NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA MAJIKAN

TERJERAT CINTA MAJIKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

[Takdir di Antara Cinta dan Dendam]

---

Ruangan terasa sunyi ketika Derrick dan para pengawalnya pergi. Darren menghembuskan napas berat, menatap pintu yang baru saja ditutup dengan ekspresi gelisah. Winston yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Darren pelan, lalu tanpa berkata apa-apa, mereka berjalan kembali ke kamar Neysa.

Di dalam kamar, Neysa masih terbaring dengan wajah pucat. Winston melangkah mendekat, melihat Neysa dengan tatapan penuh iba.

“Kau tahu, Darren,” Winston memulai pelan, “melihat bagaimana Derrick memperlakukan orang-orang di sekitarnya, sangat wajar jika Neysa mencari perlindungan di luar. Aku tidak menyalahkannya untuk itu.”

Darren berdiri di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah Neysa yang masih tertidur. Rahangnya mengeras mendengar kata-kata Winston. “Apapun alasannya, itu tidak bisa membenarkan apa yang telah dia lakukan. Membawa keluarga Barnes ke dalam masalah ini adalah kesalahan besar.”

Amy yang sedari tadi berdiri diam di pojok ruangan akhirnya angkat bicara. “Masalahnya bukan soal Neysa membohongi keluarga Barnes, Darren.” Ia menatap Darren tajam. “Masalahnya, kau kecewa karena dia membohongimu. Kau sudah mulai percaya padanya, tapi dia malah menghancurkan kepercayaan itu.”

Kata-kata Amy seperti menusuk. Darren memalingkan muka, tatapannya berubah seolah mengakui kebenaran itu tanpa berkata apa-apa.

Tak lama, Neysa perlahan membuka matanya. Ia menatap Darren dengan ekspresi yang sulit diartikan, lalu bertingkah seperti baru sadar.

“Di mana aku?” tanyanya lemah.

Winston segera menjawab, mencoba tersenyum. “Kau pingsan, Neysa. Darren membawamu ke rumah ini. Kau aman sekarang.”

Neysa mendadak terdiam. Tangannya perlahan menyentuh lehernya, seolah mengingat sesuatu. Lalu ia menutup mulutnya, menatap Darren dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku ingat, Darren ... kau mencekikku sampai aku pingsan,” ucapnya dengan suara gemetar.

Darren menghela napas panjang, menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf,” katanya lirih, suaranya penuh penyesalan.

Winston menyadari ketegangan di antara keduanya dan memutuskan untuk memberi mereka ruang. Ia menatap Amy dan mengangguk. “Mari kita beri mereka waktu.”

Amy mendekati Darren, menunjuk ke arah Neysa dengan pandangan serius.

“Ingat, Darren. Dia sedang hamil. Jangan membuatnya stress.”

Ucapan Amy membuat Neysa tersentak. Ia menatap Amy dengan ekspresi terkejut, lalu perlahan memegang perutnya sendiri. “Aku… aku hamil?” tanyanya pelan, seperti tidak percaya.

Darren melangkah mendekat, duduk di sisi ranjang. Ia mencoba memegang tangan Neysa, tapi wanita itu langsung menepisnya. “Kau tidak perlu khawatir,” kata Neysa dingin. “Aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu. Aku akan mengurus anak ini sendiri di keluarga Lawrence.”

Darren menahan geram, mencoba menenangkan dirinya. Ia tersenyum tipis, meski terlihat jelas bahwa ia sedang menahan emosi. “Aku akan menemanimu menjalani masa kehamilan ini,” katanya dengan nada tenang.

Neysa tertawa kecil, sarkastik. “Bagaimana kau bisa menjagaku, Darren? Kau hampir membunuhku tadi.”

Darren menatapnya, mencoba menjelaskan. “Aku tidak tahu kau sedang hamil, Neysa.”

Neysa langsung menimpali, nadanya tajam. “Kalau aku tidak hamil, apa kau benar-benar akan membunuhku? Dan setelah anak ini lahir, apa kau akan membuangku begitu saja?”

Darren terdiam, tidak bisa membalas kata-kata itu. Neysa memang tidak sepenuhnya salah. Namun, ia ingat Amy memperingatkannya untuk tidak membuat Neysa stres.

“Hal seperti itu tidak akan terjadi,” jawab Darren akhirnya.

Neysa menatapnya dengan sinis. “Kalau begitu, buktikan. Buat surat pernyataan kalau kau tidak akan meninggalkanku setelah anak ini lahir.”

“Surat pernyataan?” Darren mengerutkan kening, menatap Neysa dengan bingung.

Neysa mengangguk. “Surat yang menjelaskan kalau kau meninggalkanku setelah anak ini lahir, maka hak asuh anak akan sepenuhnya milikku. Kalau kau memang bisa bertanggung jawab sebagai suami dan ayah. Ini bukan masalah besar, kan?”

Darren mendesah.

“Aku hanya melindungi diri dan anakku,” jawab Neysa santai. “Oh, dan aku juga ingin kita membuat pernikahan ulang yang lebih meriah, supaya semua orang tahu aku adalah istrimu. Aku tidak ingin ada gosip tentang aku hamil di luar nikah.”

Darren berdecak kesal. Ia tahu, jika menyetujui permintaan ini, ia benar-benar berada di bawah kendali Neysa. Apalagi perjanjiannya dengan Derrick yang mengharuskannya meninggalkan Neysa setelah anak itu lahir.

“Tidak perlu buru-buru menjawab,” Neysa berkata sambil menyandarkan kepala ke bantal. “Tapi aku rasa ini cukup adil untukku.”

Tiba-tiba, Neysa memegang perutnya dan berpura-pura kesakitan. “Ah… Darren…”

Darren langsung panik. “Amy! Winston!” serunya.

Namun, Neysa dengan cepat menahannya. “Tidak usah panggil siapa-siapa. Aku hanya pusing memikirkan kalau kau menolak tawaranku.”

Darren menatap Neysa dengan tatapan tidak percaya. Akhirnya, dengan suara berat, ia berkata, “Baik, aku setuju.”

Neysa tersenyum puas. Ia bangkit perlahan, lalu tanpa diduga, duduk di pangkuan Darren. “Kau membuat keputusan yang tepat,” bisiknya sambil menatap Darren dalam.

Sebelum Darren bisa bereaksi, Neysa menunduk dan mencium bibirnya. Darren terkejut, tapi ia tidak menolak. Sesaat, ia melingkarkan tangannya di pinggang Neysa, memperdalam ciuman mereka.

Ketukan di pintu tiba-tiba memecah momen itu. Suara Winston terdengar dari luar. “Darren, Neysa, kami masih ada di sini. Jangan lupa ada orang lain di rumah ini.”

Mendengar itu, Darren dan Neysa langsung terdiam. Neysa menyembunyikan senyumnya, sementara Darren hanya bisa menghela napas panjang.

----

Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan stabil, Derrick duduk diam sambil menatap lurus ke depan. Jalanan yang membentang di hadapannya tampak kosong, hanya diterangi oleh lampu jalan yang sesekali berkedip.

Namun, pikirannya tidak berada di jalan itu. Ingatannya terbang kembali ke masa lalu, ke hari-hari ketika ia pertama kali bertemu dengan Neysa.

Derrick masih ingat jelas saat Ayah Neysa datang ke panti asuhan tempatnya tinggal. Ia hanyalah seorang anak kecil yang tidak memiliki siapa-siapa, kehilangan orang tua sejak usia dini. Ayah Neysa, dengan wajah dinginnya, membawanya pulang ke rumah mereka. Alasan di balik itu tidak pernah ia mengerti waktu itu. Tapi satu hal yang ia tahu, hidupnya berubah sejak hari itu.

Di rumah keluarga Lawrence, Neysa sering kali menjadi pusat perhatian dengan segala tingkahnya. Gadis kecil itu selalu membuat ulah, entah itu menjatuhkan vas bunga berharga atau membuat noda tinta di dokumen penting milik ayahnya. Setiap kali itu terjadi, Derrick, yang saat itu hanya dianggap seperti pelayan, selalu menjadi tameng. Dialah yang harus menerima hukuman, meskipun bukan dia yang bersalah.

"Berendam di kolam air dingin di malam hari," gumam Derrick pelan, mengingat salah satu hukuman yang sering ia terima. Atau tidur di gudang yang gelap dan lembap, bahkan terkadang di peternakan bersama hewan-hewan. Ia tidak pernah mengeluh. Baginya, itu lebih baik daripada melihat Neysa dimarahi atau dipukul oleh ayahnya.

Namun, Neysa tidak pernah tinggal diam. Gadis kecil itu sering menyelinap keluar kamar di malam hari, membawa sepotong roti atau selimut tipis untuk Derrick.

“Kau baik-baik saja?” tanya Neysa setiap kali ia mendapati Derrick dalam kondisi yang mengenaskan.

Derrick selalu tersenyum, meski tubuhnya gemetar kedinginan. “Aku baik-baik saja, Nona kecil. Kau tidak perlu khawatir.”

Namun Neysa tidak pernah percaya. “Kau tidak perlu melindungiku terus-menerus, Derrick. Ayah terlalu keras. Kau bisa mengatakan kalau ini salahku.”

Derrick menggeleng, matanya menatap Neysa dengan lembut. “Aku bisa menahannya, asalkan kau tidak perlu merasakannya.”

Mata Neysa berkaca-kaca mendengar jawaban itu. “Kalau begitu, nanti setelah aku dewasa, aku akan bicara pada Ayah. Aku akan memintanya berhenti menyakitimu.”

Derrick tersenyum kecil, mengusap kepala Neysa pelan. “Aku percaya padamu.”

B e r s a m b u n g ....

Mau kasihan, tapi dia kejem :⁠'⁠(

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Biar Mimin tetep semangat, makasih (⁠^⁠^⁠)

1
asy
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!