Sekuel SUAMIKU BERWAJAH CACAT
Novel ini, menceritakan kisah cinta segitiga. Jadi bijaklah, dalam membaca.
Haris Wilson, anak pertama dari pasangan Henri Wilson, dan Rania Cullen, tidak menyangkah hidupnya akan berakhir menikahi anak dari pelayannya sendiri Bibi Ana.
Apalagi saat itu, Haris Wilson mempunyai seorang kekasih yang begitu dicintainya, yaitu seorang supermodel, bernama Kenny.
Haris menentang keras perjodohan ini, karena
dia sudah mempunyai kekasih, dan yang membuat dia sangat menolak perjodohan ini adalah, anak dari pelayannya itu, adalah seorang gadis cacat.
Tapi Haris tak dapat menolak, karena ayahnya Henri Wilson mengancam, kalau dia tidak menikahi Vivian, maka jabatannya sebagai seorang CEO diperusahaan, akan dicabut.
Karena tidak ingin kehilangan jabatannya, dia menyetujui pernikahan ini, tapi dengan membuat kesepakatan pernikahan kontrak, yang dia buat bersama Vivian.
Tapi itulah cinta bisa tumbuh kapan saja, Harispun tak dapat menolak pesona Vivian, saat mendapati gadis itu sudah bisa berjalan, ditambah lagi dengan kelembutan, dan perhatian dari wanita itu, membuat ia terjebak dengan permainan yang dia ciptakan sendiri, hingga membuat ia harus memilih Vivian, sigadis cacat, atau Kenny wanita yang begitu dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.24.Mengagumi.
Maafkan saya Tuan, mungkinkah saya sudah mengganggu bulanmadu anda?" Tanyanya, tersenyum.
Mendecak kesal, menatap tidak suka pada sekretarisnya itu.
"Ada apa?!" Tanyanya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Saya daritadi menghubungi anda, Tuan? tapi tidak diangkat."
"Kau sudah membawa gaunnya?!"
"Sudah Tuan? gaunnya saya simpan didalam mobil."
"Suruh Laura, membawanya kekamarku."
"Baik Tuan."
"Vivian.."
"Iya Sayang."
"Persiapkan dirimu, sebentar malam kita akan kepesta ulangtahun Papa."
"Ulang tahun Tuan Henri, Sayang?!"
"Papa." bukan Tuan." Jawab Haris, dengan menekan kata Papa, pada Vivian.
"Maaf, maksudku Papa Henri." Jawabnya, dengan senyuman kecil.
"Pergilah kekamar, persiapkan dirimu untuk acara ulangtahun Papa sebentar malam."
"Baiklah." Jawabnya, dengan berlalu keluar dari ruang kerja.
Saat melewati James, sekretaris tampan itu mencoba untuk tersenyum pada Vivian. Tapi gadis cantik itu, hanya menampakkan sikap juteknya, dan berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan James, yang tengah tersenyum padanya.
"Nona masih saja kesal padaku, apakah dia tidak tahu, kalau aku hanya mengikuti keinginan Suaminya?!"
Haris menghampiri kursi kebesarannya, dan duduk dengan pandangan menerawang. Tatapan matanya menatap langit-langit ruang kerja, seolah ada yang begitu mengganjal hatinya saat ini.
"Anda baik-baik saja Tuan?" Bertanya dengan menatap lekat, wajah Tuanmudanya.
Menghembuskan nafas kasar, dengan raut wajah yang terlihat gelisah.
"Aku baik-baik saja James, baik-baik saja." Jawabnya, dengan suara yang begitu berat.
"Maaf Tuan, tadi Nona Kenny menghubungiku. Dia menyuruhku untuk menyampaikan pesan pada anda, agar menelponenya. Nona Kenny mengatakan kalau anda sudah jarang menghubunginya akhir-akhir ini, bahkan pesannyapun tidak dibalas.Dan dia menginginkan kalau malam ini, anda menginap diapartemennya."
Menghembuskan nafas, sembari mengusap kasar wajahnya saat mendengar ucapan James.
"Biarkan saja."
"Baik Tuan."
"James..!"
"Ada apa Tuan?"
"Vivian akan bekerja diKafe milik Daren, aku minta kau menyuruh anak buah kita untuk memata-matainya? aku tidak sudi, dia menjalin hubungan dengan pria itu!" Serunya, kesal.
"Apakah pernikahan kontrak sudah tidak berlaku lagi?!" Tanya James, yang sudah terlihat penasaran.
Mendecak kesal, menatap tajam sekretarisnya itu.
"Sejak kapan kau jadi ingin tahu urusan pribadiku, James?!"
"Sejak hari ini Tuan, karena sepertinya yang aku lihat, akan ada cinta segitiga." Jawabnya, tersenyum.
"Mungkin bisa saja." Jawabnya menggantung, dengan melangkah keluar dari ruangan itu.
"Tuan, apakah anda lupa? kalau Tuan Daren sebentar akan hadir juga, dipesta ulangtahun Tuan besar?"
Langkahnya terhenti, saat mendengar ucapan sekretarisnya.
"Aku tidak perduli. Dia mau datang, atau tidak bukan urusanku" Dengan melanjutkan langkahnya, keluar dari ruang kerja itu.
Dia terlihat begitu gelisah, karena sesungguhnya dia tidak menyadari tentang kehadiran Daren.
"Kenapa aku bisa lupa yaa..? kalau sibrengsek itu juga akan keulang tahun Papa." Gumamnya kesal.
*******
Dilantai tiga kediaman Haris Wilson, tampak Vivian tengah berbaring sembari termenung.
"Aku seperti terjebak, diantara dua orang yang saling mencintai. Sudah dua kali kami hampir melakukan itu, dan aku bersyukur karena selalu gagal. Tapi ketiga kali, ntahlah." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat sendu.
Terdengar suara ketukan pintu, yang menyadarkan dia dari lamunan.
"Masuklah" Titahnya, dari dalam kamar.
Pintu terbuka, dan menampakkan sosok Laura yang datang dengan beberapa gaun yang indah.
"Hallo Nona."
"Laura" Dengan beranjak dari ranjang, dan menghampiri pelayan itu.
Ini gaun-gaun siapa?" Tanyanya, penasaran.
Tersenyum, dan meletakkan gaun itu diatas ranjang.
"Ini gaun anda Nona? Tuan membelinya untuk anda.Apakah anda lupa? kalau sebentar malam pesta ulangtahun Tuan besar, jadi Tuan Haris memesan gaun-gaun ini untuk anda, dan Nona pilihlah salahsatu diantara ketiga gaun tersebut, untuk dipakai sebentar malam."
"Aku tau Laura, kalau sebentar pesta ulangtahun Papa Henri, tapi aku tidak mengetahui kalau dia akan membelikanku gaun-gaun ini"Jawabnya, dengan melihat satu-persatu gaun itu.
"Nona.." Panggil Laura, tiba-tiba.
"Ada apa Laura?"
"Apakah anda mencintai Tuan Haris?"
Meletakkan gaun itu diatas ranjang, sembari menatap intens pelayan itu.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?!"
"Tidak, aku hanya bertanya Nona. Karena setau kami, Tuan Haris menjalin hubungan dengan Nona Kenny, jadi saat Tuan membawa anda kesini, jujur kami sedikit terkejut."
"Apakah Nona Kenny sering menginap disini, Laura?" Tanyanya, penasaran.
"Iya baru beberapa kali, karena Tuan Haris baru saja membeli rumah ini Nona. Dan aku juga baru bekerja disini."
"Begitu ya?!" Jawabnya, dengan berusaha tersenyum.
Mereka berdua sangat cocok, Nona Kenny adalah wanita yang cantik, dan seorang model terkenal. Dan Tuan Haris, adalah seorang pengusaha sukses, dan juga anak seorang pengusaha. Tidak sepertiku, hanya seorang anak yatimpiatu, dan anak angkat seorang pelayan." Ucapnya, dengan raut wajah sendu.
Menggenggam tangan Vivian, untuk memberi semangat.
"Anda juga sangat cantik Nona, dan Nona juga sangat cocok bersanding dengan Tuan Haris, jadi jangan berkecil hati."
"Jangan terlalu memujiku Laura?! karena aku hadir diantara kedua orang yang saling mencintai."
"Dan aku yakin, Tuan Haris akan lebih memilih anda. Karena akhir-akhir ini, Tuan sudah jarang bersama Nona Kenny."
"Jangan membohongku? bahkan tadi mereka bersama."
" Dan apakah anda cemburu Nona?!" Tanya Laura tersenyum.
"Cemburu..!"
Buat apa aku cemburu?! tidak penting bagiku, untuk mencemburui pasangan yang saling mencintai, karena aku tau, aku hanya orang ketiga diantara mereka berdua."
"Jangan patah semangat, begitu Nona?! beristirahatlah, sebentar aku akan membantu Nona berdandan, agar Nona terlihat cantik malam ini. Dan aku yakin Tuan Haris, akan terpesona dengan kecantikan anda."Ucapnya, dengan berlalu pergi dari kamar itu.
"Dia membohongiku, dia hanya berusaha untuk menghiburku, jadi aku tidak boleh besar kepala.
*********
Detik terus berjalan, tidak terasa malam telah menyambut kota London.
Haris terlihat begitu gelisah menunggu istrinya, ditemani James, sang sekretaris.
"Siapa yang membantunya? untuk bersiap-siap. Kenapa dia lama sekali?! apa dia tidak tau, kalau kakiku sudah sakit, karena terlalu lama menunggunya!" Serunya, kesal.
Terdengar suara langkah kaki, orang menuruni tangga.
"Nona Vivian, sudah datang Tuan." Seru James, dengan tatapan mata terus menatap Vivian, yang menuruni tangga bersama Laura.
Tatapan matanya teralih pada arah pandang James, dan dia begitu terpesona dengan kecantikan istrinya.
"Dia sangat cantik." Bathinnya, yang begitu terpesona dengan kecantikan Vivian.
Tatapan matanya beralih kearah sekretarisnya, yang sedang menatap Vivian, dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hei...! siapa yang mengijinkanmu untuk menatapnya?! apa kau mau aku membunuhmu?!" Tanyanya, sembari menatap tajam James.
"Maaf Tuan, saya tidak sedang melihat Nona, saya sedang melihat Laura.Bukankah Laura sangat cantik Tuan?!"
"Cih...!! kau pikir aku bodoh apa?! daritadi aku liat kau sedang menatap istriku." Jawabnya, kesal.
"Kenapa kau lama sekali Vivian?! apa kau tidak tau, kalau kakiku sakit karena menunggumu?!" Tanyanya dengan berpura-pura marah, untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Maafkan aku Sayang, ayo kita pergi." Jawabnya tersenyum, dengan menggandeng lengan Suaminya, berjalan keluar dari rumah itu.
"Dia sangat cantik, bahkan sangat cantik. Lihat senyumannya, dia membuat aku semakin dilema." Bathinya, yang begitu mengagumi kecantikan Vivian.
aasyeiikk ... bakal makin posesif aja bos nya si james 😁👍🏻
bisaan ni author pilih visual nya
posesif tanda cinta .. ouw ouw oooo
sudah jelas vivian berstatus kan istri "sah"
kenny dasaarrr
gemesss gau thor aaaaa mantaff👍🏻🤣