Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Menagih Hutang
Malam mulai turun di kawasan pinggiran kota. Lampu-lampu jalan menyala redup, sementara warung gorengan di ujung gang mulai ramai oleh orang-orang yang mencari camilan.
Ge menghentikan motornya di depan warung itu.
BRRAAAKK!
Suara knalpotnya langsung membuat beberapa orang menoleh. Di bangku panjang depan warung sudah duduk beberapa pria bertato yang wajahnya lebih cocok jadi pemeran film preman daripada pelanggan gorengan biasa.
Mereka adalah anak buah Mamaknya Ge. Begitu melihat Ge datang, salah satu dari mereka melambaikan tangan.
“WOY! Anak bos datang!” Itu Bang Ucup, pria berkumis tebal yang badannya besar seperti lemari.
Ge duduk santai di bangku kayu. “Apa kabar, para penjahat kelas teri?”
Bang Ucup tertawa. “Kurang ajar lu. Kita ini pekerja profesional!” sahutnya.
Bang Jali yang duduk di sampingnya ikut nimbrung. “Iya. Kita penagih utang bersertifikat.”
Ge mengambil gorengan di meja. “Bayarnya pakai apa? Sertifikat preman?”
Semua langsung tertawa. Penjual gorengan yang sudah kenal mereka hanya menggeleng sambil terus menggoreng tempe.
Bang Ucup menatap Ge. “Ge.”
“Apa, Bang?”
“Kata emak lu, lu nyolong duit lagi.”
Ge santai menggigit bakwan. “Bukan nyolong. Tapi pinjam!”
Bang Jali mengangkat alis. “Pinjam?”
“Iya.”
“Balikinnya kapan?”
Ge mengangkat bahu. “Nunggu kaya.”
Bang Ucup tertawa keras sampai hampir tersedak. “Kalau nunggu lu kaya, emak lu bangkrut duluan.”
Ge menyenggol meja. “Eh, Bang. Ngomong-ngomong...”
“Apa?”
“Kita adu panco yuk.”
Bang Ucup langsung tertarik. “Berani lu lawan gue?”
Ge menyeringai. “Kenapa nggak?”
Bang Jali langsung menepuk meja. “Wah ini seru!”
Orang-orang di warung langsung memperhatikan. Bang Ucup meletakkan tangannya di meja.
“Oke. Kalau gue menang, lu traktir gorengan satu meja," ujar Bang Ucup.
Ge ikut menaruh tangan. “Kalau gue menang?”
Bang Ucup menyeringai. “Gue traktir es teh.”
Ge langsung protes. “Curang banget! Gue yang kecil hadiahnya.”
Bang Jali tertawa. “Udah cepet!”
Mereka mulai. “Satu… dua… tiga!”
Bang Ucup langsung menekan. Namun Ge ternyata tidak selemah kelihatannya. Tangannya menahan kuat.
“WOY!” teriak Bang Jali. “Anak bos kuat juga!”
Bang Ucup mulai kesal. “Lu latihan apa sih?”
Ge menyeringai. “Angkat galon tiap hari. Terus manjat tembok sekolah pas bolos! Terus hari ini gue mati-matian bersihin tai di toilet!"
Bang Ucup menekan lebih kuat. Ge hampir kalah.
DEG!
Ge membanting tangan Bang Ucup ke meja.
“MENANG!”
Warung langsung heboh.
Bang Jali melotot. “ANJIR!” rutuknya tak percaya.
Bang Ucup menatap tangannya tidak percaya. “Ini curang!” protesnya.
Ge tertawa. “Yang kalah traktir!”
Penjual gorengan langsung nyeletuk. “Tambah tempe ya?”
Bang Ucup menunjuk Ge. “Anak setan emang lu, Ge!"
Mereka semua tertawa lagi. Setelah makan beberapa gorengan, Bang Ucup menyalakan rokok. Lalu menatap Ge.
“Ge!" ujarnya.
“Apa?”
“Mau ikut kerja?”
Ge menyipitkan mata. “Kerja apaan?”
“Nagih utang.”
Ge mengangkat alis. “Yang kabur itu?”
Bang Jali mengangguk. “Iya. Sudah dua bulan nggak bayar.”
Ge berdiri. “Gas!"
Bang Ucup tertawa. “Cepet amat.”
Ge mengambil helmnya. “Lumayan buat hiburan malam.”
Mereka bertiga naik motor. Ge di depan dengan motor tuanya. Bang Ucup dan Bang Jali mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke gang sempit yang lampunya jarang.
Setelah beberapa menit perjalanan, Bang Ucup menunjuk sebuah rumah kecil di ujung gang. Rumah itu tampak kumuh. Catnya sudah mengelupas. Atap sengnya bahkan miring.
Ge mematikan motor. “Ini?”
Bang Ucup mengangguk. “Iya.”
Ge menatap rumah itu sebentar. “Yang punya rumah utangnya berapa?”
Bang Jali menjawab santai. “Lima juta. Tapi jadi dua puluh juta karena ditambah bunganya."
Ge mengangkat alis. “Gila! Berkembang banyak amat tuh bunga!" komentarnya tak percaya.
Bang Ucup mendengus. “Itulah resiko ngutang ke rentenir. Kalau nunggaknya lama, bunganya makin nambah!" sahutnya.
Ge mengangguk pelan. “Pantes.”
Bang Ucup berjalan ke pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
Tidak ada jawaban. Bang Jali mengetuk lebih keras.
“WOY!”
Masih sunyi.
Ge menyeringai. “Kayaknya kabur lagi.”
Bang Ucup menendang pintu sedikit. “WOY! KELUAR!”
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. “Si… siapa?”
Bang Ucup menjawab keras. “Ini gue! Nggak usah sok nggak kenal deh lu! Cepat keluar!" desaknya galak.
Pintu perlahan terbuka. Seorang pria kurus muncul. Wajahnya pucat seperti habis melihat hantu.
Begitu melihat Bang Ucup dan Bang Jali, dia langsung panik. Namun bersamaan dengan itu, muncul sosok gadis dari dalam rumah. Gadis yang terasa tak asing di mata Ge.