Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
015
“Mary, kau ini benar-benar ya?!”
Jijah mencubit lengan Mary dengan gemas.
“Kampung ini benar-benar geger karena ulahmu! Apa kau tahu, Jono sampai mengamuk seperti orang gila di rumahmu!”
Mary hanya mendengarkan cerocosan Jijah sambil mengunyah mentimun utuh seakan mentimun itu adalah buah apel.
Mary sungguh baru tahu, mentimun yang baru dipetik rasanya sungguh manis dan segar meski dimakan secara utuh tanpa perlu mengupas kulitnya.
“Jono tidak terima karena kau benar-benar akan menikah dengan Tuti! Aku dengar Jono bahkan akan segera menjemputmu dari sini,” kata Jijah.
“Untuk apa Jono menjemputku? Toh, aku dan Roseo sudah menikah,” sahut Mary.
“Apa?!” Seru Jijah histeris. “Kau dan Tuti sudah menikah?! Kapan?!”
“Ya, kami baru saja menikah di kampung sebelah karena boikot yang dilakukan oleh warga kampung,” sahut Mary.
“Astaga Mary, yang benar saja! Bagaimana bisa kau senekat itu! Kenapa kau harus menikah dengan Tuti?! Apa kau sungguh dipelet oleh pria itu?!”
“Jijah! aku harus menikah dengan Roseo agar tidak menikah dengan Jono,” sahut Mary dengan enteng.
“Mary, apa kau memang sudah merencanakan hal ini?” Tanya Jijah.
“Memang!” Sahut Mary dengan senang. “Karena bagiku, hanya Roseo yang bisa dan bersedia menikahiku saat aku memintanya”.
“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran wanita kampung yang sudah lama tinggal di kota. Bagaimana kau bisa dengan mudah menikah dengan seseorang tanpa ada pesta perayaan,” komentar Jijah.
“Kau itu, menikah itu kalau bisa sekali saja seumur hidup,” lanjut Jijah.
“Haha, Jijah, apa kabar Roseo yang sudah menikah lebih dari sekali? Kalau dia bisa menikah sampai empat kali, itu artinya aku punya kesempatan yang sama!” Mary tertawa.
“Sekarang sudah zamannya kesetaraan gender! Posisi wanita sudah bisa setara dengan posisi pria!” Lanjut Mary.
“Mary, jujur saja, apa yang sudah dilakukan Tuti padamu? Apa pelayanan yang dilakukannya memang sungguh memuaskan?” Tanya Jijah.
“Pelayanan apa?” Mary balik bertanya.
“Ya elah, pakai acara pura-pura segala. Kita ini sudah dewasa, Tuti bahkan sudah tiga kali menikah, tidak mungkin tidak terjadi apapun saat kau bermalam di rumah Tuti!” Jijah kembali mencubit lengan Mary dengan gemas.
“Haha! Jijah! Percayalah, tak akan terjadi apapun antara aku dan Roseo!” Kata Mary.
“Huh! Tidak terjadi apapun?! Apa kau pikir aku ini bocah cilik yang bisa kau bodohi?”
“Awas saja kalau sampai aku datang lagi kemari dan melihat perutmu ini membuncit karena ulah pria itu!” Tukas Jijah.
“Haha! Tidak! Itu tak akan pernah terjadi, Jijah!” Mary tertawa lagi.
“Haha, awas jangan takabur, nanti kau benar-benar jatuh cinta pada Tuti!” Jijah tertawa.
“Haha, kalau aku jatuh cinta pada pria itu, artinya aku pasti sudah gila,” seloroh Mary.
“Mary, cinta ada karena terbiasa bersama,” Jijah menimpali.
“Oh ya, Jijah, ngomong-ngomong, tolong sering-sering berkunjung kemari dan kabari aku keadaan orang tuaku ya,” kata Mary.
Seketika Mary merasa sangat bersalah karena sudah mencoreng nama baik orang tuanya karena ulahnya. Pak Sumarto bahkan tidak mau menemui Mary saat Mary berpamitan bersama Roseo.
Jijah mengusap-usap bahu Mary.
“Makanya, tunjukan pada orang tuamu, kalau kau bahagia bersama Tuti. Cepat-cepat hamil dan lahirkan cucu yang lucu-lucu, orang tuamu pasti akan sangat senang,” kata Jijah.
Mary langsung menoyor kepala Jijah dan mereka pun saling berangkulan.
***
“Hei, Tuti! Kemari kau!”
Jijah dengan berkacak pinggang memanggil Roseo yang sibuk mencatat hasil menimbang karung-karung mentimun.
“Kita harus bicara!” Kata Jijah.
Ada apa lagi? Batin Roseo.
“Kemari atau kuhambur, isi karung-karungmu!” Ancam Jijah.
Roseo sebenarnya malas berhadapan dengan salah satu ras terkuat di muka bumi.
Roseo akhirnya menghampiri Jijah.
“Ada apa?” Tanya Roseo.
Tiba-tiba Jijah memukul lengan Roseo dengan kuat.
“Kenapa kau tiba-tiba memukulku?” Tanya Roseo keheranan.
“Ros, kau mungkin tidak bisa melupakan para mantan istrimu. Tapi, jangan pernah membandingkan Mary dengan para mantan istrimu!”
“Perlakukan Mary dengan baik, jangan sampai dia bernasib sama dengan para mantan istrimu!”
“Rasanya aku kurang sreg karena Mary menjadikanmu sebagai suaminya, padahal masih banyak pria lain yang lebih tampan dan lebih pantas untuk Mary,” cerocos Jijah.
“Ya, kau benar, Mawary bisa saja mendapatkan pria tampan dan lebih pantas untuknya. Hanya saja, masalahnya, Mawary sendiri yang memaksaku agar aku menikahinya.
“Dan, aku tidak bisa menjamin, apakah Mawary akan bernasib sama seperti para mantan istriku, karena itu takdir mereka, dan bukan aku yang menentukan takdir mereka,” ucap Roseo.
“Ya, tapi setidaknya kau bisa menjaga Mary dengan baik setidaknya selama kalian hidup bersama,” kata Jijah.
Roseo menghela nafas berat.
Jijah sebenarnya mencemaskan nasib Mary yang akhirnya menikahi Roseo. Dua istri dari tiga pernikahan pria itu meninggal.
Gara-gara hal tersebut, banyak warga yang berkomentar bahwa Roseo mungkin membawa takdir buruk bagi para istrinya.
***
“Roseo”.
Mary menyambut senang saat melihat Roseo yang sudah kembali dari ladang.
Roseo langsung mekemparkan tatapan skeptisnya.
Rasanya aneh sekali ada seseorang yang menyambutnya datang di rumahnya yang selalu dan senantiasa sepi. Terlebih sudah sepuluh tahun sejak kematian neneknya.
“Ada apa?” Tanya Roseo.
“Bukankah tadi kita sudah sepakat untuk melanjutkan diskusi kita tadi siang?” Tanya Mary.
“Ah ya, sampai dimana tadi?” Tanya Roseo.
“Tapi sebelum itu, bisakah kita pergi makan di luar saja, aku benar-benar sangat lapar karena seharian hanya makan mentimun saja,” kata Mary.
“Makan di luar? Kau mau makan dimana? Apa kau pikir di kampung ini ada rumah makan yang buka dua puluh empat jam seperti di kota?” Roseo balik bertanya.
“Lantas, apa yang bisa kumakan? Apa aku harus makan mentimun lagi? Apa kau sungguh berpikir kalau aku ini adalah kelinci?”
Mary melontarkan pertanyaan yang membuat Roseo makin tak bisa menyembunyikan ekspresi keheranannya.
“Di dapur sudah ada bahan-bahan makanan yang bisa kau masak,” kata Roseo.
“Apakah tempat kotor dan primitif itu layak untuk disebut dapur?!” Tanya Mary.
“Ya, tapi kau masih tetap bisa memasak di tempat itu,” sahut Roseo.
“Roseo, aku ini wanita modern yang hidup di era globalisasi! Mana bisa menggunakan dapur peninggalan zaman purba begitu!” Protes Mary.
“Yah, kalau begitu terserah kau saja. Kau tidak memasak, berarti kau tidak akan makan,” kata Roseo.
“Roseo, kau itu sebagai tuan rumah harusnya kau bertanggung jawab dalam menjamin kenyamananku sebagai tamu di rumah ini!” Kata Mary.
“Hmm begitu ya,” kata Roseo.
“Ya, tentu saja begitu!” Kata Mary.
“Hanya saja, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak perlu bertanggung jawab apapun terhadapmu. Jadi, kenyamananmu jelas bukanlah tanggung jawabku,” ucap Roseo.
Mary terdiam mendengar ucapan pria itu. Seketika Mary tersadar bahwa ia tidak boleh menuntut apapun pada pria itu.
“Oh, ya, kau benar,” Mary tersenyum cerah.
Roseo mengangguk menanggapi senyum cerah Mary.
“Oh ya, ngomong-ngomong masalah anak,” kata Mary.
Mary masih tersenyum cerah sementara ekspresi Roseo menjadi lebih tegang.
“Kita tentu harus membahasnya secara lengkap dengan pikiran terbuka”, kata Mary.
“Hmm, ya kau benar,” sahut Roseo.
“Untuk mendapatkan anak, kita harus melakukan program bayi tabung dengan bantuan ibu pengganti,” kata Mary.
“Hah?! Apa?! Bayi tabung?!” Roseo tercengang dengan perkataan Mary.