Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Cahaya senter itu bergerak semakin cepat menyorot ke arah semak-semak tempat Arga bersembunyi.
Arga segera menyentuh permukaan brankas logam berlumuran lumpur itu dengan telapak tangannya.
"Sistem, masukkan brankas ini dan alat pancing gue ke dalam inventaris sekarang juga," perintah Arga dalam hati.
Dalam sekejap mata brankas berat dan joran karbon itu lenyap dari atas tanah tanpa bekas.
Arga langsung melompat keluar dari semak-semak dan berpura-pura sedang melakukan pemanasan kaki.
Petugas patroli yang membawa senter itu berlari mendekat dengan wajah curiga.
"Mas lagi ngapain malam-malam gelap begini di pinggir danau?" tegur petugas itu sambil mengarahkan senternya ke bawah.
Petugas itu mencari barang bukti karena dia yakin mendengar suara cipratan air yang sangat keras tadi.
"Lagi lari malam Pak, sekalian pendinginan di sini soalnya sepi," jawab Arga sesantai mungkin.
"Gue dengar ada suara air kenceng banget tadi, Mas gak lihat ada orang buang sesuatu ke danau?" selidik petugas keamanan itu.
"Oh suara air tadi ya Pak, gue lihat ada biawak gede banget nyebur dari pinggir trotoar," karang Arga menunjuk ke arah air yang masih beriak.
Petugas patroli itu mengangguk pelan karena danau ini memang sering didatangi biawak liar dari selokan besar.
"Ya sudah Mas jangan kelamaan nongkrong di sini, angin malamnya kurang bagus buat kesehatan," pesan petugas itu menurunkan senternya.
"Siap Pak, ini gue juga udah mau balik ke parkiran depan kok," balas Arga tersenyum ramah.
Arga segera berjalan santai meninggalkan area danau buatan itu menuju ke tempat mobilnya diparkir.
Jantungnya baru bisa berdetak normal kembali setelah dia duduk di balik kemudi mobil SUV hitamnya.
'Gila, hampir aja gue ketangkap basah bawa pancingan di tempat terlarang,' batin Arga mengusap keringat dingin di dahinya.
Arga menyalakan mesin mobilnya dan langsung melaju meninggalkan kawasan Epicentrum menuju kamar kosnya.
Perjalanan pulang malam ini terasa jauh lebih ringan karena dia berhasil mengamankan hadiah utama dari sistem.
Sesampainya di kos, Mas Yanto sedang duduk di pos sambil memakan sebungkus martabak manis.
"Loh Mas Arga baru pulang lagi jam segini, mari mampir makan martabak dulu," tawar Mas Yanto mengangkat kantong plastiknya.
"Wah makasih Mas Yanto, gue kebetulan udah kenyang banget habis makan di luar tadi," tolak Arga halus sambil tersenyum.
"Mobil barunya enak kah Mas buat dipakai jalan malam begini?" tanya Mas Yanto membuka obrolan.
"Enak banget Mas, suspensinya empuk jadi gak kerasa capek nyetirnya," puji Arga meladeni basa-basi penjaga kosnya.
"Gue naik dulu ya Mas Yanto, badan udah lengket banget pengen buru-buru mandi air hangat."
"Silakan Mas Arga, selamat istirahat malam ya," ucap Mas Yanto kembali fokus ke martabaknya.
Arga berjalan cepat menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Dia melepaskan jaketnya yang sedikit terkena cipratan lumpur dan langsung menuju ke tengah ruangan.
Arga memanggil layar inventaris sistem dan memilih brankas logam berkarat yang baru saja dia pancing.
Bruk.
Brankas itu muncul begitu saja dan mendarat di atas karpet kamarnya lengkap dengan sisa lumpur danau.
Terdengar suara mekanis sistem yang sangat jernih di dalam kepala Arga.
Ding.
"Misi Utama berhasil diselesaikan dengan sempurna tanpa meninggalkan jejak bukti fisik," lapor suara sistem.
"Host mendapatkan Surat Izin Usaha, Akta Pendirian Perusahaan, dan tambahan seribu Poin Sistem."
Arga tidak sabar dan langsung mendekati brankas berkarat yang engselnya sudah terlihat sangat rapuh itu.
Dia memegang penutup brankas itu dan menariknya paksa menggunakan tenaga dari Peningkatan Fisik miliknya.
Krak.
Pintu brankas itu terbuka memperlihatkan isi di dalamnya yang dibungkus oleh plastik kedap air yang sangat tebal.
Arga merobek plastik pelindung itu dan menemukan sebuah map dokumen kulit berwarna cokelat tua.
Di bawah map dokumen itu juga terdapat sebuah guci keramik kecil berwarna biru putih yang kondisinya sangat mulus.
Arga mengeluarkan map dokumen itu dan membaca lembaran kertas resmi yang tercetak di dalamnya.
Kertas pertama adalah Akta Pendirian Perusahaan dengan nama PT Arga Antik Nusantara yang sudah dilegalisir penuh.
Kertas kedua adalah Surat Izin Usaha Perdagangan yang mengizinkan dia melakukan transaksi jual beli barang seni dan antik.
Semua cap, stempel, dan tanda tangan dari kementerian terkait terlihat sangat asli dan sah secara hukum negara.
'Sistem ini beneran ngeretas database negara buat masukin nama perusahaan gue,' batin Arga takjub campur ngeri.
Arga lalu mengambil guci keramik kecil itu dan mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya.
Nama Barang: Guci Keramik Dinasti Song Utara.
Tingkat Kelangkaan: Sangat Langka.
Deskripsi: Guci peninggalan kaisar kuno yang terkubur selama ratusan tahun dan tidak memiliki efek kutukan apa pun.
Nilai Taksiran Pasar: Sekitar dua miliar rupiah di balai lelang resmi internasional.
Tangan Arga sampai bergetar pelan saat memegang guci keramik yang ukurannya hanya sebesar mangkuk mi instan itu.
Modal dua miliar ini sangat lebih dari cukup untuk menyewa ruko strategis dan memulai bisnis barang antiknya.
Arga membersihkan sisa lumpur di karpetnya dan membuang brankas hancur itu ke dalam kantong sampah besar.