"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi minta pulang
Dewi meremat tangannya yang terasa dingin berkeringat, tak sengaja mendengar percakapan Gendis dan ustadz, dia benar-benar tak menyangka bahwa bibinya yang cantik, kaya raya, ternyata....
Dewi mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, rasanya ingin segera berlari pulang dan tak pernah kembali lagi.
Tapi, mengingat saat ini Alang masih bekerja, dirinya juga hamil dan pastinya butuh tanggung jawab Alang. Kalau pulang, takutnya Alang masih belum bisa, jauh dari suami dia juga tak bisa.
"Wik!" pintu kamar di ketuk.
"Mas Alang." Dewi bergegas membuka pintu.
"Wik, kenapa?" Alang menutup pintu kamar, kini mereka menempati kamar bawah, agar lebih bebas, dekat dengan pintu, dan mudah jika ingin kemana-mana.
Alang membuka kancing kemejanya, menyisakan kaos polos berwarna biru muda. Ia menatap wajah istrinya. "Kamu pucat Wik, Masih nggak enak badan?" tanya Alang.
"Nggak Mas."
Dewi memeluk Alang, ngeri dalam pikirannya masih belum hilang.
"Kenapa?" tanya Alang, mengusap tangan Dewi, mengajaknya duduk di ranjang.
"Kita pulang saja ke kampung."
Diam, Alang sedikit terkejut mendengar permintaan Dewi. Padahal kemarin sudah mereka bahas bersama, bahwa mereka akan tinggal di sini sampai Alang siap, paling tidak setelah mengumpulkan uang.
"Aku tidak betah di sini Mas." ucap Dewi, membuat Alang mendesah berat.
"Kalau kita pulang, Niken bagaimana?"
Dewi mendongak, ia menatap kerumitan di wajah Alang. "Aku akan bicara sama Niken, kalau dia juga mau pulang, biarlah Niken ikut kita. Aku tak keberatan."
*
Sementara itu, Niken baru saja keluar dari ruangan pribadi milik Saga, setelah perjuangan panjang seharian, akhirnya Saga bersedia melepaskannya. Tentu dengan berbagai syarat, dan rentetan permintaan yang harus disetujui Niken.
"Kan, sudah malam." ucap Saga, memeluk pinggang Niken begitu erat. Ia mendongak langit yang sudah gelap, entah sejak kapan matahari telah berganti bulan. Bermain bersama Niken membuatnya tak peduli meskipun hari berganti, dunianya kini serasa teralihkan ke bagian yang tak berpenghuni, yang ada cuma mereka berdua. Siang dan malam, sama saja.
"Tetap harus pulang." ucap Niken. Sebuah pesan dari Dewi membuatnya tak tenang.
"Ya sudahlah." Saga mendesah pasrah.
Sebenarnya Saga tak lagi punya alasan untuk pulang. Beberapa waktu terakhir ia rajin pulang walaupun tengah malam, itu karena teringat Niken. Mengantarnya bekerja setiap pagi adalah tujuannya yang tak di ketahui oleh siapapun.
Tak lama kemudian, mobil mereka tiba di halaman rumah bak istana itu, pukul sembilan malam, Niken ingin segera menemui Dewi.
"Sayang." Saga menahan lengan Niken.
"Hem?" Niken kembali duduk, mendekati Saga yang ingin bicara.
"Jangan dekat-dekat dengan Alang." ucapnya.
Niken terkekeh, mengeratkan genggaman tangan Saga. "Dia sudah tidak punya tempat. Hatiku ini, sudah di penuhi namamu."
Barulah Saga melepaskan tangan Niken. Setelah seharian bersama, jauh sebentar jadi tak rela. Saga menyusul, istri tercinta harus di awasi.
"Niken!" Dewi segera keluar dari kamarnya.
"Mbak. Ada apa?" tanya Niken, Dewi menyeretnya ke dalam kamar. Tapi,....
"Dewi?" Saga memanggil sang keponakan.
"Paman, ada apa?" tanya Dewi.
"Dimana Alang?"
Seketika mereka saling pandang. "Di kamar." jawab Dewi.
"Aku mau bicara." ucapnya, kemudian berjalan melewati mereka berdua.
"Kita bicara di sini saja Mbak." ucap Niken. Tahu kalau suaminya sedang cemburu, tak mengizinkan Niken masuk ke kamar Alang.
Saga tidak mau Alang mengambil kesempatan terhadap Niken. Pegang sedikit dengan alasan adik kesayangan? Dia merasa kesal. Dan Dewi tidak tahu itu.
"Ken, Mbak mau bicara penting." kata Dewi, tak sabar berkata bahkan belum duduk sempurna.
"Mau bicara Apa Mbak?" tanya Niken.
"Ken, Mbak mau pulang kampung. Tapi, Mas Alang khawatir jika kamu di sini sendirian."
Niken jadi berpikir, pulang kampung tentu pilihan yang baik untuk Dewi. Tapi bagaimana dengan Alang, apakah dia mau? Atau menggunakan Niken sebagai alasan.
"Dek, apa sebaiknya kamu ikut kita pulang? Kamu boleh ikut kita, sementara tinggal di rumah ibu juga tak masalah. Lagipula ibu menyukai mu. Dan nanti, kita bisa renovasi rumahmu yang di ujung kampung?" ucap Dewi, membujuknya.
Niat Dewi memang baik, tapi niat Alang tentu lain lagi. Satu rumah dengan gadis yang pernah mengecap tidur bersama, mana mungkin tak terulang lagi kalau kondisinya selalu memberi kesempatan. Lagipula, sekarang Niken sudah menikah.
"Mbak Dewi sama Mas Alang, pulanglah ke kampung kalau memang sudah keputusan kalian berdua. Soal Niken_" Niken menghela nafasnya sejenak. "Niken masih mau bekerja Mbak, baru juga gajian, masih belum cukup untuk memuaskan diri sendiri. Lagipula, Niken sudah dewasa, sudah waktunya hidup mandiri dan...."
"Dan apa?" tanya Dewi.
"Niken betah di sini." jawab Niken.
Dewi menelisik wajah Niken yang ayu, perempuan yang sudah dewasa, pernah jatuh cinta, dan sudah menikah. Tentu jawaban betah di tempat yang baru, menimbulkan kecurigaan, wajah Niken juga tampak bahagia, bagai tak ada beban seperti sebelumnya.
"Apa, kamu punya seseorang yang.... Kamu suka?" tanya Dewi.
"Ha?" Niken terkejut dengan pertanyaan Dewi itu. Tapi, bahasa tubuhnya tak bisa berbohong. Dia jadi salah tingkah.
"Siapa?" Dewi menarik tangan Niken di dadanya.
"Tidak ada Mbak." jawab Niken.
Dewi terkekeh, tak mau memaksa tapi dia pun penasaran. Laki-laki itu pastilah tampan.
"Baiklah, kalau kamu maunya seperti itu. Nanti, biar mbak yang bicara sama Mas Alang." Dewi menepuk tangan Niken.
Saga pun telah keluar dari kamar Alang, entah pembicaraan apa yang mereka bahas, yang pasti kini Niken telah keluar dari rumah bak istana itu.
Niken berjalan menuju rumah belakang, dimana kamarnya masih gelap. Ia sudah tak sabar beristirahat di dalamnya.
Sekilas, ia melirik kamar Ani yang telah tertutup rapat, tak ada pergerakan dari cahaya gorden yang remang. Mungkin ia telah lelap sejak sore, mengingat dia selalu ketakutan sejak kemarin itu.
Cklek!
Pintu kamar Niken di buka, ia melangkah masuk kemudian meraba dinding, menyalakan lampu. Hari ini sungguh melelahkan.
Malam semakin merayap gelap, udara dingin menembus kulit, rasa mengantuk tak dapat di tahan lagi, Niken terlelap dalam selimut yang hangat. Sekilas ingatan bersama Saga membuat sudut bibirnya tertarik sedikit, menghantar dirinya ke alam mimpi.
"Niken! Niken!"
"Nina! Nina!"
Teriakan berulang menggema masuk ke gendang telinga Niken, baru saja terlelap kini teriakan mereka di luar terdengar nyaring dan panik.
Niken beranjak dari ranjang, ia menatap gordennya yang tertutup kini sudah terang, artinya memang sudah siang.
"Ada apa Mbak Sur?" tanya Niken, mengusap matanya yang terasa kesat. Salah seorang pembantu Saga menggedor pintu kamar Nina, panik.
"Ken! Ani Ken! Ani!" ucapnya, berlari dari depan pintu kamar Nina, menghampiri Niken.
"Mbak Ani kenapa Mbak" tanya Niken. Jadi panik mendengarnya.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis