Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pergi
.
Riko tertawa getir, tangannya masih mencengkeram erat pinggiran sofa. Semua yang ia percayai, semua yang ia cintai, ternyata hanyalah kebohongan belaka. Ia telah dipermainkan, direndahkan, dan dikhianati oleh orang yang paling ia cintai.
Seketika ia mengingat kembali mimpinya yang telah ia korbankan, cita-citanya untuk menjadi seorang polisi yang seharusnya bisa membanggakan ibunya. Ia rela berbohong pada ibunya, membuat ibunya memendam kecewa, mengalah dan membiarkan Bagas yang lolos dalam Akademi Polisi. Tapi ternyata, orang yang ia bela sedemikian rupa malah mengkhianatinya.
"Maafkan aku, Ibu," gumam Riko dalam hati, menahan agar air mata tidak mengalir membasahi pipinya. Sekali lagi, ia tak boleh lemah di hadapan Laras dan Aldo.
Laras menatapnya dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh, seolah tak ada yang terjadi. Aldo tersenyum mengejek sambil merangkul Laras dengan mesra, seolah ingin menunjukkan kepada Riko bahwa ia telah memenangkan segalanya.
Riko memejamkan matanya, mencoba untuk mengendalikan emosinya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri.
Pria itu mengangguk-anggukkan kepala, masih sambil tertawa getir. "Kamu benar, Laras," ucap Riko dengan suara begitu dingin. "Aku memang orang miskin dan bodoh yang tidak pantas untukmu. Tapi aku berjanji, suatu hari nanti, kamu akan menyesal telah mempermainkan aku."
"Menyesal?" Laras tertawa sinis. "Apa yang harus aku sesali dari kehilangan seorang yang miskin, lemah, dan tak berguna sepertimu?"
Riko memejamkan mata rapat, kemudian menatap dingin ke arah Laras. “Laras Ayu Darmawan, aku Riko Permana dengan sadar menjatuhkan talak padamu. Sekarang kita tidak memiliki hubungan apapun lagi!” ucapnya dalam satu tarikan nafas.
Walaupun Laras mengatakan bahwa penghulu yang menikahkan mereka adalah penghulu palsu, akan tetapi pada saat itu ia mengucapkannya sungguh-sungguh, dan dengan menyebut nama Allah. Karena itu, ia merasa harus mengucap talak pada Laras.
Sesaat, Laras tertegun mendengar ucapan talak dari Riko. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang berdenyut dalam dadanya, rasa nyeri yang tak bisa ia ungkapkan, rasa nyeri yang ia tidak tahu apa artinya.
Melihat situasi itu, Aldo merasa khawatir. Ia segera menggenggam tangan Laras agar wanita itu tak terbawa suasana ucapan Riko. Laras tersadar dan meyakinkan diri bahwa kata-kata Riko sama sekali tak bermakna baginya.
Setelah mengucap talak untuk Laras, Riko naik ke lantai atas, menuju kamarnya bersama Laras. Ia ingin mengambil barang-barang pribadi miliknya. Ia tidak ingin meninggalkan apa pun di rumah itu, kecuali kenangan pahit dan dendam yang membara.
Tangan Laras terkepal erat di samping badannya, buku-buku jarinya memutih menahan sesuatu yang ia sendiri tak tahu artinya. Kenapa Rico tidak terlihat sedikitpun keberatan berpisah dengannya? Bukankah seharusnya, seorang pria yang selama ini ia anggap bodoh dan lemah, akan memohon, menangis, dan meratap agar mereka tidak bercerai? Tapi kenapa mulut Riko begitu enteng mengucap kata talak?
Ada perasaan tidak terima. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh pria yang selama ini ia pandang sebelah mata.
Tak lama kemudian, tampak Riko turun dari lantai atas. Setiap anak tangga yang dipijaknya seolah menggetarkan seluruh ruangan, memecah kesunyian yang mencekam. Ia menggendong tas ransel di punggung, tas yang terlihat lusuh dan kontras dengan kemewahan rumah itu. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak menatap Laras, seolah wanita itu tidak ada di hadapannya. Matanya kosong, namun menyimpan bara dendam yang siap meledak kapan saja.
Laras, yang sedari tadi hanya diam mematung, akhirnya bersuara. "Benar kamu akan keluar dari rumah ini?" tanyanya sambil bersedekap, berusaha menyembunyikan getar dalam suaranya. Matanya menatap remeh pada Riko.
"Kalau kamu memohon, mungkin aku akan mempertimbangkan kamu menjadi salah seorang pelayan di rumah ini," lanjut Laras penuh ejekan, namun sorot matanya mengatakan sesuatu yang berbeda.
Riko menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan kemudian memutar badan hingga mereka kembali berhadapan.
“Apa yang kau harapkan? Aku akan memohon? Itu tidak akan terjadi.” ujarnya tegas, suaranya dingin dan tanpa emosi, menusuk jantung Laras bagai ribuan jarum.
“Sudah cukup kebodohanku selama ini, dan itu takkan terulang. Aku sama sekali tidak menyesal kehilangan kesempatan meraih cita-cita, waktu, dan tenaga di rumah yang seperti neraka ini. Yang aku sesalkan adalah aku tertipu oleh wanita murahan seperti dirimu." Akhirnya, ia membuka mata dan menatap Laras dengan tatapan jijik yang membuat wanita itu terkesiap.
Laras murka, harga dirinya terluka. Ia merasa tamparan keras di wajahnya. "Lancang kau!" teriaknya, suaranya bergetar karena amarah.
Riko mengangkat sebelah alisnya, tersenyum sinis, dan mendekat ke arah Laras. "Kenapa marah?" tanyanya mengejek, nada suaranya membuat Laras merinding.
"Kamu tersinggung aku sebut murahan? Bukankah itu kenyataan? Apa namanya kalau bukan murahan? Di depanku kau sok tidak mau disentuh, sok menjaga diri, tapi ternyata menjalin hubungan dan mengobral tubuh pada pria yang sama sekali tidak halal bagimu. Pela^cur bahkan lebih berharga karena mereka mendapat bayaran. Kamu? Dapat apa dari dia?"
Laras ingin menampar wajah Riko tapi dengan cepat Riko menangkap tangannya. "kamu dan dia sama-sama menjijikkan. Dan, kamu yakin pria yang kamu puja-puja ini hanya memberikan tubuhnya padamu? Aku sih tidak," ucapnya tepat di depan wajah Laras, membuat wanita itu mematung.
"Kurang ajar kau!" Aldo yang merasa tersinggung sekaligus takut Laras akan terprovokasi dengan perkataan Riko, maju hendak menyerang. Ia mengepalkan tangannya dan mengayunkannya ke arah Riko dengan brutal.
Namun, Riko seolah sudah mengantisipasi serangan itu. Dengan gerakan cepat dan terukur, ia menangkap kepalan tangan Aldo dan memutar pergelangan tangannya, membuat sang aktor meringis kesakitan.
"Lepas, brengsek!" teriak Aldo, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Riko. Peluh membasahi wajahnya, dan urat-urat di lehernya menegang.
Tapi Riko hanya menatapnya sinis, tatapan yang menusuk jantung Aldo seperti pisau. Dengan sebelah tangannya yang menganggur, ia bersikap seolah hendak melayangkan tinju di wajah Aldo. Ia mendekatkan kepalan tangannya dengan cepat, membuat Aldo semakin ketakutan.
Aktor yang baru viral itu bahkan sudah berteriak sambil memejamkan matanya, membayangkan wajah tampannya akan hancur.
Namun, hingga beberapa detik berlalu, ia tak merasakan apa pun. Pria itu membuka matanya perlahan, dan mendapati kepalan tinju Riko tepat berada dengan jarak satu inci di depan hidungnya. Tubuh Aldo gemetar menahan napas dan menahan cengkeraman tangan Riko yang masih belum melepaskannya.
“Lemah!" ejek Riko membuat dada Aldo terasa menggelegak, namun tak berdaya.
"Riko apa-apaan kamu?!" teriak Laras panik, menyadari bahwa situasi sudah di luar kendali. Ia tidak menyangka Riko akan berani melawan Aldo. Pria yang selama ini selalu menurut dan ia anggap remeh ternyata bukan orang yang mudah ditindas.
Riko mengabaikan teriakan Laras. Matanya tetap tertuju pada Aldo, menatapnya dengan tatapan yang penuh hinaan. "Serius, kamu menyerahkan hidupmu untuk pria lemah seperti dia?" Riko bertanpa pada Laras, tapi mata tak beralih dari Aldo.
"Berhati-hatilah dengan wajahmu, karena itu adalah asetmu satu-satunya. Jika hancur, maka…" Riko menggantung ucapannya, lalu dengan kasar mendorong tangannya yang mencengkeram tangan Aldo hingga pria itu terhuyung dan hampir terjatuh.
Setelah itu, ia mundur dua langkah lalu menatap ke arah Laras. “Kau pikir kau yang membuangku?" tanyanya mengejek. “Salah. Akulah yang mencampakkanmu. Aku bahkan merasa jijik pernah bersentuhan dengan tubuhmu yang kotor. Setelah ini mungkin aku harus mandi kembang tujuh rupa.”
Riko membalikkan badan lalu melangkah keluar dari rumah mewah itu, meninggalkan Laras dan Aldo yang terpaku dengan rahang mengeras.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄