Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Malam yang Berbisa
Suasana di meja makan Paviliun Sanctuary terasa sangat tegang. Madame Valois, Duchess Eleonore (ibu Eisérre), Baroness Clara, dan Belle duduk dengan punggung tegak, mata mereka tak lepas dari sosok gadis yang duduk di samping Eisérre. Bagi mereka, Ève adalah teka-teki. Mereka tidak tahu bahwa gadis ini hilang ingatan; yang mereka lihat hanyalah seorang gadis cantik dengan wajah baby face yang sangat tenang.
"Jadi, Eisérre," Madame Valois memulai, suaranya sedingin es. "Kau belum menjelaskan siapa gadis ini. Dari keluarga mana dia berasal hingga dia merasa berhak duduk di meja utama Valois?"
Eisérre menyesap wine merahnya, matanya yang sebiru danau malam melirik ke arah Geneviève yang sedang memotong daging dengan sangat anggun—gerakan yang sangat alami bagi seorang Putri.
"Dia adalah Lady Ève," jawab Eisérre singkat. "Seorang bangsawan yang kutemukan dalam bahaya di perbatasan. Itu saja yang perlu kalian tahu."
"Hanya itu?" Baroness Clara mendengus sinis, kipasnya bergerak cepat. "Jangan-jangan dia hanya gadis pinggiran yang kau dandani, Eisérre. Lihatlah, dia bahkan tidak bicara sejak tadi. Apa dia bisu?"
Geneviève meletakkan garpu peraknya dengan denting halus yang disengaja. Ia menatap Baroness Clara dengan tatapan jernih namun menusuk. "Bisu dan tahu kapan harus diam adalah dua hal yang berbeda, Nyonya. Saya hanya sedang menghargai makanan yang disajikan, karena di tempat saya berasal, bicara terlalu banyak saat makan hanya dilakukan oleh orang yang tidak punya kesibukan lain selain bergosip."
Deg. Eisérre hampir saja menyunggingkan senyum di balik gelasnya. Ia belum pernah melihat ada orang yang berani membalas Baroness Clara setajam itu.
"Lancang sekali!" Seru Belle, wajahnya memerah. "Nenek, lihatlah! Dia bahkan tidak menghormatimu!"
Madame Valois menyipitkan mata, menatap Geneviève dengan aura mengintimidasi. "Gadis kecil, kau tahu kau sedang bicara dengan siapa? Aku bisa membuatmu menghilang dari tempat ini dalam sekejap."
Geneviève tidak gentar. Ia justru menyandarkan punggungnya, menatap sang Nenek dengan martabat seorang Putri d’Orléans yang tak terkalahkan. "Anda bisa mengusir saya dari ruangan ini, Madame. Tapi Anda tidak bisa mengusir kebenaran bahwa cucu Anda membawa saya ke sini atas keinginannya sendiri. Jika Anda punya masalah dengan keberadaan saya, bukankah seharusnya Anda bicara pada Jenderal agung di samping saya ini? Kecuali... Anda memang lebih suka menindas tamu yang tidak berdaya daripada menghadapi cucu Anda sendiri."
Keheningan seketika menyergap ruangan itu. Duchess Eleonore, ibu Eisérre, menutup mulutnya dengan sapu tangan, menahan tawa sekaligus rasa kagum. Belum pernah ada yang berani menyebut ibunya "penindas" secara terang-terangan.
"Sudahlah, bisakah ini semua dihentikan?" Ucap Eisérre.
Lalu, Eisérre tiba-tiba mengulurkan tangannya di bawah meja, menggenggam jemari Geneviève dan meremasnya pelan. Ada binar aneh di mata birunya—binar obsesi. Ia merasa bangga. Selama ini ia hidup seperti robot di bawah kendali remot sang nenek, dan melihat Ève dengan lidah tajamnya mampu membuat neneknya bungkam, membuat Eisérre merasa telah menemukan belahan jiwanya.
Dia tidak boleh pergi, batin Eisérre gelap. Gadis berani ini harus tetap di sini, di bawah perlindunganku, apa pun identitas aslinya.
"Jamuan makan malam selesai," ucap Eisérre, suaranya penuh otoritas sambil berdiri. "Nenek, Ibu, Baroness... Terima kasih atas kunjungannya. Pelayan akan mengantar kalian ke kediaman utama."
"Eisérre! Kami belum selesai bicara!" Protes Madame Valois.
"Tapi saya sudah selesai," balas Eisérre dingin. Ia menarik kursi Geneviève dengan lembut—sebuah perlakuan yang sangat manis namun posesif. "Ayo, Lady Ève. Kau butuh istirahat."
Eisérre menuntun Geneviève pergi meninggalkan empat wanita yang mematung karena shock. Begitu mereka sampai di balkon lantai atas yang sepi, Eisérre membalikkan tubuh Geneviève hingga punggung gadis itu menyentuh pagar pembatas.
"Kau..." Eisérre menunduk, jarak wajah mereka hanya beberapa inci. "Kau benar-benar tidak tahu cara takut, ya?"
Geneviève mendongak, wajah baby face-nya tampak menggemaskan di bawah cahaya bulan, namun matanya tetap tajam. "Kenapa aku harus takut pada mereka?"
Eisérre tertawa rendah—suara yang jarang sekali terdengar. Ia menyentuh pipi Geneviève dengan ibu jarinya. "Keberanianmu itu... membuatku ingin mengikatmu di paviliun ini selamanya. Jangan pernah tunjukkan sisi itu pada pria lain, Ève. Hanya padaku."
Geneviève mengernyit bingung, tidak tahu bahwa di balik sikap "membantu mencari identitas" itu, Eisérre sedang menyusun rencana untuk mengubur identitas Geneviève d'Orléans sedalam mungkin agar ia tetap menjadi 'Ève' miliknya.