Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Irna segera bergegas melangkah keluar dari goa. Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah kakinya.
Suara yang dikenalnya, dan berada tepat di belakang punggungnya.
"Waah, tubuhmu sangat harum." Reynaldi tiba-tiba sudah berada di belakang punggungnya. Membelai rambut panjang Irna, kemudian mencium aromanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?" Tanya Irna padanya, sekujur tubuh langsingnya tiba-tiba terasa dingin membeku. Gadis itu tidak bisa bergerak, ataupun melangkah menjauhinya.
Irna merasakan tubuhnya gemetar, dia ingin menjauh dari Reynaldi tapi tetap tidak bisa dan tetap mematung di tempatnya.
"Padahal di sini gelap sekali, darimana dia bisa tahu aku di sini?" Irna berbisik bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apakah dia akan menjadikanku makanannya?" Tanya gadis itu kembali dalam hatinya bayangan di dalam pikirannya ketika melihat pria itu meminum darah segar.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kamu bisa menemukan sampai masuk ke dalam goa yang sangat gelap di tengah hutan?" Menyentuh leher Irna dengan jemarinya, mengendus pipi gadis itu.
Irna menjauhkan wajahnya karena Reynaldi terus mengendus kesana-kemari membuat gadis itu jengah.
Akhirnya gadis itu berhasil mengumpulkan kekuatannya, kemudian Irna mundur dua langkah menjauhkan dirinya.
"Aku tersesat, aku merasa kesepian di rumah itu, jadi aku ingin jalan-jalan sebentar." Ujar Irna pura-pura dengan gaya memelas agar Reynaldi tidak curiga padanya.
Kemudian Irna melangkah mundur lagi, pura-pura terjatuh mengalihkan Reynaldi agar pria itu melupakan pertanyaannya.
"Akh, kakiku terkilir sakit sekali. Bagaimana ini aku tidak bisa berjalan? aduh.."
Sungguh di luar dugaan, Reynaldi dengan tergesa langsung mengangkat tubuh Irna menggendongnya keluar dari goa, menuju ke rumah megahnya.
Ketika sampai di luar goa, Irna melihat semburat rasa hawatir di wajah pria itu.
"Ini sangat aneh, kenapa pria ini malah terlihat hawatir ketika melihatku terluka?" Tanya kembali dalam hatinya.
Reynaldi menurunkan tubuh Irna di atas tempat tidur, mencoba mencari otot pada kakinya yang terkilir.
"Apakah masih sakit?" Tanya pria itu kemudian. Masih dengan wajah hawatir jika terjadi sesuatu pada Irna.
"Tidak, sepertinya besok akan baik-baik saja." Jawab gadis itu sambil menggelengkan kepalanya kemudian mengusap kakinya.
"Apa yang ingin kamu makan sore ini? jika kamu menginginkan sesuatu aku akan membuatkan untukmu."
Pria itu tersenyum mencoba meredakan amarah gadis itu, dia tidak ingin bersikap terlalu keras pada Irna.
"Tinggalah di sini sebentar." Ujar Irna sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Reynaldi.
Irna menyentuh pipi Reynaldi, kemudian bergelayut pada leher pria itu.
Reynaldi sangat terkejut melihat perubahan sikap Irna begitu cepat.
Gadis yang dikenalnya sangat keras kepala itu tiba-tiba berubah, mengambil inisiatif untuk merayu dirinya.
Beberapa jam yang lalu Irna masih marah-marah pada Reynaldi, dan setelah keluar dari dalam goa sikapnya menjadi aneh.
"Apa yang dilakukan gadis ini? kenapa dia tiba-tiba menjadi sangat agresif?" Tanyanya dalam hati.
Irna mendekatkan wajahnya, seolah-olah hendak mencium bibirnya. Reynaldi merasa itu tidak wajar, dia segera menjauhkan wajahnya saat Irna ingin menciumnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Meraih tangan Irna yang bergelayut, mencoba melepaskan dari lehernya.
"Apakah kamu tidak menyukainya?" Irna dengan sengaja membelai dada Reynaldi, menariknya mendekat.
"Apakah kamu tadi salah makan sesuatu?!" Tanya Reynaldi lagi dengan wajah hawatir kembali menggenggam jemari tangan Irna yang sudah singgah di dalam kemeja pria itu.
Diam-diam detak jantung Reynaldi mulai bergemuruh tidak teratur, pria itu merasakan keanehan dengan perubahan sikap Irna.
Tapi entah kenapa dia sangat menyukai dan menikmatinya, dia menyukai sikap agresif yang dilakukan Irna padanya.
Irna terus bergelayut, menarik baju Reynaldi hingga dia terjatuh menimpanya.
Wajah mereka begitu dekat sekarang.
"Kenapa kamu terus bertanya hal yang tidak masuk akal, bukankah kamu membawaku kemari untuk menyenangkan hatimu hem?"
Irna dengan sengaja membisikkan itu di telinga Reynaldi membuat wajah pria itu mendadak berubah merah.
Dengan tidak sabar Reynaldi langsung mengulum bibir Irna. Nafasnya memburu tidak teratur.
"Uh! menjijikkan sekali! aku sengaja merayunya! untuk mendapatkan kalungnya! tapi malah terjebak begini!" Umpat Irna dalam hatinya.
Dalam sekejap Irna meraih kalung kristal di leher Reynaldi, gadis itu menariknya hingga kalung tersebut putus dan terlepas dari leher pria itu.
Kini kalung itu sudah berada dalam genggaman Irna.
Tapi yang membuat gadis itu merasa terheran-heran, Reynaldi tidak merespon ketika kalungnya sudah berpindah berada di tangannya.
Tidak ada perubahan apapun yang terjadi pada Reynaldi. Irna jadi gelagapan karena Reynaldi tidak melepaskan dirinya, dan membuatnya terjebak dalam situasi yang rumit.
"Ada yang tidak benar dengan hal ini! tidak terjadi apapun ketika kalungnya sudah berada di dalam genggamanku." Gumam Irna dalam hatinya.
"Apakah aku telah salah menerka?! pria ini dia tidak peduli dengan kalungnya, malah semakin agresif!" Irna mencoba mendorong dada Reynaldi mencoba membebaskan dirinya dari pelukan pria itu.
Dia berharap Reynaldi akan melepaskan dirinya, dan membiarkannya pergi.
Namun pria itu tidak melepaskan ciumannya sama sekali malah terus bersemangat merengkuh Irna di dalam dekapannya.
"Bagaimana ini!" Bisik Irna di dalam hatinya.
"Hah, hah, hah!" Irna terengah-engah setelah bibirnya akhirnya dilepaskan oleh Reynaldi.
Irna mengusap bibirnya dengan telapak tangan kanannya, dia menutupi bibirnya agar Reynaldi tidak menciuminya lagi.
"Kamu tidak membutuhkan ini?!" Tanya Irna mengancungkan kalung kristal tersebut di depan Reynaldi, gadis itu masih sibuk mengatur nafasnya.
Pria itu dengan sangat santai tersenyum, memijit ujung hidung Irna dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Kalau kamu suka, ambilah." Ujarnya pada Irna sambil tersenyum kembali ingin mencium leher gadis di depannya itu, tapi Irna menahan dadanya dengan telapak tangannya.
"Ternyata gadis ini hanya pura-pura merayuku, untuk mendapatkan kalung dari leherku." Bisik Reynaldi dalam hatinya.
"Apa maksudnya dia berkata seperti itu? bukankah kalung ini memiliki kekuatan? kenapa seolah-olah tidak penting sama sekali?" Tanya Irna dalam hatinya.
"Bukankah ini sangat berarti bagimu!? seperti sumber kekuatan atau sejenisnya?!" Irna menganga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Aku juga bingung, kenapa segel yang membelengguku tiba-tiba bisa lepas. Dan seorang gadis manis sepertimu bisa melepaskan kalung itu. Aku sangat bersyukur sekali!"
Ujar Reynaldi mengangkat dagu gadis itu hingga mendongak menatap dirinya. Dia hendak menciumnya lagi, tapi Irna malah pura-pura menatap ke arah lain.
**flashback..
Clarisa yang memakaikan kalung itu pada Reynaldi, pada awal debutnya sebagai seorang model. Dia pura-pura menghadiahkan kalung tersebut, namun ternyata kalung kristal itu mengandung kutukan.
Membuat Reynaldi berubah wujud menjadi siluman serigala yang selalu haus darah karena pengaruh dari sihir batu kristal tersebut.
Reynaldi tidak memiliki hubungan darah dengan Clarisa, wanita itu menjadikan Reynaldi sebagai alat untuk memenuhi semua kemauannya.
Dia dengan sengaja mendekati Reynaldi untuk dimanfaatkan olehnya.
***
"Bagaimana kamu bisa tahu mengenai kalungku? dan ada sesuatu yang khusus berhubungan denganku?" Reynaldi kembali bertanya, pria itu mencermati wajah cantik di depannya menunggu jawaban langsung dari Irna.
"Irna Damayanti adalah seorang gadis yang sangat luar biasa!" Ujar Reynaldi dalam hati.
"Aku pernah melihatnya di suatu tempat!" Ujar Irna berbohong.
"Karena aku sudah menolongmu, seharusnya kamu mengantarkan aku pulang. Aku memiliki cita-cita yang sangat tinggi, menjadi seorang arsitektur adalah impian terbesarku."
Irna pura-pura merajuk pada Reynaldi memegang lengannya sambil menyandarkan kepalanya.
Dia dengan sengaja melakukannya agar pria itu mau melepaskan dirinya.
"Baik, besok kita akan pulang, aku akan mengantarmu." Ujar Reynaldi dengan bibir tersenyum. Dia senang sekali melihat wajah manja itu berada di sisinya.
Tiba-tiba suara sebuah helikopter turun mendarat di depan rumah tersebut.
Irna segera berlari keluar dari rumah untuk melihatnya.
"Rian...." Ujar gadis itu seraya berlari menghambur ke dalam pelukannya tanpa ragu sama sekali.
"Kamu baik-baik saja?! apakah ada yang terluka, coba aku lihat?!" Memeriksa tubuh Irna memutar badan gadis itu berkali-kali.
Wajah Rian sangat hawatir melihat Irna yang tiba-tiba berlari menghambur memeluknya, seolah-olah dia sedang menemukan seorang penyelamat yang akan membawanya kembali pulang ke rumah.
Beberapa pengawal turun dari dalam helikopter. Mereka berdiri dengan posisi siaga.
Pengawal tersebut merupakan sebagian dari orang yang bertugas menjaga di hunian mewahnya.
Rian sengaja membawa mereka untuk menjemput Irna, dia hawatir jika situasi berada di luar kendalinya dan dia gagal menyelamatkan gadisnya.
Irna hanya menggelengkan kepalanya sambil mengukir sebuah senyum menatap wajah tampan yang begitu menghawatirkan dirinya.
Reynaldi tersenyum melihat Irna bersama Rian. Pria itu berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Kamu gadis yang luar biasa, bagaimana kamu bisa merebut hati tiga pria kaya sekaligus dalam satu kedipan mata?!" Bisiknya sambil tersenyum, Reynaldi sengaja menggoda Irna.
"Kamu apa yang kamu lakukan pada istriku?!" Gertak Rian dengan marah melihat wajah tampan baru sebagai rival dalam percintaannya.
"Apakah aku harus mengatakan jika kamu yang merayuku di atas tempat tidur?" Bisik Reynaldi dengan sengaja di telinga Irna membuat wajah Irna mendadak pucat dan berdiri membeku.
Irna diam membatu, perangkap yang dibuatnya telah menangkap dirinya sendiri.
"Matilah aku! bagaimana bisa jadi begini!" Umpat Irna sambil tersenyum terpaksa melihat ke arah Reynaldi.
"Ah, ha ha ha, tidak ada yang dilakukan Reynaldi padaku, dia hanya mengajakku fighting baju, untuk pemotretan gaun rancangan terbarunya... ah aha ha ha, iya kan Rey?!" Menekankan suara dengan geram menginjak kaki Reynaldi dengan kuat.
"Ah iya, benar sekali, itu benar." Ujar Reynaldi dengan segera. Pria itu meringis menahan sakit pada jari kakinya.
"Gadis ini benar-benar sangat unik!" Reynaldi kembali berbisik dalam hati.
"Kebetulan kamu kesini, sekalian ajak dia pulang saja." Ujar Reynaldi lagi sambil tertawa memegangi jari kakinya.
Rian tertegun melihat kelakuan aneh Irna dan Reynaldi.
"Ya sudah, aku akan mengajak istriku pulang. Lain kali kalian tidak boleh melakukan bisnis di belakangku apalagi tanpa persetujuan dariku!" Menarik lengan Irna masuk ke dalam helikopter.
Helikopter mulai terbang Irna melambaikan tangannya pada Reynaldi dari jendela, Reynaldi hanya mengangguk melihat senyum cerah di wajah gadis itu.
Helikopter lain mendarat setelah kepergian Rian.
Fredian berjalan dengan langkah lebar dan cepat menuju rumah Reynaldi.
Nampak Reynaldi sedang duduk di sofa menikmati segelas minuman.
"Di mana kau sembunyikan Irna?!" Hardik Fredian padanya.
"Duduklah, aku akan memberitahumu." Jawab pria itu dengan sangat santai, sambil tersenyum melihat wajah marah Fredian.
Fredian menghenyakkan pantatnya di sofa berhadapan dengan Reynaldi.
"Dia baru saja pergi, bersama seseorang yang menyatakan dirinya sebagai suaminya." Reynaldi Melanjutkan ucapan dengan nada datar.
"Sial! aku terlambat satu langkah!" Gumam Fredian kesal.
Pria itu memijit keningnya, dia sangat kesal sekali karena Irna sudah di jemput oleh Rian terlebih dahulu sebelum dirinya datang.
"Triiingggg!"
Ponsel Fredian berbunyi, dia segera menjawab panggilan. Dan panggilah tersebut berasal dari Rian.
"Aku menang! mundurlah dengan teratur. Jangan coba menjilat ludahmu kembalii!" Ujar Rian mengakhiri panggilan.
Rian sudah memutuskan untuk tidak pernah melepaskan Irna lagi! apapun yang terjadi pria yang bekerja sebagai dokter muda kaya raya dan memiliki paras tampan itu sudah mengambil keputusan untuk mempertahankan gadis itu tetap berada di sisinya.
Dan hal itu membuat rival cintanya, Fredian selalu sibuk berusaha terus mencuri Irna dari sisinya.
"Braaakkkkkkk!" Fredian membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Bagaimana mungkin di kembali dikalahkan oleh Rian. Dan kembali melemparkan Irna masuk kembali pada pria yang tidak lain adalah dokter pribadinya itu.
"Uhk! Uhk! kamu mengagetkanku!" Reynaldi terlonjak kaget dan terbatuk, tersedak minumannya.
Dengan penuh amarah Fredian menarik krah baju Reynaldi.
"Jika bukan gara-gara kamu! hari ini aku tidak akan pernah kehilangan cintaku!" Ujar Fredian geram menghardik Reynaldi.
"Sebenarnya apa kamu tahu siapa yang dicintai oleh Irna?" Pancing Reynaldi.
"Tentu saja dia hanya mencintaiku!" Ujar Fredian dengan penuh keyakinan, karena selama ini mereka memang saling mencintai.
"Ha ha ha! kamu percaya diri sekali! aku sempat bertanya padanya, dia bilang dia tidak ada hubungan apapun dengan dirimu." Sulut Reynaldi lagi, membuat wajah Fredian semakin marah.
"Kalau begitu siapa yang dia cintai jika bukan aku?!" Bentak Fredian.
"Hem, entahlah." Ujar Reynaldi sambil mengangkat kedua bahunya.
"Dia sudah menikah dengan Rian Aditama. lalu kamu masih menaruh harapan pada seorang wanita yang sudah jadi milik orang lain? apa kamu sungguh tidak waras? Dan sudah kehilangan akal? padahal banyak wanita yang mengejarmu!"
Cerocos Reynaldi lagi kembali menghirup minuman yang ada di tangannya.
"Hubungan antara kami bukanlah urusanmu! dan aku tidak butuh nasehat darimu sama sekali! Kamu hanyalah orang luar yang tiba-tiba masuk menyela hubungan kami!" Tandas Fredian karena masih sangat kesal.
"Kenapa kamu tidak pernah berfikir, siapa sebenarnya yang selalu membuat gadis itu terluka dan mendapat kesulitan?" Gumam Reynaldi seraya menenggak minuman.
Fredian terdiam sesaat,
"Apakah aku begitu menyulitkan dirinya?" Fredian berdiri melangkah keluar ruangan, dengan langkah gontai.
Ketika sampai di luar, pandangan matanya melayang jauh ke tengah laut. Menatap debur ombak yang menghantam bebatuan di tepi pantai. Jika batu itu lunak, maka akan terkikis sedikit demi sedikit kemudian hancur tersapu ombak.
Sehancur rasa dalam hatinya saat ini.....
bersambung.....
aku jg mau🤭🤭