Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan paginya, rumah itu terasa sunyi. Haikal bersiap pergi bekerja seperti biasa seolah tidak terjadi apa pun semalam. Bahkan, pria itu sama sekali tidak membuka gudang tempat Annisa dikurung. Pikirannya justru sibuk memikirkan perkataan ibunya tadi malam.
Tentang surat pengalihan hak milik. Dan pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, Haikal benar-benar membawa beberapa dokumen penting ke dalam tasnya. Dirinya berniat mengurus semuanya diam-diam.
“Awas sampai gagal,” ujar Lasmi sambil minum teh santai di meja makan.
Haikal mengangguk singkat. “Nanti aku cari cara biar Annisa tanda tangan.”
Tak lama kemudian pria itu pergi meninggalkan rumah. Baru setelah suasana benar-benar sepi, Lasmi mulai kesal sendiri.
“Dasar bikin repot,” gerutunya sambil berjalan ke arah dapur.
Biasanya pagi-pagi seperti ini Annisa sudah memasak dan membersihkan rumah. Tetapi, sekarang semua pekerjaan menumpuk. Dengan wajah kesal, Lasmi akhirnya berjalan ke arah gudang belakang.
“Eh! Bangun!” Wanita tua itu membuka pintu gudang dengan kasar. Cahaya pagi langsung masuk menerangi ruangan gelap tersebut. Tetapi, beberapa detik kemudian, Lasmi mengernyit. Annisa terbaring di lantai dalam posisi meringkuk.
Tubuhnya diam tak bergerak, Lasmi malah mendecak kesal.
“Tidur?” katanya sinis. “Enak sekali hidupmu!”
Lasmi semakin kesal melihat Annisa tidak bergerak sedikit pun.
“Pura-pura pingsan paling!” Wanita itu lalu pergi ke dapur sambil terus mengomel.
Tak lama kemudian dirinya kembali membawa seember air.
“Biar sadar sekalian!” Air dingin langsung disiramkan ke tubuh Annisa. Tubuh wanita itu tetap tidak bergerak. Senyum sinis Lasmi perlahan memudar.
“Annisa?” Tak ada jawaban. Wajah Lasmi mulai berubah panik saat melihat bibir Annisa tampak pucat dan tubuhnya terasa sangat dingin.
“Annisa?” Suara Lasmi mulai terdengar gemetar. Wanita tua itu buru-buru mengguncang pundak menantunya beberapa kali.
“Eh! Bangun!” Tetapi, tubuh Annisa tetap lemas tanpa respons. Wajahnya pucat, bibirnya bahkan tampak sedikit membiru karena semalaman berada di gudang dingin tanpa makanan dan air.
Jantung Lasmi langsung berdegup panik.
“Ya Tuhan…”
Wanita itu benar-benar ketakutan. Tangannya mulai gemetar saat buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Haikal.
Sementara di sisi lain, Haikal yang sedang menyetir menuju kantor mengangkat panggilan itu dengan malas.
[Ada apa lagi, Bu?]
“Haikal!” suara Lasmi terdengar panik. “Cepat pulang!”
Haikal langsung mengernyit.
[Kenapa?]
“Annisa nggak bangun-bangun!”
Haikal langsung menegakkan tubuhnya.
[Maksud Ibu?]
“Ibu tadi buka gudang…” napas Lasmi memburu. “Dia nggak bergerak meskipun sudah dipanggil berkali-kali!”
Wajah Haikal langsung berubah tegang.
[Ibu serius?]
“Apa untungnya Ibu bohong!” bentak Lasmi mulai takut sendiri. “Cepat pulang dan bawa dia ke klinik!”
Jantung Haikal mulai berdegup tidak tenang. Tiba-tiba bayangan Annisa menangis ketakutan semalam muncul di kepalanya.
Haikal langsung mencengkeram setir lebih erat.
[Dia cuma pingsan kan?]
“Mana Ibu tahu!” suara Lasmi hampir menangis. “Kalau dia mati di rumah ini bagaimana?! Nanti orang-orang pikir kita nyiksa dia!”
Kalimat itu membuat wajah Haikal semakin pucat. Tanpa pikir panjang pria itu langsung memutar balik mobilnya dengan panik.
Sementara di rumah, Lasmi berdiri mondar-mandir di depan gudang sambil terus memandang tubuh Annisa dengan wajah ketakutan. Wanita tua itu benar-benar merasa takut.
Di perusahaan Erlangga.
Di ruang kerja utama lantai atas, Darto Erlangga tengah memeriksa beberapa dokumen perusahaan dengan tenang. Satrio berdiri di depannya sambil mencatat instruksi seperti biasa.
“Tahun ini tetap bagikan bingkisan tahunan untuk semua karyawan,” ucap Darto tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
“Baik, Tuan.”
“Dan untuk Haikal…” Darto berhenti sejenak. “Buat yang paling bagus.”
Satrio sedikit terdiam. Darto akhirnya mengangkat pandangannya perlahan.
“Isi dengan barang premium.” Nada suaranya melembut tipis. “Biar anak saya juga bisa ikut menikmati.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi, jelas sekali, semua perhatian khusus itu sebenarnya untuk Annisa. Karena Darto tahu putrinya hidup jauh dari nyaman setelah menikah.
“Baik, Tuan,” jawab Satrio hormat. Pria itu tampak sedikit ragu sebelum akhirnya kembali bicara.
“Tapi, Tuan…”
Darto mengernyit tipis. “Kenapa?”
“Pak Haikal tadi izin pulang mendadak, padahal belum sampai ke kantor,"
Entah kenapa jantung Darto langsung terasa tidak enak. “Izin pulang?”
Satrio mengangguk. “Katanya istrinya sakit.”
Wajah Darto langsung berubah serius. “Annisa sakit?”
“Sepertinya begitu, Tuan.”
Darto langsung menutup map di tangannya cukup keras.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Satrio sedikit terkejut melihat reaksi tuannya. Biasanya Darto selalu tenang dalam keadaan apapun.
“Saya baru menerima laporannya tadi, Tuan.”
Darto langsung berdiri dari kursinya dengan wajah tegang.
“Siapkan mobil.”
Satrio tersentak. “Tuan mau ke rumah Nona Annisa?”
Darto terdiam sesaat. Egonya sebagai seorang ayah masih menahannya.
“Aku ingin memastikan dia baik-baik saja.” Suaranya rendah namun penuh kecemasan. “Cepat.”
Namun, baru beberapa langkah berjalan, Darto Erlangga tiba-tiba berhenti. Tatapannya berubah ragu. Pria itu perlahan mengembuskan napas panjang lalu kembali duduk di kursinya. Satrio yang sudah bersiap pun ikut berhenti bingung.
“Tuan?”
Darto memejamkan mata sesaat. Dirinya sangat ingin pergi memastikan keadaan Annisa secara langsung. Dia juga tahu sifat putrinya. Annisa bisa marah besar jika tahu dirinya terus diam-diam ikut campur dalam rumah tangganya.
“Tidak usah siapkan mobil,” ucap Darto akhirnya.
Satrio sedikit terkejut. “Tapi Tuan tadi—”
“Haikal sekarang manajer perusahaan besar.” Darto mencoba menenangkan pikirannya sendiri. “Penghasilannya juga cukup.”
Dalam benaknya, pria itu percaya Haikal pasti membawa Annisa ke rumah sakit terbaik. Bagaimanapun juga, Annisa adalah istrinya.
“Paling mereka ke rumah sakit swasta,” gumam Darto pelan.
Meski begitu, rasa khawatir di wajahnya tetap belum hilang.
“Kalau begitu…” Darto kembali bicara, “kirim buah dan suplemen ke rumah sakit.”
“Atas nama siapa, Tuan?”
“Jangan pakai nama saya.”
Satrio mengangguk paham. Sudah bertahun-tahun Darto selalu seperti itu. Diam-diam memperhatikan Annisa dari jauh tanpa berani muncul langsung di depan putrinya.
Namun, setelah Satrio keluar ruangan, Darto justru kembali menatap kosong ke arah jendela besar kantornya. Entah kenapa hatinya terasa sangat tidak tenang hari ini. Seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi pada putrinya.
Tak lama kemudian, mobil Haikal berhenti kasar di depan rumah. Pria itu langsung turun dengan wajah tegang lalu berlari masuk ke dalam.
“Annisa mana?!”
Lasmi buru-buru menunjuk ke arah gudang belakang. “Masih di sana!”
Haikal langsung masuk dan mendapati Annisa terbaring lemah di lantai dengan wajah pucat.
“Annisa…” gumamnya pelan. Untuk sesaat, rasa bersalah sempat muncul di hati pria itu. Tubuh Annisa terlihat sangat lemah. Napasnya bahkan terdengar sesak dan tidak teratur. Haikal segera mengangkat tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Namun, saat dirinya hendak membawa Annisa keluar rumah, Lasmi tiba-tiba berkata,
“Bawa ke puskesmas saja.”
Haikal menoleh cepat. “Hah?”
“Ngapain ke rumah sakit mahal?” Lasmi mendecak. “Pakai BPJS saja, gratis!"
Haikal mengerutkan kening.
“Tapi Bu, kondisi Annisa begini.”
“Memangnya kenapa?”
“Dia punya riwayat asma.” Nada suara Haikal mulai terdengar ragu. “Kalau sesaknya parah, puskesmas belum tentu lengkap.”
Lasmi langsung memasang wajah kesal. “Dasar boros!”
“Ibu…”
“Sudah ikuti saja kata Ibu!” bentak Lasmi. “Buat apa keluar uang banyak buat perempuan begitu?”
Kalimat itu membuat Haikal diam. Meski sempat ragu, pada akhirnya pria itu tetap menurut.
Seperti biasanya. “Oke…” jawabnya pelan.
Lasmi langsung merasa menang.
“Nah begitu.” Wanita tua itu kembali berkata santai, “Lagian dia paling cuma cari perhatian.”
Sementara, Annisa yang tak sadarkan diri hanya terkulai lemah di pelukan suaminya. Padahal, kondisinya jauh lebih buruk dari yang mereka kira.