Sejak lahir, Kasih sudah dianggap kesalahan.
Satu kakinya tak berfungsi sempurna.
Dan bagi Rani, ibunya, itu cukup untuk meruntuhkan semua mimpi tentang anak yang sempurna.
Kasih tumbuh di rumah yang sama—namun tak pernah benar-benar tinggal di dalam hati siapa pun.
Selain ayahnya.
Di mata sang ayah, Kasih adalah anugerah.
Namun kecelakaan malam itu merenggut satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat.
Sejak usia tujuh tahun, Kasih kehilangan segalanya.
Ia kehilangan pelindung.
Kehilangan suara yang membelanya.
Dan perlahan… kehilangan dirinya sendiri.
Ibunya semakin dingin.
Kasih sayang sepenuhnya jatuh pada Raisa—kakaknya yang cantik, sempurna, dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Sementara Kasih hanya bayangan.
Beban.
Aib yang disembunyikan.
Bukan hanya kehilangan ayah, Kasih juga hidup dalam bayang-bayang trauma.
Suara klakson membuat jantungnya membeku.
Lampu kendaraan di malam hari membuat napasnya tersengal.
Duduk di dalam mobil terasa seperti menunggu maut datang kembali.
Setiap hari, ia mati-matian melawan ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun di usia tujuh belas tahun, seseorang hadir dan mengubah segalanya.
Edghan.
Ia tak melihat tongkat di tangan Kasih.
Tak melihat kekurangannya.
Tak melihatnya sebagai beban.
Ia melihatnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kasih merasa diterima.
Merasa cukup.
Merasa… pantas dicintai.
Tapi luka yang terlalu dalam tak pernah sembuh dengan mudah.
Akankah Kasih mampu berdiri tanpa rasa bersalah yang menghantuinya?
Akankah ia berani melawan trauma dan membuktikan bahwa dirinya bukan aib?
Dan ketika cinta datang… apakah itu cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia layak bahagia?
Aku Bukan Anak Tiri adalah kisah tentang kehilangan, kecemburuan, trauma, dan perjuangan seorang gadis untuk mendapatkan satu hal yang paling sederhana—
dicintai tanpa syarat.
Karena terkadang, luka terbesar bukan berasal dari dunia luar…
melainkan dari rumah sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangannya Yang Mengubah Segalanya
Beberapa hari kemudian, suasana di Sekolah Nusa Bangsa mendadak ramai. Sejak pagi, bisik-bisik sudah terdengar di koridor—bukan karena ujian atau acara sekolah, tapi karena kabar tentang siswa baru.
Bukan satu.
Tapi tiga sekaligus.
Pintu gerbang terbuka dan mereka masuk bersama. Hampir semua siswa langsung mengenali salah satunya.
Edghan Bagaskara
Pemain inti tim basket dari sekolah SMA GARUDA JAY yang pernah bertanding melawan NUSA BANGSA. Sosok yang dulu hanya dilihat dari lapangan pertandingan, kini berdiri di halaman sekolah mereka dengan seragam yang sama.
Di sampingnya ada dua orang yang tidak kalah mencuri perhatian:
Adriansyah (Riank) dan Candra Wijaya (Candra), sahabat sekaligus rekan satu timnya. Mereka ikut pindah tanpa banyak penjelasan, hanya senyum santai yang dilempar ke sekitar.
Bagi siswa lain, ini sekedar kabar besar yang menarik.
Tapi bagi Edghan, alasannya jauh lebih pribadi.
Sejak hari di taman itu, pikirannya tidak pernah benar-benar lepas dari satu sosok—gadis dengan tongkat dan tatapan yang masih terbayang jelas setiap kali ia mengingat suara knalpot yang membuatnya panik.
Ia tidak menceritakan semuanya pada banyak orang.
Hanya Riank dan Candra yang tahu alasan sebenarnya di balik keputusan pindah sekolah yang terkesan mendadak itu.
“Lo yakin ini bukan keputusan gegabah?” tanya Riank pelan saat mereka berjalan menuju ruang administrasi.
Edghan tersenyum tipis, matanya menyapu halaman sekolah seolah mencari sesuatu.
“Gue cuma pengen ada di tempat yang sama,” jawabnya singkat.
Candra menepuk bahunya ringan. “Yaudah, kita di sini bareng. Apa pun alasannya.”
Sementara itu, di sudut lain sekolah, hari berjalan seperti biasa bagi sebagian orang—termasuk Kasih, yang sama sekali belum tahu bahwa seseorang yang diam-diam mengingat setiap detail pertemuan singkat mereka kini berada hanya beberapa koridor jauhnya.
Edghan dan sahabatnya yaitu Riank dan candra kini berjalan menuju kelas meraka, yaitu kelas 11 ips 1, Setelah mengurus perpindahannya, Mereka berjalan menyusuri koridor dengan langkah santai—terlihat seperti siswa baru yang sedang mengenali lingkungan. Padahal matanya diam-diam memperhatikan setiap sudut, setiap bangku, setiap kelompok siswa yang lewat.
Sampai akhirnya, di ujung koridor lantai dua, ia melihatnya.
Kasih duduk di bangku dekat jendela, tongkatnya tersandar di samping kursi. Ia sedang berbicara pelan dengan Dira, ekspresinya tenang—jauh berbeda dari wajah panik yang pernah Edghan lihat di tengah jalan.
Langkah Edghan melambat tanpa ia sadari.
Ada dorongan untuk mendekat, sekadar menyapa, memastikan ia benar-benar baik-baik saja. Tapi bersamaan dengan itu muncul keraguan yang menahan langkahnya di tempat.
Bagaimana kalau kehadirannya justru membuat Kasih tidak nyaman?
Bagaimana kalau ia mengingat kejadian itu dan merasa malu?
Edghan akhirnya berhenti di jarak beberapa meter, berpura-pura melihat papan pengumuman. Namun sesekali pandangannya kembali ke arah Kasih, seolah memastikan ia benar-benar ada di sana—nyata, bukan sekadar bayangan yang terus ia bawa beberapa hari terakhir.
“Masih belum berani?” bisik Candra tetap disampingnya.
Edghan menghembuskan napas pendek.
“Belum,” jawabnya jujur.
Di kantin, Raisa membeku sesaat saat sahabatnya berbisik penuh semangat.
“Ra, kamu tahu nggak? Edghan Bagaskara pindah ke sini!”
Nama itu seperti menghentikan waktu sejenak. Raisa menatap sahabatnya, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
“Serius?”
“Iya! Banyak yang lihat Edghan dan kedua temannya masuk ke dalam ruang administrasi.”
Jantung Raisa berdetak lebih cepat. Selama ini, perasaannya pada Edghan hanya berjalan diam-diam—sebatas kagum dari kejauhan setiap kali sekolah mereka bertemu di pertandingan. Ia tidak pernah benar-benar berharap berada di tempat yang sama setiap hari.
Tapi sekarang, jarak itu tiba-tiba hilang.
Raisa menunduk, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang tak bisa ia tahan.
Di kepalanya mulai bermunculan kemungkinan-kemungkinan, harapan yang selama ini hanya berani ia simpan sendiri.
Sementara itu, di koridor lantai dua, Edghan masih berdiri di tempat yang sama—terjebak di antara keinginan untuk mendekat dan ketakutan mengganggu.
Ia belum tahu bahwa kehadirannya di sekolah itu bukan hanya mengubah dunianya sendiri, tapi juga mulai menggerakkan perasaan orang lain yang diam-diam menaruh harap.
Bel tanda masuk berbunyi nyaring, memecah lamunan di koridor lantai dua Sekolah Nusa Bangsa. Suara langkah siswa kembali memenuhi lorong, pintu-pintu kelas mulai tertutup satu per satu.
Di ujung koridor, Edghan akhirnya menarik napas pelan dan memalingkan pandangannya dari arah jendela. Ia belum siap mendekat—belum hari ini.
“Masuk, nanti lo dikira siswa nyasar,” kata Candra setengah berbisik.
Edghan berbalik menuju kelasnya, 11 IPS 1, diikuti Riank dan juga candra. Kelas itu letaknya hanya beberapa pintu dari 11 IPA 1—kelas Kasih.
Jarak yang begitu dekat, tapi terasa seperti dunia yang berbeda.
Di dalam kelas 11 IPA 1, Kasih sudah duduk di bangkunya. Buku terbuka di meja, tapi pikirannya sesaat melayang. Ia sempat merasa seperti diperhatikan tadi di koridor, tapi ketika menoleh, tak ada siapa pun yang benar-benar ia kenali. Ia pun mengabaikannya, kembali fokus pada pelajaran.
Sementara itu, di kelas sebelah, Edghan duduk di bangku dekat jendela. Guru mulai menjelaskan materi, namun sesekali matanya tanpa sadar melirik ke arah pintu—seolah setengah berharap ada alasan untuk keluar dan berjalan beberapa langkah ke kelas sebelah.
Di sisi lain lorong, kelas yang bersebelahan dengan mereka juga tak kalah ramai. Di sanalah Raisa duduk, mencoba terlihat fokus meski pikirannya jauh lebih sibuk dari biasanya.
Ia sudah memastikan sendiri: Edghan benar pindah ke sekolah ini.Dan sekarang jarak mereka bukan lagi sebatas lapangan pertandingan.
Raisa menatap buku di depannya, tapi senyum kecil sesekali muncul tanpa ia sadari—campuran gugup dan harap yang perlahan tumbuh.
Di satu lantai yang sama, hanya dipisahkan beberapa dinding dan pintu kelas, tiga hati bergerak dengan ritme yang berbeda:
Kasih yang menjalani hari seperti biasa tanpa tahu ada seseorang yang terus memperhatikannya.
Edghan yang duduk beberapa meter jauhnya, mencoba menahan keinginan untuk mendekat terlalu cepat.
Dan Raisa yang baru saja menemukan harapan baru dari jarak yang kini terasa begitu dekat.
Belum ada yang benar-benar saling bertemu.
Tapi garis cerita mereka sudah mulai berjalan sejajar—menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya berpotongan.