"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah mendapat kabar dari sang ibu, Dara dan Rafa langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Katanya Ayah Aldi harus dioperasi.
Dara jelas kaget, terakhir ketemu, ayahnya dalam kondisi yang baik-baik saja. Selama ini juga gak pernah keliatan sakit. Lalu, kenapa tiba-tiba harus dioperasi?
Sambil menyetir, Rafa melihat Dara yang gelisah dan terus menangis. Tangan kiri Rafa bergerak untuk menggenggam tangan istri kecilnya itu.
"Mas, Ayah...," lirih Dara.
"Tenang, ayah pasti baik-baik aja," ucap Rafa.
Beruntung jarak dari mall ke rumah sakit tidak terlalu jauh. Jadi hanya dalam waktu lima belas menit saja mereka sudah sampai di rumah sakit di mana Ayah Aldi berada.
Tanpa menunggu suaminya, Dara langsung berlari menuju IGD karena katanya Ayah Aldi masih di sana.
"Bu!" seru Dara saat melihat sang ibu duduk sendiri di bangku yang tersedia di sana.
"Ayah kenapa?" tanya Dara tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Ayah kena radang usus buntu, Nak. Kata dokter, tadi harus dioperasi karena udah parah," jawab Erina. Sama, tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
Dara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia duduk di samping sang ibu dan memeluknya.
"Terus, ibu ngapain di sini? Ayah di mana?" tanya Dara heran.
"Ayah ada di dalam. Tadi lagi diperiksa sama suster. Ibu cuman... cuman kepikiran sama sikap ibu beberapa hari ini ke ayahmu. Ibu terus ngediemin ayah, ngebiarin ayah ngelakuin semuanya sendiri. Ibu juga gak pernah lagi masak buat ayah. Gak pernah lagi hubungin ayah buat ngingetin supaya gak
telat makan kalau ayah lagi di kantor. Ibu jadi gak tau, ayah makan apa enggak. Apa sikap ibu keterlaluan ya?" tanya Ibu Erina.
"Tapi, kamu pun tau sendiri kenapa ibu bersikap kayak gitu sama ayahmu," imbuhnya.
Dara menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab pertanyaan sang ibu dengan lembut, "Bu, aku paham kenapa Ibu ngerasa begitu. Aku juga paham kalau ibu ngerasa kecewa sama sakit hati karena kelakuan Ayah yang nyakitin hati Ibu, dan menurutku itu wajar. Wajar juga Ibu gak lagi nunjukkin perhatian yang biasa Ibu berikan sama Ayah."
Dara menggenggam tangan sang ibu dengan agak erat seolah memberikan dukungan. "Tapi, menurut aku, penting juga buat bicara dari hati ke hati sama Ayah. Ibu sama Ayah harus saling jujur tentang perasaan masing-masing dalam keadaan kepala yang dingin. Bukan pas sama-sama lagi emosi. Mungkin dengan begitu, Ayah bisa tahu betapa perbuatan dia sangat menyakiti hati ibu. Apalagi Ibu mutusin buat tetep sama Ayah. Kalau emang harus ada perubahan, biarin itu terjadi dari hati Ayah dan Ibu sendiri."
"Ayah juga datang nemuin aku kemarin. Ayah minta maaf sama aku dan Ayah bilang nyesel karena udah nyakitin hati Ibu lagi. Ayah nangis dan aku tau kalau Ayah
sungguh-sungguh. Tangis Ayah juga bukan tangis boongan."
Erina diam. Aldi memang kerap meminta maaf padanya, bahkan sampai menangis juga. Tapi... Erina masih merasa berat untuk memaafkan suaminya itu. Dalam pikirnya, waktu itu juga minta maaf dan menyesal tapi akhirnya kayak gitu lagi.
"Pokoknya, apapun yang terjadi, aku bakal selalu dukung Ibu. Aku bakal selalu ada buat Ibu. Kalau ada apa-apa, Ibu harus cerita sama aku, gak baik juga mendem rasa sakit sendirian, Bu. Aku juga selalu cerita sama Ibu 'kan?"
Ibu Erina tersenyum hangat, dia mencubit gemas pipi chubby
putri cantiknya. "Setelah nikah, kok pemikiran kamu jadi lebih dewasa gini?" Ibu Erina menggoda Dara.
"Ih, Ibuuu." Dara merengek.
"Eh, iya." Ibu Erina celingukan mencari seseorang, "suami kamu mana? Rafa gak ikut?" tanyanya.
"Hah? Ikut kok. Ke mana ya? Tadi aku lari duluan ke sini soalnya," jawab Dara ikut mencari keberadaan sang suami.
Rafa yang sejak tadi berdiri di balik tembok pembatas pun akhirnya menghampiri istri dan ibu mertuanya. Dia sengaja ingin memberikan waktu pada Dara dan ibunya yang mungkin sedang membicarakan hal yang sangat
penting.
"Maaf, tadi ada temen nyapa dulu di depan," ucap Rafa setelah mencium punggung tangan Ibu Erina. "Ayah di mana?" tanyanya.
"Ada di dalam, yaudah yuk. Ibu udah lama juga rasanya ninggalin Ayah." Ibu Erina bangun dan membiarkan Dara menggandeng lengannya dengan Rafa yang mengikuti dari belakang.
Kedua mata Dara langsung memanas melihat Ayahnya yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Wajah Ayah Aldi sangat pucat dan kenapa juga dia baru sadar kalau Ayahnya itu makin
kurus.
Dara langsung memeluk sang ayah dan menangis. Meski pernah kecewa karena sang ayah yang tega menduakan cinta ibunya dengan wanita lain, tapi tetap saja Dara tidak bisa menghapus kenangan akan kasih sayang dan perhatian yang ayahnya curahkan padanya. Perasaan cintanya kepada sang ayah lebih besar daripada perasaan kecewa nya.
"Malu sama suamimu nangis sambil meluk Ayah kayak begini," ucap Ayah Aldi sambil mengusap punggung putrinya.
"Biarin," jawab Dara dengan suara serak.
Ibu Erina dan Rafa tersenyum tipis mendengarnya. Rafa bangga kepada Dara, karena sudah mampu memaafkan kesalahan sang ayah.
"Ayah akan baik-baik saja, Sayang," ucap Ayah Aldi.
"Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah tau kalau Ayah banyak salah. Ayah udah bikin kamu dan ibumu kecewa sama Ayah."
Dara menggeleng, mencoba menahan isak tangisnya. "Ayah, meski aku kecewa, aku tetap sayang sama Ayah. Ayah adalah Ayah terbaik buat aku, dan aku nggak mau kehilangan Ayah."
Aldi merasakan kehangatan di hatinya mendengar kata-kata Dara.
" Ayah janji akan berusaha menjadi
ayah yang lebih baik buat kamu dan
ibu. Ayah akan berjuang melalui
operasi ini, dan ayah akan berubah."
Dara memeluk ayahnya erat,
membiarkan air matanya
membasahi baju rumah sakit
ayahnya. "Aku percaya sama Ayah.
Aku cuma mau Ayah sehat dan kita
bisa kembali seperti dulu."
Aldi membalas pelukan Dara
dengan kekuatan yang tersisa.
"Terima kasih, Nak. Ayah sangat
bersyukur punya anak seperti
kamu. Ayah janji akan memperbaiki
semuanya."
Erina tidak mampu menahan
air matanya dan Rafa yang
melihatnya pun langsung
mengambilkan tissue yang ada di
meja samping ranjang kepada sang
ibu mertua.
Erina tersenyum disela
tangisnya. "Makasih ya, Nak."
Rafa hanya mengangguk. Dia
belum begitu dekat dengan ayah
dan ibu mertuanya jadi masih
merasa canggung.
Ayah Aldi sudah dipindahkan
ke ruang perawatan karena operasi
akan dilakukan setelah Ayah Aldi
puasa terlebih dahulu.
Dara sejak tadi berada di
samping sang Ayah sampai
melupakan suaminya. Sedekat itu
memang Dara dengan ayahnya.
Makanya, wajar saja bila Dara
merasa kecewa dan marah saat
sang ayah menduakan ibunya.
"Nak, suami dari tadi
dianggurin, kasian lho," ucap Ayah
Aldi.
Kedua mata Dara melebar. Dia
menoleh ke arah sofa dan Rafa ada
di sana.
"Ya ampun, aku lupa!" serunya
dengan suara pelan dan nyengir.
"Gak apa-apa, Ayah. Mungkin
Dara kangen juga sama Ayah," ucap
Rafa.
"Sekali lagi terima kasih ya,
Nak Rafa. Sudah mau datang ke
sini. Maaf ngerepotin," ucap Ayah
Aldi.
Rafa mendekat dan
menggelengkan kepalanya. "Gak
ada ngerepotin sama sekali, Ayah.
Bukankah aku juga anak Ayah?"
tanyanya.
Dara terharu mendengar
ucapan Rafa. Padahal, Dara ingat
jelas bagaimana tatapan
permusuhan yang Rafa berikan
pada kedua orang tuanya saat
mereka akan menikah dulu. Rafa
tidak ada ramah-ramahnya sekali
kepada mertua.
Rafa memandang ke arah Dara,
dia mengusap perutnya yang mulai
terasa lapar karena belum makan
siang. Dara yang memang mulai
merasa lapar pun pamit untuk
keluar dulu dengan sang suami.
Kini keduanya sedang berada di
kantin rumah sakit, Dara ingin
tetap berada di sana sampai operasi
ayahnya selesai. Oma Atira juga
katanya sedang dalam perjalanan
menuju ke sana.
"Mas Rafa gak apa-apa kok
kalau mau pulang duluan. Tapi..
aku izin di sini ya mungkin nginep
juga," ucap Dara.
Rafa menggeleng. "Nanti aja
pulangnya sekalian ambil baju ganti
buat kamu," jawabnya.
Dara yang sedang minum pun
langsung tersedak. Hidungnya
sampai terasa perih karena air
masuk ke sana.
"Ya ampu!" keluh Rafa lalu
memberikan tissue kepada Dara
"Mas Rafa mau ambilin aku
baju ganti?" tanya Dara.
Rafa memandang heran ke
arah istrinya yang nampak terkejut.
"Ya iya. Emangnya kamu mau tidur
di sini pake celana kayak gitu?
Nanti di sini pasti banyak dokter
pria, perawat pria. Saya gak mau ya
kamu berkeliaran di rumah sakit
sebesar ini dengan celana pendek
kayak gitu." Rafa mulai posesif.
"Iiih. Bukan itu maksudnya!"
"Maksudku, Mas Rafa sendiri
yang mau ambil bajuku di lemari?"
tanya Dara dan Rafa kembali
mengangguk.
"Jangan! Aku nanti ikut pulang
dulu aja trus pergi lagi ke sini naik
ojol," larang Dara.
Rafa tersenyum tipis seakan
tahu hal apa yang Dara
khawatirkan kalau dia yang
mengambil baju gantinya.
"Kamu takut saya ambil dua
benda yang-mmph!"
Dara langsung menutup mulut
Rafa menggunakan telapak
tangannya. "Gak usah disebutin
juga!" ucapnya dengan wajah
bersemu merah.
"Emangnya kenapa? Saya kan
suami kamu," ucap Rafa dengan
suara pelan.
"Iiih. Udah ah jangan dibahas
lagi!"
Malamnya, Dara benar-benar
menginap di rumah sakit meski
ayah dan ibunya sudah melarang.
Ayah Aldi sudah selesai dioperasi
dan Dara hanya ingin membantu
ibunya mengurus ayahnya.
Beruntung Ayah Aldi ada di
kamar VIP, jadi ada ranjang lain
yang bisa digunakan untuk
keluarga pasien.
Tadi dia pulang dulu ke rumah
untuk mandi dan berganti pakaian
kemudian pergi lagi dengan Rafa
yang kembali mengantar.
Dara sudah rebahan di ranjang
karena ayahnya sudah tidur setelah
minum obat. Dia membaca rentetan
pesan yang dia kirim kepada Bebi
namun tidak ada satu pun pesan
yang dibalas oleh sahabatnya itu.
Dara kesal karena Bebi lebih
menurut pada Renita dibanding
padanya. Bebi diam saja saat Renita
menindasnya.
Dia bukan tipe wanita yang
lemah dan saat melihat Bebi diam
saja seperti tadi, dia jelas merasa
kesal. Terlebih Bebi adalah
sahabatnya.
"Mereka ada hubungan apa?"
gumam Dara.
"Tidur, Sayang. Udah malem
ini," ucap Ibu Erina.
"Bu, aku mau cerita."
"Cerita apa?" tanya Ibu Erina
yang ikut rebahan di samping
putrinya.
"Mau cerita tentang kamu sama
suamimu? Mama seneng banget
ngeliat Rafa yang kayaknya sayang
sama kamu, baik sama kamu," ucap
Ibu Erina.
"Ih. Bukan. Ini tentang Bebi,
sahabat aku," sahut Dara.
Dara pun akhirnya
menceritakan tentang Bebi yang
selalu diam saja saat ditindas oleh
Renita. Dara juga menceritakan
tentang kejadian di luar bioskop
tadi siang.
"Menurut Ibu, aku harus
gimana?" tanya Dara.
Erina tersenyum lembut dan
meraih tangan Dara, memberinya
rasa tenang. "Sayang, kadang-
kadang, sahabat kita butuh waktu
untuk memahami dan meresapi
nasihat yang kita berikan.
Mungkin Bebi merasa takut atau
tidak tahu bagaimana cara menolak
Renita. Itu bisa jadi karena dia
merasa tidak percaya diri."
Dara menghela napas. "Iya, Bu.
Aku paham. Tapi rasanya sulit
melihat sahabat sendiri terus-
menerus diperlakukan seperti itu."
Erina menatap Dara dengan
penuh kasih sayang. "Mungkin
kamu bisa coba pendekatan yang
berbeda, sayang. Daripada hanya
menasihati Bebi, cobalah untuk
lebih mendukung dan menguatkan
dia. Tunjukkan bahwa kamu selalu
ada di sampingnya. Kadang-
kadang, perasaan punya teman
yang selalu mendukung bisa
memberikan keberanian yang
dibutuhkan untuk melawan
ketidakadilan."
Dara berpikir sejenak, lalu
berkata, "Jadi, aku harus lebih sabar
dan tetap ada untuk Bebi, ya, Bu?"
Erina mengangguk. "Betul,
sayang. Dan kamu juga bisa
mencoba untuk berbicara dengan
Renita dengan cara yang baik.
Kadang-kadang, orang yang suka
menindas juga tidak menyadari
dampak perbuatannya. Mungkin,
dengan pendekatan yang tepat,
Renita bisa berubah."
Erina tersenyum dan memeluk
putrinya. "Ibu bangga sama kamu,
Sayang. Kamu sudah menjadi
sahabat yang baik. Ingat,
perubahan tidak bisa terjadi dalam
semalam, tapi dengan kesabaran
dan dukungan, kamu bisa
membantu Bebi menjadi lebih kuat."
"Jadi... kamu gak mau cerita
nih kedekatan kamu sama suami?"
goda Erina.
Dara tersenyum malu. "Apaan
sih, Ibu."
Di kamarnya, Rafa tidak bisa
tidur. Dia terus menatap plafon
kamarnya yang sebenarnya sama
sekali tidak menarik untuk terus
dipandang.
Bukan tidak bisa tidur karena
dia teringat pada Khaylila seperti
dulu. Hanya saja, dia merasa ada
yang berbeda malam ini. Rafa
merasa ada yang kurang.
Pria tampan itu melirik ke arah
samping kiri di mana semalam
Dara berada kemudian
menghembuskan napas berat.
Semalam dia tidur sambil
berpelukan dengan Dara.
"Apa dia juga sama seperti ku?
Merasa ada yang kurang karena
tidur sendirian di sana?" gumam
Rafa.
Gegas dia mengambil ponsel
dan membuka ruang chat dengan
Dara. Hanya diam dan menatap
karena bingung mau
kirim pesan apa.
Sudah mengetik satu dua kata,
hapus lagi. Ngetik lagi, hapus lagi.
Hingga akhirnya Rafa melempar
ponselnya ke samping.
Yang sedang dipikirkan,
nyatanya sudah tidur nyenyak di
pelukan ibunya. Dara merasa
sangat nyaman sama seperti malam
kemarin saat dia tidur di pelukan
Rafa
❤️
Paginya, Rafa turun ke lantai
bawah dengan kondisi kantung
mata yang agak menghitam. Dia
tidak bisa tidur semalaman dan
mungkin baru tidur saat jam tiga
dini hari.
"Kamu kenapa?" tanya Oma
Atira yang sudah ada di meja
makan.
"Gak apa-apa," jawab Rafa
kemudian mengambil segelas air
putih dan meneguknya sampai
habis.
"Nanti bawain makanan ke
rumah sakit," ucap Oma Atira.
Rafa hanya mengangguk
kemudian pamit untuk lari pagi
keliling komplek.
Siangnya, Rafa kembali ke
rumah sakit membawa makanan
yang diberikan oleh sang oma. Dia
bertemu dengan Dara koridor
lantai satu yang baru selesai
mengambil obat.
"Dari mana?" tanya Rafa.
Dara menunjukkan tas plastik
warna putih berlogo rumah sakit.
"Abis ngambil obat punya Ayah,"
jawabnya.
"Mas Rafa bawa apa itu?"
Rafa melirik ke paper bag yang
dia bawa dan memperlihatkannya
pada Dara. "Makanan dari Oma.
Belum makan, 'kan?"
Dara tersenyum dan
menggeleng. Dia membiarkan Rafa
menggandeng tangannya dan
mereka memasuki lift karena
kamar rawat inap ada di lantai lima.
Dari kejauhan, Braden yang
baru datang bersama ibunya
mengerutkan kening melihat Dara
bersama seorang pria.
"Dia sama siapa? Apa Aiden?"
batinnya.