Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Informasi.
Gadis itu terkejut bukan main melihat kilauan koin emas dan tembaga yang terisi penuh di dalam karung tersebut. Ana menjerit karena tak pernah seumur hidupnya melihat harta karun sebanyak itu.
Dia pun bertanya kepada Danji, "Tuan untuk apa membawa uang sebanyak ini?"
"Ya benar, kenapa kami harus membawa ini?" sambung Igris.
Raja Hermes terkekeh mendengar pertanyaan itu.
"Putriku, kau ini memang benar-benar belum berpengalaman. Intuk melakukan perjalanan ke Timur itu menempuh perjalanan berhari-hari. Kau pasti akan sering mampir ke penginapan dan juga akan bertemu banyak rintangan. Selama kau punya uang, kau akan bisa menghadapinya tanpa masalah."
"Tapi aku sangat kuat ayah. Bahkan pangeran Zean ikut bersamaku. Kalau ada masalah suruh saja dia yang menghadapinya."
"Igris. Terkadang ada masalah yang bisa diselesaikan tanpa harus menggunakan kekerasan. Kadang kita harus menyembunyikan sesuatu untuk mencapai kesuksesan. Tapi ingat! Dengan uang kita bisa membungkam mulut seseorang."
Igris mulai memahami apa yang di katakan sang raja dunia itu. Dia merasa telah mendapat pelajaran baru, bahwasannya manusia ternyata membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Ya jelas saja, karena di alam Dewa semuanya sudah tersedia, tidak perlu bekerja. Tidak perlu uang untuk bertahan hidup. Para dewa telah memiliki segala kemewahan.
Tugasnya masing-masing untuk menjaga alam semesta, menjaga elemen dan setiap orbit yang ada di planet. Segala kekuatan yang terikat kepada dirinya. Sedangkan manusia adalah makhluk yang butuh pekerjaan untuk menyambung hidup. Sehingga mereka harus menggunakan uang untuk keperluan hidupnya.
Igris baru tahu dan baru menyadari hal tersebut, Ana pun langsung mengikat kembali karung tersebut. Ketika hendak mengangkat wadah uang itu, Ana hampir tersungkur saking beratnya.
"Tuan putri, apa tidak ada cara untuk membawanya. Tidak mungkin kan kita membawanya seperti ini? Ini akan memancing perampokan dan para bandit gunung." ucap Ana cemas.
"Tenang saja, aku punya kantong ini."
Lalu Igris masukkan uang koin tersebut ke dalam kantong ajaib miliknya, sampai saat ini dewi itu masih merasa kesal karena kekuatan dimensi miliknya belum juga kembali. Garis tangannya belum juga terlihat, namun dia pun menyadari bahwa kekuatan yang diserapnya saat ini adalah elemen tanah bukan kristal bayangan.
Inggris terus memandangi telapak tangannya sebelah kanan, ia menatapnya dengan mata sedih. Hatinya terus berharap kalau kekuatan itu akan segera kembali.
"Dimana sebenarnya kristal bayangan itu? Siapa yang memilikinya? Setelah berhasil menyerapnya maka kekuatan dimensi dan mata dewa milikku akan kembali. Ayah, Ibu, aku mohon bantulah aku agar mempercepat semua ini." gumamnya.
Tak lama kemudian mereka pun berpisah. Di depan pintu gerbang, Raja Hermes menaiki kereta kuda terbang meninggalkan kota Ocra. Dengan lambaian tangan yang perlahan menjauh kereta kuda itu meninggalkan kota Ocra. Kini bayang-bayang sang raja tenggelam di awan tak tampak lagi.
Raja Hermes telah benar-benar meninggalkan kota. Igris mengepalkan tangan nya, tekadnya bulat berjuang untuk mendapatkan kekuatannya kembali. Untung saja ada pangeran harimau putih itu yang setia mengikutinya kemanapun. Igris tak sendirian, tentu saja Ana menemani nya.
Sebelum berangkat ke wilayah timur, Igris menugaskan Ana atu misi rahasia, yaitu mencari tahu tentang semua keberadaan kristal jiwa miliknya. Di kota Okra saat ini terdapat satu bangunan tua yang menyimpan seluruh buku catatan di zaman kuno. Tidak mungkin catatan sepenting itu tak di miliki.
Igris sangat yakin, informasi kerajaan-kerajaan lain pemilik kristal jiwa terdapat di sana. Igris sangat mempercayai bahwa perpustakaan kota Okra menyimpan segudang rahasia. Dengan teknik teleportasi milik Ana, itu sangat mudah sekali baginya untuk mengambil beberapa buku rahasia yang bersangkutan dan berpindah ke lokasi yang sudah di tandai.
Malam harinya.
Saat itu Igris tengah mengemas barang-barangnya ke dalam sebuah tas yang sangat besar. Segala jenis perbekalan pun dia bawa sebagai persiapan untuk menuju wilayah timur. Perlengkapan sudah sangat dipersiapkan dengan rapi. Sementara di sisi lain, Zean juga mengemasi beberapa barang miliknya. Sedangkan Ana si pelayan setia buru-buru kembali dari perpustakaan kerajaan dengan membawa beberapa catatan tebal lalu menghampiri sang majikan.
Secara mengejutkan sosok bayangan hitam tiba-tiba datang di balik punggung Igris dan berbisik.
" Nona sesuai perintahmu aku sudah mencari informasi tentang kerajaan Es. Memang benar, di sana terdapat seorang pemilik kristal jiwa dan dia adalah seorang pangeran muda yang bernama Xavier. Namun kerajaan itu dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Ratu Yelin. Menurut catatan, kerajaan itu sangat ketat. Tidak seperti kerajaan lain, kerajaan Es sangat mementingkan aksi bela diri. Mereka lebih mengutamakan kekuatan."
" Apa karena hal tersebut kerajaan Es tidak menghadiri undangan Raja Hermes saat penobatanku?" balas Igrisia santai.
"Menurut sejarah yang tertulis, pangeran pemilik kristal jiwa itu sudah lama tidak ditemukan, Nona. Atau mungkin orangnya sudah mati, karena tidak pernah mendengar kabar tentang pangeran itu lagi. Sepertinya kerajaan es benar-benar menyembunyikan keberadaan pemilik Crystal jiwa itu, atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa menghadiri undangan Raja Hermes saat itu. Karena di dalam catatan hanya dikatakan pangeran Safier memiliki wajah yang cantik, sampai-sampai membuat banyak bangsa siluman, iblis, manusia bahkan dewi berebut untuk mendapatkannya."
"Sepertinya kali ini kita tidak bisa menawarkan sesuatu seperti perdamaian ataupun kesuburan. Kita harus menawarkan sesuatu yang bersangkutan dengan identitas kerajaan mereka. Apa pusaka kerajaan Es itu?"
"Tidak ada catatan apapun selain itu, Nona."
"Baiklah, segera bersiap, besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat. "
Ana lalu kembali ke ruangan miliknya dan mempersiapkan diri.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Igris ditemani oleh Zean dan Anna telah bersiap meninggalkan kota Ocra. Mereka diantar oleh Tuan kota Ocra yaitu mantan Raja Ornebic. Dengan berbekal uang yang telah diberikan Raja Hermes dan juga obat-obatan dari kota Ocra, mereka bersiap berangkat saat menaiki kereta kuda.
Zein memapah tuan Putri itu dengan mesra, tatapan cinta yang terpancar dari matanya tak bisa disembunyikan. Perlakuan tersebut membuat Igris tersipu malu,
"Sebenarnya seberapa dalam cinta pangeran ini kepadaku?" perasaan geli bercampur haru tersebut mengusik hati Igris.
Dia takut, kalau suatu saat Zean menyadari suatu rahasia yang tak bisa diungkapkannya, akan seperti apa reaksi pangeran itu. Tak lama kemudian kereta kuda pun berangkat menuju wilayah timur, mereka menunggangi kereta kuda bersayap peninggalan dari Raja Hermes agar keberangkatan mereka jauh lebih cepat. Mereka menempuh jalur langit dan terbang melintasi awan. Dengan ketinggian rata-rata mereka terbang di atas rumah-rumah penduduk, semua penduduk kota Ocra melambaikan tangan perpisahan kepada sang Dewi dan juga pangeran.
Tak sedikit dari mereka bersorak melambaikan tangan dan berharap kalau pangeran dan Dewi segera kembali ke tanah mereka. Igris sangat terharu menyaksikan perpisahan itu. Di balkon kereta kuda Igris berdiri menatap langit yang cerah. Matanya tertutup menikmati hembusan angin yang begitu segar.
Zean langsung mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Bibir Zean langsung menempel di belakang telinga Igris.
"Dewiku, terima kasih sekali lagi karena kau telah mewujudkan kota Ocra lebih dari bayanganku. Sebelumnya aku hanya mengira kalau kota ini akan tumbuh beberapa pohon, tapi ternyata kerajaan ini telah berubah menjadi sebuah kota yang sangat hijau dan indah."
Igris hanya tersenyum dan tak membalas ucapan pangeran tersebut. Dia memegang tangan sang pangeran yang merangkul pinggangnya. Igris menyandarkan kepalanya di bahu Zean. Tentu saja pangeran harimau itu tak tinggal diam. Bibir nakalnya itu mulai menuruni leher jenjang putih milik sang Dewi.
Igris mendorong wajah sang pangeran itu kesamping. "Kenapa setiap kali kita bersama kau selalu saja memanfaatkan keadaan?"
"Aku tidak bisa menahan gejolak hasratku saat bersamamu."