Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah!
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu, sekaligus ditakuti oleh Shanum akhirnya tiba. Sesuai dengan permintaan Ibu Laila yang tidak ingin kehilangan momen kemewahan, acara ijab kabul dilangsungkan di rumah joglo megah milik Mbah Wira, bukan di rumah petaknya yang dindingnya sudah berjamur.
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya bagi Shanum, ia mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah neneknya yang telah ia cuci dan setrika berkali-kali hingga nampak kaku namun bersih. Tidak ada perias profesional, Shanum hanya memulas wajahnya dengan bedak tipis dan lipstik berwarna pucat. Namun, aura kesederhanaan dan ketulusannya justru terpancar kuat di tengah kemegahan rumah Mbah Wira.
Ruang tamu utama rumah Mbah Wira telah disulap menjadi tempat akad nikah yang khidmat. Wangi melati segar memenuhi ruangan, berpadu dengan aroma kayu jati yang harum. Tidak ada tenda besar, tidak ada musik rebana yang riuh. Hanya ada keluarga inti dari kedua belah pihak, ada penghulu dan beberapa ustadz sebagai sebagai saksi.
"Sudah siap, Abi?" tanya Mbah Wira, menatap cucunya yang nampak gagah mengenakan jas berwarna abu-abu gelap.
Abi mengangguk pelan, wajahnya tetap datar. Namun, sorot matanya yang tajam seolah sedang memikirkan tanggung jawab besar yang akan segera ia pikul.
Di sisi lain, Shanum duduk bersimpuh di atas karpet beludru, tepat di belakang Abi. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa seluruh ruangan bisa mendengarnya, ia melirik ke samping, melihat Ibu Laila yang duduk dengan wajah tegang namun penuh ambisi.
"Saudara Abimana Satya Putra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Shanum Navia binti Hartono dengan maskawin berupa uang tunai sepuluh juta rupiah dan seperangkat alat shalat dibayar tunai," ucap Bapak Tono.
Tanpa jeda, tanpa keraguan, Abi menjabat tangan Bapak Tono dengan erat. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Shanum Navia binti Hartono dengan maskawin tersebut dibayar tunai,"
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" seru para saksi serempak.
Mendengar kata sah, pertahanan Shanum runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, ia kini resmi menjadi istri dari pria yang baru dikenalnya beberapa hari lalu. Shanum kini bukan lagi aib desa, namun ia juga tahu bahwa perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Setelah pembacaan doa, Shanum diminta maju untuk mencium tangan suaminya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyentuh tangan pria itu. Untuk pertama kalinya, Shanum merasakan sentuhan fisik yang nyata dari seorang pria yang bukan Ayahnya.
Abi tidak menarik tangannya, ia membiarkan Shanum mencium punggung tangannya cukup lama dan saat Shanum mendongak, Abi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin. Namun, ada secercah perlindungan di sana.
"Saya suami kamu," bisik Abi sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh Shanum di tengah keriuhan ucapan selamat dari keluarga.
Suasana rumah joglo itu berubah menjadi hangat dengan riuh rendah ucapan selamat. Mbah Dyah tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia berkali-kali memeluk Shanum dan membisikkan doa agar cucu menantunya itu sabar menghadapi sifat kaku Abi.
Di sudut ruangan yang agak luas, Abi berdiri bersama Om Damar. Keduanya tampak terlibat dalam obrolan serius mengenai rencana kepulangan Abi ke Bandung.
"Jadi, kamu benar-benar akan memboyongnya ke Bandung, Bi? Apa tidak terlalu mendadak untuk dia menyiapkan segalanya?" tanya Om Damar sambil menyesap kopi hitamnya.
Abi menyesuaikan letak jasnya yang sedikit miring, "Lebih cepat lebih baik, Om. Jadwal Abi udah padat, lagi pula tidak ada alasan bagi Shanum untuk menolak, karena dia udah jadi istri Abi dan dia harus ikut Abi kan," jawab Abi dengan suara beratnya yang khas.
Di sisi lain, Shanum berdiri mematung di dekat pilar kayu jati yang besar, ia merasa seperti tamu asing di pestanya sendiri. Di tengah kebingungannya, Ibu Laila tiba-tiba menghampiri. Wajah sang ibu nampak sangat cerah, namun binar matanya bukan karena kebahagiaan untuk putrinya, melainkan karena rasa puas telah melepas beban.
"Shanum," panggil Ibu Laila sambil menepuk lengan Shanum yang tertutup kebaya.
"Iya, Bu?" tanya Shanum menoleh dan menatap wajah Ibunya yang nampak berbeda hari ini karena polesan make up .
"Ibu dan Bapak mau pamit pulang dulu, tamu-tamu di rumah pasti sudah mulai datang, Ibu harus jaga gengsi di depan tetangga. Kamu sekarang sudah jadi istri orang kaya, Shanum. Ingat pesan Ibu, jangan malu-maluin Ibu! Layani suamimu dengan baik, jangan membantah," bisik Ibu Laila dengan nada yang terdengar seperti perintah daripada nasihat ibu pada umumnya.
Shanum menelan ludah, hatinya terasa perih. Di hari pernikahannya, sang ibu bahkan tidak menanyakan bagaimana perasaannya.
"Iya, Bu. Shanum ingat," jawab Shanum.
"Oh iya, uang mahar yang sepuluh juta tadi... sebaiknya Ibu yang simpan ya? Untuk biaya sekolah Pandu dan Diva, juga untuk syukuran kecil-kecilan di rumah. Kamu kan sekarang sudah punya suami kaya, pasti jatah bulananmu nanti lebih besar dari itu," ucap Ibu Laila tanpa rasa bersalah, matanya melirik tas kecil yang dipegang Shanum.
Shanum tertegun, uang mahar itu adalah satu-satunya hak miliknya sebagai istri, namun belum juga satu jam pernikahan itu berlangsung, Ibunya sudah memintanya.
"Tapi, Bu. Shanum juga butuh uang itu," ucap Shanum.
"Halah, kan ada suami kamu. Kamu minta sama suami kamu, ingat jangan malu-maluin Ibu, Ibu nggak mau ya nanti tiba-tiba Abi ceraikan kamu," bisik Ibu Laila.
Shanum menunduk dalam, genggamannya pada tas kain kecil berisi uang mahar itu mengerat, ia ingin mempertahankan haknya, namun tatapan mengancam dari Ibu Laila membuatnya ciut. Di rumah ini, di depan keluarga besar suaminya, Shanum tidak ingin menciptakan keributan yang akan semakin mempermalukan dirinya.
"Iya, Bu. Ini," ucap Shanum lirih sambil menyerahkan amplop tebal berisi uang sepuluh juta itu kepada ibunya.
Ibu Laila dengan gerakan secepat kilat menyambar amplop tersebut dan memasukkannya ke dalam tas jinjingnya.
"Pintar kamu! Sudah, Ibu pulang dulu. Pak! Ayo pulang!" seru Ibu Laila pada Bapak Tono yang sedang asyik berbincang dengan kerabat Mbah Wira.
Shanum hanya bisa menatap punggung kedua orang tuanya yang melangkah pergi meninggalkannya di rumah megah itu sendirian. Ia merasa seperti baru saja dijual, bukan dinikahkan.
Abi melangkah mendekati Shanum yang masih berdiri mematung di dekat pilar, langkah kakinya yang mantap membuat Shanum tersentak saat bayangan pria itu menutupi tubuhnya.
"Kenapa berdiri di sini sendirian?" tanya Abi datar, suaranya yang dingin membuat Shanum gemetar.
"Eh... tidak apa-apa, Mas. Ibu sama Bapak baru aja pulang," jawab Shanum tanpa berani menatap mata Abi.
"Orang tuamu pulang secepat ini? Di hari pernikahan anaknya?" tanya Abi.
"I-iya, Mas. Katanya mau menyambut tetangga yang datang ke rumah," ucap Shanum.
Abi pun percaya dengan jawaban Shanum, karena memang sudah sore dan pasti di rumah Shanum juga banyak tamu.
Abi dan shanum tidak ikut pulang ke rumah Shanum, karena Ibu Laila mengatakan jika tidak ada kamar lain, akhirnya mereka berdua tetap di rumah Mbah Wira sampai hari kepulangan Abi nanti.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊