NovelToon NovelToon
Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Single Mom / Tamat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.

tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ibu bertanya soal satria

Ibu Alana meletakkan sepiring rendang di tengah meja, matanya yang tajam melirik ke arah Alana yang terus-menerus mengecek ponselnya sambil tersenyum.

"Jadi," Ibu memulai dengan nada yang sengaja dibuat santai, namun penuh selidik. "Siapa pria yang fotonya ada di story Instagram tokomu kemarin? Yang bantu bungkus kue itu?"

Alana nyaris tersedak air putihnya. "Oh, itu... Satria, Bu."

"Satria siapa? Teman sekolah? Atau pelanggan yang terlalu rajin?" Ibu duduk, melipat tangan di dada. "Ibu perhatikan, cara dia menatapmu di foto itu bukan cara orang melihat pemilik toko. Itu cara orang melihat pusat dunianya."

Alana merona merah. Ia menceritakan semuanya—tentang hujan yang membawa mereka bertemu, tentang kopi pahit, hingga studio lukis yang Satria siapkan. Ibu mendengarkan tanpa memotong, sesekali mengangguk kecil dengan senyum yang sulit diartikan.

"Dia arsitek?" tanya Ibu lagi.

"Iya, Bu. Dia sangat pekerja keras, tapi tetap punya waktu buat dukung Alana," jawab Alana pelan.

Ibu menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Alana. "Ibu tidak butuh menantu yang kaya raya atau hebat dalam pekerjaannya saja, Alana. Ibu hanya ingin pria yang tahu cara menjagamu saat hujan sedang badai, bukan cuma saat cuaca cerah. Dan dari ceritamu... sepertinya Satria punya payung yang cukup besar untuk kalian berdua."

Ibu kemudian menambahkan dengan nada menggoda, "Bawa dia ke sini minggu depan. Ibu ingin tahu apakah dia bisa menghabiskan sambal buatan Ibu secepat dia menghabiskan waktunya bersamamu."

*******

Pesan dari Alana tentang undangan makan malam itu membuat Satria sempat terdiam di depan layar ponselnya. Namun, bukan Satria namanya jika tidak punya cara unik untuk menenangkan diri.

Malam itu, Satria tiba di rumah Ibu Alana dengan penampilan yang rapi namun tetap santai. Di tangannya, bukan hanya buah tangan biasa, tapi sebuah piringan hitam (vinyl) tua yang ia temukan di toko barang antik.

"Ibu dengar kamu suka musik klasik," ujar Satria saat menyerahkan hadiah itu setelah sesi perkenalan yang canggung di depan pintu.

Ibu Alana mengangkat alis, terkejut. "Bagaimana kamu tahu?"

"Alana pernah bercerita kalau Ibu sering memutar lagu-lagu ini saat sedang memasak di hari Minggu. Saya pikir, musik adalah cara terbaik untuk memulai sebuah percakapan," jawab Satria dengan senyum sopannya yang khas.

Suasana kaku itu seketika mencair saat lagu mulai berputar di sudut ruangan. Ibu Alana tampak sangat terkesan—bukan hanya karena hadiahnya, tapi karena Satria benar-benar memperhatikan detail terkecil tentang keluarga Alana.

Selama makan malam, interogasi yang Alana takuti berubah menjadi diskusi hangat tentang arsitektur, masa kecil, dan harapan. Satria menjawab setiap pertanyaan Ibu dengan jujur, tanpa dibuat-buat. Bahkan saat Ibu menyajikan sambal ekstra pedas sebagai "tes terakhir", Satria menghabiskannya tanpa mengeluh, meski telinganya mulai memerah.

Di akhir malam, saat Satria sedang membantu mencuci piring—sebuah pemandangan yang membuat Alana terharu—Ibu membisikkan sesuatu kepada putrinya di dapur.

"Dia punya nada yang pas, Alana. Tidak terlalu keras sampai mendominasi, tapi cukup kuat untuk membuat harmoni."

********

Malam itu berakhir dengan hangat, tapi Satria tidak ingin momen itu berlalu begitu saja tanpa penutup yang berkesan. Setelah berpamitan pada Ibu Alana, ia mengajak Alana berjalan kaki sebentar menuju motornya yang diparkir di bawah pohon rindang di depan rumah.

Lampu jalanan temaram menyinari wajah Satria yang tampak lega. "Bagaimana? Apa aku lolos ujian sambal ibumu?" tanyanya sambil tertawa kecil, meskipun bibirnya masih sedikit merah karena pedas.

Alana tertawa, menyandarkan tubuhnya ke pagar rumah. "Lebih dari sekadar lolos, Sat. Ibu bilang kamu punya 'nada' yang pas. Itu pujian tertinggi yang pernah kulihat keluar dari mulutnya."

Satria kemudian meraih tangan Alana, menatapnya dalam-dalam. Keheningan malam itu terasa sangat nyaman, hanya ada suara jangkrik dan sayup-sayup lagu dari piringan hitam yang masih terdengar dari dalam rumah.

"Alana, malam ini aku melihat masa depan," ucap Satria pelan. "Aku melihat diriku bukan hanya duduk di kafemu, bukan hanya membantumu di toko kue, tapi duduk di meja makan itu bersama keluargamu. Menjadi bagian dari tawamu, bahkan bagian dari sambal pedas ibumu."

Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah pemutar musik kecil (MP3 player) yang sudah ia pasangkan dengan satu set earphone. Ia memberikan satu sisi pada Alana, dan satu sisi untuknya sendiri.

Begitu musik diputar, terdengar sebuah lagu instrumental piano yang lembut namun memiliki tempo yang kuat—persis seperti hubungan mereka. "Ini lagu yang aku buat di studio minggu lalu," bisik Satria. "Aku menamainya 'Rain in a Cup'. Karena semuanya bermula dari hujan dan secangkir kopi."

Alana mendengarkan melodi itu dengan mata berkaca-kaca. Musik itu bercerita tentang pertemuan, keraguan, hingga kepastian yang kini mereka miliki. Di bawah langit malam, di depan rumah masa kecilnya, Alana sadar bahwa Satria bukan hanya pria yang ia temui di kafe; dia adalah lagu yang ingin ia dengar selamanya.

*****

Lagu instrumental itu masih mengalun di telinga mereka, menciptakan ruang kedap suara di tengah sepi jalanan kompleks. Namun, Satria belum selesai dengan kejutannya malam itu.

Saat melodi piano mencapai bagian yang paling lembut, Satria melepaskan earphone dari telinganya sendiri, tapi membiarkan Alana tetap mendengarkannya. Ia berlutut di satu lutut, tepat di atas aspal yang masih sedikit lembap sisa embun malam.

Alana menutup mulutnya dengan tangan, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat mereka memacu motor di perbukitan.

"Alana," suara Satria bergetar sedikit,

menunjukkan sisi rapuhnya yang jarang ia perlihatkan. "Dulu aku arsitek yang hanya percaya pada garis lurus dan perhitungan pasti. Tapi kamu datang seperti hujan yang tidak terduga, merusak semua rencana kakuku dan menggantinya dengan warna yang lebih indah."

Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya bukan berlian besar yang mencolok, melainkan sebuah cincin emas putih dengan ukiran halus menyerupai pucuk daun kopi dan tekstur kertas buku.

"Aku tidak menjanjikan hidup yang selalu cerah. Tapi aku janji akan selalu ada untuk memegang payung saat hujan turun, dan menemanimu memanggang kue saat pagi tiba. Maukah kamu menulis bab-bab selanjutnya dalam hidupku, selamanya?"

Air mata Alana jatuh, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang meluap. Di teras rumah ibunya, dengan lagu buatan Satria yang masih berdenting di telinga kirinya, ia mengangguk mantap.

"Ya, Satria. Sejuta kali ya."

Satria menyematkan cincin itu di jari manis Alana, lalu berdiri dan memeluknya erat. Dari jendela lantai atas, terlihat gorden yang sedikit tersingkap—Ibu Alana mengintip dengan senyum lebar dan mata yang berkaca-kaca, tahu bahwa putrinya telah menemukan irama hidup yang paling sempurna.

1
falea sezi
lo uda end kah
falea sezi
ini MC nya cwek apa cowok
erin: izin cewe kak 🙏
total 1 replies
falea sezi
seru moga bagus ampe ending q ksih hadiah biar g kosong
erin: semoga menikmati yah kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!