NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Ujian Pembersihan Api

Langkah Wira terasa berat saat memasuki wilayah kekuasaan Kerajaan Tera.

Berbeda dengan Benua Pasir Emas yang menyilaukan atau Benua Es yang megah, Benua Api Merah terasa menyesakkan.

Langitnya tertutup jelaga abadi, dan tanah yang diinjaknya terasa bergetar, seolah-olah ada raksasa yang sedang bernapas di bawah lapisan magma.

Wira berjalan pelan menuju gerbang utama Kerajaan Tera yang terpahat di dinding kawah raksasa.

Di sana, para penjaga mengenakan zirah hitam kusam dengan aura kegelapan yang pekat menyelimuti mereka.

Benar yang di katakan Nila, bahwa aura ini terasa jahat, namun jika dirasakan lebih dalam, ada kendali yang sangat ketat di baliknya.

Ini bukan energi iblis yang liar, melainkan energi yang dijinakkan untuk menjadi pelindung.

"Berhenti, Orang Asing!" salah satu penjaga membentak, tangannya memegang kapak besar yang membara.

"Rambut perak dan aura es... kau pengintai dari Kerajaan Bada?" teriak penjaga dengan suara yang kasar.

Wira mengangkat bahu, mencoba mempertahankan gaya santainya meski dadanya terasa seperti sedang ditusuk ribuan jarum es.

"Kerajaan Bada? Tidak, terima kasih. Aku lebih suka tempat yang jujur tentang keburukannya daripada tempat yang pura-pura suci tapi berbau bangkai." jawab Wira menyindir bijak.

Mendengar itu, sang penjaga sedikit menurunkan kapaknya.

"Kau punya lidah yang tajam juga, Bocah. Apa tujuanmu kemari?" tanya penjaga itu kemudian dengan nada yang lebih santai.

"Aku seorang pengembara yang sedang mengalami masalah... internal," jawab Wira sambil menunjuk dadanya yang sesekali mengeluarkan uap dingin.

"Aku butuh akses ke kawah pusat untuk menyeimbangkan energi ini. Dan kudengar, Kerajaan Tera butuh petarung yang tidak takut menjadi sedikit kotor." kata Wira sembari menaik turunkan alisnya seolah mereka sudah kenal akrab.

Sang penjaga pun langsung tertawa parau.

"Kau ingin ke pusat Lava Jati? Ku beri tahu, Hanya mereka yang lulus Ujian Pembersihan Api yang boleh mendekat. Masuklah, tunjukkan pada Panglima kami bahwa es di tubuhmu itu bukan hanya untuk mendinginkan minuman." ucap penjaga itu membalas dengan ejekan.

Wira pun digiring menuju sebuah arena terbuka yang dikelilingi oleh aliran magma cair.

Di tengah arena itu, berdiri seorang pria bertubuh raksasa dengan luka bakar di sekujur wajahnya. Inilah Panglima Gani, seorang pendekar yang telah mencapai puncak Ranah Inti Magma.

"Panglima, orang ini ingin menjadi tentara bayaran dan meminta akses ke kawah pusat," lapor penjaga itu.

Panglima Gani menatap Wira dengan mata yang merah menyala. Ia bisa merasakan pertarungan antara es abadi dan panas atmosfer di dalam tubuh Wira.

"Rambut perak... Kau telah melebur Jantung Kristal Es, bukan? Bodoh sekali. Tanpa penyeimbang, kau hanya akan meledak dalam waktu tiga hari." ucap Panglima Gani mengawali pembicaraan.

"Makanya aku di sini, Panglima," Wira nyengir, meski keringat dingin mulai bercampur dengan embun beku di keningnya.

"Aku butuh Lava Jati, dan kalian butuh orang yang bisa menyelesaikan tugas tanpa banyak tanya, perkenalkan, namaku Wira." lanjut Wira dengan di akhiri perkenalan diri.

"Tugas kami selalu kotor, Pemuda. Kami adalah iblis yang menjaga gerbang neraka agar iblis yang sebenarnya tidak keluar," ucap Panglima Gani berat.

"Jika kau ingin akses itu, kau harus bertahan di dalam Lubang Pembersihan selama satu jam. Energi esmu akan ditarik keluar paksa oleh panas magma pusat. Jika kau bertahan, kau akan mendapatkan lencana Tera." lanjut Panglima Gani memberi penjelasan.

Tanpa menunggu jawaban dari Wira, Panglima Gani langsung menghentakkan kakinya.

Seketika lantai arena terbuka, dan Wira jatuh ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang langsung bersentuhan dengan aliran lava murni.

Suhu di dalam Lubang Pembersihan itu mencapai ribuan derajat.

Bagi pendekar biasa, itu akan membuat paru-paru mereka hangus dalam hitungan detik.

Namun bagi Wira, masalahnya lebih kompleks. Panas yang luar biasa ini memicu reaksi pertahanan dari Jantung Kristal Es.

KRAK!

Lapisan es tebal mendadak menyelimuti tubuh Wira secara otomatis untuk melindunginya. Namun, panas magma dari bawah terus menyerang. Terjadilah benturan energi yang sangat dahsyat di dalam sel-sel tubuh Wira.

"Ugh- uhukkk... Siwa... ini lebih sakit dari saat peleburan di Arcapada," rintih Wira.

"Tahan, Bocah! Ini adalah proses Anil. Dimana Es yang ada di tubuhmu harus melunak agar bisa menyatu dengan energi api nanti. Jangan lawan panasnya, biarkan ia masuk sedikit demi sedikit! Jelas Siwa menenangkan dalam pikirannya.

Di tengah rasa sakit yang menghimpit, pikiran Wira pun kembali melayang pada Sekar.

Ia membayangkan wajah kekasihnya di dalam cincin dimensi. Kesadaran bahwa ia harus bertahan demi Sekar membuat Wira memaksa dirinya untuk menahan rasa sakit yang tajam di tengah kobaran api.

Di saat proses itu berlangsung, tiba-tiba ia merasakan kehadiran aura lain di dalam lubang itu.

Di sudut ruangan, ada seorang pria tua yang dirantai, tubuhnya penuh dengan segel energi hitam.

"Kau... bukan orang Tera," suara tua itu terdengar lemah.

Wira membuka matanya sedikit lalu menjawabnya,

"Bukan. Aku hanya pengembara yang sedang mencari gara-gara." jawab Wira singkat.

Orang tua itu terkekeh kering mendengar jawaban Wira.

"Berhati-hatilah. Raja Tera memang benar tentang menjadi iblis untuk melawan iblis, tapi dia tidak memberitahu bahwa terkadang, setelah kau menjadi iblis, kau akan lupa bagaimana cara menjadi manusia kembali." ucap Pria Tua itu dengan jujur.

Wira pun hanya tersenyum tipis.

"Aku punya kenangan yang baik yang selalu bisa mengingatkanku setiap hari bagaimana rasanya menjadi manusia, Pak Tua." jawab Wira dengan tenang.

Setelah perbincangan itu, Wira kembali memejamkan matanya, hingga tak terasa satu jam pun berlalu.

Tak berselang lama, Pintu Lubang Pembersihan pun terbuka, dan Wira melompat keluar dengan tubuh yang berasap.

Rambut peraknya kini nampak lebih bercahaya, dan aura biru di matanya sedikit meredup, tergantikan oleh ketenangan yang lebih dalam.

Panglima Gani tampak terkesan melihat tubuh Wira yang kuat menahan panasnya Api Pembersihan.

"Kau selamat. Dan kau tidak kehilangan kesadaran, Hahaha... Luar biasa." ucap Panglima Gani dengan di ikuti sebuah tawa bahagia.

Panglima Gani kemudian melemparkan sebuah lencana logam berbentuk api hitam kepada Wira.

"Selamat datang di Kerajaan Tera, sang Pengembara Es. Tugas pertamamu adalah menyusup ke wilayah perbatasan Kerajaan Bada. Kami mendapat laporan bahwa mereka mulai melakukan ritual Panen Jiwa terhadap rakyat mereka sendiri demi memberi makan entitas iblis kuno. Hentikan ritual itu, dan aku akan membawamu langsung ke hadapan Raja untuk mendapatkan izin ke kawah Lava Jati." ungkap Panglima Gani terus terang dan apa adanya.

Wira yang saat ini sudah menggenggam lencana itu, lalu berkata..

"Ritual Panen Jiwa? Di tengah kemakmuran yang mereka pamerkan itu?" tanya Wira.

"Kemakmuran adalah bumbu agar jiwa mereka terasa lebih manis saat dimakan," ucap Panglima Gani dingin.

Wira mengangguk. Ia merasakan kemarahan yang tenang di dalam hatinya. Kedewasaan yang ia peroleh dari Benua Es membuatnya tidak lagi meledak-ledak, namun justru lebih mematikan.

"Baiklah. Ayo kita lihat seberapa busuk surga yang mereka bangun di Kerajaan Bada," ucap Wira.

"Hei Bocah, ingat pesan Nila," Siwa berbisik. "Benua Langit sudah menunggumu. Selesaikan urusan iblis ini dengan cepat agar kita bisa segera mendapatkan Lava Jati."

"Aku tahu, Siwa. Ayo berangkat. Aku mulai lapar, dan bau belerang di sini membuatku merindukan aroma hutan yang segar." jawab Wira lalu pamit undur diri kepada Panglima Gani.

Wira melesat meninggalkan benteng Tera, menuju perbatasan Bada.

Ia kemudia melihat jarinya dalam perjalanan itu, cincin dimensi itu tampak tetap tenang, menyimpan harta yang paling berharga baginya.

Langkah Wira kini tidak lagi meninggalkan jejak es seperti sebelumnya, melainkan meninggalkan uap tipis yang menghilang diterbangkan angin panas, pertanda bahwa kekuatan barunya mulai menemukan bentuknya yang unik.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!