dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkembangnya Usaha Dan Langkah Baru Masuk SMP
Bazar yang aku ikuti ternyata bukan hanya sekadar kejadian singkat. Itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Berkat pujian dan dukungan orang-orang, permintaan untuk kerajinan tanganku mulai datang. Bu RT sering memesankan kotak penyimpanan untuk acara arisan, tetangga meminta pot bunga untuk hiasan rumah, bahkan ada toko kelontong di dekat pasar yang mau menitipkan hasil karyaku untuk dijual.
Aku menyebutnya "Usaha Brokat"—nama yang aku pilih sendiri karena aku sering menggunakan sisa kain brokat berwarna-warni untuk menghias barang-barang buatan ku. Nama itu terdengar indah, dan rasanya seperti memberi identitas baru pada diriku yang dulu hanya dianggap sampah.
Setelah sekian lama akhirnya aku lulus sd dan berencana melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya yaitu SMP.
Kini uang yang aku dapatkan tidak lagi hanya cukup untuk makan sehari-hari. Aku mulai bisa menabung sedikit demi sedikit. Dan tabungan inilah yang menjadi penyelamatku saat aku diterima di sekolah SMP negeri terdekat.
Meskipun sekolah di SMP ini memiliki fasilitas yang gratis untuk siswa kurang mampu seperti aku, tetap saja ada beberapa biaya untuk buku paket dan perlengkapan sekolah lainnya. Dulu, mungkin aku akan langsung menyerah dan berpikir untuk berhenti sekolah saja karena tidak punya uang. Tapi sekarang, aku punya Usaha Brokat-ku.
Aku pergi ke kantor tata usaha sekolah dengan perasaan campur aduk. Aku membawa tabunganku yang isinya masih belum cukup untuk membayar semuanya sekaligus. Namun, seperti yang aku dengar, sekolah ini memang memiliki kebijakan khusus bagi siswa yang kurang mampu dan juga siswa yang yatim piatu—kelonggaran waktu untuk membayar, atau bisa dicicil.
"Pak, saya... saya mau daftar ulang. Tapi uang saya baru segini," kataku pelan sambil menyerahkan uang tabunganku dan surat keterangan tidak mampu yang ku minta dari RT/RW. "Boleh tidak kalau sisanya saya cicil? Saya janji akan saya lunasi perlahan-lahan. Saya punya usaha kecil-kecilan membuat kerajinan tangan."
Pak Tata Usaha yang menerima berkasku menatapku dengan tatapan ramah. Dia menghitung uang yang kuberikan, lalu melihat surat keteranganku.
"Boleh saja, Nak. Memang sekolah kita mengizinkan hal itu untuk siswa yang benar-benar membutuhkan dan berniat belajar sungguh-sungguh," jawab Pak TU dengan senyum. "Kamu bisa mencicilnya kapan saja, sesuai kemampuanmu, asalkan dilunasi sebelum ujian akhir semester nanti. Itu peraturannya untuk membantu anak-anak seperti kamu yang tetap ingin sekolah meski dalam keterbatasan."
Hatiku terasa lega sekali, seolah beban berat baru saja diangkat dari pundakku. "Benarkah, Pak? Terima kasih banyak! Terima kasih!" seruku tak kuasa menahan rasa haru.
Aku pun resmi menjadi siswa SMP. Setiap kali aku mendapatkan pesanan kerajinan, sebagian uangnya langsung kusisihkan untuk membayar cicilan buku paketku. Aku bekerja lebih giat lagi. Siang hari sepulang sekolah, aku mengerjakan pesanan, dan malam harinya aku belajar. Meski kadang masih merasa kesulitan dalam pelajaran, aku tidak takut lagi. Aku punya cara sendiri untuk bertahan dan membuktikan bahwa aku bisa.
Membayar buku paket secara mencicil bukanlah hal yang memalukan bagiku. Itu justru menjadi bukti bahwa aku berjuang dengan keringat dan tanganku sendiri. Aku tidak meminta-minta, aku bekerja keras. Dan setiap kali aku membayar sebagian uangnya ke kantor sekolah, aku merasa semakin bangga pada diriku sendiri. Takdirku benar-benar akan berubah. Aku bukan lagi beban, aku adalah pejuang yang sedang membangun masa depanku sendiri.