NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Sampah Klan Lin

Di sudut halaman belakang kediaman klan yang sudah mulai reyot, seorang pemuda berusia enam belas tahun sedang berlutut di atas lumpur.

Namanya Lin Fan.

Baju linen tipisnya basah kuyup, menempel pada tubuh kurusnya yang penuh dengan memar biru dan ungu. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napas terasa seperti ada ribuan jarum kecil yang menusuk paru-parunya. Bukan karena sakit fisik semata, tapi karena penghinaan.

"Dasar sampah! Apakah kau pikir dengan berlutut di sini selama tiga hari, Meridianmu yang tersumbat itu akan terbuka sendiri?"

Suara dingin dan merendahkan itu datang dari seorang pemuda berbaju sutra merah muda, berdiri di bawah payung besar yang dipegang oleh dua pelayan. Wajahnya tampan, namun matanya menyiratkan kekejaman yang dingin. Itu adalah Lin Hu, sepupu Lin Fan, dan juga salah satu genius termuda di Clan Lin saat ini. Ia baru saja mencapai Tahap Qi Level 5 minggu lalu.

Lin Fan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, kedua tinjunya mengepal erat hingga kuku-kukunya menembus telapak tangan, mengeluarkan darah yang segera hanyut terbawa air hujan.

"Ayahku berkata, Clan Lin tidak membutuhkan orang lemah," lanjut Lin Hu, melemparkan sebuah bungkusan kertas ke arah wajah Lin Fan. Bungkusan itu jatuh tepat di depan hidung Lin Fan, isinya tersebar: roti basi dan beberapa buah busuk. "Makan ini. Mungkin besok kau bisa mengumpulkan cukup tenaga untuk membersihkan kandang kuda. Itu satu-satunya tempat yang cocok untuk 'Sampah Klan' sepertimu."

Para pelayan di sekitar sana tertawa cekikikan. Beberapa bahkan meludah ke arah Lin Fan sebagai tanda jijik.

Di dunia kultivasi Benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Mereka yang memiliki bakat alami untuk menyerap Qi Langit dan Bumi dihormati layaknya dewa. Sementara mereka yang terlahir dengan Meridian Tersumbat—saluran energi dalam tubuh yang tertutup rapat—dianggap lebih rendah dari hewan ternak. Mereka tidak bisa berkultivasi, tidak bisa memperkuat tubuh, dan akan mati tua seperti manusia biasa yang tak berdaya.

Lin Fan adalah salah satu dari mereka. Atau setidaknya, itulah yang dipercaya semua orang.

Setelah Lin Hu dan rombongannya pergi dengan tawa yang masih bergema, Lin Fan akhirnya bergerak. Dengan tangan gemetar, ia mengambil roti basi itu. Perutnya perih karena lapar, tetapi harga dirinya jauh lebih perih.

"Aku bukan sampah," batin Lin Fan, suaranya bergetar bukan karena dingin, tapi karena amarah yang tertahan. "Aku hanya belum menemukan jalanku."

Ia menyeret tubuhnya yang lelah menuju gubuk kecil di ujung halaman. Gubuk itu dulunya tempat penyimpanan alat berkebun, kini menjadi tempat tinggalnya setelah ibunya meninggal tiga tahun lalu dan ayahnya hilang misterius dalam misi pencarian bahan obat. Sejak itu, Lin Fan kehilangan perlindungan.

Di dalam gubuk yang pengap dan lembab itu, Lin Fan duduk bersila di atas tikar jerami yang sudah rapuh. Ia menutup matanya, mencoba melakukan apa yang telah ia lakukan setiap malam selama sepuluh tahun terakhir: Meditasi.

Meskipun meridiannya tersumbat, Lin Fan tetap berusaha merasakan aliran Qi di udara. Ia tahu itu sia-sia. Qi yang masuk ke tubuhnya akan bocor keluar sebelum sempat disimpan di Dantian (pusat energi di perut bawah). Namun, berhenti mencoba berarti menerima takdir sebagai sampah selamanya. Dan Lin Fan menolak itu.

Satu jam berlalu. Dua jam.

Tidak ada perubahan. Tubuhnya tetap lemah. Qi alam sekitarnya menari-nari di luar kulitnya, mengejek ketidakmampuannya untuk menjinakkannya.

"Hah..." Lin Fan membuka matanya, menghela napas panjang yang penuh keputusasaan. Air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. "Apakah benar-benar tidak ada harapan? Apakah aku ditakdirkan untuk hidup sebagai budak di rumah keluargaku sendiri?"

Tiba-tiba, petir menyambar keras di luar, menerangi langit malam yang gelap gulita. Cahaya putih sesaat menerangi sudut gelap gubuknya, menyoroti sebuah benda kecil yang terjatuh dari saku baju robeknya saat ia dipukuli tadi siang.

Itu adalah sebuah manik giok hitam.

Benda itu tidak terlihat istimewa. Permukaannya kasar, berwarna hitam pekat seperti arang, dan ukurannya hanya sebesar kelingking. Lin Fan memungutnya pagi ini di reruntuhan perpustakaan lama Clan Lin yang terbakar setengah abad lalu. Ia tertarik karena manik itu terasa hangat aneh di tengah dinginnya pagi itu, jadi ia menyimpannya tanpa berpikir panjang.

Sekarang, di bawah sorotan cahaya redup lampu minyak, manik itu tampak berdenyut.

Dug.

Lin Fan mengedipkan mata. Ia merasa pendengarannya salah.

Dug. Dug.

Denyutan itu semakin jelas, seirama dengan detak jantungnya. Tanpa sadar, Lin Fan membawa manik itu lebih dekat ke dadanya. Saat kulit jarinya menyentuh permukaan giok yang kasar, sebuah sensasi dingin yang menusuk langsung mengalir masuk melalui pori-pori tangannya.

"Brrr!" Lin Fan menggigil. Dingin itu bukan dingin es biasa, melainkan dingin yang tajam, murni, dan menakutkan.

Tiba-tiba, manik giok itu pecah.

Tidak meledak dengan suara keras, melainkan hancur menjadi debu hitam halus yang langsung meresap ke dalam kulit telapak tangan Lin Fan.

"Apa-apaan ini?!" Lin Fan panik, mencoba menggosok tangannya, tetapi debu itu sudah lenyap.

Detik berikutnya, dunia di sekitarnya berubah.

Rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang digantikan oleh sensasi panas yang mengalir deras dari tangannya, naik melewati lengan, bahu, dan menuju dada. Panas itu berkumpul di Dantian-nya, tempat yang selama ini kosong dan dingin.

Ling!

Sebuah suara nyaring bergema di dalam kepalanya, seperti lonceng kristal yang jernih.

Di dalam kesadarannya, Lin Fan melihat sesuatu yang mustahil. Di tengah Dantian-nya yang gelap, sebuah cahaya putih kecil muncul. Cahaya itu berputar perlahan, menciptakan pusaran angin mini.

Dan kemudian, ia merasakan itu.

Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, Lin Fan merasakan aliran Qi Langit dan Bumi masuk ke dalam tubuhnya. Bukan sekadar menyentuh kulit, tapi masuk, mengalir melalui meridiannya yang tersumbat, dan membersihkannya.

Rasa sakit yang tajam terjadi saat Qi itu memaksa jalur-jalur energi yang tertutup itu terbuka satu per satu. Lin Fan ingin berteriak, tetapi ia menahan diri. Ia menyadari bahwa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Jika ia berhenti sekarang, ia mungkin akan mati karena ledakan energi. Jika ia terus bertahan, ia mungkin bisa mengubah nasibnya.

"Gigit gigimu, Lin Fan! Jangan menyerah!" bisiknya pada diri sendiri, keringat dingin bercucuran di dahinya meskipun tubuhnya terasa panas membakar.

Satu jam berlalu. Jalur meridian pertama di lengan kirinya terbuka.

Dua jam berlalu. Jalur meridian di kakinya terbuka.

Fajar mulai menyingsing di luar gubuk. Hujan telah reda, meninggalkan udara pagi yang segar dan berembun.

Lin Fan membuka matanya. Matanya yang biasanya kusam dan lelah, kini bersinar dengan ketajaman yang asing. Ia mengangkat tangannya, mengepalkannya, dan merasakan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.

Ia tidak tiba-tiba menjadi ahli bela diri. Tubuhnya masih kurus. Namun, ia bisa merasakan aliran energi di dalam dirinya. Sebuah aliran kecil, tipis, tapi nyata.

"Tahap Qi Level 1?" gumamnya dengan suara serak, tidak percaya.

Dia telah berhasil memasuki gerbang kultivasi. Dia bukan lagi orang biasa. Dia adalah Kultivator.

Tepat saat itu, pintu gubuknya didorong kasar hingga terbuka. Seorang pelayan tua berwajah masam berdiri di ambang pintu, memegang sebuah sapu.

"Hei, Sampah! Bangun! Matahari sudah tinggi! Kandang kuda belum dibersihkan, dan jika Tuan Muda Lin Hu melihat kotoran kuda masih ada di sana, dia akan membuatmu memakan sisa makanannya!"

Lin Fan menatap pelayan itu. Dulu, tatapan seperti ini akan membuatnya menunduk takut. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda di dasar mata Lin Fan. Sebuah ketenangan yang dingin, seperti permukaan danau yang dalam sebelum badai datang.

Ia bangkit berdiri. Kakinya masih goyah, tetapi posturnya tegak.

"Aku akan membersihkannya," kata Lin Fan tenang. Suaranya datar, tanpa getaran ketakutan.

Pelayan itu sedikit terkejut dengan perubahan sikap pemuda itu, namun segera cemberut. "Cepat! Jangan bermimpi siang bolong!"

Saat pelayan itu berbalik pergi, Lin Fan menatap telapak tangannya yang masih terasa hangat sisa penyerapan manik giok. Ia tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya.

Lin Hu... Clan Lin... Tunggu saja.

Permainan baru saja dimulai.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!