Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Kenzo
Keadaan apartemenku siang ini cukup ramai. Ayah, ibu, Leona, dan baby Kenzo datang berkunjung. Katanya sih sekalian mengantarkan Sandra pulang ke apartemen, tapi aku tahu tujuan lainnya—berburu oleh-oleh yang kubawa sepulang dari honeymoon.
Honeymoon?
Aku hampir tersenyum miris mengingatnya. Lebih tepat disebut liburan biasa… yang terasa hambar.
“Eh, Sandra kok jalannya pincang sih?” suara Leona langsung menyambut begitu aku masuk ke ruang tengah. “Masih sakit ya?”
Aku mendengus pelan. “Kaki aku sakit, Na.”
Leona langsung menyeringai jail. “Alah… pasti Satya ganas banget ya, sampai kamu jalan aja susah gitu.”
“Leona!” aku melotot kesal.
Ibu ikut tertawa kecil sambil menepuk lengan Leona. “Kamu ini ada-ada saja.”
“Lah, emang salah ya, Bu? Kan wajar pengantin baru,” balas Leona santai.
Aku hanya bisa tersenyum tipis, memilih tidak menanggapi lebih jauh. Dalam hati, aku merasa sedikit tidak nyaman. Mereka semua mengira aku dan Kak Satya sudah benar-benar menjadi suami istri seutuhnya… padahal kenyataannya tidak.
Di sisi lain ruangan, Kak Satya tampak duduk santai bersama ayah. Secangkir teh hangat mengepul di tangannya, sesekali ia tertawa kecil menanggapi obrolan ayah. Sekilas, pandangannya sempat beralih ke arahku—lalu kembali lagi.
“Ma…” suara kecil Sandrina memecah suasana. Ia menarik ujung bajuku. “Mana adek bayinya? Aku mau punya adik bayi kayak baby Kenzo.”
Aku tertegun sejenak, lalu berjongkok di depannya. “Sabar ya, sayang. Untuk sekarang, Drina main dulu sama Kenzo, ya?”
Sandrina mengangguk pelan, meski wajahnya masih terlihat penasaran.
“Nah itu,” sela Leona sambil menggendong Kenzo. “Adek bayinya lagi diadon dulu, Drina. Tunggu sembilan bulan ya.”
“Leona!” aku kembali memprotes, kali ini sambil memukul pelan lengannya.
Ibu tertawa lagi. “Kamu ini benar-benar tidak bisa jaga mulut.”
Leona hanya terkekeh tanpa rasa bersalah. “Biar seru, Bu.”
Aku menghela napas panjang, mencoba mengalihkan topik. “Tadi katanya ada kabar baik, Na? Apa itu?”
Wajah Leona langsung berubah antusias. “Oh iya! Aku mau kasih tahu—aku bakal menetap di Indonesia.”
Aku langsung menatapnya kaget. “Serius? Yang bener?”
“Iya, serius. Bang Izhar dipindah tugaskan ke sini,” jawabnya dengan mata berbinar.
“Masya Allah… alhamdulillah,” sahut ibu senang. “Jadi nanti kalian tinggal di mana?”
“Untuk sementara sih aku sama Kenzo bakal tinggal di rumah Ibu dulu,” jelas Leona. “Sambil cari rumah yang cocok.”
Aku tersenyum lebar. “Wah, jadi makin rame dong.”
“Iya dong. Kamu juga nggak bakal kesepian lagi,” balas Leona sambil menyenggol bahuku.
Saat itu, Kak Satya dan ayah ikut mendekat ke arah kami.
“Lagi bahas apa?” tanya Kak Satya.
“Leona mau pindah ke Indonesia, Kak,” jawabku.
“Oh ya?” Kak Satya mengangguk. “Bagus itu. Jadi keluarga makin dekat.”
“Iya, Sat,” sahut Leona. “Nanti jangan bosan ya kalau aku sering ganggu.”
Kak Satya tersenyum tipis. “Silakan saja.”
“Pegangin Kenzo dulu dong, aku mau ambil minum,” pinta Leona tiba-tiba sambil menyodorkan bayinya ke arahku.
“Eh, aku?” aku refleks mundur sedikit.
“Iya kamu lah. Masa aku kasih ke ayah,” jawabnya santai.
Ayah langsung tertawa. “Kenapa? Takut?”
Aku akhirnya mengalah, menerima Kenzo dengan hati-hati. Bayi itu langsung tersenyum kecil, membuat suasana hatiku sedikit menghangat.
Di tengah keramaian ini, semuanya tampak sempurna.
Hanya saja… ada satu hal yang masih terasa kosong dalam hatiku—yang tidak bisa kulihatkan pada siapa pun.
Dan tanpa sadar, pandanganku kembali bertemu dengan Kak Satya.
Singkat.
Namun, semua itu justru menyisakan lebih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
"Tante Candra, Bang Izhar datang hari ini. Dadakan, aku juga nggak tahu. Kemarin dia bilang masih satu minggu lagi di Malaysia," keluh Leona sambil mengembuskan napas kesal. Setelah menutup telepon, ia berjalan mendekat lalu menjatuhkan dirinya di samping ibu.
"Loh, terus gimana? Siapa yang mau jagain Kenzo kalau kamu pergi jemput Izhar? Tante kan lagi ada acara di luar," sahut ibu dengan nada khawatir.
Suasana sempat hening. Baby Kenzo masih tenang dalam gendonganku, sesekali menggerakkan tangan kecilnya.
Tanpa aba-aba, pandangan ibu dan Leona beralih kepadaku bersamaan.
"Kenapa?" tanyaku polos, sedikit bingung dengan tatapan mereka.
"Boleh ya, Ndra… titip Kenzo sebentar. Hitung-hitung kamu belajar ngurus new born.? Semua kebutuhannya sudah aku bawa," pinta Leona, nada suaranya berubah lebih lembut, hampir memohon.
Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang.
"Nana, ini bukan rumah aku. Kamu izin saja sama Kak Satya," jawabku hati-hati.
Leona mendengkus pelan, jelas tidak sabar. Ia langsung menoleh pada Satya yang sejak tadi memperhatikan kami.
"Boleh kan, Satya? Aku titip Kenzo sebentar di sini," katanya, menatap penuh harap.
Kak Satya tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Leona, lalu pada Kenzo di pelukanku, dan akhirnya padaku. Tatapannya membuat jantungku ikut berdebar tanpa alasan yang jelas.
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.
"Boleh," ucapnya singkat.
Entah kenapa, jawabannya itu membuat hatiku menghangat. Bahkan mungkin… terlalu senang untuk hal yang seharusnya biasa saja.
"Wah, makasih banget, Sat. Ndra, aku titip ya. Aku harus pergi sekarang," ujar Leona buru-buru. Ia mencium pipi Kenzo sekilas, lalu beranjak pergi tanpa sempat menunggu balasan lebih panjang.
Pintu tertutup, menyisakan aku, Kak Satya, sandrina dan Kenzo di dalam rumah.
Aku menatap bayi kecil di pelukanku, lalu tanpa sadar tersenyum.
"Kayaknya dia nyaman sama kamu," suara Kak Satya terdengar dari belakang.
Aku menoleh. "Atau mungkin dia nggak punya pilihan," jawabku setengah bercanda.
Kak Satya terkekeh pelan.
Hari itu, awalnya aku pikir hanya akan sebentar. Tapi waktu berjalan begitu saja. Sore berganti malam, dan Leona tak kunjung kembali.
Aku sempat menghubunginya, namun hanya mendapat balasan singkat: “Ndra, aku masih sama Izhar. Kayaknya aku nggak bisa pulang malam ini. Kenzo nginep ya di sana, please.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
"Leona nggak pulang?" tanya Kak Satya yang berdiri di ambang pintu kamar.
Aku menggeleng pelan. "Iya… Kenzo jadi nginep di sini."
Kak Satya mengangguk, lalu melangkah masuk lebih dekat. Ia menatap Kenzo yang mulai menguap kecil.
"Mama ndra, Kenzo lucu banget ya. Pipinya bulat." ucap drina gadis kecil itu muncul setelah menunaikan salat magrib bersama kak Satya.
"Iya sayang, lucu banget kan." aku dengan perlahan mengganti pakaian Kenzo dengan baju tidur. Bayi kecil itu meracau tidak jelas namun menggemaskan.
Malam itu terasa berbeda. Aku, kak Satya, sandrina dan baby Kenzo tidur bersamaan di ranjang yang sama.
***
"uwwekk uwekk." aku terbangun kala mendengar tangisan dari Kenzo, sudah tiga kali Kenzo terbangun karena haus minta susu.
Dengan perlahan aku mengangkat bayi kecil itu, kemudian berusaha untuk meredakan tangisnya. Namun nihil Kenzo masih saja menangis.
"Ndra, sudah di ganti susunya?" dengan suara sedikit serak kak Satya bertanya. Sepertinya dia terbangun karena tangisan Kenzo yang sedikit keras.
"Belum kak, susu di botol ini sudah dua jam yang lalu". Ucapku sambil menimang-nimang nimang Kenzo.
Tanpa ku sangka, kak Satya bangun dan membantu ku ia menyeduh susu untuk Kenzo.
"Ternyata bayi rewel ya ketika malam." ucapku pelan, ternyata kak Satya mendengarnya.
Tangannya terulur menyerahkan botol susu untuk Kenzo, dengan lahap Kenzo mulai menyedot susu itu.
"Memang seperti itu, bahkan sandrina dulu lebih parah dari Kenzo."
Aku menatap manik kak Satya sejenak. Entah mengapa aku semakin kagum dengan pria itu.
Dukung novel pertama ku ya, dengan like, komen, subscribe. Itu sangat berarti untuku terimakasih.