Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mentari pagi asrama putri
Lantai batu Akademi Tian Meng yang semula membeku akibat aura Han Shui kini perlahan mencair, meninggalkan genangan air yang bercampur dengan debu sisa-sisa pasukan iblis yang telah musnah. Di tengah kehampaan dan keheningan yang mencekam itu, Zhou Yu berdiri dengan tubuh gemetar. Nafasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti duri yang menyayat paru-parunya akibat beban kekuatan Han Shui yang baru saja ia lepaskan.
Namun, ia tidak peduli pada rasa sakitnya sendiri. Tatapannya hanya tertuju pada satu titik, Ling'er yang tergeletak pucat. Dengan sisa tenaga yang ada, Zhou Yu melangkah tertatih, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perhatian, ia mengangkat tubuh Ling'er ke dalam pelukannya. Tubuh gadis itu terasa sangat ringan, seolah nyawanya benar-benar telah terkuras habis. Zhou Yu memeluknya erat, menempelkan keningnya pada kening Ling'er yang sedingin es, lalu membawanya pergi meninggalkan medan perang yang hancur, melewati para tetua yang masih tergeletak lemas. Ia berjalan menuju asrama wanita, mengabaikan segala aturan dan tatapan mata yang tersisa, karena baginya, dunia sudah berakhir jika Ling'er tidak bangun kembali.
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kayu asrama wanita, menyinari debu-debu yang menari di udara kamar yang tenang. Kamar ini biasanya penuh dengan tawa para murid wanita, namun kini hanya ada keheningan yang menyesakkan. Zhou Yu duduk di sisi tempat tidur Ling'er. Pakaian yang koyak masih melekat di tubuhnya, wajahnya layu, dan matanya merah karena tidak tidur sedetik pun.
Di tangannya terdapat selembar kain sutra putih yang dibasahi air hangat. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengusap pipi Ling'er yang masih pucat. Ia membersihkan noda debu dan sisa darah kering yang menempel di wajah nya dengan ketelatenan yang luar biasa. Jemarinya bergetar setiap kali menyentuh kulit Ling'er yang masih terasa dingin.
Zhou Yu menatap wajah lelap itu, dan hatinya mulai hancur berkeping-keping.
"Andai saja aku lebih kuat.." gumamnya dalam hati. Suaranya di dalam batin terdengar seperti teriakan yang tertahan. "Bertahun-tahun aku menempa diri dalam kesakitan, menahan setiap jengkal derita yang menghujam jiwa hanya demi satu janji...menjadi perisaimu. Namun saat badai itu datang, tangan ini ternyata tetap terlalu lemah untuk menggenggam takdirmu. Aku gagal, Ling'er. Aku harus meminjam sisa kekuatan dari roh pedang ini hanya agar napasmu tidak terhenti, membuktikan bahwa janji yang kuucapkan dulu hanyalah kata-kata kosong di hadapan ketidakmampuanku."
Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Zhou Yu, mendarat tepat di tangan Ling'er yang ia genggam. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan wajahnya di tepi tempat tidur, membiarkan isak tangis yang selama ini ia tahan meledak dalam kesunyian. Tubuhnya terguncang hebat.
"Aku terlalu lemah, Ling'er. Aku hanyalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik kekuatan pedang. Lihatlah dirimu... kau menderita karena ketidakmampuanku. Jika saja aku bisa menggantikan posisimu, jika saja energi hitam itu masuk ke tubuhku bukannya tubuhmu... aku tidak akan merasa sehancur ini."
Air matanya terus mengalir, membasahi kain tempat tidur. Rasa bersalah itu menyerang seperti ribuan pedang yang menusuk jantungnya. Ia merasa gagal sebagai seorang pria, gagal sebagai suami yang telah mengikat janji suci di bawah langit desa dulu. Setiap napas lemah yang keluar dari bibir Ling'er adalah cambukan bagi jiwanya. Ia menangis tersedu-sedu dalam diam, sebuah pemandangan yang menyayat hati, sang pemuda yang baru saja meratakan ratusan musuh, kini tampak seperti anak kecil yang kehilangan dunianya.
"Bangunlah, Ling'er... tolong bangun," bisiknya serak di tengah tangisnya. "Jangan tinggalkan aku sendirian di dunia yang kejam ini."
Di luar lorong kamar, seorang murid wanita bernama Xiao Bai baru saja kembali dari dapur akademi membawa ramuan obat. Ia terkejut melihat pintu asrama terbuka dan melihat bayangan seorang pria di jendela kamar itu.
"Hah?! Siapa kau?! Beraninya pria masuk ke—"
Belum sempat Xiao Bai menyelesaikan teriakannya, Da Ge yang sedang mengintip Zhou Yu diam diam pun langsung melesat ke arah nya dengan kecepatan luar biasa.
Wush!
Dalam sekejap, Da Ge sudah berada di depan Xiao Mei dan menutup paksa mulut gadis itu dengan telapak tangannya. Xiao Bai membelalak, wajahnya mendadak merona merah padam karena jarak wajah mereka yang sangat dekat. Ia hendak berontak dan berteriak lebih keras, namun sepasang tangan itu terlalu besar dan membuat nya tak bisa berbicara.
"Sstt! Diamlah atau kau akan mengacaukan segalanya!" bisik Da Ge dengan suara berat dan sedikit panik.
Da Ge perlahan melepaskan cengkeramannya setelah Xiao Bai mulai tenang. Dengan isyarat mata, Da Ge mengajak gadis itu melihat ke jendela kamar. Di sana, mereka melihat Zhou Yu duduk di samping Ling'er. Zhou Yu tidak lagi menangis, namun ia tampak sangat lelah hingga kepalanya terkulai di samping tangan Ling'er yang terus ia genggam. Tak lama kemudian, Zhou Yu tertidur dalam posisi duduk, tangannya tetap mendekap tangan Ling'er seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
Pemandangan itu begitu tenang, dan penuh dengan aura kesetiaan yang murni. Xiao Bai yang tadinya marah, kini justru merasa tersentuh. Ia melihat bagaimana seorang pria yang begitu ditakuti di medan perang bisa menjadi begitu rapuh dan tulus di hadapan wanita yang dicintainya.
Namun, momen damai itu tidak bertahan lama.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!"
Suara menggelegar itu datang dari ujung lorong. Itu adalah Tetua Qin, yang meski masih dibalut banyak perban dan jalannya tertatih, sudah mulai bisa mengerahkan sedikit Qi-nya. Matanya melotot melihat dua pria berada di area suci murid wanita.
"Kalian melanggar aturan berat! Beraninya mengotori asrama wanita!" Tetua Qin mulai menggerakkan tangannya, membentuk segel jurus Telapak Angin.
"Gawat! Tetua Qin sudah sadar!" seru Da Ge panik.
Tanpa pikir panjang, Da Ge langsung mengendong tubuh Xiao Bai yang masih bingung dan mengajaknya lari terbirit-birit melewati lorong. "Maaf Tetua! Kami hanya numpang lewat!" teriak Da Ge sambil melesat pergi, meninggalkan debu di belakangnya. Tetua Qin mengejar mereka dengan marah, meskipun gerakannya terbatas karena luka-lukanya.
Di dalam kamar, Zhou Yu hanya mengerang kecil dalam tidurnya, tidak menyadari kekacauan di luar, sementara tangannya tetap setia menggenggam tangan Ling'er.
Sementara itu, di ruang perpustakaan pusat yang telah diperbaiki sebagian, Tetua Mo duduk di kursi kayu besarnya. Tubuhnya masih sangat lemah, namun pikirannya terus berputar pada kejadian kemarin. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar serangan Sekte Bayangan Darah.
Ia membuka sebuah gulungan catatan kuno yang bersampul kulit naga hitam, sebuah catatan yang hanya boleh dibaca oleh pemimpin akademi. Jarinya yang keriput menelusuri baris-baris tulisan yang memancarkan energi kuno yang redup.
"Kekuatan kuno... Energi roh pedang... dan bangkitnya kegelapan," gumam Tetua Mo.
Matanya kemudian tertuju pada sebuah peta tersembunyi di balik gulungan tersebut. Sebuah tempat yang dikelilingi oleh kabut abadi dan dijaga oleh rasi bintang yang tidak pernah berubah selama ribuan tahun.
Dengan suara yang rendah penuh misteri tetua mo bergumam.
"Gua makam para dewa..."