satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Sasmita dan Baron mencari Pengobatan
Motor matic yang dikendarai Ketua Candra memasuki jalan setapak yang semakin sempit dan menanjak. Harya duduk di belakang dengan tenang, matanya terus mengamati sekeliling. Semakin masuk ke dalam hutan, suasana semakin hening dan lebat. Pohon-pohon besar tampak menjulang tinggi, menutupi sinar matahari sehingga suasana di bawahnya terasa teduh namun sedikit mencekam.
"Kita hampir sampai, Pak Harya," ucap Candra dari depan.
Setelah melewati tikungan tajam, terdengar suara gemuruh air yang semakin keras. Di hadapan mereka terbentang sebuah air terjun yang cukup tinggi dan lebar, airnya jatuh deras menampar bebatuan di bawahnya. Candra tidak berhenti, justru mengarahkan motornya lurus menuju tirai air itu.
" Hei, Candra apa yang akan kau lakukan!" Teriak Harya kaget ia datang kemari bukan untuk bunuh diri, di balik air terjun pasti batu cadas kalau menerobos dengan kecepatan tinggi sudah pasti mati
" Tenang Pak, pegang erat erat!" teriak Candra. malah menarik gas motornya semakin kencang
Wush
" Aaaaaaa"
" Brush"
Harya berteriak ngeri saat motor itu menembus air terjun,namun sesuatu yang ajaib terjadi. Seolah-olah ada sebuah dinding tak kasat mata yang memisahkan air dan udara. Mereka melewati tirai air itu tanpa basah sedikitpun! Di balik air terjun yang deras itu, ternyata terdapat sebuah gua besar yang kering dan diterangi oleh lampu-lampu sorot yang dipasang di dinding batu.
"Ini..." Harya tertegun. Ia tahu ini adalah teknik Perisai Gaib atau Ilmu Pamuja tingkat tinggi yang digunakan untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan mata biasa dan alat deteksi alat modern. Hanya bisa di lihat dengan mata Batin, sama dengan keadaan kediaman Keluarga Sutasumo di gunung lawu, hanya saja jika keluarga Sutasoma membangun di lembah gunung lawu, sedangkan Perguruan Naga Hitam di balik Air Terjun Nyampur
"Selamat datang di Perguruan Naga Hitam, Pak," ucap Ketua Candra bangga. ia lalu memarkirkan motor dan berjalan masuk ke dalam kompleks yang ternyata sangat luas di balik bebatuan karst itu.
Harya mengikuti langkah Ketua Candra, namun ia sedikit kaget saat melihat berbagai senjata api berbagai jenis tersusun di dinding, saat memasuki satu ruangan besar ia melihat paket-paket kecil berisi Narkoba . dan di salah satu meja panjang, beberapa orang tampak sedang menghitung uang dengan jumlah yang sangat besar.
"Jadi... ini bisnis sebenarnya kalian?" tanya Harya
" Iya Pak . Nama Perguruan Naga Hitam hanyalah kedok untuk menarik orang-orang yang memiliki ilmu tinggi. Sumber kekuatan kita yang sebenarnya ada di sini, uang, kekuasaan, dan rasa takut yang kita ciptakan. Kami juga menerima jasa... pembunuh bayaran, pengamanan, hingga balas dendam. Siapa saja bisa menyewa kami, asalkan bayarannya sesuai."
Harya mengangguk,
"Baguslah kalau begitu, tapi ingat jangan sampai merembet ke keluarga sutasoma jika ada apa apa, kau tahu sendiri jika sesepuh marah perguruan ini bisa rata dengan tanah" ucap Harya mengingatkan "Aku harap kalian tetap profesional dalam pekerjaan."
"Tentu saja, Pak. aku tak akan menyusahkan keluarga Sutasoma," jawab ketua Candra.
Belum sempat mereka berbincang lebih jauh, pintu utama gua terbuka lebar. Beberapa orang pengawal masuk mendampingi seorang pria paruh baya yang berpakaian mewah, dengan mendorong seorang pemuda yang duduk di kursi roda
" Ketua Candra , Pak Sasmita dan anaknya ingin bertemu" pengawal itu berkata saat sudah sampai di hadapan Ketua Candra
" kita ke ruangan saya saja" jawab Ketua Candra sambil melangkah ke arah ruang kerjanya
Ruang Kerja Ketua Candra cukup luas, di dinding nya terhias dengan berbagai lukisan dan di sudut ruangan yang tak jauh dari meja kerjanya sebuah Pedang Panjang di pajang
" Duduklah" Ketua Candra mempersilahkan tamunya duduk. Harya sendiri duduk santai sambil mengamati pedang Panjang
" Sreeek"
ia mencabut pedang itu, bukan kemilau tajam yang terdapat di bilah hijau itu tetapi bilah hitam, bilah hitam pedang itu terasa sangat mengerikan, seakan mengandung sesuatu yang berbahaya
" Pak Harya, hati hati itu beracun" Ketua Candra segera mengingatkan sat Harya menghunus pedang itu
Harya dengan cepat menarungkan kembali pedang itu, kini ia mengerti mengapa pedang itu terasa mengancam, ternyata beracun
" Pak Sasmita angin apa yang membawamu kemari?" tanya Ketua Candra setelah melihat Harya menyarungkan kembali pedang itu
" Ketua , kau lihat anakku, apa bisa di obati, aku mendengar perguruanmu mempunyai seorang ahli pengobatan" Pak Sasmita dengan cepat mengutarakan maksudnya mengobati anaknya, Baron
" Kamu panggil Wina, suruh kemari secepatnya" Ketua Candra menyuruh beberapa murid yang ada di sana memanggil seseorang
murid itu mengangguk dan pergi, namun tak lama ia kembali dengan seorang wanita muda, wajahnya cantik namun terlihat murung
" Wina coba kau periksa apa kau mampu mengobatinya" Melihat Wina datang, dengan cepat Ketua Candra memrintahkan memeriksa kondisi Bagas
Wanita itu tak menjawab ia mendekat ke arah Baron, dan memeriksa dengan seksama
Tak Lama ia menggeleng
" Aku tak mampu mengobatinya, lumpuhnya dia karena tenaga dalam yang memutus otot, aku tak punya kemampuan itu" jawab wanita itu pelan, lalu undur diri karena tak ada yang bisa ia kerjakan di sana
Harya yang mendengar lumpuh karena ototnya di putus tenaga dalam berdiri
" Biar aku lihat kondisi anakmu?" tawar Harya.
Sasmita dan Baron menoleh ke arah Harya
"Kau tabib juga?" tanya Sasmita.
" Bukan tetapi jika itu karena tenaga dalam mungkin aku punya solusi" sahut Harya
" Pak Sasmita, Pak Harya ini keluarga jauhku, jika urusan tenaga dalam dia jagonya aku saja tak mampu melawannya" Ketua Candra dengan cepat memberitahukan siapa Harya
" Kalau begitu tolong periksa anakku" ucap Pak Sasmita cepat memohon pada Harya
Harya mendekati Baron dan meraba pergelangan tangan serta bahu Baron. Ia mengirimkan sedikit energi untuk memeriksa kerusakan yang ada.
Harya mengernyitkan dahi. "Lukanya parah. Urat-urat besar di kaki putus karena serangan tenaga dalam yang di padatkan menjadi alat pemotong yang sangat tajam. Sangat sulit disembuhkan."
Harya kemudian memijat dan mengalirkan energi hangat ke tangan Baron. Perlahan-lahan, tangan yang tadinya kaku dan sulit digerakkan menjadi lebih lentur.
"Ah! tanganku bisa digerakkan !" seru Baron kaget dan senang.
ia menggerakan tangannya kekanan dan kekiri
"Aku hanya bisa memulihkan sebagian fungsi tanganmu dan meredakan nyeri," kata Harya jujur. "Tapi untuk kaki yang lumpuh total... aku tidak bisa kekuatanku belum cukup untuk itu" lanjut Harya berkata
"Terus bagaimana?! Anakku selamanya akan begini?!" teriak Sasmita panik.
"Kalau Tuan berkenan membayar lebih," sela Candra dengan mata berkilat, "Kami bisa mengantar Tuan dan anak Tuan ke tempat yang lebih ahli."
"Ke mana?!" tanya Sasmita dan Baron bersamaan.
"Di Jawa Timur, tepatnya di kaki Gunung Lawu. Di sana ada kediaman Keluarga Sutasoma, pak Harsa adalah kepala keluarganya. Para Sesepuh di sana mungkin punya cara untuk mengobati kelumpuhan ini, meski risikonya tetap ada," jelas Candra.
Baron menatap ayahnya. "Pak, ayo kita ke sana! Aku tidak mau hidup sebagai orang cacat selamanya! Aku mau sembuh dan aku mau balas dendam pada orang yang melakukan ini padaku!" ucapnya
Sasmita mengangguk mantap. "Baik! Bagaimana dengan biayanya?" tanya Pak Sasmita
" kalau soal itu nanti bicarakan dengan sesepuh di sana, " jawab Harya, ia tak bisa mengambil keputusan soal biaya karena tak tahu apa saja bahan yang akan di gunakan nanti, bisa jadi tanaman obat langka yang harganya selangit
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁