💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Nyawer
Menyadari hal itu, Lusi langsung terdiam. Tatapannya beralih dari Li Zhenyu lalu menuju layar di sisi kanan PK.
Tangan, hanya tangan. Tidak ada wajah, tidak ada pencahayaan dramatis, tidak ada filter jahanam. Namun justru orang inilah yang mendapat penilaian lebih tinggi dari Li Zhenyu.
"Mustahil..." Dengan rasa penasaran yang membuncah, Lusi segera menekan foto profil akun tersebut.
Beberapa detik kemudian halaman profil terbuka. Nama akun itu sederhana namun memberi kesan kokoh.
@IronPine_17
Foto profilnya hanya siluet pohon pinus hitam di tengah pegunungan bersalju.
Jumlah pengikut? Hanya empat puluh tujuh orang.
Mengikuti akun lain? Tiga orang.
Jumlah unggahan? Dua video.
Lusi membuka video pertama, ternyata video ASMR relaksasi. Kamera hanya memperlihatkan kedua tangan pemilik akun sedang merakit model kayu kecil. Tidak ada wajah juga tidak ada suara berlebihan. Hanya suara gesekan kayu dan napas pelan.
Video kedua juga mirip, masih ASMR, masih tangan, masih tanpa wajah. Namun kali ini sedang memperbaiki sebuah jam tua. Lusi memperhatikan layar beberapa saat.
Tangannya besar, jari-jarinya panjang. Punggung tangannya terlihat kencang. Urat-urat tipis tampak jelas ketika menggenggam alat. "Itu bukan tangan anak yang jarang bergerak..." gumam Lusi.
"Mungkin dia sering olahraga." Atau mungkin bekerja fisik. Atau latihan bela diri. Pokoknya terlihat jauh lebih tangguh dibanding para gege tampan yang selama ini dia ikuti.
Rasa penasarannya semakin besar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung masuk ke room live milik @IronPine_17.
Room itu sangat sepi. Jumlah penonton bahkan belum mencapai dua digit.
Komentarnya pun bisa dihitung dengan jari, tidak ada spam hati, tidak ada komentar histeris, tidak ada perang hadiah. Hanya suara kartu yang sedang dimainkan di atas meja. Dan sesekali suara napas pelan dari pemilik akun.
Lusi tidak terkejut. Kalau hanya memperlihatkan tangan, memang sulit mendapatkan penonton. Ia segera mengetik komentar.
"Hello."
Beberapa detik kemudian terdengar suara pelan dari speaker. "Hello."
Lusi langsung duduk tegak, bahasa Inggrisnya cukup baik. Ia kembali mengetik.
"What's your name?"
Beberapa detik berlalu, lalu suara itu kembali terdengar. Pelan, rendah, sedikit serak.
"Lin Chen."
Jawabannya singkat, namun cukup sopan. Lusi kembali mengirim komentar.
"Nice to meet you."
"Nice to meet you too."
Jawaban tetap singkat, namun tidak dingin. Malah terdengar cukup ramah. Lusi tersenyum puas, baiklah...Orang ini lulus ujian pertama.
Tidak sombong, tidak jual mahal, dan yang terpenting memenuhi syarat sistem.
Sistem: Ternyata kamu bukan orang yang imflusip ya.
Tanpa menunggu lebih lama, ia segera membuka fitur gift. Kemudian membuka aplikasi rekening, melihat angka tabungannya.
Lalu menghela napas panjang. "Kalau mau sukses harus berani investasi."
Lima menit kemudian saldo rekeningnya hampir kosong. Hanya tersisa lima ratus rupiah, melihat angka itu bahkan sistem sempat terdiam beberapa detik.
Namun Lusi sudah mantap, koin berhasil dibeli. Ia mulai mengirim hadiah. Mawar, mawar lagi, donat, kopi, balon.
Nilai PK yang sebelumnya nol perlahan mulai bertambah, dari balik layar terdengar suara pelan.
"Xiexie."
"Thank you."
"Thank you for the gift."
Masih berbisik, masih seperti ASMR. Namun terdengar tulus, anehnya membuat Lusi merasa sangat puas. Jauh lebih puas dibanding menjadi fans nomor tiga di room live Didi tampan.
Karena setiap hadiah yang ia kirim benar-benar mendapat respons. Benar-benar dihargai.
"Ternyata menyenangkan ya..." Gumamnya sambil tersenyum. Kemudian matanya jatuh pada salah satu hadiah yang lebih besar.
Paus Sam.
Jarinya berhenti, lalu menekannya.Detik berikutnya seekor paus raksasa muncul memenuhi layar. Efek animasi langsung membuat room yang sepi itu menjadi ramai. Beberapa penonton yang tersisa langsung heboh.
"WOW!"
"Ada paus!"
"Sultan datang!"
"Siapa itu?!"
Bahkan suara kartu yang dimainkan sempat berhenti beberapa detik. Lalu untuk pertama kalinya suara dari balik layar terdengar lebih jelas dan idak lagi sekadar bisikan.
"Xiexie."
Hening sesaat, kemudian terdengar lagi.
"Thank you."
Dan setelah jeda kecil.
"Terima kasih, Kakak."
Lusi langsung memegangi dadanya. Kritikal, benar-benar kritikal.
Suara aslinya ternyata benar-benar berat dan dalam, ibarat kata jantan nya tuh ngejantan bangeeettt!!
Senyumnya hampir tidak bisa ditahan lagi. "Anak ini sopan sekali..." Tanpa ragu sedikit pun ia menghabiskan seluruh koin yang tersisa.
Mawar.
Donat.
Balon.
Kopi.
Bunga.
Apa saja yang masih bisa dikirim langsung dilemparkan ke room live itu. Sampai akhirnya jumlah koin di layar menunjukkan angka nol.
Benar-benar habis, namun anehnya Lusi tidak menyesal sama sekali. Meskipun ia tidak bisa melihat wajah Lin Chen. Meskipun hanya melihat tangan dan mendengar suara, ia tetap mempercayai sistem.
Jika sistem mengatakan pria ini memiliki penampilan yang bahkan melampaui Li Zhenyu maka kemungkinan besar memang begitu.
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/