NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:612.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 34

Flat shoes hitamnya dilepas, kaki tak beralas maju. Ayunda berjinjit dengan kedua tangan memeluk kencang leher pria sudah dalam rengkuhan.

Gerakannya liar memagut kasar bibir si pria yang membalas lebih lembut, membiarkan sang wanita melampiaskan kekesalan masih tersisa.

Suara decapan memenuhi ruangan sunyi, menjadi melodi diantara deru napas, dan detak jantung tak lagi menenangkan.

Jemari Daksa tetap santai, tidak terburu-buru kala membuka kancing blazer Ayunda menyisakan tanktop bertali tipis. Dia sengaja membiarkan sang istri memegang kendali, memberikan akses penuh tanpa sedikitpun berencana menyudahi.

Ayunda dibopong, lalu dipangku pada sebuah sofa. Ciuman panas kembali terulang, kali ini lebih panjang nan dalam.

Disela-sela menghisap bibir bawah sang pria, air mata Ayunda meluncur membasahi pipi, disusul suara tangis lirih.

Daksa membingkai wajah wanitanya, memandang dengan binar lembut, ibu jarinya menghapus buliran masih berlomba-lomba terjun.

Ayunda membenamkan wajah pada dada bidang yang kancing kemeja telah ia buka dua. Menangis kencang tanpa peduli apapun lagi, hanya ingin menyembuhkan rasa nyeri pada hati.

Tak ada kata-kata penghiburan, karena Ayunda tidak butuh itu. Daksa memeluk lembut seraya menepuk panggul wanita yang melingkarkan tangan pada punggungnya.

Beberapa menit terlalu, tangis Ayunda kian lirih, sesekali terdengar suara sedu sedan. Dia masih dipangku, kedua tangan lemah diatas pahanya sendiri.

Kesunyian ini terasa menenangkan. Daksa yang diam, tapi gerakan tangan sangat natural memberikan kenyamanan. Sedangkan Ayunda memejamkan mata, belajar menata emosi, memperbaiki suasana hati.

Mereka dua insan yang telah banyak melewati hari selama hampir enam tahun. Meskipun tak tinggal satu atap, pertemuan juga jarang, namun belajar saling menyesuaikan, menerima satu sama lain, walaupun kata cinta belum pernah terucap sekalipun dari bibir keduanya.

Kala Daksa pulang ke apartemen Ayunda dengan membawa lelah, masalah perusahaan menumpuk, dia tidak pernah bercerita, apalagi berkeluh-kesah. Ayunda pun enggan bertanya, yang dilakukannya mengajak bercinta. Lewat sentuhan, pria letih itu mendapatkan semangat baru, keyakinan, dan merasa tak sendirian.

Tali tanktop yang sempat turun dinaikan, wajah basah oleh air mata diusap lembut menggunakan selembar tisu. Bokong Ayunda diturunkan dari pangkuan, dan Daksa Wangsa menekuk sebelah kaki, berlutut di bawah sang istri duduk.

Tutup kotak P3k dibuka, sebuah salep pereda nyeri, pengering luka gores diambil. Pelan, sangat penuh kehati-hatian sang suami mengolesi krim berwarna putih pada lengan istrinya yang lecet akibat cakaran kuku.

Netra basah Ayunda memandang bibir yang tengah meniup lengannya agar salep cepat meresap.

“Sudah. Bagian mana lagi yang terasa sakit?” tanyanya setengah berbisik dengan tangan menggenggam jemari kiri Ayunda.

Gelengan kepala ditanggapi sebuah pelukan hangat. “Saya antar pulang, ya?”

“Aku mau disini. Bisa tidak, kamu menemaniku tidur?” ia sedang malas sendirian, kali ini butuh seseorang berada didekatnya.

“Ya.” Angguknya masih memeluk dengan dirinya berlutut.

Ayunda mundur, tanda ingin menyudahi pelukan hangat itu.

“Saya hubungi Yeri dulu, biar dia bawa baju ganti untukmu _”

“Aku mau pakai kemeja yang kamu kenakan,” sela Ayunda cepat, menatap baju atasan warna mocca.

Tanpa tanya, tak juga menolak, Daksa langsung membuka sisa kancing kemeja lalu melepaskannya, tersisa kaos singlet pas badan. Ia pula yang memakaikan pada Ayunda.

“Biar gini aja.” Ayunda mencegah tangan Daksa saat mau mengaitkan kancing.

Kemudian Ayunda berbaring meringkuk di sofa leter L berbahan kulit warna hitam. Kepala disanggah sebuah bantal persegi, dia menyembunyikan wajahnya pada sandaran. Menangis lagi meskipun tidak bersuara.

Daksa mengambil selimut tersimpan di laci paling bawah pada rak buku mencapai plafon, lalu menyelimuti tubuh yang bahunya berguncang pelan.

Meja kerja untuk sementara tidak berguna, pemiliknya membawa berkas yang harus diperiksa ulang ke sofa. Duduk disamping kepala sang istri, menemani Ayunda menangis, memastikan kalau dia tidak sendirian. Daksa sudah memakai jas tanpa kemeja sebagai dalaman.

Kala tak lagi terdengar suara isakan, hanya sedu sedan pelan, Daksa meletakkan laptop pada meja. Pelan-pelan memeriksa kondisi Ayunda yang ternyata ketiduran.

“Tidurlah, saat kamu bangun nanti, segala sesuatunya akan jauh lebih baik,” ia tutup kalimatnya dengan kecupan pada dahi, sedikit berlama seraya meresapi.

“Anak Papi, baik-baik disini menjadi penguat Mami ya nak? Jaga mamimu, hibur dia supaya gak merasa sendirian didunia ini.” Dibawah selimut, tangannya mengusap perut mulai mengeras.

Hanya selang lima menit, seseorang masuk ke dalam ruangannya. Langkah kaki mantap seketika berhenti sebentar.

Yusniar belum bisa membiasakan diri, terlebih untuk pertama kalinya melihat sang bos terlihat manusiawi, normal.

Takut sepatu hak tingginya membangunkan wanita yang tertidur pulas, rambutnya terus diusap, Yusniar membuka alas kaki, barulah mendekati tuannya.

Sekuat apapun dia berusaha, tetap saja gagal menahan keinginan untuk tidak melirik pada punggung jemari kekar itu turun naik mengusap pipi rekan kerjanya yang sudah berbagi tugas selama dua tahun lamanya.

Yusniar benar-benar berharap, segera diusir dari ruangan terasa pengap bagi dirinya sendiri. Menunggu dengan badan kaku, menghirup oksigen saja seperti mencium obat pembunuh serangga.

Namum sayangnya, Daksa bersikap biasa saja, membalik kertas pada map yang tadi bawa Yusniar menggunakan sebelah tangan, satunya lagi tetap mengelus pipi Ayunda.

Akhirnya, setelah menanti penuh ketegangan, berkas pun kembali diserahkan.

Yusniar membungkuk seusai Daksa mengangguk sebagai kode dia boleh keluar.

Bergegas sang sekretaris berjalan tergesa-gesa. Tak sempat memakai sepatunya, memilih dijinjing saja.

Sewaktu sudah sampai luar, Niar duduk sebentar pada undakan tangga. Mengipasi wajah terasa panas menggunakan map. “Ternyata tuan Daksa normal ya? Bisa juga romantis ke wanita. Ku kira bisanya cuma mengintimidasi, ngomong singkat, padat, jelas.”

Dia pun teringat kejadian yang membuatnya hampir jantungan.

Sehari selepas liburan karyawan, Yusniar dipanggil masuk ruangan direktur utama. Dia menduga akan diinterogasi perihal tenggelamnya Ayunda, sebab masih tanggung jawab perusahaan.

Alih-alih menuntut penjelasan, malah Daksa langsung membeberkan hubungannya dengan sang asisten sekretaris.

“Terima kasih sudah menolong istri saya Ayunda. Kami telah menikah hampir enam tahun lamanya, dan sekarang dia mengandung buah hati kami,” ungkapnya tanpa basa-basi terlebih dahulu.

Bak terkena serangan jantung, Yusniar limbung seraya memegangi dada. Beruntung Iyan menopang tubuhnya, tidak membiarkan wanita berumur 28 tahun itu pingsan tiba-tiba.

“Saya minta kamu untuk bersikap biasa saja bila sedang bersama Ayunda,” permintaan lebih ke mengatakan tanpa mengharapkan persetujuan.

“Baik, Tuan.” Selain mengangguk, Yusniar tidak tahu harus bagaimana, masih setengah tidak percaya. Kemudian dia keluar dari ruangan layaknya medan perang.

***

“Jam berapa ini?” entah sudah berapa lama dia tertidur, bangun-bangun suaranya serak, hidung tersumbat, dan tenggorokan kering.

“Pukul delapan malam,” jawab pria yang tengah membuka tutup makanan dari restoran ternama, baru saja diantarkan Yeri.

Ayunda berusaha duduk, lalu menatap sekitarnya. “Kita masih dikantor, kan?”

.

.

Bersambung.

1
Dew666
💟💟💟💟
Aurel Bundha
lanjut💪💪💪
lyani
duda manis ini
lyani
owalahh peliharaan si Pendi toh binar ini
Zeliii... S
Mulai skrg segera jemput Ayunda & jgn jauh² lagi... bereskan semua manusia iblis itu agar mereka jera...!!!
🌷💚SITI.R💚🌷
ya Allah..ikut tegang jg kawatir bangeet
Zeliii... S
Ayo... Daksa segera jemput Ayunda...
🌷💚SITI.R💚🌷
lah knp bisa lepas ya..smg ga jd rumit de
🌷💚SITI.R💚🌷
oh binar toh yg jd simpsnan fendi..
Iis Dawina
sy ko berprasangka SM si hitam manis itu ya ...yg ketemu Yunda itu
Moms Rafi-alhusaini 🌺
ada nama Daksa kan digelang itu 😩
Cublik: Lah iya, Kak
total 1 replies
Moms Rafi-alhusaini 🌺
ternyata binar mainan Efendi
Yessi Kalila
kayaknya si mas2 Jawa ya... 😄
mobie mz
ak sampe setua ini kadang suka mikir seperti ini apa enaknya...kok bisa...ya🤣🤣🤣
mobie mz: ga prnh bayangin kak..ak masih polos🤣🤣🤣
total 2 replies
Lesmana
wooww ketauan dah itu gelang dr daksa.. kan terpatri nama daksa di gelangnya😁
Cublik: Bakalan gonjang ganjing 🤭
total 1 replies
Pudji Widy
aku kok berharap hari ini cepat berlalu biar liat kak cublik up. lagi.. mau baca lqgi dan lagi
neni nuraeni
aduuh semoga dokter Hasya ga trlmbat aku,, khawatir loh sama Yunda dan bayinya,,, semoga dokter Hasya bisa mnyelamtkn Yunda ,,,
Siti Mamahe Kaila Izana
eh ternyata oh ternyata kamu jadi Simpanan si Effendi ya Binarr😱🫵🏼💥🤛🏼
Yeye 🐱
ternyata gadun nya si binar itu si fendi,,, luar biasaaa 🤣🤣🤣
Mah_snd
siapa lagi heyyy siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!