NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakti Sang Penari

​Yogyakarta di pukul enam pagi masih menyisakan sisa embun yang membasuh dedaunan pohon tanjung di sepanjang jalan asrama Korem. Udara dingin yang menusuk tulang biasanya membuat orang enggan beranjak dari balik selimut, namun bagi Kapten Pradipta Arya, disiplin militer yang mendarah daging selama sepuluh tahun tidak mengenali kata "nanti".

​Arya sudah rapi dengan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) yang licin disetrika. Baret hijaunya terpasang miring dengan presisi yang sempurna. Ia sengaja datang lebih awal, satu setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Ada debar aneh yang membuatnya tidak betah berlama-lama di kamar hotel. Ia ingin melihat bagaimana "rumah" Nina di Jogja ini memulai harinya.

​Mobil dinasnya berhenti pelan di depan rumah dinas nomor 5. Suasana asrama Korem di pagi hari jauh lebih hidup daripada asrama di Jakarta dulu. Suara peluit latihan lari pagi terdengar sayup-sayup dari lapangan utama.

​Saat Arya turun dari mobil, ia tidak mendapati Nina yang sedang berdandan di depan cermin. Justru, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku di depan pagar kayu yang dicat putih.

​Seorang gadis dengan kaos oblong sederhana dan celana kulot, rambutnya dicepol asal-asalan, sedang sibuk menata beberapa bungkusan plastik besar di atas jok motor matic tua. Di sampingnya, Fatimah sedang memberikan catatan kecil.

​"Hati-hati, Nin. Jangan ngebut, itu pesanan Bu Kolonel jangan sampai kusut," pesan Fatimah.

​"Siap, Bu! Beres," sahut Nina riang.

​Arya berdehem pelan, membuat kedua wanita itu menoleh serempak.

​"Selamat pagi, Tante. Nina," sapa Arya dengan suara baritonnya yang mantap.

​Nina nyaris menjatuhkan salah satu kantong plastik yang dipegangnya. "Kak Arya? Kok sudah sampai? Kan janjinya jam setengah delapan!"

​Arya tersenyum tipis, melirik jam tangan taktisnya. "Prinsip tentara, Nin. Lebih baik menunggu sepuluh jam daripada terlambat satu menit. Sedang apa?"

​Fatimah tertawa kecil sambil menyalami Arya. "Eh, Mas Arya. Masuk dulu, Mas. Ini Nina, tiap pagi sebelum ke kampus memang selalu bantu Tante antar hasil jahitan. Kasihan kalau Tante sendiri, pelanggan sekarang makin banyak."

​Arya mendekat, tangannya reflek mengambil alih bungkusan plastik besar yang tampak berat dari tangan Nina. "Biar Kakak yang bawakan ke mobil. Kamu mau antar ini pakai motor?"

​"Iya, Kak. Sudah biasa kok. Dekat-dekat sini saja perumahannya," jawab Nina agak malu. Ia merasa canggung dilihat Arya dalam kondisi "mode rumah"—tanpa riasan panggung, tanpa sanggul, hanya Nina yang apa adanya.

​"Tidak ada motor-motoran. Pakai mobil saja dengan Kakak, sekalian kita antar semua, baru ke kampus," perintah Arya. Nada bicaranya mutlak, tidak menerima bantahan, namun sorot matanya lembut.

​Nina sempat melirik Ibunya, dan Fatimah hanya mengangguk setuju. "Ya sudah, kalau Mas Arya tidak keberatan. Ibu jadi tenang kalau Nina ada yang antar."

​Saat mereka sedang memindahkan bungkusan-bungkusan itu ke bagasi mobil, sebuah suara berat dan berwibawa menggelegar dari arah pintu rumah.

​"Ada tamu sepagi ini, Bu? Siapa yang mau antar jahitan pakai mobil dinas Kapten?"

​Seorang pria dengan tubuh tegap yang mulai sedikit berisi namun tetap kokoh keluar dari rumah. Seragamnya menunjukkan pangkat Sersan Mayor. Wajahnya yang tegas kini dihiasi kumis tipis yang rapi. Itulah Hamdan, ayah Nina, yang kini menjadi salah satu bintara senior yang sangat disegani di Korem 072/Pamungkas.

​Arya segera mengambil posisi tegak sempurna. Tangannya terangkat ke pelipis dalam hormat yang sangat tajam.

​"Lapor! Kapten Infanteri Pradipta Arya, mohon izin menghadap, Sersan Mayor!"

​Hamdan terpaku di teras. Matanya menyipit, menatap sosok perwira muda di depannya dari bawah hingga ke atas baret hijaunya. Perlahan, senyum lebar terkembang di wajah sang bintara senior. Ia membalas hormat itu dengan mantap, lalu tertawa terbahak-bahak sambil menuruni tangga teras.

​"Siap! Masuk, Mas Arya! Eh, maksud saya... hormat, Komandan!" canda Hamdan sambil merangkul bahu Arya dengan akrab. "Ya Tuhan, bocah yang dulu nabrak anak saya sampai bocor sekarang sudah jadi Kapten!"

​Mereka duduk sebentar di teras sementara Nina masuk untuk berganti pakaian kuliah. Fatimah menyuguhkan kopi hitam kental kegemaran Hamdan dan sepiring pisang goreng hangat.

​"Saya dengar dari Ibu kemarin, kamu ketemu Nina di Kepatihan?" tanya Hamdan, matanya menatap Arya dengan rasa bangga yang tidak disembunyikan. Bagi Hamdan, Arya adalah contoh sukses anak asrama yang ia kenal sejak kecil.

​"Benar, Pak. Saya sempat tidak percaya itu Nina. Dia tumbuh menjadi penari yang luar biasa," jawab Arya jujur.

​Hamdan menghela napas, menyulut rokoknya pelan. "Dia keras kepala kalau soal tari, Arya. Persis kayak kamu kalau soal latihan fisik dulu. Dia kuliah di ISI bukan cuma cari gelar, tapi benar-benar mau melestarikan budaya. Saya bangga, tapi kadang khawatir juga. Dunia seni itu dinamis, pergaulannya luas."

​Hamdan menatap Arya dalam-dalam. "Saya senang kamu ada di sini. Di Jogja ini, meskipun saya bapaknya, saya sering bertugas. Kamu tahu sendiri jadwal senior di Korem seperti apa. Kalau kamu tidak keberatan, sering-seinglah tengok adikmu ini."

​"Tanpa Bapak minta pun, saya akan lakukan, Pak," sahut Arya mantap.

​"Dulu saya memaafkan kamu karena kecelakaan sepeda itu, Arya. Karena saya tahu kamu anak baik," Hamdan menepuk lutut Arya. "Sekarang, kamu sudah dewasa. Tanggung jawabmu lebih besar. Jaga dia, ya?"

​Kalimat Hamdan terasa seperti perintah operasi bagi Arya. Ia mengangguk pelan, memahami bahwa di balik kata-kata itu, Hamdan memberikan kepercayaan yang sangat besar—kepercayaan yang melampaui sekadar hubungan atasan dan bawahan atau perwira dan bintara.

​*

​Tak lama kemudian, Nina keluar. Ia sudah rapi dengan kemeja flanel kotak-kotak dan tas punggung. Wajahnya segar, hanya menggunakan sedikit bedak dan lipstik tipis, namun di mata Arya, ia terlihat seribu kali lebih menawan daripada penari di panggung semalam.

​"Ayo, Kak. Nanti pelanggan Ibu protes kalau telat," ajak Nina.

​Mereka berpamitan pada Hamdan dan Fatimah. Di dalam mobil, suasana terasa sangat hangat. Arya mengemudikan mobil mengikuti petunjuk jalan dari Nina. Mereka mendatangi satu per satu alamat pelanggan Fatimah.

​Arya memperhatikan bagaimana Nina turun dari mobil, berlari kecil menuju pagar rumah pelanggan, menyerahkan jahitan dengan sopan, dan kembali dengan senyum lebar. Gadis ini tidak malu meskipun ia diantar oleh seorang perwira dengan mobil dinas. Ia tetap menjadi Nina yang berbakti pada orang tuanya.

​"Kenapa Kakak senyum-senyum terus?" tanya Nina saat ia kembali ke mobil untuk alamat terakhir.

​"Kakak cuma tidak menyangka. Penari solo yang tadi malam dipuja-puja Jenderal, pagi ini jadi kurir jahitan Ibunya," goda Arya.

​Nina tertawa, menyandarkan punggungnya di jok mobil. "Menari itu jiwa Nina, Kak. Tapi membantu Ibu itu kewajiban. Tanpa jahitan-jahitan itu, Nina tidak mungkin bisa beli sepatu tari atau ikut les dulu saat Ayah masih Sersan Dua."

​Arya terdiam. Ia semakin kagum pada kedewasaan Nina. Anak kecil yang dulu manja itu kini telah bertransformasi menjadi wanita yang tahu cara menghargai proses.

*

​Setelah semua jahitan terantar, Arya memacu mobilnya menuju arah Jalan Parangtritis, tempat kampus ISI Yogyakarta berada. Matahari mulai meninggi, menyinari jalanan Jogja yang mulai padat dengan mahasiswa.

​Saat mobil memasuki gerbang kampus, banyak pasang mata yang menoleh. Sebuah mobil dinas TNI masuk ke lingkungan kampus seni adalah hal yang jarang terjadi.

​"Sampai di sini saja, Kak. Di depan gedung jurusan tari itu," tunjuk Nina.

​Arya menghentikan mobil tepat di depan lobi. Ia turun dan membukakan pintu untuk Nina. Beberapa teman kampus Nina yang sedang nongkrong di selasar langsung berbisik-bisik.

​"Terima kasih ya, Kak. Maaf sudah merepotkan pagi-pagi jadi sopir kurir," ucap Nina sambil membenarkan tasnya.

​Arya memegang bahu Nina sebentar. "Sama sekali tidak merepotkan, Nin. Justru Kakak senang bisa lihat keseharianmu."

​"Kakak hari ini sibuk?" tanya Nina ragu.

​"Ada rapat di Makorem sampai sore. Tapi nanti malam, kalau kamu tidak ada latihan, Kakak ingin ajak kamu makan malam. Ada tempat bagus di daerah Kaliurang, udara di sana segar," tawar Arya.

​Nina tersenyum manis, lesung pipinya terlihat samar. "Nina tunggu telepon dari Kakak kalau begitu."

​"Nina!" panggil Arya saat gadis itu hendak melangkah pergi.

​Nina berbalik. "Ya?"

​"Teruslah jadi Nina yang seperti ini. Jangan pernah berubah karena panggung atau tepuk tangan orang lain," ujar Arya tulus.

​Nina mengangguk mantap, lalu berlari menuju gedung kuliahnya. Arya berdiri di samping mobilnya, memperhatikan punggung Nina sampai benar-benar menghilang di balik pintu kaca.

​Sepuluh tahun yang lalu, ia menabrak gadis ini dan membuatnya terluka. Hari ini, ia berjanji di dalam hatinya sendiri, bahwa tidak akan ada lagi yang boleh menyakiti gadis itu, bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri sebagai perwira.

​Arya masuk kembali ke mobilnya, menyalakan mesin, dan pergi menuju Makorem dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Tugas negara menantinya, namun ia tahu, ia punya satu alasan lagi untuk selalu pulang dengan selamat: menjaga cahaya yang baru saja ia temukan kembali di tengah kemelut hidupnya sebagai prajurit.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!