Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Hadiah terbaik
Angin malam di Federasi LIN membawa aroma embun dan getah pohon purba yang menenangkan.
Yan Bingchen duduk di sebuah kursi kayu yang menyatu dengan akar pohon raksasa, menatap hamparan hutan yang berpendar oleh cahaya jamur-jamur mistis.
Keheningan di sini sangat murni, jauh dari denting pedang atau intrik politik Kekaisaran Shan.
"Tempat yang sangat indah," gumamnya pelan.
Yan Bingchen memejamkan mata, membiarkan energi alam yang melimpah menyentuh kulitnya.
Di tengah ketenangan itu, sebuah ingatan muncul di benaknya. Hari ini, posisi bintang-bintang menandakan satu siklus tahunan telah terlewati sejak ia dilahirkan.
"Ulang tahun ya? Aku belum pernah merayakan hal seperti itu," bisiknya pada kesunyian.
Di Benua Binghuo, kelahirannya dianggap sebagai anomali yang menakutkan.
Orang tuanya terlalu sibuk menjaga agar kekuatannya tidak meledak dan membahayakan, sehingga hari kelahirannya selalu dilewati dengan meditasi paksa dan isolasi.
Tanpa ia sadari, Mo Ran telah berdiri tidak jauh di belakangnya. Pemuda itu berjalan pelan dan duduk di sisi Yan Bingchen, ikut menatap kegelapan hutan yang indah.
"Aku juga sama, Kak," sahut Mo Ran tiba-tiba, membuat Yan Bingchen sedikit terkejut. "Jangankan merayakan ulang tahun ... Masih dapat hidup dan makan setiap hari saja sudah keberuntungan besar bagiku."
Mo Ran merogoh sesuatu dari kantong bajunya yang lusuh. "Aku tidak memiliki uang, emas kita juga sudah hampir habis untuk perjalanan kemarin. Tapi aku menemukan ini di hutan tadi saat menemani Si Hitam bermain. Ini hadiah dariku, Kak."
Yan Bingchen terdiam sejenak. Ia menatap tangan Mo Ran yang menyodorkan sebuah benda kecil.
Itu adalah sebuah peluit sederhana yang diukir dengan tangan dari dahan pohon bercahaya—jenis kayu langka di Federasi LIN yang bisa menyimpan sedikit energi alam.
Meski buatannya kasar, permukaan kayu itu terasa sangat halus, tanda bahwa Mo Ran telah menggosoknya berulang kali agar tidak melukai tangan pemakainya.
"Terima kasih," ujar Yan Bingchen pelan.
Ia menerima peluit itu dan memalingkan wajahnya ke arah kegelapan hutan.
Ada desakan hangat di dadanya yang jarang ia rasakan.
Matanya yang dualitas sedikit berkaca-kaca, namun ia menahannya.
"Kau yang pertama yang memberiku hadiah, Mo Ran. Bahkan orang tuaku belum pernah merayakannya karena mereka selalu takut kekuatanku tidak terkendali setiap kali emosiku meluap," ungkap Yan Bingchen jujur.
"Aku senang kau suka. Lagi pula, itu bukan benda yang bagus dan mahal seperti pedang emasmu, kan?" Mo Ran nyengir, mencoba menutupi rasa harunya sendiri.
Yan Bingchen sedikit tersenyum—sebuah senyuman tulus yang sangat langka. "Kau salah. Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima. Terima kasih, Mo Ran."
Mereka menghabiskan waktu dalam diam selama beberapa jam, membiarkan persahabatan mereka mengalir dalam kesunyian malam yang magis.
Tak lama kemudian, Mo Ran menguap lebar. Ia memutuskan untuk tidur duluan di pondok kayu mereka karena besok ia harus memulai latihan fisik yang diperintahkan para penjaga hutan.
Malam semakin larut, kabut hijau mulai turun menyelimuti lantai hutan.
Namun, Yan Bingchen masih bergeming di kursinya, menggenggam peluit kayu pemberian Mo Ran.
"Kau belum istirahat, Anak Muda?"
Sebuah suara yang tenang dan berwibawa muncul dari balik bayang-bayang.
Tetua Lin Mu berjalan mendekat dengan langkah yang tidak meninggalkan suara di atas daun kering.
Yan Bingchen segera berdiri dan memberikan hormat yang sempurna, membungkukkan tubuhnya dengan martabat yang terjaga.
"Saya tidak mengantuk, Tetua. Apakah ada sesuatu sampai-sampai Anda harus repot-repot mendatangi saya di jam seperti ini?" tanya Yan Bingchen sopan.
Tetua Lin Mu berdiri di sampingnya, menatap profil wajah Yan Bingchen yang terpapar cahaya bulan. "Aku sangat kagum denganmu, Yan Bingchen. Walaupun kau tampak dingin dan acuh tak acuh, hatimu sangat baik dan tulus. Mungkin karena kau lahir di sebuah Klan Besar, kau memiliki tata krama yang sangat baik, namun kau tidak membawa keangkuhan mereka."
Yan Bingchen terdiam, merasa sedikit tidak nyaman dipuji sedemikian rupa. "Terima kasih, Tetua. Hamba hanya berusaha membawa diri dengan benar."
Mata tua sang Tetua kemudian melirik ke arah kantong jubah Yan Bingchen. "Apakah kau membawa pil pemberian Kaisar Shan itu?"
Yan Bingchen mengangguk dan mengeluarkan kotak kayu kecil berisi Pil Pelindung Jantung. "Hamba selalu membawanya."
"Bagus," ujar Tetua Lin Mu sambil memberi isyarat agar Yan Bingchen duduk bersila di atas akar pohon yang besar. "Malam ini adalah waktu yang tepat. Energi kayu di hutan ini sedang mencapai puncaknya, sangat cocok untuk menyeimbangkan panasnya api dan dinginnya es di tubuhmu. Kita akan mulai perlahan-lahan untuk mengkristalkan Qi cairmu menjadi Inti Sejati."
Yan Bingchen menelan Pil Pelindung Jantung tersebut.
Seketika, ia merasakan sensasi hangat membungkus jantung dan seluruh meridian utama di tubuhnya, menciptakan lapisan pelindung transparan yang kuat.
Tetua Lin Mu meletakkan tangannya beberapa inci di belakang punggung Yan Bingchen, mengalirkan energi hijau yang sangat murni untuk menuntun aliran Qi yang liar.
"Fokuskan pikiranmu pada titik pusat Dantian," instruksi sang Tetua. "Gunakan pil itu untuk menahan benturan energi saat gas-gas itu memadat. Jangan takut, aku akan menjagamu agar jiwamu tidak tersesat."
Yan Bingchen memejamkan mata sepenuhnya. Di dalam dirinya, pusaran api merah dan es biru mulai berputar dengan kecepatan yang mengerikan.
Dengan bantuan energi Tetua Lin Mu dan perlindungan pil tersebut, ia mulai menekan kedua energi ekstrem itu ke satu titik kecil di tengah-tengah.
Rasa sakit mulai menjalar, seperti ada ribuan jarum yang mencoba menjahit organ dalamnya menjadi satu.
Namun, Yan Bingchen tidak mengerang sedikit pun. Ia menggigit bibirnya, mengingat hadiah peluit kayu di sakunya, mengingat tekadnya untuk menjadi kuat agar bisa melindungi orang-orang yang tulus kepadanya.
Malam itu, di bawah perlindungan Pohon Leluhur Federasi LIN, Yan Bingchen mulai melangkah masuk ke dalam jurang penderitaan transisi ranah, demi menjadi seorang ahli Tahap Inti Sejati yang sesungguhnya.