NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Lily

"Lily, apa rumah kepala desa masih jauh?" tanya pria tampan itu sambil setengah meringis kesakitan.

Lyodra tersenyum geli. Pria tampan itu memanggilnya Lily. Terdengar sangat suci, murni dan anggun seperti bunga lily.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya pria itu.

"Aku tidak terbiasa dipanggil Lily," jawab Lyodra malu.

"Biasanya dipanggil apa? Lio? Atau Dara?" tanya pria itu lagi.

"Lyodra. Panggil lengkap. Kan cuma dua suku kata saja." Lyodra kembali tersenyum.

Senyumnya sungguh sangat manis hingga pria itu terkesima dengan kecantikan bunga desa sampai berhenti melangkah.

"Kalau begitu, biarlah hanya aku yang memanggilmu Lily." Pria itu terlihat bangga berhasil menciptakan nama panggilan yang imut untuk si bunga desa.

Wajah Lyodra merona merah. "Omong-omong, nama kakak siapa ya?"

"Aku? Kenalkan, aku Edward." Pria tampan itu mengulurkan tangannya pada Lyodra. Dan Lyodra menjabat tangannya dengan lembut.

"Akhirnya kita berkenalan juga," ucap Edward yang tak punya kesempatan menyebutkan namanya sejam yang lalu.

"Iya." Mereka tertawa bersama.

"Oiya, Kak. Rumah kepala desa di sana." Lyodra menunjuk sebuah rumah sederhana yang cukup luas.

Dindingnya terbuat dari bata, bukan kayu seperti rumah penduduk desa. Dibangun dua lantai. Dicat warna abu-abu sehingga makin menampilkan aksen minimalis.

"Semoga kepala desa bisa menenangkan warga desa. Mereka terlalu brutal menyerangmu. Sungguh di luar dugaan. Kamu masih sanggup bersabar dan bertahan dicerca seperti itu. Padahal biasanya gadis muda sepertimu langsung tantrum di tempat kalau difitnah sekejam itu."

Edward menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengacungkan ibu jarinya ke arah Lyodra.

"Hebat!"

"Yah, mau gimana lagi, Kak. Dari awal, warga desa tidak setuju kalau saya membudidayakan tanaman herbal langka khas Dieng yang satu ini. Resiko tidak disukai warga desa makin besar ketika saya mulai mengolahnya menjadi bubuk. Bisa dicampur dengan kopi, teh atau susu. Manfaatnya jauh lebih besar untuk kesehatan. Dengan mengolahnya lebih dahulu, tanaman herbal itu makin memiliki nilai jual yang lebih besar. Saya jadi bisa memperbaiki rumah dan menabung untuk masa depan saya, hanya dengan dua kali panen. Bayangkan jika sepuluh atau seratus kali panen. Wow, saya bisa kaya raya," jelas Lyodra dengan mata berbinar-binar.

Edward menatap Lyodra dengan penuh kekaguman. Gadis belia ini sangat hebat.

Pemikirannya sudah lebih maju ke depan. Jiwa bisnisnya tinggi.

Tidak lagi menjual hasil tani dalam bentuk mentahnya, tapi diolah menjadi produk yang banyak manfaatnya. Apalagi jika diekspor keluar negeri. Pundi-pundi dolarnya pasti makin menggembung.

"Sekali lagi. Hebat!" Edward mengacungkan dua ibu jari ke arah Lyodra. Membuat gadis belia itu malu dipuji pria tampan.

"Nah itu puskesmasnya. Kak Edward ke puskesmas dulu saja. Baru setelah itu, kita ke rumah kepala desa."

Lyodra mengajak Edward berobat lebih dahulu sebelum kembali beradu mulut dengan warga desa.

"Beneran gak apa-apa kalau kita mampir ke puskesmas dulu untuk berobat?" tanya Edward khawatir warga desa yang menemui kepala desa lebih dahulu makin berulah.

Mengarang cerita yang aneh-aneh hingga kesalah pahaman jadi makin runyam.

Lyodra menunjuk robekan kaos yang dipakai untuk menghentikan pendarahan di lengan Edward. Kaosnya yang semula putih sudah berwarna merah.

"Tidak bisa ditunda lagi. Darah Kak Edward bisa habis kalau begini terus. Di desa terpencil ini tidak ada bank darah, Kak. Kalau kakak sampai butuh transfusi, Kakak harus ke kota besar. Dan itu butuh waktu lama untuk mengirim ambulance kemari."

Edward bergidik ngeri membayangkan penuturan Lyodra. Dia memilih patuh pada permintaan Lyodra daripada nyawanya terancam.

"Ayo ke puskesmas." Edward kembali mengalungkan tangannya ke bahu Lyodra. Berjalan perlahan ke arah puskesmas.

Gedung puskesmas hanyalah bangunan sederhana dari batu bata. Dicat warna hijau sehingga terlihat menonjol di antara rumah kayu warga.

Begitu memasuki pekarangan puskesmas, mereka langsung disambut dua orang pegawai puskesmas.

Seorang dokter pria muda dan seorang perawat yang sudah mengamati mereka sejak lama dari jendela puskesmas.

"Darahnya banyak sekali, Pak. Wajah anda juga terlihat pucat. Apa kepala bapak juga pusing?" tanya dokter.

"Sedikit tapi itu bukan masalah besar. Saya masih bisa menahannya. Tolong segera jahit lukanya. Dan beri saya kruk agar saya bisa berdiri sendiri," jawab Edward.

"Baik, Pak. Mari silahkan masuk ke ruang pengobatan lebih dahulu," ucap Dokter sambil membimbing Edward masuk ke tempat yang dituju.

Setelah Edward duduk di bangku yang disediakan, perawat dengan cepat langsung menggunting balutan kaos yang melilit lengan Edward. Membersihkannya dengan teliti. Sungguh perawat yang cekatan.

Dokter muda itu berjalan ke arah Lyodra. Dengan suara pelan, dia menyapanya.

"Lyodra, apakah kamu juga terluka? Bajumu penuh noda darah."

Lyodra menggelengkan kepala saat memperhatikan baju lengan panjangnya yang kotor.

"Ini darahnya. Bukan darahku. Aku baik-baik saja, Dokter Hans."

Dokter Hans menghela nafas lega. "Syukurlah. Kamu tidak apa-apa."

Lyodra tersenyum ramah dan mengangguk kecil.

"Luka sudah siap dijahit, Dok." Perawat memanggil Dokter Hans untuk menyelesaikan tugasnya sebagai dokter satu-satunya di puskesmas.

Dokter Hans mengambil benang dan jarum jahit. "Saya cukup rapi dalam menjahit, Pak. Jadi Bapak tidak perlu khawatir lagi."

Edward mengangguk. Pasrah dengan ketrampilan jari Dokter Hans. Jika memang ke depan, bekas lukanya jelek, ya tinggal dioperasi plastik aja, toh teknologi sekarang sudah makin maju.

Saat ini yang terpenting adalah darahnya tidak merembes keluar lagi. Agar kepala tidak makin pusing saat berdebat dengan warga desa yang norak itu.

Ketrampilan menjahit dokter Hans cukup bagus. Dalam waktu cepat, luka-luka di lengan dan wajah Edward sudah selesai dijahit dan diperban.

Dokter Hans memberikan beberapa suntikan pada lengan Edward. Suntik anti tetanus dan antibiotik untuk mencegah infeksi. Serta beberapa butir obat. Antibiotik, anti nyeri, obat penambah darah dan salep untuk kaki yang terkilir dan bengkak.

Dokter Hans juga dengan sikap bersahabat, bersedia meminjamkan dua kaosnya untuk dipakai Edward dan Lyodra.

Walaupun agak kekecilan untuk Edward. Dan kebesaran untuk Lyodra. Baju yang bersih dan kering membuat pikiran jadi lebih jernih.

"Terimakasih banyak, Dokter." Lyodra mengulurkan dua lembar rupiah untuk membayar biaya pengobatan Edward. Perawat segera menerimanya.

"Kami pamit dulu, Dok. Ada masalah yang harus kami selesaikan di rumah kepala desa," ucap Edward sambil mencoba berjalan dengan kruk.

"Anda sudah pernah memakai kruk, Pak Edward?" tanya Dokter Hans kaget melihat Edward terampil menggunakan satu kruk saja.

"Waktu kecil saya pernah jatuh dari sepeda. Tulang kering saya retak. Sempat digips sebulan. Jadi selama sebulan, saya memakai kruk," jelas Edward.

"Baiklah. Hati-hati Pak Edward. Jika terjadi sesuatu, seperti demam tinggi atau lukanya makin bengkak bernanah, Bapak harus segera kembali ke puskesmas," ujar Dokter Hans.

Edward mengangguk. Lyodra segera melangkah pergi mengikuti Edward. Namun tangan dokter Hans begitu gesit menarik lengan atas Lyodra.

Lyodra menghentikan langkahnya, memandang dokter Hans dengan wajah sedikit bingung. "Ada apa, Dok?"

"Kok malah balik bertanya ke saya? Bukannya kalian sedang dilanda masalah? Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa warga desa memaki-makimu sepanjang jalan ke rumah kepala desa? Apa perlu saya juga ikut ke rumah kepala desa?" tanya Dokter Hans menawarkan diri untuk membantu membela Lyodra di hadapan kepala desa.

Lyodra buru-buru menggelengkan kepalanya. "Nanti saya akan menceritakannya, Dok. Sekarang saya harus pergi. Dokter tidak usah ikut. Saya dan Kak Edward harus menghadapinya berdua."

Dokter Hans melepaskan tangan Lyodra. Lyodra segera menghambur pergi. Dokter Hans hanya dapat memandangi punggung Lyodra dengan hati sedih dan kecewa.

Perawat mendekati Dokter Hans. Menggoda Dokter Hans dengan genit.

"Aduh, Dok. Pasien yang barusan pergi, gantengnya kelewatan. Sepertinya Dokter kalah telak deh. Dik Lyodra kelihatannya sudah jatuh hati dengan pria tampan itu."

Dokter Hans mendengus kesal.

Perawat berusaha menahan tawa melihat wajah Dokter Hans yang meradang marah, menahan cemburu.

"Gagal lagi, gagal lagi. Bunga desa Wonosobo lebih memilih yang lain daripada dokter puskesmas," ucap perawat sambil membereskan perlengkapan yang dipakai untuk mengobati pasien.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!