NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Sisi Lain

Keheningan malam itu tidak bertahan lama. Baru sekitar tiga puluh menit gua bersandar di batang pohon besar, ketenangan itu langsung hancur berkeping-keping.

Tiga orang pria bertubuh besar, wajahnya kotor, pakaiannya compang-camping — preman desa yang pasti sering membuat onar — datang berjalan menuju rumah panggung itu. Tanpa izin, tanpa sopan santun, salah satu dari mereka langsung menendang pintu kayu hingga jebol dan terbuka lebar.

Suara teriakan keras, makian-makian kasar soal utang judi, dan tangisan Carmelia yang terdengar histeris langsung menyebar ke seluruh penjuru halaman.

Gua hanya diam saja. Menonton dari kejauhan dengan wajah malas, tidak ada niat untuk ikut campur. Ini bukan urusan gua. Ini urusan mereka sendiri.

Tapi cuma sedetik kemudian, salah satu preman itu keluar ke teras sambil membawa mangkuk kayu kecil — mangkuk yang tadi gua pakai untuk makan kentang.

Dengan tatapan meremehkan, seolah benda itu cuma sampah, ia membalikkan mangkuk itu sampai isinya tumpah ke tanah. Dua butir kentang yang belum sempat gua habis menggelinding keluar, lalu ia menginjak-injaknya berulang kali sampai hancur lumat, bercampur dengan tanah basah dan lumpur.

Cprcccnkkk.

Suaranya pelan, kecil, hampir tidak terdengar di tengah kegaduhan. Tapi di telinga gua, suara itu terdengar sekeras guntur yang menyambar tepat di samping telinga. Pandangan gua mendadak menjadi gelap, seluruh dunia seolah berputar dan sempit.

Semua luka lama, semua kenangan paling buruk — tiga minggu menahan lapar sampai nyaris mati, minum air kotor dari selokan, berbaring lemah menunggu ajal datang perlahan — semuanya meledak menjadi amarah murni yang menyala di dalam dada gua.

Berani-beraninya orang ini membuang makanan, menginjak-injak makanan, di depan mata gua sendiri.

Tanpa pikir panjang, gua langsung bergerak. Begitu cepat sampai langkah kaki gua sama sekali tidak terdengar oleh siapa pun. Dalam sekejap mata, gua sudah berdiri tepat di belakang orang yang baru saja menginjak makanan itu.

Tangan kiri gua — yang masih ada sisa luka dan bekas cakaran serigala — langsung mencengkeram kuat leher belakangnya, lalu gua menghantamkan wajahnya sekuat tenaga ke tiang penyangga rumah.

Dbokkk! Kratak!

Kayu tiang itu langsung retak panjang dari atas sampai bawah. Preman itu langsung terkulai lemas, tidak bergerak lagi, entah pingsan atau sudah mati.

Dua temannya yang masih ada di dalam rumah langsung panik dan buru-buru keluar mau menyerang, tapi mereka sudah terlambat. Gua menyambar lengan salah satu dari mereka, lalu memutarnya sampai terdengar suara tulang yang patah dan pecah.

Krekk!

Suaranya terdengar menjijikkan. Pria itu menjerit keras tapi tertahan karena rasa sakit yang luar biasa, lalu langsung jatuh tersungkur ke tanah tidak bisa berbuat apa-apa.

Yang satu lagi masih punya nyali, ia mengangkat tongkat kayu besar mau memukul gua, tapi gua cuma perlu satu tendangan keras tepat di bagian dadanya. Ia terlempar mundur jauh, mulutnya menyemburkan darah segar, dan sejak saat itu ia hanya bisa berbaring terengah-engah, tidak mampu berdiri lagi.

Semua selesai dalam waktu kurang dari dua menit. Cepat, senyap, dan sangat brutal.

Gua menatap mereka yang terbaring di tanah itu dengan tatapan yang dingin, kosong, persis seperti tatapan makhluk yang tidak mengenal belas kasihan sama sekali.

"Pergi," kata gua, suaranya datar, rendah, tapi terdengar jelas dan berat. "Hari ini gua masih dalam keadaan kenyang setelah makan kentang. Kalau kalian berani kembali lagi ke sini, gua tidak akan menjamin kalian bisa keluar dari sini dengan nyawa utuh."

Orang-orang yang tadinya terlihat gagah, sok kuat, sok berani, sekarang wajahnya langsung pucat pasi seperti kertas. Melihat noda darah di baju gua, melihat sorot mata gua yang terlihat bukan milik manusia biasa, mereka akhirnya sadar: mereka baru saja mencari masalah dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada apa yang pernah mereka temui selama ini.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka bergegas bangun sekuat tenaga dan lari terbirit-birit, tidak berani menoleh ke belakang sedikit pun.

Gua sama sekali tidak melihat ke arah dalam rumah. Gua langsung berbalik dan kembali ke bawah pohon besar, berusaha menenangkan napas gua yang sempat memburu karena emosi yang meledak.

Tidak lama kemudian, datang seorang bapak tua sambil membawa obor menyala di tangannya. Ini penjaga malam desa yang sering terlihat berkeliling di sekitar sini.

Ia melirik pintu rumah yang sudah rusak parah, lalu menatap gua yang sedang membersihkan sisa tanah dan kotoran di tangan gua dengan rumput. Anehnya, ia tidak terlihat takut, tidak terlihat panik sama sekali. Ia malah berjalan mendekat lalu duduk di atas akar pohon besar di samping gua.

"Jangan tegang begitu, anak muda," katanya dengan suara yang berat dan serak. "Tiga orang sampah tadi memang sudah menjadi beban bagi desa ini sejak lama. Apa yang kamu lakukan baru saja, itu membuat banyak orang di sini akan merasa lega sekali."

Gua tetap diam, tatapan gua tetap waspada, tidak percaya begitu saja pada siapa pun.

"Dunia ini sekarang sedang kacau balau," lanjutnya lagi sambil menyalakan rokok lintingan yang ia buat sendiri. "Di kota besar, para bangsawan saling bunuh, saling khianat, semuanya cuma demi kekuasaan dan harta. Di daerah seperti ini, makhluk buas di hutan makin berani keluar karena kekuatan pelindung sihir kerajaan makin lemah dari hari ke hari. Desa kecil seperti ini... sebenarnya cuma menunggu waktu sampai akhirnya dihancurkan habis-habisan. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mau menolong."

Dunia ini sedang di ambang kehancuran? batin gua. Bagus sekali. Semakin hancur dunia ini, semakin besar ruang dan kesempatan bagi sistem Kelaparan Kiamat milik gua untuk berkembang.

"Kamu mau pergi ke mana setelah dari sini?" tanya bapak tua itu lagi.

"Bukan urusan lu," jawab gua pendek, tegas, tidak mau berbagi informasi dengan siapa pun.

Si bapak tua cuma tertawa kecil mendengar jawaban gua yang kasar itu. Ia berdiri, lalu menepuk-nepuk debu di celananya.

"Hati-hati saja, anak muda. Di dunia yang sudah sakit seperti ini, orang yang kuat tapi tidak punya tujuan jelas... bisa menjadi jauh lebih berbahaya daripada monster buas mana pun yang ada di hutan sana."

Setelah berkata begitu, ia berbalik dan berjalan pergi perlahan, menghilang masuk ke dalam kegelapan malam.

Beberapa saat kemudian, gua mendengar suara langkah kaki kecil, pelan, ragu-ragu, seolah takut mengganggu.

Carmelia berdiri di sana, tangannya membawa selembar tikar anyaman bambu dan sehelai selimut kain yang sudah agak tua dan agak kotor. Gadis kecil itu menatap gua dalam-dalam. Entah bagaimana, seolah-olah ia melihat semuanya: betapa kejamnya gua bertindak, betapa dinginnya sikap gua, betapa keras dan buasnya cara gua bertarung tadi — tapi di balik itu semua, ia juga melihat rasa sakit, luka, dan ketakutan yang gua sembunyikan rapi di dalam hati.

"Kak... Kak Yudha..." bisiknya, suaranya lembut tapi terdengar tulus sekali. "Malam ini dingin sekali. Aku bawa tikar dan selimut ini buat Kakak. Pintu rumah kami rusak, Ayah harus terus menjaga Ibu yang sedang sakit... jadi..."

"Gua tidak butuh," potong gua cepat, gengsi gua langsung naik lagi, tidak mau terlihat lemah atau butuh bantuan siapa pun. "Gua sudah terbiasa tidur di tanah keras, di tempat dingin, di mana saja. Sana masuk ke dalam."

Tapi Carmelia tidak mundur sedikit pun. Ia malah melangkah maju dua langkah, lalu membentangkan tikar itu dengan rapi tepat di samping tempat gua duduk, lalu meletakkan selimut itu di atas paha gua dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menyakiti atau mengganggu gua sedikit saja.

"Aku tahu Kakak sebenarnya orang baik," katanya, suaranya kecil tapi tegas, tidak ragu sama sekali. "Kakak bisa bersikap kasar, bisa marah, bisa terlihat galak... tapi Kakak menyelamatkan aku, menyelamatkan Ibu, dan menjaga rumah kami tadi. Tolong... jangan siksa diri sendiri terus-menerus. Pakai saja ini, Kak."

Gua terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Ketulusan anak kecil ini benar-benar sesuatu yang tidak masuk akal bagi gua. Hati gua memang belum luluh, tembok es gua masih berdiri kokoh — tapi pertahanan itu benar-benar tergoyang keras.

Gua benci sekali dikasihani, benci terlihat lemah di mata orang lain. Tapi kalau gua menolak terus-menerus, rasanya gua malah menjadi orang yang paling keras kepala, paling egois, yang tidak mau menerima kebaikan dari anak kecil yang sama sekali tidak berniat jahat.

"Baiklah... taruh saja di situ," kata gua dengan nada masih ketus, masih berusaha terlihat tidak peduli, sambil membuang muka ke arah lain supaya ia tidak melihat raut wajah gua yang sebenarnya. "Bawel sekali sih kamu, tidak pernah mau dibilangin."

Carmelia langsung tersenyum lebar, senyum yang terlihat begitu bersih dan tulus sampai rasanya dada gua terasa sesak, entah karena apa.

"Terima kasih ya, Kak! Selamat tidur!" serunya gembira, lalu ia berlari kecil masuk kembali ke dalam rumah.

Gua menatap selimut yang ada di paha gua itu cukup lama, lama sekali. Akhirnya gua mengambilnya dan menariknya untuk menutupi tubuh gua yang mulai terasa dingin dan menggigil.

Gua masih tidak percaya pada dunia ini, masih tidak percaya pada niat baik kebanyakan orang, masih yakin bahwa di dunia ini kamu harus kuat atau kamu akan diinjak-injak. Tapi untuk malam ini saja... gua akan menerima kebaikan kecil ini.

Di tengah kegelapan, tampilan sistem milik gua yang berwarna hitam pekat itu berkedip pelan sekali. Dingin, sunyi, seolah-olah benda itu pun ikut memperhatikan, ikut mengamati ikatan aneh yang perlahan mulai terbentuk antara gua... dan sesuatu yang aneh, berbeda, serta berbahaya yang tersembunyi rapi di dalam diri gadis kecil bernama Carmelia itu.

Cih, buat apa juga gua mikirin anak kecil itu? gerutu gua dalam hati, berusaha mengusir pikiran itu pergi. Persetan, lebih baik gua tidur saja sekarang.

Sementara gua perlahan terlelap, di dalam diri Carmelia... sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan jauh lebih lapar daripada sistem milik gua itu, perlahan-lahan mulai terbangun dari tidurnya yang panjang.

 

[Yudha akhirnya menunjukkan sisi manusiawinya, meski masih dibalut dengan gengsi dan sikap keras kepala. Tapi misteri seputar Carmelia makin tebal dan menakutkan. Apakah "sesuatu" yang tersembunyi di dalam dirinya nanti akan menjadi sahabat terkuat Yudha... atau justru menjadi ancaman terbesar yang pernah ia hadapi? Tulis pendapat kalian di bawah ya!]

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!