NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PELARIAN TENGAH MALAM

Alsya mendarat dengan tidak elit di rumput belakang rumahnya setelah berhasil memanjat pagar samping. Jantungnya berdegup kencang, takut kalau satpam rumah atau Papa Saga tiba-tiba muncul. Dengan langkah seribu, dia berlari menuju taman komplek yang letaknya beberapa blok dari rumahnya.

Dari kejauhan, Alsya melihat lampu motor sport yang menyala di kegelapan. Samudera berdiri di sana, menyandar pada motornya sambil menghisap udara malam yang dingin.

Begitu sampai di depan Samudera, Alsya mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

"Loe... loe beneran dateng?"

Samudera menatap Alsya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mata cewek itu sembab, hidungnya merah. Tanpa basa-basi, Samudera mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Alsya pelan. "Gue kan udah bilang, gue nggak pernah bercanda soal omongan gue."

"Sam, gue takut kalau Papa tahu..."

"Naik," potong Samudera singkat sambil menyodorkan helm. "Gue bawa loe ke tempat yang nggak bakal ada orang tua loe, nggak ada Eliza, dan nggak ada si Revaldi itu."

Alsya naik ke motor Samudera. Mereka membelah jalanan kota yang sudah mulai sepi. Samudera membawa Alsya ke sebuah jembatan layang yang belum selesai dibangun, tempat di mana mereka bisa melihat lampu-lampu kota dari ketinggian.

Mereka duduk di pinggir jalan layang yang masih sepi. Samudera menyerahkan sebotol minuman hangat yang tadi sempat dia beli.

"Kenapa loe baik sama gue, Sam? Padahal semua orang di sekolah bilang gue ini masalah," tanya Alsya lirih sambil menatap lampu kota di bawah sana.

Samudera terdiam cukup lama, matanya menerawang jauh. "Karena gue tahu rasanya nggak dianggap, Sya."

Alsya menoleh, terkejut. "Maksud loe?"

"Loe pikir hidup gue sempurna?" Samudera terkekeh getir. "Gue pindah ke sini karena gue diusir sama keluarga gue sendiri. Di mata mereka, gue itu cuma produk gagal. Kakak-kakak gue semuanya sukses, jadi dokter, jadi pengusaha. Sementara gue? Gue cuma anak yang suka berantem dan nggak bisa diatur."

Alsya terpaku. Ternyata Samudera yang terlihat begitu tenang dan kuat juga punya luka yang sama besarnya dengan dia.

"Jadi... itu alasan loe pindah ke SMA Merdeka?"

Samudera mengangguk. "Nyokap gue buang gue ke sini biar dia nggak malu punya anak kayak gue. Makanya, pas gue lihat loe di perpus hari itu, gue kayak lihat bayangan gue sendiri. Loe teriak-teriak, loe marah-marah, tapi sebenernya loe cuma mau dibilang 'lo nggak apa-apa kok' sama seseorang."

Air mata Alsya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena amarah, melainkan karena dia merasa dimengerti. "Sam, gue cape dibandingin sama Eliza terus. Apapun yang gue lakuin selalu salah. Kalau gue dapet nilai bagus, mereka bilang 'tumben'. Kalau gue dapet masalah, mereka bilang 'emang dasarnya anak nakal'."

Samudera menggeser duduknya lebih dekat, sampai bahu mereka bersentuhan. "Dengerin gue, Sya. Loe itu bukan Eliza, dan loe nggak perlu jadi Eliza. Loe itu Alsya. Dan buat gue, Alsya yang galak dan berisik itu jauh lebih nyata daripada siapa pun di sekolah itu."

Alsya menatap Samudera. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, wajah Samudera terlihat jauh lebih lembut. Tanpa sadar, Alsya menyandarkan kepalanya di bahu Samudera.

"Makasih ya, Sam. Udah mau jemput gue malam-malam begini," bisik Alsya.

"Sama-sama. Tapi janji sama gue satu hal," ucap Samudera sambil menumpukan dagunya di atas kepala Alsya.

"Apa?"

"Jangan pernah berpikir kalau nggak ada yang bakal nangis kalau loe kenapa-napa. Karena sekarang, ada gue yang bakal marah kalau loe terluka," kata Samudera tegas.

Malam itu, di atas jembatan layang yang sunyi, Alsya akhirnya menemukan "rumah" yang selama ini dia cari. Bukan di dalam bangunan megah milik keluarga Anantara, tapi di sisi seorang cowok bernama Samudera.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!