NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 – Pilihan Hati yang Tak Bisa Dipaksa

Suasana restoran itu… beku.

Bukan karena dingin malam yang mulai menyelinap masuk.

Melainkan karena satu kata—

“Okelah.”

Reaksi Zhao barusan.

Sederhana.

Datar.

Dan… sangat tidak sesuai harapan.

Wang Jianhong tersenyum kaku.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Aku… tak pernah menduga reaksi mu akan seperti itu,” katanya perlahan.

Zhao memiringkan kepala.

Wajahnya benar-benar bingung.

“Lantas harus bagaimana?” jawabnya santai. “Kau berharap aku terkejut lalu terkena serangan jantung karena terlalu excited?”

Sunyi.

Sangat sunyi.

Wang Yihan yang sejak tadi menahan diri akhirnya meledak.

“Kau terlalu sombong untuk rakyat bawah!”

Suaranya tajam.

Menusuk.

“Coba lihat di belakangmu!”

Zhao menoleh.

Dan—

Di belakangnya—

Lu Qiang dan para mantan bandit…

Gemetar.

Benar-benar gemetar.

Wajah mereka pucat.

Mata mereka membesar.

Seolah baru saja melihat hantu.

“Sial…” gumam Lu Qiang lirih. “Kenapa orang dari Klan Wang ada di sini…!?”

Ia menelan ludah.

“Terlebih… mereka semua orang penting…”

Zhao kembali menoleh ke depan.

Lalu mengangguk pelan.

“Ah… jadi reaksi macam itu yang kalian harapkan?”

Ia menyentuh dagunya.

“Maafkan aku.”

Nada suaranya tetap santai.

“Untuk selanjutnya… aku akan lebih berekspresi dengan niat.”

…?!

Wang Yihan semakin memerah.

Amarahnya naik.

Namun—

“Nona ketiga, tahan emosi Anda.”

Wang Zhenyu langsung menahan.

Nada suaranya tenang.

“Pria ini sengaja memancing Anda.”

Zhao langsung menggeleng.

“Mana ada aku begitu.”

Ia menyilangkan tangan.

“Kau kira aku suka membully anak kecil?”

Kalimat itu—

Seperti api yang disiram minyak.

WHOOOSH!

Aura tajam langsung meledak dari tubuh Wang Yihan.

Qi pedang.

Tipis—

Namun mematikan.

Udara di sekitarnya langsung terasa berat.

“Kau bilang apa…?”

Suaranya rendah.

Namun penuh ancaman.

“Aku bukan anak kecil, bajingan!”

Namun—

Zhao tidak menjawab.

Ia hanya melirik ke bawah.

Pelan.

Tenang.

“…ya,” katanya santai. “Kau anak kecil.”

“…!!”

Wang Yihan refleks menutup bagian tubuhnya.

Wajahnya memerah.

“Apa yang kau lihat, bajingan mesum!?”

Namun sebelum situasi semakin liar—

“Cukup!”

Suara Wang Jianhong menggema.

Dalam.

Berat.

Sekejap—

Atmosfer kembali stabil.

Qi pedang menghilang.

Semua kembali diam.

Pria tua itu melangkah maju.

Menatap Zhao.

“Tuan… kami tahu ini mendadak.”

Nada suaranya kembali tenang.

“Dan mungkin membuat Anda tidak nyaman.”

Ia menarik napas.

“Namun… kami butuh bantuan Anda.”

Zhao mengangkat alis.

“Oh?”

“Apa yang kau butuhkan dari orang rendahan ini?”

Wang Jianhong tidak tersinggung.

Sebaliknya—

Ia mengangkat tangannya.

Dan—

Menunjuk ke arah belakang Zhao.

“Bisakah Anda… mempercayakan anak itu kepada Klan Wang kami?”

Semua mata langsung tertuju—

Pada Shen Ning.

Gadis kecil itu kini bersembunyi di belakang Yueling.

Memegang erat pakaiannya.

Matanya penuh ketakutan.

“Tenang saja,” lanjut Wang Jianhong. “Kami tidak akan memperlakukannya dengan kasar.”

Nada suaranya tulus.

“Kami akan memberikan yang terbaik… untuk merawat dan mengajarinya kultivasi.”

Sunyi.

Namun—

Kali ini…

Sunyi itu berat.

Yueling melangkah maju sedikit.

Tatapannya tajam.

Dingin.

Berbeda dari biasanya.

Shen Ning menarik lengan bajunya.

“Bibi…” suaranya gemetar. “Apakah… Shen Ning akan dibawa pergi…?”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak ingin berpisah…”

Yueling langsung menunduk.

Mengelus kepala kecil itu dengan lembut.

“Tenang saja…”

Suaranya lembut.

Namun tegas.

“Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Ning’er.”

Zhao menatap pemandangan itu.

Lalu kembali ke Wang Jianhong.

“Apa yang membuatmu begitu menginginkannya?”

Wang Jianhong hendak menjawab—

Namun—

“Cukup basa-basi ini!”

Wang Yihan memotong kasar.

“Aku sudah muak bersabar terhadap ketidak maluanmu!”

Tatapannya tajam ke arah Zhao.

“Percuma kami menjelaskan panjang lebar pada orang rendahan! Kau tidak akan paham!”

Ia melangkah maju.

“Yang harus kau lakukan… adalah membiarkan kami membawanya dengan tenang!”

Nada suaranya tinggi.

Dominan.

“Toh dia juga pasti tahu mana yang terbaik untuknya… daripada terus berada di restoran lusuh ini!”

Detik itu—

Atmosfer berubah.

Dingin.

Namun bukan dari luar.

Melainkan dari dalam.

Lu Qiang dan para bandit—

Tiba-tiba sekujur tubuh mereka merinding.

Keringat dingin mengalir.

Niat membunuh…ini berasal dari nyonya, ah sial ini bukan ranah kita lagi..

Tanpa disadari—

Mereka perlahan mundur.

Satu per satu.

Dan—

Diam-diam kabur ke luar.

Tidak berani tinggal lebih lama.

Namun—

Wang Yihan dan Wang Zhenyu…

Tidak menyadarinya.

Hanya satu orang—

Yang merasa ada yang tidak beres.

Wang Jianhong.

Dan—

Zhao.

Yueling melangkah maju.

Matanya dingin.

Sangat dingin.

“Kau bilang… kau nona ketiga?”

Wang Yihan mendengus.

Sombong.

“Ada masalah?”

Yueling tersenyum.

Namun—

Sinis.

“Aku tidak tahu… sekarang jalang menjijikan dipanggil nona ketiga.”

Sunyi.

Lalu—

“…padahal panggilan jalang murahan sangat cocok untukmu.”

BOOM.

Kata-kata itu menghantam.

Keras.

Langsung.

Tanpa ampun.

“Kau—!!”

Wang Yihan meledak.

Namun—

Yueling tidak memberi kesempatan.

“Yang tidak tahu malu… adalah kalian.”

Tatapannya tajam.

Menusuk.

“Kalian menyebut diri kultivator ortodoks?”

Ia tertawa kecil.

Sinis.

“Kelakuan kalian… bahkan lebih buruk dari anjing kultus iblis.”

Suasana—

Menegang

Zhao membuka mulut.

“Ling’er, sudah—”

Namun—

“Jika kau menyuruhku diam…”

Yueling memotong.

Matanya tetap tajam.

“Maaf… aku tidak bisa.”

Ia melangkah maju.

“Mana ada istri… yang tahan melihat harga diri suaminya diinjak-injak oleh jalang berambut cokelat seperti ini?”

Zhao terdiam.

Tidak bisa berkata apa-apa.

Hanya—

Tersenyum getir.

Sementara itu—

Wang Zhenyu buru-buru menahan Wang Yihan.

“Nona ketiga! Kendalikan diri Anda!”

Namun Wang Yihan sudah murka.

“Lepaskan aku, Zhenyu!”

Ia berontak.

“Aku akan menampar wajah orang rendahan itu!”

“CUKUP!”

BOOM!

Aura Wang Jianhong meledak.

Berat.

Menekan.

Udara seakan runtuh.

Wang Yihan dan Wang Zhenyu langsung tercekik.

Sulit bernapas.

Di saat yang sama—

Zhao dengan sigap membentuk barrier tipis.

Melindungi Yueling dan Shen Ning.

Tanpa suara.

Tanpa usaha berlebih.

Wang Jianhong menatap cucunya.

Dingin.

“Jika kau membuat masalah lagi…”

Suaranya rendah.

“…kau akan kakek asingkan selama sepuluh tahun.”

…!!

Wang Yihan membeku.

Wajahnya pucat.

Sepuluh tahun…

Bukan ancaman kosong.

Ia langsung menunduk.

Murung.

Aura itu perlahan menghilang.

Wang Jianhong menarik napas.

Lalu menunduk pada Zhao.

“Maafkan kami…”

Zhao menghela napas.

“Sudahlah, pak tua.”

Nada suaranya santai.

“Kau terlalu banyak meminta maaf.”

Wang Jianhong tersenyum pahit.

“Itu karena cucuku terlalu banyak membuat masalah.”

Zhao mengangkat bahu.

“Baiklah… kita pinggirkan dulu itu.”

Ia menatapnya.

“Jadi… apa yang membuatmu menginginkan Shen Ning?”

Wang Jianhong mengangguk.

Lalu menjelaskan.

Tenang.

“Anak itu… memiliki akar spiritual bumi.”

Zhao terdiam.

“Bakat yang langka.”

Nada suara pria tua itu dalam.

“Jika dibina dengan benar… masa depannya tidak terbatas.”

Ia menatap Zhao.

“Dia bisa mencapai puncak.”

“Dan karena itu… akan sangat disayangkan jika bakat seperti itu terkubur di sini.”

Sunyi.

Zhao menoleh.

Menatap Shen Ning—

Yang memeluk Yueling erat.

Tidak mau lepas.

Ia tersenyum kecil.

“Bukankah… keputusan ini seharusnya milik anak itu sendiri?”

Ia menatap Wang Jianhong.

“Atau… kau tidak peduli?”

Ketiga orang itu terdiam.

Wang Jianhong menghela napas.

“Tentu kami peduli.”

Namun—

Ia ragu.

“Jika dia menolak… itu hanya akan…”

Zhao tidak membiarkannya selesai.

Ia berjalan ke Shen Ning.

Lalu—

Berlutut.

Sejajar dengannya.

“Ning’er…”

Suaranya lembut.

“Kau sudah dengar semuanya, kan?”

Ia tersenyum.

“Jadi… apa keputusanmu?”

Shen Ning menatapnya.

Lalu menatap Yueling.

Yueling mengelus kepalanya.

“Katakan apa yang kau mau.”

Senyumnya hangat.

“Bibi akan mendukungmu.”

Shen Ning menarik napas.

Lalu menoleh ke arah Wang Jianhong, Wang Yihan, dan Wang Zhenyu.

Tatapan mereka penuh harap.

Ia ragu.

Namun akhirnya—

Berani melangkah maju.

“…apakah… adik-adikku juga bisa ikut?”

Wang Jianhong tertegun.

“…maaf.”

Suaranya pelan.

“Itu akan sulit.”

“Klan besar… bukan tempat penampungan.”

Ia mencoba melembutkan.

“Tapi kami bisa membantu mereka hidup lebih baik.”

Shen Ning menggigit bibir.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Zhao.

“Paman Zhao juga bisa.”

Wang Jianhong membeku.

Shen Ning melanjutkan.

“Bahkan sebelum kalian datang…”

Suaranya bergetar.

“Paman Zhao dan bibi Yueling sudah mengubah hidupku…”

Matanya berkaca-kaca.

“Dulu… aku hanya penjual topi jerami…”

“Lusuh… menyedihkan…”

Ia mengepalkan tangan kecilnya.

“Paman Zhao membantu bukan karena bakat…”

“Tapi karena hatinya…”

Air matanya jatuh.

“Karena itu… aku dan adik-adikku masih hidup sampai sekarang…”

Sunyi.

Tidak ada yang berbicara.

“Jika aku tidak bertemu mereka…”

Suaranya hampir hilang.

“…kami mungkin sudah mati.”

Semua terdiam.

Termasuk Wang Jianhong.

Shen Ning mengangkat kepala.

“Aku tidak peduli bakat…”

“Aku hanya ingin keluarga…”

"Meskipun pada akhirnya aku akan menjadi orang biasa seumur hidup.."

Suaranya tegas.

“Selama adik-adikku tidak lapar…”

“Dan paman serta bibi tetap di sisiku…”

“Itu sudah cukup.”

Yueling tidak bisa menahan lagi.

Air matanya jatuh.

“Oh… Ning’er…”

Ia memeluknya erat.

Zhao berdiri.

Senyumnya hangat.

Ia menatap Wang Jianhong.

“Kau sudah dengar sendiri.”

Ia menyilangkan tangan.

“Masih ingin memaksa?”

Wang Jianhong terdiam.

Lalu—

Tersenyum tipis.

“Kau benar…”

Ia menghela napas.

“Aku sudah terlalu tua.”

Ia berbalik.

“Kalau begitu… kami pamit.”

“KAKEK!”

"TETUA!"

Wang Yihan dan Wang Zhenyu berseru.

“Kenapa kita menyerah!?”

Namun—

“Apa gunanya memaksa takdir seseorang?”

Wang Jianhong memotong.

Ia menatap mereka.

“Anak itu… membuka mataku.”

Ia tersenyum.

“Dan… bandit itu benar.”

“Kalian terlalu meremehkan tekad seseorang.”

Keduanya terdiam.

Tidak bisa membantah.

Wang Jianhong meletakkan sekantong uang di meja.

“Terima kasih… atas makanannya.”

Suaranya tulus.

“Ini… adalah salah satu hal terindah yang pernah kutemukan.”

Mereka bertiga berjalan keluar.

Langkah perlahan.

Namun mantap.

Tangan menyentuh pintu.

Membuka—

Namun—

“Hei, pak tua.”

Suara Zhao menghentikannya.

Wang Jianhong berhenti.

"Sebenarnya aku tidak ingin mengingatkan suatu hal padamu sebelumnya, namun aku berubah pikiran,"

Wang Jianhong lalu berbalik

“Apa maksudmu?”

Zhao menatap keluar jendela.

Langit gelap.

Malam turun.

Angin dingin berhembus.

“Kota Pingxi…”

Suaranya pelan.

“…malamnya sangat dingin dan menusuk.”

Wang Jianhong tertegun.

Lalu—

Tertawa kecil.

“Aku akan mengingatnya.”

Ia mengangguk.

Lalu pergi.

Pintu tertutup.

Dan di dalam restoran—

Keheningan kembali.

Namun kali ini—

Bukan dingin.

Melainkan hangat.

1
SENJA
naaah ini 🤣🤣🤣
SENJA
udah zhao kasih pelajaran aja ini betina cuyy😤
SENJA
lu yang dihajar wahai lemah
SENJA
lu doyanya cari perkara aja wanita lemah
SENJA
ilmu lu cetek aja belaguuu
SENJA
mati lu ga lama lagi, ngeselin 😤
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!