Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Menurut catatan berita masa depan, pada saat ini Joni Hartono seharusnya sudah terinfeksi virus mematikan itu. Memikirkan itu, wajah Arga berubah. Ia tanpa sadar melangkah beberapa langkah menjauh dari Joni. Meski kontak biasa tidak menularkan, tetap saja ada rasa tidak nyaman.
"Haha… takut sekarang?" Tiara mengira Arga ketakutan melihat wibawa Joni. "Kuberitahu kamu, Pak Joni adalah investor paling hebat di Jawa Tengah saat ini! Sherly saja hanya bisa berdiri sejajar dengannya! Kamu pikir kamu siapa? Cuma anjing yang mengemis sisa makanan!"
"Sudahlah, rendah hati saja," ujar Joni Hartono sambil tersenyum puas. "Anak muda yang tahu rasa takut itu bagus. Hari ini suasana hatiku sedang baik. Cepat minta maaf padaku, lalu enyah dari sini."
Tiara menatap Arga dengan senyum kemenangan. "Arga, dengar itu? Pak Joni menyuruhmu minta maaf. Cepat lakukan sebelum kamu menanggung akibatnya!"
"Pak Joni, Mas Arga adalah tamu yang saya undang..." Akhirnya, Hadi Setiawan angkat bicara dengan keringat dingin di dahi. Bagaimanapun, dialah yang membawa Arga.
"Pak Hadi, Anda yang mengundangnya?" Joni sedikit mengernyit.
"Mas Arga juga adalah sahabat baik saya," tambah Bagus Mahendra melangkah maju.
"Lho, Bagus, sahabatmu?" Joni terkejut. Jika Arga hanya "peliharaan" Sherly, mustahil Hadi dan Bagus membelanya habis-habisan secara bersamaan.
"Benar," kata Bagus tegas. "Mas Arga memiliki kemampuan luar biasa. Beliau tidak berbohong. Saya dan Pak Hadi bisa bersaksi."
"Pfft—hahaha!" Joni Hartono tertawa keras. "Ya ampun, Hadi, Bagus, kalian berdua makin tua makin gampang ditipu klenik! Kalian benar-benar percaya dukun palsu ini?"
Ia menunjuk Arga dengan ujung cerutunya. "Heh, Anak Sakti, kalau kamu memang hebat, coba ramalkan nasibku!"
Arga meliriknya sambil tersenyum tipis yang misterius. "Baik."
"Saya melihat bintang keberuntungan Pak Joni telah jatuh. Kejayaan Anda akan berakhir tahun ini juga. Cahaya hidup Anda meredup, dan tampaknya akan muncul masalah besar pada kesehatan Anda... sesuatu yang sangat pribadi."
Arga berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan tenang, "Namun jangan khawatir. Selama Pak Joni bersedia melepaskan nafsu duniawi, pergi ke tempat suci untuk bertobat, dan menghabiskan sisa hidup dengan berpuasa serta beribadah—maka malapetaka ini mungkin masih bisa dilewati."
Pada saat itu, seolah-olah seluruh dunia mendadak terdiam.
Semua orang menatap Arga dengan raut wajah tak percaya. Ucapan barusan jelas bermakna bahwa keberuntungan Joni Hartono akan terputus—bahkan nyawanya pun terancam. Berani mengatakan hal semacam itu di hadapan Joni sama saja dengan mencari mati.
Namun, apa yang tidak diketahui semua orang adalah bahwa perkataan Arga sepenuhnya benar. Saat ini, Joni memang sedang berada di puncak kejayaannya. Akan tetapi, tak lama lagi, seluruh investasinya akan gagal total. Ia bahkan akan bangkrut habis-habisan akibat spekulasi di pasar berjangka, hingga akhirnya harus memulung di jalanan. Dan yang lebih tragis, ia juga mengidap penyakit mematikan itu.
"Baik, baik... 'Anak Indigo', begitu?" Joni Hartono mencibir dingin. "Kau bisa meramal masa depan, bukan?"
Ia menatap Arga dengan tatapan tajam dan melanjutkan, "Kalau orang lain mungkin takut, tapi aku, Joni Hartono, tidak! Pameran Batu Mulia akan segera dimulai. Berani tidak kau bertaruh denganku? Kita masing-masing beli batu mentah senilai 500 juta. Kita lihat siapa yang mendapatkan nilai lebih tinggi. Mari kita buktikan—apakah keberuntunganku benar-benar sudah habis, atau kau hanyalah seorang penipu tak tahu diri!"
Dengan satu tangan, Joni mematikan cerutunya. Sorot matanya dipenuhi amarah.
"Pak Joni, Mas Arga—" Hadi Setiawan berusaha maju untuk menengahi. Bagaimanapun juga, ilmu primbon dan ramalan bukanlah ilmu yang pasti dalam urusan judi batu. Arga bahkan belum pernah bermain batu mentah. Bagaimana mungkin ia mampu menandingi rubah tua seperti Joni Hartono?
"Pak Hadi!" Joni memotong dengan dingin. "Ini urusan pribadi antara aku dan dia. Aku tidak ingin melibatkan Anda."
"Bagaimana, Arga?" Joni menatapnya dengan sorot membara. "Bukankah kau mengaku sebagai titisan penguasa laut selatan? Masa kau bahkan tidak berani main batu denganku?"
Kepercayaan diri Joni bukan tanpa alasan. Demi menyenangkan hatinya, penyelenggara pameran ini telah menandai lebih dulu batu-batu mentah yang hampir pasti "isi". Batu yang dipilih Joni praktis sudah dijamin menghasilkan giok bernilai tinggi.
"Tidak masalah." Arga menerima tantangan itu tanpa ragu. Ia menyadari ada kejanggalan, namun ia sama sekali tidak takut. Ia ingat dari memorinya bahwa dalam pameran ini, pernah ditemukan sebuah giok Imperial Green bernilai 2 miliar! Dan yang paling mengejutkan—giok kelas tertinggi itu justru ditemukan di tumpukan batu limbah yang dibuang.
Arga tersenyum tipis. "Namun, hanya main batu saja rasanya kurang menantang. Bagaimana kalau kita tambahkan taruhan, Pak Joni?"
"Apa aku tidak salah dengar?" Joni tertawa sinis. "Kau ingin menambah taruhan?"
Bagus Mahendra mendekat dengan wajah berkeringat dan berbisik, "Mas Arga, ini tidak seimbang! Batu-batu itu sudah disetting!"
Arga tersenyum ringan. "Pak Bagus, semuanya sudah dalam perhitunganku. Percayalah."
Kemudian, Arga mengeluarkan sebuah kotak hadiah berukir indah dari tas kerjanya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah mangkuk kecil yang tampak kusam. "Ini taruhanku."
Keheningan menyelimuti ruangan. Joni Hartono terdiam. Setelah sekian lama, ternyata hanya... sebuah mangkuk bekas?
"Terlalu murahan, bukan?" Tiara mencibir. "Mangkuk itu dibelinya dari orang desa di toko Yuda seharga 3 juta. Harga pasarnya paling tinggi cuma 2 juta."
Joni Hartono tertawa terbahak-bahak. "Tidak mungkin, kan? Kau bawa mangkuk rusak seharga 3 juta seperti harta karun? Bahkan menjadikannya taruhan?"
Tawa ejekan terdengar di sekeliling. Bagi orang-orang di ruangan ini, uang 3 juta benar-benar tidak ada artinya. Namun, Arga tetap tenang.
"Ini bukan mangkuk biasa," ujar Arga perlahan. "Ini adalah harta peninggalan dari zaman Kerajaan Majapahit. Nilainya, menurut perhitunganku, setidaknya 5 miliar. Jika disimpan dua puluh tahun lagi, harganya bisa mencapai puluhan miliar. Sebagai taruhan, apakah ini belum cukup?"
Seketika, aula pameran terdiam. Detik berikutnya—ledakan tawa mengguncang ruangan.
"Anak ini gila! Mangkuk rombeng dijual 5 miliar?"
"Memangnya kami semua bodoh?"
Tiara menatapnya dengan jijik. "Arga, jangan mimpi. Yuda sudah menilai mangkuk itu. Memang barang lama, tapi nilainya tidak lebih dari 2 juta. Hanya orang bodoh yang mau beli!"
Yuda Perdana ikut berdiri. "Saya Yuda, pemilik galeri barang antik. Saya sudah cek mangkuk ini—nilainya memang tidak lebih dari 2 juta. Kalau benar semahal itu, mana mungkin saya biarkan dia membelinya?"
"Baik," Joni melangkah ke depan. Ia menghampiri seorang pria tua berwibawa. "Mbah Pradipta, Anda adalah ahli barang antik senior di Jawa Tengah. Tolong nilai—berapa sebenarnya harga mangkuk ini?"
Pria tua berjanggut putih itu tersenyum. Namanya Mbah Pradipta—pakar ternama di dunia antik. Ia mendekati Arga. "Anak muda, bolehkah aku melihatnya?"