Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19 : DEBAT PANAS DI RUANG KELUARGA BASKARA
Jarum jam dinding di koridor utama kediaman mewah keluarga Baskara tepat menunjukkan pukul sembilan malam lewat beberapa menit. Setelah mengantarkan Kalea pulang ke rumahnya dan memastikan wanita bermata biru itu masuk dengan aman, Raditya Evan Baskara akhirnya memarkirkan mobil sedan mewahnya di pelataran parkir luas.
Radit melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-sisa kelelahan yang menggelayuti pundaknya. Begitu melewati pembatas lorong, pandangan mata elangnya langsung tertangkap pada kesibukan di ruang keluarga utama. Di atas sofa beludru abu-abu yang melingkar nyaman, tampak Ambarwati Baskara sedang duduk bersama kedua anak bungsunya, Dimas Narendra Baskara dan Amanda Clarissa Baskara. Mereka bertiga sedang asyik menonton sebuah tayangan bincang-bincang santai di layar televisi LED berukuran besar.
"Assalamualaikum," ucap Radit dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar lebih rileks malam ini.
"Waalaikumsalam," jawab Dimas dan Amanda serempak, sementara Ambarwati hanya menjawab dengan nada ketus yang sangat tipis tanpa menolehkan wajahnya dari layar televisi.
Radit melangkah mendekati sofa tempat ibunya duduk. Dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh rasa hormat, dia membungkukkan tubuh jangkungnya untuk meraih tangan kanan ibunya, lalu mencium punggung tangan Ambarwati dengan takzim. Selesai menunaikan kewajibannya sebagai anak tertua, Radit menarik sebuah kursi empuk di sebelah Dimas dan memilih untuk bergabung duduk bersama mereka.
Suasana santai menonton televisi itu mendadak berubah jadi kaku dan canggung. Ambarwati langsung menekan tombol mute pada remot televisi, mematikan seluruh suara tayangan hingga ruangan luas itu seketika diliputi keheningan yang mencekam. Wanita paruh baya yang masih memendam amarah luar biasa akibat kejadian siang tadi itu memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Radit dengan pandangan yang penuh penolakan.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang, Radit?" tanya Ambarwati dengan nada suara yang tajam dan dingin. "Kamu seharian ini keluyuran sama anak haram itu lagi, kan? Kamu bener-bener ya, udah nggak mau dengerin omongan Mommy lagi!"
Radit mengembuskan napas panjang yang sangat kasar dari lubuk dadanya. Dia mengangkat kedua telapak tangannya, mengusap wajah tampannya dengan gerakan yang menyiratkan kelelahan batin menghadapi keras kepalanya sang ibu. Pria berusia 29 tahun itu mencoba meredam egonya sendiri. Dia menolak membalas dengan bentakan, melainkan memilih berbicara dengan nada suara yang sangat lembut, tenang, dan tertata rapi demi menjaga perasaan ibunya.
"Mommy... tolong jangan panggil Kalea dengan sebutan seperti itu lagi," ucap Radit lembut, matanya menatap Ambarwati penuh permohonan yang tulus. "Aku seharian ini emang pergi sama Kalea buat nenangin pikirannya. Kalea itu cewek baik-baik, Mom. Dia mandiri, kerja keras jadi General Manager di hotel bintang lima hasil keringatnya sendiri. Silsilah darah atau apa pun kata orang di luar sana tentang masa lalunya, itu semua bukan kesalahan Kalea. Dia nggak pantes dapet caci maki kayak begitu."
"Mommy nggak peduli, Radit!" potong Ambarwati dengan suara yang meninggi, wajah paruh bayanya memerah merona karena emosi yang kembali tersulut. "Keluarga Baskara itu keluarga terhormat! Mendiang daddymu, kamu, Dimas, Amanda, semuanya punya posisi tinggi di masyarakat! Mana mungkin Mommy sudi nerima menantu yang silsilah keluarganya cacat dan dicap anak haram sama lingkungan arisanku sendiri?! Mau ditaruh di mana muka Mommy kalau Jeng Larasati dan temen-temen sosialitaku tahu kamu nikah sama cewek kayak begitu?! Pokoknya Mommy tetep nggak mau nerima dia, titik! Kenapa tadi siang kamu nekat banget bawa dia ke rumah ini?!"
Mendengar ucapan Ambarwati yang meledak-ledak itu, Dimas dan Amanda langsung tersentak kaget. Selama seharian ini, dari pagi sampai sore, Dimas sibuk mengurus rapat senat di kampusnya sebagai rektor, sedangkan Amanda juga sangat sibuk di butik fashion miliknya untuk mempersiapkan peragaan busana minggu depan. Karena kesibukan kerja masing-masing, keduanya sama sekali tidak tahu-menahu tentang keributan besar yang terjadi di rumah ini tadi siang. Terlebih lagi, Ambarwati yang gengsinya sangat tinggi sengaja menutup rapat masalah tersebut dan tidak menceritakannya lewat telepon kepada mereka berdua agar nama baik keluarga tidak tercoreng.
Dimas dan Amanda mendadak saling berpandangan satu sama lain dengan mata terbelalak kaget. Keduanya kompak mengendikkan bahu mereka secara bersamaan dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bingung dan tidak percaya setelah mendengar fakta mengejutkan yang baru saja mereka dengar malam ini.
Amanda, si anak bungsu, akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka suara. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangannya sambil menatap bergantian ke arah Radit dan ibunya. "Lho, lho... bentar dulu, Mom! Mas Radit! Ini maksudnya gimana sih? Amanda sama Mas Dimas beneran baru denger sekarang, lho! Tadi siang Mas Radit beneran bawa cewek ke rumah ini? Terus cewek itu dicap anak haram sama Tante Larasati? Kok bisa-bisanya situasi di rumah ini melompat jauh jadi seheboh ini?!"
Meskipun adik-adiknya mulai kebingungan, Radit tetap mempertahankan ketenangannya. Sifat dewasanya membuat dia tetap berbicara dengan nada yang sangat lembut dan sabar kepada ibunya. "Iya, Amanda. Tadi siang aku emang bawa Kalea ke sini buat ngenalin ke Mommy. Tapi Tante Larasati langsung datang bawa fitnah sampah tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Mom... pernikahan itu kan urusan aku yang bakal ngejalanin, bukan urusan temen-menen arisan Mommy. Aku milih Kalea karena cuma dia cewek yang bisa bikin aku ngerasa nyaman dan ngeruntuhin semua sifat kakuku selama ini. Aku mohon, Mom... buka sedikit hati Mommy buat kenal Kalea lebih dekat dulu."
Dimas yang duduk di sebelah Radit mendadak berdehem keras, menyembunyikan rasa keterkejutan yang luar biasa di dalam hatinya. Otak cerdasnya sebagai rektor muda langsung berputar hebat. Dia teringat cerita cintanya sendiri semalam tentang gadis bermata biru bernama Kalea yang dia tolong di pinggir jalan karena kehabisan bensin. Rasa panik mulai merayap di dada Dimas.
"Nggak mungkin... nggak mungkin cewek bermata biru yang dimaksud Mas Radit dan Mommy malam ini adalah Kalea-ku, kan?" batin Dimas dengan jantung yang berdegup kencang secara tidak karuan.
"Ehem! Mas Radit... kamu kalau udah milih cewek ternyata nekat juga ya," ucap Dimas, suaranya agak bergetar mencoba menutupi kecemasannya. Dia menatap kakaknya lekat-lekat, mencari kebenaran. "Tapi Mom... kalau menurut aku sih, mending kita dengerin dulu penjelasan Mas Radit pelan-pelan. Jangan langsung emosi malam-malam begini, nggak baik buat kesehatan jantung Mommy."
"Kamu jangan ikut-ikutan ngebela abangmu ya, Dimas!" semprot Ambarwati tajam, membuat Dimas langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah pasrah. Ambarwati kembali menatap Radit dengan pandangan yang kaku dan tidak tergoyahkan sepeser pun. "Mommy tetep pada keputusan Mommy, Radit. Kalau kamu nekat mau nikah besok pagi di KUA tanpa persetujuan Mommy, jangan harap kamu bakal dapet restu sepeser pun dari rumah ini sampai kapan pun!"
Radit menghela napas panjang sekali lagi, menatap ibunya dengan tatapan mata yang penuh rasa sayang namun dipenuhi ketegasan yang mutlak. "Aku tetap bakal nikahin dia besok, Mom. Aku berharap seiring berjalannya waktu, Mommy bakal bisa liat ketulusan Kalea dan ngebuka pintu maaf buat kita berdua."
Perdebatan panjang dengan rentetan dialog yang menguras emosi di antara anggota keluarga Baskara malam itu akhirnya ditutup oleh keheningan malam yang sunyi.
...****************...
Malam semakin larut, namun ketenangan sama sekali enggan singgah di kamar tidur Dimas Narendra Baskara. Kamar bernuansa modern minimalis dengan dominasi warna abu-abu gelap itu terasa sunyi, hanya menyisakan deru halus dari pendingin ruangan. Dimas mondar-mandir di dekat ranjangnya dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan yang luar biasa besar. Pembicaraan panas antara ibunya dan Radit di ruang keluarga tadi benar-benar terus berputar-putar di dalam kepalanya, merusak seluruh fokusnya.
"Kalea. Mas Radit tadi berulang kali sebut nama Kalea. Nggak mungkin... nggak mungkin Kalea yang dimaksud Mas Radit itu adalah Kalea-ku, kan? Di dunia ini kan ada ribuan orang yang punya nama Kalea," batin Dimas mencoba menenangkan hatinya yang mendadak gelisah.
Karena merasa sumpek di dalam ruangan, Dimas memutuskan untuk melangkah keluar menuju balkon kamarnya yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah yang luas. Angin malam yang dingin berembus menerpa kafe kasual hitam yang dia kenakan. Dimas menarik sebuah kursi rotan, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sana. Dia merogoh saku celananya, mengambil sebungkus rokok dan pemantik, lalu menyalakan sebatang rokok. Dia mengembuskan asap rokoknya perlahan ke udara malam, menatap pendar rembulan yang temaram.
Di tengah kegelisahannya, ingatan Dimas mendadak terlempar kembali pada momen manis di pinggir jalan kemarin malam. Bayangan wajah cantik wanita berhijab yang dia tolong karena kehabisan bensin itu langsung melintas rapi di benaknya. Dimas mendadak tersenyum-senyum sendiri laksana orang gila di tengah kegelapan balkon. Senyuman hangat yang tulus menatap bayangan mata biru jernih dan cara bicara tegas wanita itu yang sangat memikat hatinya.
"Nggak bisa dibiarin. Aku harus cari tahu tentang dia sekarang," gumam Dimas pada dirinya sendiri.
Dimas buru-buru mematikan rokoknya di asbak, lalu merogoh ponsel pintarnya dari saku. Demi menuntaskan rasa penasarannya, dia membuka aplikasi Instagram. Di kolom pencarian, jari-jemarinya yang kokoh dengan cepat mengetikkan nama lengkap yang sempat dia dengar kemarin malam: Kalea Azzahra.
Klik.
Hanya dalam hitungan detik, layar ponsel Dimas menampilkan sebuah akun dengan foto profil seorang wanita bermata biru jernih yang sedang tersenyum sangat manis. Jantung Dimas mendadak berdegup kencang. Itu beneran akun milik Kalea-nya! Dimas langsung menekan akun tersebut dan matanya membelalak kaget melihat jumlah pengikut (follower) yang ternyata sangat banyak, mencapai puluhan ribu orang. Wajar saja, sebagai General Manager hotel bintang lima yang berwibawa dan berwajah cantik langka, Kalea cukup dikenal di kalangan profesional dan sosialita muda.
Dimas mulai berselancar, menggeser layarnya ke bawah untuk melihat postingan foto-foto di akun Kalea. Di sana, banyak sekali foto-foto cantik Kalea yang sedang tersenyum manis dengan berbagai gaya kasual yang anggun. Ada beberapa foto Kalea yang sedang tertawa lepas bersama seorang perempuan berwajah absurd yang dia ketahui dari takarir (caption) bernama Zaskia, sahabat karibnya. Ada juga foto hangat Kalea sedang memeluk seorang wanita tua paruh baya dengan pakaian pelayan sederhana yang ditulis dengan nama Bi Minah—satu-satunya orang rumah yang Kalea percaya.
Dimas kembali tersenyum-senyum sendiri, matanya berbinar penuh pujaan menatap keindahan penuh senyuman manis Kalea di layar ponselnya. Tanpa ragu-ragu sepeser pun, jari Dimas langsung menekan tombol biru bertuliskan Follow. "Nah, sekarang aku udah resmi jadi pengikutmu, bidadari bermata biru," bisik Dimas puas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya bahagia.
Plak!
Sebuah tepukan tangan yang cukup keras mendadak mendarat di bahu kanan Dimas dari arah belakang, memecah kesunyian balkon seketika.
"Eh, copot?!" Dimas langsung terlonjak kaget dari kursi rotannya. Jantungnya rasanya mau copot karena saking terkejutnya. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat karena panik, Dimas langsung menekan tombol power untuk mematikan layar ponselnya, lalu menyembunyikan benda pipih itu di balik punggungnya dengan wajah yang mendadak salah tingkah luar biasa.
Di hadapannya, berdiri Raditya Evan Baskara. Sang abang sulung berdiri menjulang tinggi dengan bersandar di bingkai pintu balkon yang terbuka. Radit yang masih mengenakan pakaian kasual santainya malam itu langsung menyipitkan sepasang mata elangnya dengan sangat tajam, meneliti gerak-gerik mencurigakan dari adiknya dari jarak dekat.
"Kamu ini hobi banget ya kaget kalau dideketin, Dimas," tegur Radit dengan suara baritonnya yang berat, kaku, dan dipenuhi selidik. "Lagian ngapain malam-malam begini duduk di balkon sendirian sambil tersenyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras begitu? Terus kenapa ponselmu langsung dimatiin pas aku dateng? Kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari aku, ya?"
Dimas berdehem beberapa kali, mencoba menstabilkan suaranya yang sempat gagap demi menguasai rasa salah tingkahnya di depan sang abang. "E-Ehem! Kamu ini bener-bener kebiasaan ya, Mas Radit! Suka banget dateng tiba-tiba kayak hantu komplek! Nggak ada ya ketukan pintu atau salam dulu sebelum masuk ke kamar orang?!"
Radit melangkah maju dua langkah, masuk ke area balkon dan berdiri tepat di samping kursi Dimas. Matanya tetap mengunci ekspresi wajah adiknya yang kelihatan tegang. "Aku udah ketuk pintu kamarmu tiga kali, tapi kamunya aja yang budek karena terlalu asyik tersenyum gila mandang layar ponsel itu. Ayo mengaku sekarang, siapa wanita yang udah sukses bikin seorang rektor muda yang cerdas mendadak berubah jadi bucin gila malam-malam begini, hah?" goda Radit dengan nada suara sarkastiknya yang tipis, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka.
Dimas mendengus pelan, namun sebuah senyuman lebar kembali merekah di wajah tampannya saat dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan aman. Dia menatap kakaknya dengan binar mata yang penuh rahasia romantis. "Ada deh, Mas. Kepo banget sih kamu jadi abang! Pokoknya dia itu cewek yang semalam aku ceritain ke kamu. Cewek mandiri yang motornya habis bensin itu. Malam ini aku baru aja nemu akun media sosialnya, dan pas liat foto-fotonya... ya ampun, dia beneran cantik banget, Mas! Senyumannya itu bener-bener manis, bisa bikin hatiku yang dingin ini langsung meleleh seketika."
Radit melipat kedua tangannya di depan dada, menatap adiknya dengan pandangan datar yang sedikit meremehkan, khas seorang pria yang belum paham sepenuhnya tentang romansa. "Cuma karena liat foto di Instagram kamu bisa sesenang itu, Dimas? Logika berpikirmu bener-bener udah hanyut gara-gara urusan jatuh cinta."
"Biarin! Kamu mana paham urusan getaran begini, Mas!" balas Dimas sambil tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya meledek Radit. "Kamu kan jomblo elit seumur hidup yang baru sekarang ngerasain bucin gara-gara cewek bermata biru yang kamu bawa siang tadi. Omong-omong, Mas... cewek yang kamu bawa tadi siang itu namanya siapa sih? Aku sama Amanda beneran penasaran banget, soalnya Mommy dari tadi ngamuk terus sebut dia anak haram."
Mendengar pertanyaan Dimas tentang nama Kalea, Radit mendadak terdiam sejenak. Rahang tegasnya mengeras kaku, seolah enggan membagi privasi wanita kontraknya sebelum pernikahan sah mereka besok pagi selesai terwujud. Radit memalingkan wajahnya menatap ke arah gelapnya taman bawah. "Namanya nggak penting buat kamu tahu sekarang, Dimas. Besok pagi pas urusan pendaftaran di KUA selesai, kamu sama Amanda juga bakal tahu sendiri siapa dia."
Dimas mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan sikap rahasia abangnya. Namun, dia memilih tidak mendesak lebih jauh. Dimas berdiri dari kursinya, menepuk pundak kekar Radit dengan akrab. "Ya udah deh kalau masih mau rahasia-rahasiaan. Tapi serius ya, Mas Radit... aku dukung penuh keputusanmu buat nikah besok kalau emang itu bisa bikin kamu bahagia dan lepas dari perjodohan Mommy sama Kak Natasha. Walaupun Mommy masih marah, aku yakin seiring berjalannya waktu Mommy bakal luluh."
"Makasih, Dimas. Aku hargai dukunganmu," jawab Radit dengan nada suara baritonnya yang melembut, menatap adiknya penuh rasa sayang seorang kakak tertua. Dia menepuk balik bahu Dimas. "Sekarang kamu mending tidur. Besok kamu harus ke kampus pagi-pagi kan buat ngurus mahasiswamu? Jangan sampai rektor muda kita kesiangan gara-gara begadang mantengin Instagram cewek misterius itu."
"Hahaha, siap, Bos Dokter!" goda Dimas sambil tertawa lepas, melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon, meninggalkan Radit yang masih berdiri mematung sendirian di bawah siraman angin malam.