NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TRANSFORMASI SANG PHOENIX

“Kamu yakin ingin terlihat seperti ini?”

Suara ibu kos itu terdengar ragu saat ia menyerahkan kunci kamar kontrakan kecil di ujung gang. Matanya menyipit, menatap Ardiah dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit diartikan. Apakah itu kasihan? Atau mungkin penghakiman terselubung?

Ardiah hanya mengangguk pelan. Jemarinya yang pucat mencengkeram erat tali tas selempang usang. Di dalamnya hanya ada beberapa helai baju dan dokumen perceraian yang masih berbau tinta basah. “Saya yakin, Bu. Terima kasih.”

Pintu kayu itu tertutup dengan bunyi berderik panjang, memisahkan Ardiah dari dunia luar yang bising. Ia bersandar pada pintu, menghela napas panjang yang seolah-olah telah tertahan selama lima tahun terakhir. Ruangan itu sempit. Dindingnya berwarna krem kusam dengan noda lembap di sudut langit-langit. Sebuah kasur busa tipis terletak di lantai, disertai meja lipat plastik yang goyah. Ini bukan rumah. Ini adalah kotak penyimpanan bagi jiwa yang baru saja dibuang.

Ardiah melangkah gontai menuju jendela kecil yang tertutup tirai tipis. Cahaya sore menerobos masuk, menyoroti debu-debu yang menari di udara. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kain segi empat berwarna abu-abu polos. Hijab. Benda yang dulu ia tolak mentah-mentah karena merasa belum siap, kini menjadi satu-satunya benteng yang ia miliki.

Dengan tangan gemetar, ia memasangkan kain itu ke atas kepalanya. Kain itu terasa kasar di kulitnya, namun anehnya memberikan rasa hangat yang asing. Ia menyusun lipatan-lipatannya di depan cermin retak yang menempel di dinding. Setiap lipatan adalah lapisan baru dari identitas lamanya yang ia kubur dalam-dalam. Saat pin terakhir tertancap, Ardiah menatap pantulannya sendiri.

Wanita di cermin itu terlihat berbeda. Matanya yang biasa bersinar cerah kini redup, dikelilingi lingkaran hitam tebal. Namun, ada ketegangan baru di rahangnya. Ketegangan seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa-apa untuk kehilangan.

“Ardiah Ardilla sudah mati,” bisiknya pada bayangan sendiri. Suaranya serak, hampir tak terdengar di tengah heningnya ruangan. “Yang ada sekarang hanyalah Ardilla. Seorang desainer. Seorang penyintas.”

Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering sejak malam perceraiannya. Yang tersisa hanyalah hampa yang dingin, merayap masuk ke tulang-tulangnya. Ia duduk di tepi kasur, mengambil ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan foto profil WhatsApp-nya yang masih berupa gambar ia dan Ferdi tersenyum bahagia di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.

Jempolnya melayang di atas tombol hapus. Detik-detik itu terasa seperti abadi. Menghapus foto itu berarti menghapus bukti bahwa ia pernah dicintai, pernah diharapkan, dan pernah menjadi bagian dari seseorang. Dengan satu ketukan tegas, foto itu hilang. Digantikan oleh avatar default berwarna abu-abu.

Langkah berikutnya adalah karir. Ia membuka laptop tua pemberian ayahnya sebelum meninggal. Portofolio desain interior yang ia kumpulkan selama lima tahun terakhir masih tersimpan rapi. Namun, setiap file itu mengingatkan ia pada rumah yang kini bukan miliknya lagi. Desain dapur minimalis yang ia buat untuk Ferdi. Ruang tamu hangat yang ia rencanakan untuk calon anak mereka. Semua itu kini hanyalah pixel-pixel tanpa nyawa.

Ardiah menutup mata sejenak, mengusir bayangan-bayangan itu. Ia mulai mengetik surat lamaran kerja. Bukan untuk perusahaan kecil di dekat rumahnya seperti dulu, melainkan untuk "Artha Design", firma desain interior terbesar di kota itu. Perusahaan yang bahkan lulusan universitas ternama pun sulit memasukinya.

“Kenapa Artha?” gumamnya sambil membaca persyaratan yang sangat ketat. “Karena di sana, orang menilai karya, bukan rahimmu.”

Kalimat itu ia tulis di bagian motivasi surat lamarannya. Tegas. Blak-blakan. Mungkin terlalu berani untuk seorang pengangguran baru cerai. Tapi Ardiah tidak peduli. Ia tidak punya waktu untuk bersikap sopan dan merendah. Ia butuh uang. Ia butuh harga diri. Dan ia butuh tempat di mana namanya, bukan status pernikahannya, yang menjadi identitas utama.

Malam itu, Ardiah tidak tidur. Ia duduk di lantai, mengelilingi sketsa-sketsa lama. Ia merevisi satu per satu, menambahkan sentuhan modern yang lebih berani, lebih tajam, lebih... dingin. Seperti perasaannya saat ini. Ia mengubah warna-warna hangat menjadi monokrom. Ia mengubah lekukan lembut menjadi garis-garis geometris yang kaku. Desain itu mencerminkan jiwanya yang sedang membangun tembok pertahanan tinggi.

Pagi harinya, dengan hijab abu-abu yang sama dan blazer bekas yang masih layak pakai, Ardiah berdiri di depan gedung kaca menjulang Artha Design. Refleksi dirinya terlihat kecil di antara kerumunan profesional yang berlalu-lalang dengan langkah cepat dan percaya diri. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma kopi dan parfum mahal yang memenuhi lobi.

Satu langkah. Dua langkah. Kakinya gemetar, namun ia memaksanya tetap tegak. Ia menyerahkan amplop berisi portofolionya pada resepsionis yang tampak sibuk.

“Ini untuk posisi Junior Interior Designer,” kata Ardiah. Suaranya stabil, meski jantungnya berdegup kencang hingga sakit.

Resepsionis itu menatapnya sekilas, lalu menumpuk amplop Ardiah di atas tumpukan ratusan amplop lainnya. “Kami akan menghubungi jika ada kecocokan. Silakan tunggu di email.”

Tidak ada senyuman. Tidak ada jaminan. Hanya prosedur birokrasi yang dingin. Ardiah mengangguk sopan, lalu berbalik keluar. Angin pagi menerpa wajahnya, membawa serta kenyataan pahit bahwa ia hanyalah satu dari ribuan orang yang putus asa mencari peluang.

Namun, saat ia berjalan menjauh dari gedung itu, ia tidak menunduk. Ia menatap lurus ke depan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, masa depannya tidak ditentukan oleh harapan orang lain. Masa depannya adalah kertas kosong, dan ia memegang pena itu sendiri.

Di saku bajunya, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi email masuk. Bukan dari Artha Design, tapi dari Ferdi.

Aku menyesal, Diah.

Ardiah berhenti melangkah. Ia menatap layar itu lama. Jari-jarinya mengepal. Lalu, dengan tenang, ia mengarsipkan pesan itu tanpa membalas. Penyesalan Ferdi adalah beban yang tidak lagi sanggup ia pikul. Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan masa lalu di belakang, menuju ketidakpastian yang menakutkan, namun bebas.

1
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hais siapa lagi tub yang manggil jangan jangan c ferdi lagi🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!