam kamar mandi.
Sholawat. Sambil mau berbuat dosa.
Detik itu, aku tidak mikir panjang.
Aku ambil HP nya,dan berusaha membuka nya ,tapi sayang hpnya dikunci harus memasukkan pin,sedangkan aku tidak tau pin nya.tapi
Aku tidak bongkar aibnya di situ. Karena kalau aku bongkar di situ, dia akan teriak, satpam datang, dan aku yang dianggap LC penipu.
Aku cuma butuh satu hal lagi,KABUR.
Aku buka pintu kamar 203 pelan-pelan. Tanpa suara.
Di lorong hotel sepi. Lampu remang kuning.
Aku lari. Tidak pakai sendal. Kaki telanjangku lari di karpet lorong hotel yang dingin.
Tanktop hitam, rok pendek hitam, rambut tergerai, aku lari seperti maling di hotel bintang dua itu.
Sampai di tangga darurat belakang. Aku turun 2 lantai, langsung ke parkiran belakang.
Di parkiran belakang, motor Mio merah sudah nyala. Lampu motor nyala. Mami Asih duduk di atas motor, pakai daster, helm setengah pakai, menatap pintu darurat dengan mata panik.
Begitu lihat aku keluar, Mami langsung teriak pelan:
"ALIA! SINI CEPAT!"
Aku naik ke belakang motor Mami. Mami langsung gas kencang.
Motor melaju keluar dari Hotel Melati, meninggalkan kamar 203 yang shower nya masih nyala, dan Ustadz Mahmud yang masih sholawatan di dalam kamar mandi, tidak tahu kalau LC nya sudah kabur.
Di atas motor, angin malam Seruyan menghantam wajahku. Rambutku terbang.
Aku peluk pinggang Mami dari belakang. Erat.
"Mami... Mami nungguin Alia terus ya?" tanyaku, suaraku gemetar karena masih takut.
Mami Asih jawab sambil ngebut, suaranya kalah sama angin tapi jelas di telingaku:
"Mami janji, Alia. Semenjak kamu panggil Mami 'Mami' kemarin malam di Kafe Mawar, Mami sudah anggap kamu anak Mami sendiri. Anak yang tidak sempat Mami lahirkan dulu. Jadi Mami akan selalu tunggu Alia di luar. Selalu. Karena Mami juga benci. Mami benci semua orang munafik berkedok agama itu. Mereka yang bikin Mami jadi begini. Jadi kita balas sama-sama ya, Nak?"
Aku menangis di belakang motor itu. Pelukanku makin erat.
Di dalam tas kecilku, HP ku bergetar. Notifikasi dari HP Mami yang tadi terhubung ke CCTV.
Video 2 menit 18 detik sudah masuk. Judul otomatis: KAMAR 203 22.15.
Isinya bukan adegan ranjang. Isinya cuma Ustadz Mahmud merayu Alia, bilang mau nikah siri, mau kasih berkah, sambil tangannya mau membelai.
Dan suara shower di akhir video.
Cukup. Lebih dari cukup buat bikin seorang ustadz tidak bisa khotbah lagi Jumat depan.
Tapi malam ini, Alia tidak bongkar aibnya.
Malam ini, Alia cuma mau pulang ke kos Mami, makan mie rebus berdua, dan tidur di pelukan Mami yang menganggapnya anak sendiri.
Karena balas dendam paling pedas, bukan yang langsung meledak.
Tapi yang disimpan dulu, biar besok meledaknya lebih besar.
Di Hotel Melati kamar 203, Ustadz Mahmud baru selesai mandi. Keluar pakai handuk, melihat kamar kosong. Sorban putih dan HP nya masih di meja. Tapi Alia hilang.
Dia berteriak: "ALIA!!!"
Tidak ada yang jawab. Hanya jam dinding yang lampu merah kecilnya masih kedip.
Merekam semuanya.