NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Kebenaran yang Terpotong

​Gelap. Kepala Aruna rasanya seperti dipukul palu godam berulang kali. Bau tanah lembap dan aroma bunga mawar yang terlalu kuat menusuk hidungnya, membuatnya ingin muntah. Ketika ia mencoba menggerakkan tangan, rasa kaku itu masih ada. Obat bius dari jarum itu benar-benar melumpuhkan sarafnya, meski kesadarannya mulai merayap naik.

​Aruna membuka mata sedikit demi sedikit. Ia tidak lagi berada di gua. Ia terbaring di atas bale-bale kayu di dalam sebuah pondok bambu yang sederhana namun sangat bersih. Cahaya bulan masuk melalui jendela yang terbuka, menyinari sosok wanita yang sedang membelakangi Aruna, sibuk menumbuk sesuatu di dalam lesung kecil.

​Wanita dengan tanda mawar di leher belakangnya.

​"Kamu sudah bangun?" Suara itu lembut, tenang, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Wanita itu berbalik. Wajahnya sangat cantik, namun garis-garis kesedihan di sekitar matanya tidak bisa disembunyikan. Jika dilihat sekilas, wajah itu memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Arel... terutama bentuk hidung dan lengkungan bibirnya.

​"Di mana... Arel?" tanya Aruna. Suaranya masih pecah, tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang kering.

​"Dia tidur di kamar sebelah. Aku memberinya teh penenang agar dia tidak terus menangis memanggilmu," jawab wanita itu sambil mendekat, membawa mangkuk berisi cairan hijau pekat. "Minum ini. Ini akan menetralkan racun kelumpuhan di tubuhmu."

​Aruna memalingkan wajah. "Kenapa aku harus percaya padamu? Kamu menculiknya."

​Wanita itu tersenyum pahit, sebuah senyuman yang terlihat sangat lelah. "Aku ibunya, Aruna. Namaku Elara. Dan secara teknis, akulah yang seharusnya bertanya, kenapa aku harus percaya pada wanita yang selama ini menyiksa anakku?"

​Aruna terdiam. Kata-kata itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia memang bukan Lady Ratri yang asli, tapi tubuh ini memikul semua dosa itu.

​"Aku tahu apa yang kamu pikirkan," Elara duduk di pinggir bale-bale. "Kamu berubah, kan? Rakyat di pasar, para pelayan, bahkan Pangeran Kaelan membicarakan perubahan drastis Lady Ratri. Tapi bagiku, luka di punggung Arel tidak akan hilang hanya karena kamu tiba-tiba menjadi baik."

​"Lalu kenapa kamu tidak membunuhku saja tadi di gua?" tantang Aruna, matanya menatap tajam ke arah Elara.

​"Karena Arel memegang bajumu seolah kamu adalah satu-satunya pelindungnya. Jika aku membunuhmu di depannya, dia akan membenciku selamanya." Elara menyodorkan mangkuk itu lagi. "Minumlah. Aku butuh kamu tetap hidup untuk menjelaskan tentang kunci perak itu."

​Aruna terpaksa meminum cairan itu. Rasanya sangat pahit, tapi perlahan-lahan sensasi hangat mulai mengalir ke ujung jari-jarinya. Rasa kaku itu mulai luntur.

​"Kunci itu... Pangeran Kaelan bilang itu kunci gudang senjata rahasia," ucap Aruna setelah berhasil duduk dengan bersandar pada dinding bambu.

​Elara tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang pecah. "Pangeran itu memang pintar memutar balikkan fakta. Kunci itu bukan untuk senjata. Itu kunci untuk peti rahasia di bawah kuil yang kau hancurkan tadi. Peti yang berisi bukti bahwa Arel bukan hanya sekadar anak seorang jenderal."

​Aruna mengerutkan kening. "Maksudmu?"

​"Arel adalah pewaris sah takhta yang hilang dari garis keturunan kaisar terdahulu. Arvand menyelamatkanku saat pembantaian keluarga besar kerajaan sepuluh tahun lalu, dan dia mengaku sebagai ayah Arel untuk melindungi nyawa bocah itu. Tapi kau... Ratri yang asli... tahu rahasia ini dan menggunakannya untuk menekan Arvand agar menikahimu."

​Dunia Aruna seakan berputar. Jadi pernikahan Arvand dan Ratri adalah hasil pemerasan? Itu sebabnya Arvand begitu benci pada istrinya, namun tidak bisa menceraikannya karena takut rahasia Arel terbongkar.

​"Lalu kenapa kamu bersembunyi selama ini?" tanya Aruna.

​"Karena aku dianggap sudah mati. Jika aku muncul, musuh-musuh kaisar akan menggunakan aku untuk memancing Arel keluar," mata Elara berkaca-kaca. "Tapi melihat kalian diserang habis-habisan di kuil, aku sadar Arvand tidak bisa melindunginya sendirian lagi."

​Tiba-tiba, pintu pondok terbanting terbuka. Seorang pria dengan pakaian hitam dan napas terengah-engah masuk. Ia membawa pedang yang masih meneteskan darah.

​"Lady Elara, kita harus pergi! Pasukan gagak hitam menemukan jejak kita! Barka... dia memimpin mereka!"

​Aruna langsung berdiri, meski kepalanya masih pening. "Arvand di mana? Apa dia tertangkap?"

​Pria itu menatap Aruna dengan penuh permusuhan. "Jenderal sedang menahan pasukan di perbatasan hutan. Dia terluka parah, tapi dia memerintahkan kami untuk membawa kalian ke utara."

​"Tidak! Aku harus kembali padanya!" Aruna mencoba melangkah, tapi kakinya masih lemas.

​"Jangan bodoh!" Elara mencengkeram lengan Aruna. "Jika kamu kembali, kamu hanya akan memberikannya beban tambahan. Barka menginginkan kunci itu dan nyawa Arel. Jika mereka mendapatkan salah satunya, perjuangan Arvand sia-sia!"

​Di luar pondok, suara ringkikan kuda dan denting logam mulai terdengar mendekat. Cahaya obor mulai menari-nari di balik dinding bambu.

​"Mereka sudah di sini!" teriak pria berbaju hitam tadi.

​Elara segera berlari ke kamar sebelah dan menggendong Arel yang masih tertidur lelap. "Aruna, ikut aku lewat jalur bawah tanah pondok ini. Ini satu-satunya jalan!"

​Mereka masuk ke dalam lubang rahasia di bawah lantai dapur tepat saat pintu depan hancur berantakan. Dari celah lantai, Aruna bisa melihat sepatu bot Barka yang penuh noda lumpur masuk ke dalam ruangan.

​"Cari mereka! Jangan biarkan wanita-wanita itu lolos!" raung Barka.

​Aruna, Elara, dan pria pengawal itu merangkak di dalam terowongan yang sempit dan pengap. Bau tanah basah dan keringat bercampur menjadi satu. Aruna bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah akan melompat keluar dari dadanya.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad lamanya, mereka keluar di sebuah tebing tersembunyi yang menghadap ke arah lembah. Di bawah sana, Aruna bisa melihat tenda-tenda pasukan gagak hitam yang sangat banyak. Namun, yang membuat napas Aruna terhenti adalah sebuah tiang kayu tinggi di tengah perkemahan itu.

​Di sana, dalam posisi terikat dan tubuh penuh luka sayatan, Jenderal Arvand tergantung dengan kepala tertunduk.

​"Ayah..." Arel yang sudah terbangun berbisik lirih, suaranya gemetar hebat.

​"Diam, Arel. Jangan bersuara," Elara menutup mulut anaknya dengan tangan yang gemetar sama hebatnya.

​Aruna mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Amarah Lady Ratri yang terpendam dan rasa bersalah Aruna sebagai manusia bergabung menjadi satu kekuatan yang meledak-ledak.

​"Kalian bawa Arel pergi," kata Aruna tiba-tiba. Suaranya dingin, datar, dan penuh dengan aura yang menekan... aura yang bahkan membuat Elara merinding.

​"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Elara.

​Aruna meraba kunci perak di pinggangnya. "Barka menginginkan ini, kan? Aku akan memberikannya. Tapi bukan sebagai alat tukar, melainkan sebagai umpan untuk menghancurkan mereka semua dari dalam."

​"Itu bunuh diri!" seru pengawal Elara.

​Aruna menoleh, memberikan senyuman tipis yang sangat mengerikan. "Mungkin. Tapi aku adalah 'Ibu Jahat' yang mereka benci, kan? Saatnya aku menunjukkan pada mereka seberapa jahat aku bisa bertindak jika seseorang menyentuh milikku."

​Tanpa menunggu jawaban, Aruna melompat turun dari tebing, meluncur di antara semak-semak menuju perkemahan musuh. Ia tidak membawa pedang, hanya sebuah belati kecil dan kunci perak yang berkilau di bawah cahaya bulan.

​Aruna berjalan keluar dari kegelapan hutan, langsung menuju pusat perkemahan. Para prajurit gagak hitam segera mengepungnya dengan tombak terhunus.

​"Berhenti!" teriak salah satu komandan.

​Aruna mengangkat tangannya tinggi-alih, menunjukkan kunci perak itu. "Panggil Barka. Katakan padanya, jika dia ingin kunci ini dan rahasia takhta kaisar, dia harus bicara padaku sekarang."

​Barka keluar dari tenda utama, wajahnya yang penuh luka dari pertarungan dengan Arvand tampak sangat buruk di bawah cahaya api. Ia tertawa melihat Aruna yang berdiri sendirian.

​"Kau menyerahkan diri, Lady Ratri? Di mana anak itu?"

​"Anak itu sudah jauh dari jangkauanmu," jawab Aruna tenang. "Tapi kunci ini... hanya aku yang tahu cara menggunakannya. Jika kau membunuhku sekarang, rahasia ini akan mati bersamaku."

​Barka mendekat, mencengkeram rahang Aruna dengan kasar. "Kau pikir kau punya posisi untuk tawar-menawar?"

​Aruna menatap mata Barka tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku punya posisi yang lebih baik dari yang kau kira. Karena aku tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Dan itu bukan Selina, bukan juga kaisar. Tapi seseorang yang berdiri tepat di belakangmu saat ini."

​Barka mengernyitkan dahi, refleks ia menoleh ke arah tendanya. Di saat yang sama, Aruna merasakan tanah di bawah kakinya bergetar. Bukan karena gempa, tapi karena ribuan langkah kuda yang mendekat dari arah belakang perkemahan.

​Namun, bukan itu yang mengejutkan Aruna. Di atas bukit seberang, ia melihat sesosok pria dengan jubah putih, memegang busur yang sama dengan pemanah di kuil tadi. Pria itu membidikkan panahnya bukan ke arah Aruna atau Barka, melainkan ke arah Jenderal Arvand yang masih tergantung.

​"Jangan!" teriak Aruna.

​Anak panah itu melesat cepat, namun di tengah jalan, panah itu meledak menjadi ribuan serpihan logam tajam yang menghujani perkemahan tersebut. Di tengah kekacauan itu, Aruna merasakan seseorang menarik tubuhnya dengan sangat kuat ke dalam bayangan tenda.

​Itu Pangeran Kaelan. Tapi wajahnya tertutup topeng setengah bagian, dan matanya berkilat penuh kegilaan.

​"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Aruna. Saatnya kau tahu siapa aku sebenarnya."

​Apakah Pangeran Kaelan adalah kawan atau justru dalang yang jauh lebih berbahaya dari Barka? Dan mampukah Aruna menyelamatkan Arvand di tengah hujan logam maut yang menghancurkan perkemahan itu?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!