NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Setelah mendapat kabar dari sang ibu, Dara dan Rafa langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Katanya Ayah Aldi harus dioperasi.

Dara jelas kaget, terakhir ketemu, ayahnya dalam kondisi yang baik-baik saja. Selama ini juga gak pernah keliatan sakit. Lalu, kenapa tiba-tiba harus dioperasi?

Sambil menyetir, Rafa melihat Dara yang gelisah dan terus menangis. Tangan kiri Rafa bergerak untuk menggenggam tangan istri kecilnya itu.

"Mas, Ayah...," lirih Dara.

"Tenang, ayah pasti baik-baik aja," ucap Rafa.

Beruntung jarak dari mall ke rumah sakit tidak terlalu jauh. Jadi hanya dalam waktu lima belas menit saja mereka sudah sampai di rumah sakit di mana Ayah Aldi berada.

Tanpa menunggu suaminya, Dara langsung berlari menuju IGD karena katanya Ayah Aldi masih di sana.

"Bu!" seru Dara saat melihat sang ibu duduk sendiri di bangku yang tersedia di sana.

"Ayah kenapa?" tanya Dara tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.

"Ayah kena radang usus buntu, Nak. Kata dokter, tadi harus dioperasi karena udah parah," jawab Erina. Sama, tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

Dara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia duduk di samping sang ibu dan memeluknya.

"Terus, ibu ngapain di sini? Ayah di mana?" tanya Dara heran.

"Ayah ada di dalam. Tadi lagi diperiksa sama suster. Ibu cuman... cuman kepikiran sama sikap ibu beberapa hari ini ke ayahmu. Ibu terus ngediemin ayah, ngebiarin ayah ngelakuin semuanya sendiri. Ibu juga gak pernah lagi masak buat ayah. Gak pernah lagi hubungin ayah buat ngingetin supaya gak

telat makan kalau ayah lagi di kantor. Ibu jadi gak tau, ayah makan apa enggak. Apa sikap ibu keterlaluan ya?" tanya Ibu Erina.

"Tapi, kamu pun tau sendiri kenapa ibu bersikap kayak gitu sama ayahmu," imbuhnya.

Dara menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab pertanyaan sang ibu dengan lembut, "Bu, aku paham kenapa Ibu ngerasa begitu. Aku juga paham kalau ibu ngerasa kecewa sama sakit hati karena kelakuan Ayah yang nyakitin hati Ibu, dan menurutku itu wajar. Wajar juga Ibu gak lagi nunjukkin perhatian yang biasa Ibu berikan sama Ayah."

Dara menggenggam tangan sang ibu dengan agak erat seolah memberikan dukungan. "Tapi, menurut aku, penting juga buat bicara dari hati ke hati sama Ayah. Ibu sama Ayah harus saling jujur tentang perasaan masing-masing dalam keadaan kepala yang dingin. Bukan pas sama-sama lagi emosi. Mungkin dengan begitu, Ayah bisa tahu betapa perbuatan dia sangat menyakiti hati ibu. Apalagi Ibu mutusin buat tetep sama Ayah. Kalau emang harus ada perubahan, biarin itu terjadi dari hati Ayah dan Ibu sendiri."

"Ayah juga datang nemuin aku kemarin. Ayah minta maaf sama aku dan Ayah bilang nyesel karena udah nyakitin hati Ibu lagi. Ayah nangis dan aku tau kalau Ayah

sungguh-sungguh. Tangis Ayah juga bukan tangis boongan."

Erina diam. Aldi memang kerap meminta maaf padanya, bahkan sampai menangis juga. Tapi... Erina masih merasa berat untuk memaafkan suaminya itu. Dalam pikirnya, waktu itu juga minta maaf dan menyesal tapi akhirnya kayak gitu lagi.

"Pokoknya, apapun yang terjadi, aku bakal selalu dukung Ibu. Aku bakal selalu ada buat Ibu. Kalau ada apa-apa, Ibu harus cerita sama aku, gak baik juga mendem rasa sakit sendirian, Bu. Aku juga selalu cerita sama Ibu 'kan?"

Ibu Erina tersenyum hangat, dia mencubit gemas pipi chubby

putri cantiknya. "Setelah nikah, kok pemikiran kamu jadi lebih dewasa gini?" Ibu Erina menggoda Dara.

"Ih, Ibuuu." Dara merengek.

"Eh, iya." Ibu Erina celingukan mencari seseorang, "suami kamu mana? Rafa gak ikut?" tanyanya.

"Hah? Ikut kok. Ke mana ya? Tadi aku lari duluan ke sini soalnya," jawab Dara ikut mencari keberadaan sang suami.

Rafa yang sejak tadi berdiri di balik tembok pembatas pun akhirnya menghampiri istri dan ibu mertuanya. Dia sengaja ingin memberikan waktu pada Dara dan ibunya yang mungkin sedang membicarakan hal yang sangat

penting.

"Maaf, tadi ada temen nyapa dulu di depan," ucap Rafa setelah mencium punggung tangan Ibu Erina. "Ayah di mana?" tanyanya.

"Ada di dalam, yaudah yuk. Ibu udah lama juga rasanya ninggalin Ayah." Ibu Erina bangun dan membiarkan Dara menggandeng lengannya dengan Rafa yang mengikuti dari belakang.

 

Kedua mata Dara langsung memanas melihat Ayahnya yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Wajah Ayah Aldi sangat pucat dan kenapa juga dia baru sadar kalau Ayahnya itu makin

kurus.

Dara langsung memeluk sang ayah dan menangis. Meski pernah kecewa karena sang ayah yang tega menduakan cinta ibunya dengan wanita lain, tapi tetap saja Dara tidak bisa menghapus kenangan akan kasih sayang dan perhatian yang ayahnya curahkan padanya. Perasaan cintanya kepada sang ayah lebih besar daripada perasaan kecewa nya.

"Malu sama suamimu nangis sambil meluk Ayah kayak begini," ucap Ayah Aldi sambil mengusap punggung putrinya.

"Biarin," jawab Dara dengan suara serak.

Ibu Erina dan Rafa tersenyum tipis mendengarnya. Rafa bangga kepada Dara, karena sudah mampu memaafkan kesalahan sang ayah.

"Ayah akan baik-baik saja, Sayang," ucap Ayah Aldi.

"Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah tau kalau Ayah banyak salah. Ayah udah bikin kamu dan ibumu kecewa sama Ayah."

Dara menggeleng, mencoba menahan isak tangisnya. "Ayah, meski aku kecewa, aku tetap sayang sama Ayah. Ayah adalah Ayah terbaik buat aku, dan aku nggak mau kehilangan Ayah."

Aldi merasakan kehangatan di hatinya mendengar kata-kata Dara.

" Ayah janji akan berusaha menjadi

ayah yang lebih baik buat kamu dan

ibu. Ayah akan berjuang melalui

operasi ini, dan ayah akan berubah."

Dara memeluk ayahnya erat,

membiarkan air matanya

membasahi baju rumah sakit

ayahnya. "Aku percaya sama Ayah.

Aku cuma mau Ayah sehat dan kita

bisa kembali seperti dulu."

Aldi membalas pelukan Dara

dengan kekuatan yang tersisa.

"Terima kasih, Nak. Ayah sangat

bersyukur punya anak seperti

kamu. Ayah janji akan memperbaiki

semuanya."

Erina tidak mampu menahan

air matanya dan Rafa yang

melihatnya pun langsung

mengambilkan tissue yang ada di

meja samping ranjang kepada sang

ibu mertua.

Erina tersenyum disela

tangisnya. "Makasih ya, Nak."

Rafa hanya mengangguk. Dia

belum begitu dekat dengan ayah

dan ibu mertuanya jadi masih

merasa canggung.

 

Ayah Aldi sudah dipindahkan

ke ruang perawatan karena operasi

akan dilakukan setelah Ayah Aldi

puasa terlebih dahulu.

Dara sejak tadi berada di

samping sang Ayah sampai

melupakan suaminya. Sedekat itu

memang Dara dengan ayahnya.

Makanya, wajar saja bila Dara

merasa kecewa dan marah saat

sang ayah menduakan ibunya.

"Nak, suami dari tadi

dianggurin, kasian lho," ucap Ayah

Aldi.

Kedua mata Dara melebar. Dia

menoleh ke arah sofa dan Rafa ada

di sana.

"Ya ampun, aku lupa!" serunya

dengan suara pelan dan nyengir.

"Gak apa-apa, Ayah. Mungkin

Dara kangen juga sama Ayah," ucap

Rafa.

"Sekali lagi terima kasih ya,

Nak Rafa. Sudah mau datang ke

sini. Maaf ngerepotin," ucap Ayah

Aldi.

Rafa mendekat dan

menggelengkan kepalanya. "Gak

ada ngerepotin sama sekali, Ayah.

Bukankah aku juga anak Ayah?"

tanyanya.

Dara terharu mendengar

ucapan Rafa. Padahal, Dara ingat

jelas bagaimana tatapan

permusuhan yang Rafa berikan

pada kedua orang tuanya saat

mereka akan menikah dulu. Rafa

tidak ada ramah-ramahnya sekali

kepada mertua.

Rafa memandang ke arah Dara,

dia mengusap perutnya yang mulai

terasa lapar karena belum makan

siang. Dara yang memang mulai

merasa lapar pun pamit untuk

keluar dulu dengan sang suami.

Kini keduanya sedang berada di

kantin rumah sakit, Dara ingin

tetap berada di sana sampai operasi

ayahnya selesai. Oma Atira juga

katanya sedang dalam perjalanan

menuju ke sana.

"Mas Rafa gak apa-apa kok

kalau mau pulang duluan. Tapi..

aku izin di sini ya mungkin nginep

juga," ucap Dara.

Rafa menggeleng. "Nanti aja

pulangnya sekalian ambil baju ganti

buat kamu," jawabnya.

Dara yang sedang minum pun

langsung tersedak. Hidungnya

sampai terasa perih karena air

masuk ke sana.

"Ya ampu!" keluh Rafa lalu

memberikan tissue kepada Dara

"Mas Rafa mau ambilin aku

baju ganti?" tanya Dara.

Rafa memandang heran ke

arah istrinya yang nampak terkejut.

"Ya iya. Emangnya kamu mau tidur

di sini pake celana kayak gitu?

Nanti di sini pasti banyak dokter

pria, perawat pria. Saya gak mau ya

kamu berkeliaran di rumah sakit

sebesar ini dengan celana pendek

kayak gitu." Rafa mulai posesif.

"Iiih. Bukan itu maksudnya!"

"Maksudku, Mas Rafa sendiri

yang mau ambil bajuku di lemari?"

tanya Dara dan Rafa kembali

mengangguk.

"Jangan! Aku nanti ikut pulang

dulu aja trus pergi lagi ke sini naik

ojol," larang Dara.

Rafa tersenyum tipis seakan

tahu hal apa yang Dara

khawatirkan kalau dia yang

mengambil baju gantinya.

"Kamu takut saya ambil dua

benda yang-mmph!"

Dara langsung menutup mulut

Rafa menggunakan telapak

tangannya. "Gak usah disebutin

juga!" ucapnya dengan wajah

bersemu merah.

"Emangnya kenapa? Saya kan

suami kamu," ucap Rafa dengan

suara pelan.

"Iiih. Udah ah jangan dibahas

lagi!"

 

Malamnya, Dara benar-benar

menginap di rumah sakit meski

ayah dan ibunya sudah melarang.

Ayah Aldi sudah selesai dioperasi

dan Dara hanya ingin membantu

ibunya mengurus ayahnya.

Beruntung Ayah Aldi ada di

kamar VIP, jadi ada ranjang lain

yang bisa digunakan untuk

keluarga pasien.

Tadi dia pulang dulu ke rumah

untuk mandi dan berganti pakaian

kemudian pergi lagi dengan Rafa

yang kembali mengantar.

Dara sudah rebahan di ranjang

karena ayahnya sudah tidur setelah

minum obat. Dia membaca rentetan

pesan yang dia kirim kepada Bebi

namun tidak ada satu pun pesan

yang dibalas oleh sahabatnya itu.

Dara kesal karena Bebi lebih

menurut pada Renita dibanding

padanya. Bebi diam saja saat Renita

menindasnya.

Dia bukan tipe wanita yang

lemah dan saat melihat Bebi diam

saja seperti tadi, dia jelas merasa

kesal. Terlebih Bebi adalah

sahabatnya.

"Mereka ada hubungan apa?"

gumam Dara.

"Tidur, Sayang. Udah malem

ini," ucap Ibu Erina.

"Bu, aku mau cerita."

"Cerita apa?" tanya Ibu Erina

yang ikut rebahan di samping

putrinya.

"Mau cerita tentang kamu sama

suamimu? Mama seneng banget

ngeliat Rafa yang kayaknya sayang

sama kamu, baik sama kamu," ucap

Ibu Erina.

"Ih. Bukan. Ini tentang Bebi,

sahabat aku," sahut Dara.

Dara pun akhirnya

menceritakan tentang Bebi yang

selalu diam saja saat ditindas oleh

Renita. Dara juga menceritakan

tentang kejadian di luar bioskop

tadi siang.

"Menurut Ibu, aku harus

gimana?" tanya Dara.

Erina tersenyum lembut dan

meraih tangan Dara, memberinya

rasa tenang. "Sayang, kadang-

kadang, sahabat kita butuh waktu

untuk memahami dan meresapi

nasihat yang kita berikan.

Mungkin Bebi merasa takut atau

tidak tahu bagaimana cara menolak

Renita. Itu bisa jadi karena dia

merasa tidak percaya diri."

Dara menghela napas. "Iya, Bu.

Aku paham. Tapi rasanya sulit

melihat sahabat sendiri terus-

menerus diperlakukan seperti itu."

Erina menatap Dara dengan

penuh kasih sayang. "Mungkin

kamu bisa coba pendekatan yang

berbeda, sayang. Daripada hanya

menasihati Bebi, cobalah untuk

lebih mendukung dan menguatkan

dia. Tunjukkan bahwa kamu selalu

ada di sampingnya. Kadang-

kadang, perasaan punya teman

yang selalu mendukung bisa

memberikan keberanian yang

dibutuhkan untuk melawan

ketidakadilan."

Dara berpikir sejenak, lalu

berkata, "Jadi, aku harus lebih sabar

dan tetap ada untuk Bebi, ya, Bu?"

Erina mengangguk. "Betul,

sayang. Dan kamu juga bisa

mencoba untuk berbicara dengan

Renita dengan cara yang baik.

Kadang-kadang, orang yang suka

menindas juga tidak menyadari

dampak perbuatannya. Mungkin,

dengan pendekatan yang tepat,

Renita bisa berubah."

Erina tersenyum dan memeluk

putrinya. "Ibu bangga sama kamu,

Sayang. Kamu sudah menjadi

sahabat yang baik. Ingat,

perubahan tidak bisa terjadi dalam

semalam, tapi dengan kesabaran

dan dukungan, kamu bisa

membantu Bebi menjadi lebih kuat."

"Jadi... kamu gak mau cerita

nih kedekatan kamu sama suami?"

goda Erina.

Dara tersenyum malu. "Apaan

sih, Ibu."

 

Di kamarnya, Rafa tidak bisa

tidur. Dia terus menatap plafon

kamarnya yang sebenarnya sama

sekali tidak menarik untuk terus

dipandang.

Bukan tidak bisa tidur karena

dia teringat pada Khaylila seperti

dulu. Hanya saja, dia merasa ada

yang berbeda malam ini. Rafa

merasa ada yang kurang.

Pria tampan itu melirik ke arah

samping kiri di mana semalam

Dara berada kemudian

menghembuskan napas berat.

Semalam dia tidur sambil

berpelukan dengan Dara.

"Apa dia juga sama seperti ku?

Merasa ada yang kurang karena

tidur sendirian di sana?" gumam

Rafa.

Gegas dia mengambil ponsel

dan membuka ruang chat dengan

Dara. Hanya diam dan menatap

karena bingung mau

kirim pesan apa.

Sudah mengetik satu dua kata,

hapus lagi. Ngetik lagi, hapus lagi.

Hingga akhirnya Rafa melempar

ponselnya ke samping.

Yang sedang dipikirkan,

nyatanya sudah tidur nyenyak di

pelukan ibunya. Dara merasa

sangat nyaman sama seperti malam

kemarin saat dia tidur di pelukan

Rafa

❤️

Paginya, Rafa turun ke lantai

bawah dengan kondisi kantung

mata yang agak menghitam. Dia

tidak bisa tidur semalaman dan

mungkin baru tidur saat jam tiga

dini hari.

"Kamu kenapa?" tanya Oma

Atira yang sudah ada di meja

makan.

"Gak apa-apa," jawab Rafa

kemudian mengambil segelas air

putih dan meneguknya sampai

habis.

"Nanti bawain makanan ke

rumah sakit," ucap Oma Atira.

Rafa hanya mengangguk

kemudian pamit untuk lari pagi

keliling komplek.

 

Siangnya, Rafa kembali ke

rumah sakit membawa makanan

yang diberikan oleh sang oma. Dia

bertemu dengan Dara koridor

lantai satu yang baru selesai

mengambil obat.

"Dari mana?" tanya Rafa.

Dara menunjukkan tas plastik

warna putih berlogo rumah sakit.

"Abis ngambil obat punya Ayah,"

jawabnya.

"Mas Rafa bawa apa itu?"

Rafa melirik ke paper bag yang

dia bawa dan memperlihatkannya

pada Dara. "Makanan dari Oma.

Belum makan, 'kan?"

Dara tersenyum dan

menggeleng. Dia membiarkan Rafa

menggandeng tangannya dan

mereka memasuki lift karena

kamar rawat inap ada di lantai lima.

Dari kejauhan, Braden yang

baru datang bersama ibunya

mengerutkan kening melihat Dara

bersama seorang pria.

"Dia sama siapa? Apa Aiden?"

batinnya.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!