Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Sebagai Pengawal?
Beberapa menit kemudian, Adrian dan Nadira sudah berada di dalam mobil. Kendaraan itu meninggalkan area rumah sakit dan mulai melaju menuju vila.
Suasana di dalam mobil sempat hening. Nadira duduk di kursi penumpang sambil memandangi jalanan dari balik jendela. Namun pikirannya masih tertuju pada Deren.
Akhirnya ia membuka suara. "Adrian."
"Iya"
"Menurutku kondisi Deren cukup parah."
Adrian tetap fokus pada jalan. "Iya sepertinya begitu."
"Dia seperti mengalami tekanan yang sangat berat." Nadira menghela napas. "Ketika mendengar langkah seseorang saja, dia langsung panik. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sangat takut."
Adrian mengangguk pelan dan pandangannya masih lurus ke jalan.
"Selain itu..." Nadira melanjutkan, "orang yang mengaku sebagai keluarganya tadi juga membuatku curiga."
Adrian meliriknya sekilas. "Kenapa?"
"Ibunya terlihat benar-benar sedih. Tapi pamannya..." Nadira menggeleng. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi gerak-geriknya aneh."
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia beberapa kali berusaha menghentikan pembicaraan ibunya Deren." Nadira terdiam sejenak. "Bahkan sebelum pergi, dia mengatakan kepadaku agar tidak membiarkan Deren berbicara dengan siapa pun."
Adrian langsung mengernyit. "Dia mengatakan begitu?"
"Iya."
Mobil terus melaju, Nadira kemudian menceritakan percakapan yang sempat didengarnya di dekat lobi.
"Mereka juga membicarakan perusahaan tempat Deren bekerja."
Adrian menoleh sekilas. "Mereka takut kalau perusahaan mengusut masalah lama, nama Deren akan terseret dan dia bisa ditangkap polisi."
Adrian kembali menatap jalan. "Berarti mereka tahu tentang masalah perusahaan."
"Sepertinya begitu." Nadira menarik napas panjang. "Aku tidak tahu apakah keluarganya benar-benar terlibat atau tidak. Tapi aku sengaja melarang mereka bertemu Deren untuk sementara."
Adrian mengangguk. "Itu keputusan yang tepat. Menurutmu, kalau Deren memang sedang mengalami tekanan berat, pertemuan dengan orang yang membuatnya takut bisa memperburuk kondisinya."
Nadira mengangguk pelan, pandangannya menatap jalan.
Beberapa saat kemudian, Adrian berkata, "aku rasa Anton ada kaitannya dengan semua ini."
Nadira langsung menoleh. "Anton?"
"Iya." Adrian mengingat kembali dokumen yang diperiksanya di kantor. "Delapan belas transaksi yang tidak memiliki dokumen pendukung. Sebagian besar persetujuannya berasal dari Anton."
Nadira langsung terdiam.
"Dan sekarang Deren mengatakan dirinya dijadikan kambing hitam." Adrian menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Menurutku itu bukan kebetulan."
Nadira menatapnya serius. "Apa kamu yakin?"
"Aku sih belum yakin." Adrian menggeleng. "Aku tidak mau menuduh seseorang tanpa bukti."
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Nadira dengan serius.
"Kita cari buktinya," jawab Adrian dengan tegas.
Nadira mengangguk. "Sepertinya kita harus mengatakan semua ini kepada Om Gunawan."
Adrian setuju. "Kamu benar. Om harus tahu tentang Deren."
"Termasuk soal Anton?"
"Iya semuanya."
Nadira menghela napas lega. "Setidaknya sekarang kita tidak menyelidikinya sendirian."
Adrian tersenyum tipis. "Justru sekarang kita harus lebih berhati-hati."
Mobil terus melaju melewati jalanan yang semakin sepi. Lampu-lampu jalan mulai menerangi aspal yang membentang di depan mereka. Nadira terdiam, namun beberapa kali ia diam-diam melirik Adrian.
Pria itu terlihat begitu serius mengemudi. Tatapan Nadira kemudian jatuh pada wajah Adrian. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam kebelakang.
"Saya calon suaminya, Dok."
Nadira langsung memalingkan wajah, wajahnya terasa sedikit panas. Ia masih tidak menyangka Adrian bisa mengatakan hal seperti itu dengan begitu santainya.
Adrian yang menyadari gerak-geriknya akhirnya bertanya. "Nadira, kamu kenapa?" ucapnya sambil menoleh.
Nadira tersentak. "Apa?"
"Kamu dari tadi melihatku, kamu itu kenapa?"
"Aku tidak melihatmu dan aku juga tidak apa-apa."
Adrian tersenyum kecil. "Benarkah?"
"Iya," jawab Nadira sambil memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu kenapa wajahmu merah?" goda Adrian menahan tawa.
Nadira langsung menyentuh pipinya. "Tidak!"
Akhirnya Adrian terkekeh pelan.
Nadira semakin salah tingkah. "Jangan tertawa."
"Aku tidak tertawa."
"Kamu jelas-jelas tertawa," balas Nadira sedikit kesal.
Adrian kembali fokus ke jalan. "Memangnya kamu sedang memikirkan apa?"
Nadira terdiam sesaat, ia enggan untuk mengatakan yang sesungguhnya. Ia takut Adrian menyangkanya sedang kepedean, mungkin saja Adrian tidak bermaksud berkata seperti itu di depan Dokter dan suster di rumah sakit tadi.
Nadira kini menatap Adrian beberapa detik. "Tidak ada, aku hanya sedang berpikir hal-hal lucu saja."
Adrian mengangguk dan berusaha percaya pada perkataan wanita itu.
Mobil Adrian akhirnya memasuki halaman vila. Lampu-lampu di sekitar pagar menyala terang. Beberapa pengawal yang berjaga segera membuka gerbang, membiarkan mobil masuk ke halaman.
Adrian memarkirkan mobil di depan vila. Begitu mereka turun, Gunawan sudah berdiri di teras menunggu.
"Kalian akhirnya sampai juga," ujar Gunawan.
Nadira mengangguk. "Maaf, Om. Tadi ada sedikit urusan di rumah sakit."
Gunawan memperhatikan wajah keduanya. "Masuklah. Om ingin bicara."
Mereka bertiga kemudian masuk ke ruang tamu.
Setelah duduk, Gunawan menatap Nadira dan Adrian bergantian.
"Ada apa?" tanya Gunawan.
Nadira menarik napas panjang. "Om harus tahu tentang pasien baru di rumah sakit tempatku bekerja."
Gunawan mengernyit. "Pasien baru?"
"Iya. Namanya Deren Aditya."
Mendengar nama tersebut, ekspresi Gunawan langsung berubah. "Deren?"
Adrian mengangguk. "Dia mantan manajer operasional di perusahaan Om."
Gunawan bersandar di sofa. "Lalu bagaimana dia bisa berada di rumah sakit?"
Nadira kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari Deren yang ditemukan dalam kondisi ketakutan, kedatangan seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya, hingga pria yang mengaku sebagai pamannya.
"Yang membuatku curiga," ujar Nadira, "mereka takut Deren berbicara dengan siapa pun."
Gunawan mengerutkan kening.
"Dan Deren sendiri mengatakan bahwa dia dijadikan kambing hitam."
"Untuk kasus apa?" tanya Gunawan.
"Dia dituduh mencuri uang perusahaan."
Gunawan langsung terdiam.
Adrian kemudian mengambil alih pembicaraan. "Dan ternyata ada kaitannya dengan audit yang sedang kulakukan."
Gunawan menatapnya.
Adrian menjelaskan seluruh temuannya. Delapan belas transaksi tanpa dokumen pendukung, perbedaan jumlah barang, serta nama Anton yang muncul berulang kali sebagai pihak yang menyetujui transaksi.
Gunawan hanya mendengarkan tanpa menyela. Setelah Adrian selesai, ruangan kembali sunyi.
Gunawan menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil mengusap dagu.
"Jadi sekarang kita punya dua petunjuk."
Adrian mengangguk.
"Deren sebagai orang yang mungkin mengetahui kebenaran," lanjut Gunawan, "dan Anton sebagai orang yang memiliki akses terhadap transaksi itu."
"Benar," jawab Adrian.
Gunawan menarik napas panjang. "Jangan terburu-buru menangkap Anton."
Adrian mengangguk. "Aku juga belum berniat melakukannya."
"Kalau dia memang bekerja untuk seseorang, kita harus tahu siapa yang berada di belakangnya."
Nadira ikut mengangguk.
Gunawan kemudian mengambil ponselnya dan melihat kalender. "Dan kebetulan..." Ia menatap Adrian. "Besok malam ada acara di induk perusahaan."
"Acara apa?" tanya Adrian.
"Gathering perusahaan."
Adrian mengerutkan kening.
"Perusahaan induk mengadakan acara besar. Semua pemimpin perusahaan besar yang menjadi mitra bisnis akan hadir."
Nadira menatap Gunawan. "Apa termasuk Mahendra Group?"
Gunawan mengangguk. "Ya, termasuk Mahendra Group."
Adrian langsung terdiam. Nama perusahaan itu membuat pikirannya kembali mengingat mendiang ayahnya.
Gunawan melanjutkan, "Kemungkinan besar perwakilan utama Mahendra Group juga akan hadir."
Adrian menatap Gunawan. "Siapa yang akan datang?"
"Itu yang belum bisa dipastikan." Gunawan berhenti sejenak. "Setelah semua masalah yang terjadi, posisi pimpinan Mahendra Group bisa saja sudah diambil alih oleh Miranda."
Adrian mengepalkan tangan.
"Atau Dimas," sambung Gunawan.
Ruangan kembali hening.
Nadira memperhatikan Adrian.
Gunawan kemudian menatap Adrian. "Karena itu, acara ini bisa menjadi kesempatan besar untukmu."
Adrian mengangkat alis. "Kesempatan?"
"Iya, kamu bisa melihat siapa yang memegang kendali Mahendra Group sekarang."
Adrian mulai memahami maksudnya. "Tapi kalau aku datang sebagai diriku sendiri..."
"Mereka akan langsung mengenalimu," potong Gunawan.
Adrian langsung mengangguk.
Gunawan tersenyum tipis. "Karena itu, kamu tidak akan datang sebagai Adrian Mahendra."
Nadira mengerutkan kening. "Lalu sebagai siapa?"
"Pengawal."
Adrian menatap Gunawan beberapa detik. "Pengawal?"
Gunawan mengangguk. "Kamu akan menyamar sebagai salah satu pengawal yang mendampingi Om."
Adrian tersenyum tipis. "Jadi aku harus berdiri di belakang Om sepanjang acara?"
"Begitu kalau perlu."
Nadira menahan senyum.
Adrian meliriknya. "Kenapa kamu tersenyum?"
"Maaf," jawab Nadira sambil menahan tawa. "Aku hanya membayangkan kamu memakai pakaian pengawal."
Adrian menggeleng.
Gunawan justru terkekeh kecil. "Ini bukan sekadar penyamaran."
Gunawan kembali serius. "Kamu bisa mengamati para tamu tanpa menarik perhatian. Terutama yang datang mewakili Mahendra Group."
Adrian mengangguk dan menatap Gunawan.
"Dan kalau benar Miranda atau Dimas yang mengambil alih perusahaan... kamu bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri," jawab Gunawan.
Adrian seketika terdiam, selama ini ia hanya mendapatkan informasi dari dokumen, rekaman, dan orang-orang yang bekerja di balik layar.
Namun besok malam, ia mungkin bisa melihat sendiri siapa yang berdiri di balik nama Mahendra Group.
Gunawan kemudian menatap Nadira. "Om juga ingin kamu ikut."
Nadira menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Iya."
"Sebagai apa?"
Gunawan tersenyum. "Sebagai keponakan Om."
Nadira langsung mengerti. Dengan begitu, kehadiran Adrian sebagai pengawal tidak akan terlihat mencurigakan.
Adrian menatap Gunawan. "Kalau aku berada di sana, aku harus berhati-hati."
"Benar." Gunawan mengangguk. "Jangan sampai siapa pun mengetahui identitasmu."
"Termasuk Miranda?" sambung Nadira
"Iya, terutama Miranda," sahut Gunawan. Gunawan kemudian menambahkan, "Dan jangan melakukan apa pun secara gegabah. Kita belum tahu siapa saja yang bekerja untuk mereka."
Adrian mengangguk mantap. "Baik. Aku mengerti Om."
Nadira menatap Adrian. "Berarti besok malam kita akan bertemu dengan orang-orang Mahendra Group?"
Adrian mengangguk. "Dan mungkin..." Ia menatap Gunawan. "Aku akhirnya bisa mengetahui siapa yang mengambil alih perusahaan Ayah."
Gunawan menatapnya serius. "Besok jangan hanya mencari tahu tentang perusahaanmu."
Adrian mengerutkan kening.
"Cari tahu juga tentang kematian ayahmu."
Tatapan Adrian berubah tajam.
Gunawan kemudian berdiri. "Karena Om punya firasat..." Ia menatap Adrian. "Orang yang selama ini kita cari mungkin akan hadir di sana."
Adrian mengepalkan tangannya.