Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Antagonis
Di bawah pendar lampu kristal yang berpijar redup, Claire mondar - mandir dengan gelisah, derap kakinya yang terburu beradu dengan lantai marmer yang dingin, selaras dengan denyut di pelipisnya yang seolah ingin meledak. Ruangan megah yang seharusnya terasa nyaman itu justru mencekik, berubah menjadi penjara asing bagi jiwanya yang tersesat dalam jalinan takdir sebuah drama tragis yang semalam ia tonton.
Bukan rasa takut yang menguasai batinnya, melainkan perasaan ganjil yang merayap di kulitnya--- ia kini berperan sebagai seorang wanita bengis yang sejarahnya tertulis dengan tinta kebencian—seorang antagonis yang tega melayangkan tangan pada dua nyawa mungil tak berdosa yang baru berusia empat tahun.
Bayang-bayang notifikasi misterius dan dorongan aneh ke toko antik itu kini menghantuinya seperti kutukan yang nyata, membuatnya mengutuk rasa penasaran yang membawanya terperosok ke dalam lubang fiksi yang mematikan ini.
Kini, di tengah aroma mawar dan kemewahan yang palsu, Claire terhimpit antara keinginan untuk menebus dosa yang bukan miliknya atau mencari jalan pulang di tengah labirin nasib yang telah meramalkan akhir hidupnya di ujung tiang gantungan.
"Sial! Seharusnya aku sudah menduga saat dapat notifikasi itu dan dorongan aneh ke toko aneh itu..." Claire mencengkeram pinggiran meja riasnya yang penuh dengan botol parfum mahal beraroma mawar yang menyesakkan. "Tapi kenapa aku tetap menonton drama sampah itu sampai habis?! Dan sekarang, aku bangun sebagai peran Antagonis yang mati tragis!"
Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang cantik namun memiliki tatapan dingin yang tajam. Itu memang wajahnya---- namun ia bukan lagi Claire sang Nona muda pewaris kaya yang hidup nya hanya bersantai dan menghitung uang yang mengalir. Sekarang dia adalah Claire Sophia dengan nama yang sama namun peran yang berbeda sebagai wanita kejam tanpa hati yang bahkan tidak ragu melukai kedua anak nya.
"Bagaimana cara aku keluar?" bisiknya parau. "Aku tidak bisa hanya diam dan menunggu plot kematianku datang menjemput."
Claire tidak bisa berdiam diri terus membiarkan rasa asing menguasainya. Dia memutuskan untuk keluar kamar. Di koridor, seorang pelayan menunduk gemetar ketakutan, hampir terjatuh saat melihatnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Claire dengan nada dingin yang keluar begitu saja—aura Antagonis aslinya.
"I--itu Nyonya.. Nona Michel demam tinggi! Dia menggigil sejak tadi..." jawab pelayan itu ketakutan, tidak berani menatap mata Claire.
"Sakit? Kalo begitu panggil dokter! Bodoh, kenapa hanya diam dan gemetar?" jawab Claire tajam, meski hatinya panik.
Pelayan itu tidak menjawab, hanya gemetar lebih parah, membuat tubuh Claire meradang. " Apakah monster Antagonis ini benar-benar menakutkan sampai pelayan pun takut bernapas?"
Claire segera pergi ke kamar Michel. Dia masuk tanpa mengetuk, melihat sosok kecil terbaring lemah. Namun, baru saja dia ingin memegang dahi Michel yang panas, sebuah suara dingin tapi tegas terdengar dari sudut ruangan.
"Jangan sentuh adik ku dengan tangan mu!"
Claire mematung. Dia menoleh ke arah sumber suara. Mikael, saudara kembar Michel, berdiri dengan tatapan menajam, melampaui usianya yang baru 4 tahun. Tatapan penuh kebencian dan kewaspadaan.
Suara Mikael bergetar karena emosi. "Adikku sakit karena kau memukul nya. Jangan coba-coba menyakitinya lagi. Pergi dari sini!"
Hening sejenak. Claire melihat ketakutan yang dibalut keberanian di mata Mikael. Dalam hati ia mengumpat pemilik tubuh asli ini. " 'Bajingan, Antagonis asli benar-benar meninggalkan sampah yang harus kubersihkan."
Claire memutar bola mata malas, mengabaikan peringatan itu. "Bicaranya nanti saja, Bocah. Adikmu bisa mati kalau terus begini.
Tanpa aba-aba, Claire merangsek maju dan menyambar tubuh mungil Michel ke dalam gendongannya. Gerakannya gesit dan protektif, membuat Mikael terkesiap.
Mikael panik, mencoba menarik gaun Claire. "Lepaskan! Mau kau bawa ke mana dia?! Kau mau menyakiti adek ku lagi?!"
Claire berhenti sejenak, menatap Mikael dengan tatapan yang sulit diartikan. "Diam, Mikael. Kita harus bawa adikmu ke rumah sakit sekarang. Tidak ada waktu lagi."
Guntur menggelegar. Hujan turun seolah langit sedang runtuh. Claire berlari menembus hujan, memeluk Michel erat di dadanya agar tidak terkena tetesan air, sementara Mikael mengekor di belakang dengan langkah kecil yang sempoyongan karena panik.
Claire berteriak di tengah badai. "Siapkan mobil! Sekarang!"
Mikael menangis, mengira ini adalah akhir dari adiknya. "Kumohon... jangan sakiti Michel... aku akan melakukan apa saja, tapi tolong biarkan dia tetap hidup!"
Claire membuka pintu mobil, meletakkan Michel dengan hati-hati di kursi belakang yang empuk, lalu menoleh pada Mikael yang basah kuyup. "Masuk! Kau ingin ikut atau tidak? Masuk mobil sekarang kalau kau tidak mau tertinggal!"
Mikael terdiam, bingung melihat ibunya yang biasanya kejam kini bersikap sangat terburu-buru demi menyelamatkan mereka.
Claire bergumam pelan dalam hati sambil menyalakan mesin. " Tunggu dulu.. perasaan tidak ada adegan scene yang membawa Michel ke rumah sakit? Ah.. masa bodoh sama alur nya,"
•
•
Koridor rumah sakit yang dingin dan hening, mendadak pecah oleh suara tamparan keras. Pipi Claire terasa panas membara, namun tatapan Claire tidak goyah.
PLAK!
Napas Julian memburu, wajah merah padam. "BELUM PUAS KAU MENJEBAK KU DAN SEKARANG KAU BERUSAHA MEMBUNUH ANAK KU, HAA?! KAU MENJEBAKKU SAMPAI KAU MENGANDUNG BENIH KU DAN SEKARANG... KAU INGIN MELENYAPKAN MEREKA?!"
Claire terpaku sejenak, mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Ia menatap Julian dengan sorot mata datar, tanpa rasa takut yang biasanya ditunjukkan 'Claire asli'.
"Sudah selesai bicaranya? Atau kau butuh satu tamparan lagi di pipiku agar egomu merasa sedikit lebih baik, Tuan Julian?
Julian tertegun melihat ketenangan Claire. "Apa katamu? Kau... berani menjawabku setelah apa yang kau lakukan pada Michel?"
"Dengarkan aku baik-baik karena aku tidak suka mengulang kata-kata. Jika aku ingin membunuhnya, aku tidak akan menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Aku akan membiarkannya sakit dan mati di kamar dengan demam yang membakar otaknya sementara kau sibuk dengan pekerjaanmu itu. Sekarang, diamlah. Anakmu sedang berjuang di dalam, dan suara teriakanmu sama sekali tidak membantu."
Julian mendesis, melangkah maju hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Jangan berpura-pura menjadi ibu yang peduli. Semua orang tahu kau adalah monster bagi mereka. Mikael bahkan ketakutan setengah mati saat kau menyentuh adiknya!
Claire tersenyum miring, dingin. "Monster? Mungkin saja. Tapi monster ini baru saja menyelamatkan nyawa anakmu saat kau tidak ada di sana."
Mikael muncul dari balik pilar, tubuh kecilnya gemetar menatap kedua orang tuanya. " D--daddy..."
Claire menunjuk Mikael tanpa mengalihkan pandangan dari Julian. "Lihat anakmu. Dia ketakutan bukan hanya karena aku, tapi karena dia melihat ayahnya bertingkah seperti binatang buas di tempat umum. Jika kau ingin menyalahkan seseorang atas penderitaan anak-anak ini, bercerminlah. Kau membiarkan mereka tinggal dengan monster tanpa pengawasan, lalu kau datang sebagai pahlawan di saat semuanya sudah terlambat? Munafik."
Julian kehilangan kata-kata, tangannya yang tadi terkepal perlahan melonggar. "Kau... kau berbeda. Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Claire?"
Claire tersenyum miring. " Kau tidak akan pernah bisa tau apa yang ku pikirkan. Pergilah masuk, lihat putrimu. Dan satu hal lagi..." Claire menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah. "Jangan pernah angkat tanganmu padaku lagi. Karena lain kali, aku tidak akan diam saja membiarkanmu melakukan nya."
Claire berbalik meninggalkan Julian yang terpaku. Ia berjalan tegak, mengabaikan denyut di kepalanya dan rasa panas di pipinya. Dalam hati, ia berkata. " Aku bukan Antagonis yang asli. Jika takdir ingin membunuhku di akhir cerita, maka aku akan menghancurkan naskah ini lebih dulu."
•
•
•
BERSAMBUNG