Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 33. Digrebek
Seminggu berlalu setelah acara pertunangan Awan, itu berarti desain home wear yang dirancang oleh Wulan sudah mulai masuk produksi. Pagi menjelang siang ini, Langit mengajak Wulan untuk berkeliling ke ruang produksi, di mana setiap proses dari lembaran kain sampai keluar menjadi produk siap pasar berada di ruangan yang sangat luas ini.
"Jadi ini ruang produksi pabrikku, Lan. Dan lihatlah, lembaran kain batik sesuai dengan desainmu sedang di proses dari pembuatan pola, cutting, sewing, dan terakhir nanti adalah labeling."
Wajah Wulan menampakkan raut wajah yang begitu bahagia. Matanya memanas hingga titik-titik bening itu berkumpul di sudut mata. Hati wanita itu dipenuhi oleh keharuan karena pada akhirnya semua mimpi yang pernah tertunda, kini benar-benar menjadi nyata. Sebentar lagi, hasil rancangannya akan banyak dinikmati dan dipakai oleh masyarakat.
"Terima kasih banyak ya Mas. Aku sampai tidak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih kepadamu. Jika bukan perantara kamu mungkin saat ini aku masih kebingungan untuk menjalani hidup bersama dengan Bagas."
"Cukup kamu upgrade passion yang ada dalam dirimu, itu sudah lebih cukup Lan. Tunjukkan kepada dunia dan kepada putramu, bahwa kamu adalah wanita yang tangguh dan bersinar."
Wulan menganggukkan kepala. "Iya Mas, aku akan selalu mengupgrade kemampuan yang aku miliki sehingga desain-desainku juga mengikuti perkembangan zaman."
Wulan kembali menatap lekat mesin-mesin raksasa yang ada di hadapannya. Air matanya perlahan jatuh karena pada akhirnya, Tuhan membawa sampai di titik ini.
Senyum manis juga tiada henti tersungging di bibir Langit. Ia menatap wajah Wulan dalam diam. Melihat wanita yang begitu tangguh seperti ini sungguh membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda di hati.
Jika kamu sudah sembuh dari luka pernikahan itu, apakah aku boleh untuk menjadi bagian dari hidupmu Lan?
Langit larut dalam pikirannya sendiri. Sampai membuat lelaki itu tidak sadar jika Wulan memperhatikan dengan intens raut wajahnya.
"Mas, kamu kenapa? Kok malah melamun?"
Langit terkesiap ketika Wulan menyadarkan lamunannya. "Eh, tidak apa-apa Lan."
"Tapi kok melamun?"
Langit bersegera memutar untuk mencari jawaban yang pas. Ia tidak ingin jika Wulan sampai tahu jika ia sedang melamunkannya.
"Jika ada waktu aku kenalkan kamu dengan ibuku ya Lan? Sepertinya kalian akan cocok untuk ngobrol karena ibuku juga pandai menjahit pakaian. Bahkan beliau masih sering merajut."
"Tapi apa tidak berlebihan Mas?"
"Tentu tidak," jawab Langit mantap. "Saat ini beliau tinggal di luar kota. Satu saat nanti jika beliau datang ke kota ini, aku kenalkan kamu kepada beliau."
Wulan hanya mengangguk pelan. "Baiklah Mas."
***
"Pak RT, ini bagaimana? Rumah di pojokan itu sering dibuat kumpul kebo loh. Memang Pak RT mau kita kena azab karena di lingkungan kita ada yang berbuat mesum?"
Rumah ketua RT di perumahan yang ditempati oleh Awan dan Mega menuntaskan hasrat mendadak ramai oleh beberapa warga yang berkumpul di sana. Mereka merasa resah karena ada rumor jika salah satu rumah di komplek ini dibuat kumpul kebo oleh laki-laki dan wanita yang belum sah menjadi suami-istri.
"Ibu dengar dari siapa jika rumah itu dipakai untuk kumpul kebo? Memang Ibu pernah melihatnya?" tanya pak RT mencoba memastikan. Ia tidak ingin jika jadi fitnah.
"Kami memang belum ada buktinya Pak, tapi coba Pak RT pikir, apa yang dilakukan oleh sepasang manusia berjenis kelamin berbeda yang belum menikah di rumah itu? Lagipula mereka belum mengumpulkan surat nikah kan?"
Pak RT mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh warganya ini. Ia membenarkan jika selama hampir tiga bulan tidak ada laporan masuk perihal orang yang menempati rumah di pojokan itu.
"Jadi sekarang kita harus bagaimana Pak, Bu?" tanya Pak RT meminta saran.
"Pak setiap sore mereka sepertinya ada di sana loh. Bagaimana kalau kita grebek saja mereka daripada membuat resah?" usul seorang laki-laki yang merupakan salah satu warga di RT ini.
"Iya Pak, kami setuju jika dilakukan penggrebekan. Biar mereka kapok."
Pak RT nampak berpikir sejenak dan akhirnya ia menganggukkan kepala. "Baiklah kita grebek sama-sama. Tapi saya minta jangan sampai ada yang bermin tangan ya. Kita selesaikan semua baik-baik."
"Siap!!!"
"Baik, kita siap-siap. Nanti jika memang mereka sudah datang bisa kita grebek."
*****
"Sudahlah Sayang, kamu jangan cemburu buta seperti ini. Aku sama sekali tidak terpesona kepada Wulan."
Di rumah yang biasa ia gunakan untuk bermesraan bersama Mega, Awan masih belum menyerah untuk meluluhkan hati Mega. Sejak acara pertunangan itu Mega selalu saja cemburu karena menganggapnya terpesona kepada sang mantan istri. Sehingga membuat Mega uring-uringan sendiri.
"Tapi matamu tidak bisa bohong Mas. Kamu terlihat begitu terpesona dengan Wulan. Adikmu juga memuji Wulan bahkan ibumu juga memuji Wulan, itu semua membuatku takut."
Awan membuang napas sedikit kasar. Ia berjalan mendekati Mega dan membawa Mega ke dalam dekapannya.
"Apa yang kamu takutkan Sayang?"
"Aku takut jika kamu memutuskan untuk kembali rujuk dengan Wulan Mas. Aku takut jika rencana pernikahan kita gagal hanya karena perubahan penampilan istrimu yang semakin bersinar itu."
Awan mengusap-usap punggung Mega, meski sejatinya ia juga terpesona dengan perubahan penampilan sang mantan istri, namun sama sekali tidak terbesit di pikirannya untuk kembali mengajaknya rujuk.
"Di mataku hanya ada kamu yang bersinar, Sayang. Apapun perubahan penampilan Wulan tidak akan membuatku kembali kepadanya. Ya meski jujur, aku juga sempat sedikit terpesona melihatnya."
Mega terhenyak. Wajahnya kesal saat mendengar ucapan Awan. Ia memukul-mukul dada Awan. "Tuh kan..."
Awan terkekeh geli. Ia raih dagu Mega dan ia kecup dengan intens. "Marah-marah dan cemburunya sudah ya Sayang. Bagaimana kalau sekarang kita bersenang-senang? Sejak kamu ngambek, kamu sama sekali belum ngasih jatah."
Hati Mega melunak. Mendengar ucapan Awan yang sangat penuh damba membuat wanita itu seketika melupakan rasa kesal dan amarahnya. Ia pun menganggukkan kepala.
Bagai mendapat angin surga, Awan langsung melucuti semua pakaian Mega hingga membuat tubuh wanita itu polos tanpa sehelai benang pun. Tak lupa ia juga melucuti pakaiannya sendiri dan membuatnya sama-sama telanjang bulat.
"Kita main di atas meja makan ya Sayang. Aku ingin merasakan sensasi yang berbeda."
Mega mengangguk, menuruti semua ucapan Awan. Awan membopong tubuh Mega ala bridal style dalam kondisi telanjang menuju ruang makan. Ia letakkan tubuh Mega di atas meja makan. Seperti seekor singa yang kelaparan, Awan melahap semua bagian yang ada di tubuh Mega dengan rakus.
Sementara itu warga RT setempat berduyun-duyun mendatangi rumah Mega. Mereka mendatangi rumah Mega setelah ada informasi jika sepasang manusia tanpa status itu ada di dalam rumah itu.
"Pak ini langsung kita dobrak saja pintunya?" tanya salah seorang warga meminta persetujuan.
"Coba tarik tuas pintunya dulu Pak, barangkali tidak dikunci."
Perlahan salah seorang warga menarik tuas pintu. Mereka semua sama-sama penasaran karena pintu tidak dikunci dari dalam.
"Tidak dikunci Pak!"
"Ya sudah ayo kita semua masuk ke dalam!"
Blam!!!!!
Sura pintu yang mengenai sisi tembok menggema memenuhi sudut ruangan. Tanpa aba-aba semua warga merangsek masuk menjelajahi ruangan di rumah Mega. Hingga mereka pun sama-sama membeliakkan mata ketika melihat adegan syur di atas meja makan.
"Woiiiii apa yang kalian lakukan?!!!"
Mega dan Awan yang sedang larut dalam lautan hasrat sampai lupa daratan. Mereka sampai tidak mendengar suara banyak orang yang sedang menggrebek rumahnya. Seketika Awan dan Mega terperanjat. Bibir keduanya menganga lebar.
"Hah, apa-apaan ini!!!"
.
.
.