Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Pengkhianat di Balik Pintu Baja
Kekacauan yang meledak di stasiun televisi nasional tadi malam adalah sebuah detonator. Pagi ini, Jakarta terasa berbeda. Di setiap sudut kota, orang-orang tidak lagi membicarakan "Teroris Arga," melainkan skandal korupsi yang melibatkan Keluarga Rajendra dan jajaran birokrat kelas atas. Namun, bagi Arga, kemenangan kecil itu hanyalah pembuka luka yang lebih dalam.
Ia berdiri di balkon sebuah apartemen murah di kawasan pinggiran Jakarta, memandang cakrawala yang tertutup polusi. Tangannya gemetar hebat. Efek dari penggunaan Mustika yang dipaksakan semalam mulai menagih hutang; pembuluh darah di lengannya tampak menghitam, dan ia bisa merasakan detak jantungnya yang tidak lagi berirama, melainkan berdegup seperti mesin yang akan meledak.
“Jangan terbuai oleh kemenangan itu, Inang,” suara Macan Kencana terdengar lemah, nyaris seperti embusan napas. “Kita telah menarik perhatian 'Jagat Mahesa'. Dia tidak peduli pada politik, dia tidak peduli pada uang. Dia hanya peduli pada apa yang tersimpan di dalam dadamu. Dia adalah predator yang tidak pernah tidur.”
Arga tidak merespons. Ia menyalakan ponselnya yang kini menjadi target pelacakan tingkat tinggi. Ada sebuah pesan masuk dari nomor anonim yang terenkripsi—sebuah koordinat lokasi dan satu kalimat pendek: “Sari ada di sini, jika kau berani mempertaruhkan nyawamu untuk hal yang sia-sia.”
Arga tahu itu jebakan. Namun, ia tidak punya pilihan.
Ia melangkah keluar, namun pintu apartemennya mendadak bergetar hebat. Seseorang menendangnya dari luar. Brak! Pintu baja itu penyok ke dalam. Arga segera mengambil posisi siaga. Ia tidak menggunakan Mustika; ia mengambil pisau dapur yang telah ia asah hingga setajam silet dan menempelkannya di balik lengan bajunya.
Pintu itu roboh. Tiga pria masuk dengan gerakan yang tidak seperti pasukan elit Rajendra yang kaku. Mereka bergerak dengan efisiensi mematikan—para agen yang dilatih untuk tidak meninggalkan jejak.
Arga tidak menunggu. Ia menerjang maju, menggunakan momentum berat tubuhnya untuk membanting pria pertama ke lantai. Ia tidak memukul—ia mematahkan pergelangan tangan pria itu dengan satu hentakan, mengambil senjata otomatis yang terjatuh, dan menggunakannya untuk menembak lantai di depan kaki dua pria lainnya sebagai peringatan.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Arga, suaranya dingin, namun ada guncangan emosi yang tertahan di dalamnya.
Salah satu pria itu tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir kau bisa menguasai permainan ini, Arga? Keluarga Wijaya, keluarga Rajendra... mereka hanyalah bidak. Kami mewakili sesuatu yang jauh lebih tua."
Pria itu menekan sesuatu di telapak tangannya—sebuah perangkat EMP (Electromagnetic Pulse). Zzzzt! Seluruh aliran listrik di apartemen itu padam seketika. Ruangan menjadi gelap gulita.
Arga bisa mendengar mereka bergerak dalam kegelapan. Ia memejamkan mata, mematikan indra penglihatannya, dan mengaktifkan pendengarannya. Ia bisa mendengar gesekan kain, napas yang teratur, dan detak jantung yang beradu dengan logam.
Satu... dua...
Arga bergerak di antara kegelapan. Ia tidak butuh cahaya. Ia menggunakan setiap inci ruangan. Ia menyapu musuh dengan serangan balik yang tidak terduga. Namun, pria yang tadi tertawa ternyata lebih ahli. Ia berhasil menghantam rahang Arga dengan gagang senjata, membuat Arga terhuyung ke arah jendela.
Arga terhempas ke kaca jendela, memecahkannya, dan jatuh ke balkon lantai bawah. Rasa sakit menghantam punggungnya. Ia batuk darah. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak berdaya. Tanpa Mustika, tubuhnya hanyalah tubuh manusia biasa yang bisa rusak.
“Inang! Gunakan aku! Hanya kali ini, atau kau akan mati di tangan tikus-tikus ini!” raung Macan Kencana.
Arga menahan napas. Ia menatap ke langit malam Jakarta yang tercemar. Ia harus memilih: menyerahkan diri pada sang monster di dalam dadanya dan hidup sebagai budak, atau mati sebagai pria yang berjuang dengan kekuatannya sendiri.
"Tidak," bisik Arga. "Aku akan tetap menjadi Arga."
Ia memungut pecahan kaca besar dari lantai balkon. Saat agen tadi melompat dari jendela untuk menghabisinya, Arga tidak menghindar. Ia justru maju menyambut serangan itu, menggunakan pecahan kaca untuk mengiris titik saraf di kaki musuhnya.
Pria itu jatuh tersungkur. Arga menindihnya, mencengkeram lehernya. "Siapa nama yang kalian layani? Jika kau tidak mengatakannya, aku akan membiarkanmu mati sebagai orang yang gagal."
"Jagat... Mahesa..." bisik pria itu sebelum kehilangan kesadaran.
Arga melepaskannya. Ia berdiri dengan napas tersengal, tubuhnya dipenuhi memar. Ia tahu nama itu. Jagat Mahesa. Itu adalah nama yang sering disebut oleh Paman Hendra Wijaya dalam memo pribadinya yang sempat Arga retas malam itu.
Arga berjalan tertatih-tatih meninggalkan apartemen yang hancur. Di tengah hujan yang mulai turun kembali, ia merasa bahwa ia telah memenangkan pertempuran kecil, namun ia baru saja membuka pintu ke neraka yang sebenarnya.
Jagat Mahesa bukanlah orang yang bisa dihancurkan dengan berita di media. Dia adalah pria yang mengendalikan negara dari balik layar. Dan sekarang, Jagat Mahesa tahu di mana Arga berada.
Arga menatap bros melati di tangannya yang kini berlumuran darah. Ia tidak akan berhenti. Jika Sari adalah umpan untuk menariknya masuk ke dalam sarang Jagat Mahesa, maka Arga akan masuk dengan membawa kehancuran.
Hujan telah berhenti, namun sisa-sisa air yang menetes dari atap apartemen menciptakan suara ritmik yang memekakkan telinga. Arga duduk di atas lantai balkon yang dingin, memijat dadanya yang terasa seperti dihimpit oleh mesin hidrolik. Napasnya masih pendek-pendek; setiap kali ia menarik oksigen, rasa sakit menjalar dari tulang rusuk yang retak hingga ke ujung jarinya.
Ia baru saja selamat dari maut. Agen-agen yang dikirim oleh Jagat Mahesa bukanlah preman bayaran; mereka adalah instrumen presisi yang dirancang untuk memutus urat nadi targetnya tanpa meninggalkan residu.
“Inang...” suara Macan Kencana kali ini lebih tenang, nyaris seperti dengkur seekor predator yang sedang memulihkan diri. “Jika kau terus bertarung seperti manusia biasa, kau tidak akan bertahan sampai ke fajar berikutnya. Tubuhmu butuh asupan nutrisi yang jauh melampaui makanan manusia, dan kau butuh tempat untuk menyembuhkan retakan di tulangmu.”
Arga tidak merespons. Ia mengambil bros bunga melati yang kini ternoda darah dan menyimpannya kembali di saku dalam jaketnya. Ia berdiri, meski setiap otot di tubuhnya menjerit protes. Tidak ada waktu untuk berdiam diri. Di kota ini, berhenti bergerak berarti mati.
Ia meninggalkan apartemen tersebut sebelum polisi atau tim bersih-bersih Mahesa datang. Arga menyusuri gang-gang belakang, menghindari kamera pengawas yang dipasang di setiap tiang listrik oleh pemerintah yang kini memburunya sebagai "Teroris Paling Dicari".
Tujuannya adalah Pasar Burung, sebuah kawasan pasar gelap di pusat Jakarta yang tidak pernah terdeteksi oleh radar digital. Di sana, hukum yang berlaku adalah hukum barter. Dan mata uang utamanya bukan Rupiah, melainkan informasi.
Sesampainya di sana, Arga menarik tudung jaketnya hingga menutupi wajah. Suasana pasar sangat kontras dengan kemegahan menara kaca yang baru saja ia hancurkan. Di sini, bau amis ikan bercampur dengan bau asap rokok kretek yang murahan. Ia berjalan menuju sebuah kios kecil yang menjual onderdil motor bekas, di mana seorang pria tua dengan mata satu sedang sibuk mengotak-atik gir mesin.
"Aku mencari jalan menuju Jagat Mahesa," ujar Arga singkat, tanpa basa-basi.
Pria tua itu tidak mendongak. Ia hanya memutar kunci inggris di tangannya. "Nama itu adalah racun, anak muda. Banyak orang yang mencoba mencarinya berakhir dengan lidah mereka yang dipotong atau tubuh mereka yang dijadikan pupuk di perkebunan sawit di luar pulau. Pergilah sebelum aku memanggil penjaga pasar."
Arga meletakkan sebuah hard drive di atas meja kerja pria itu—data hasil peretasan brankas Hendra Wijaya yang belum sempat ia unggah ke publik. Data itu berisi daftar transaksi terlarang yang melibatkan oknum di pasar ini.
Pria itu berhenti bergerak. Ia mendongak, matanya yang satu menatap Arga dengan rasa takut sekaligus takjub. "Kau... kau adalah orang yang meruntuhkan menara kaca itu?"
"Aku hanya seseorang yang mencari kebenaran," sahut Arga.