NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Pagi di pinggiran Yogyakarta itu datang dengan cara yang paling sopan. Tidak ada deru ombak yang menuntut nyawa, tidak ada desis akar yang mencekik batin, dan tidak ada lagi bau tanah pusara yang menyesakkan. Yang ada hanyalah semburat cahaya emas yang menyelinap malu-malu di balik gorden kain mori, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam dan wangi bunga kenanga yang mekar di sudut halaman.

Nirmala mengerjapkan matanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak terbangun karena mimpi buruk tentang pohon randu atau kegelapan laut. Ia bangun karena mendengar suara tekukur di dahan pohon mangga dan bunyi sruk-sruk sapu lidi yang sedang digunakan Ibu Lastri di halaman depan.

Nirmala menarik napas panjang. Paru-parunya terasa bersih. Di dalam batinnya, ia mencoba "mendengarkan" suasana rumah. Suara batin yang tertangkap bukanlah ketakutan, melainkan gema syukur yang tulus dari Ibunya, Gusti, terima kasih anakku sudah tidur nyenyak.

Nirmala tersenyum. Inilah kemenangan yang sesungguhnya.

Nirmala melangkah menuju dapur, kakinya yang telanjang merasakan dinginnya lantai tegel yang bersih. Di sana, Ibu Lastri sedang sibuk di depan tungku kayu yang apinya menjilat-jilat manja di bawah wajan besi. Aroma nasi goreng kunyit yang gurih beradu dengan wangi kopi tubruk pahit kesukaan Aki.

"Sudah bangun, Cah Ayu?" tanya Ibu Lastri tanpa menoleh, tangannya lincah mengosreng nasi dengan bumbu ulekan bawang putih dan kemiri.

"Sudah, Bu. Segar sekali rasanya." jawab Nirmala sambil mendekat.

Ia memperhatikan punggung ibunya yang sedikit membungkuk. Lewat kepekaan batinnya yang baru, Nirmala bisa merasakan ada rasa pegal yang menjalar di bahu kiri ibunya, sisa kelelahan karena ketegangan semalam. Tanpa banyak bicara, Nirmala berdiri di belakang ibunya dan meletakkan telapak tangannya di bahu tersebut.

"Nir? Sedang apa?"

"Diam sebentar Bu." bisik Nirmala lembut.

Ia memejamkan mata, menyalurkan sedikit rasa hangat dari hatinya. Bukan energi penyembuh untuk melawan setan, tapi sekadar kasih sayang seorang anak. Dalam hitungan detik, Nirmala merasakan otot-otot ibunya yang tegang mulai mengendur. Rasa pegal itu luruh, digantikan oleh sensasi ringan yang membuat Ibu Lastri menghela napas panjang dengan lega.

"Lho... kok mendadak enteng sekali bahu Ibu? Kamu pakai jamu apa, Nir?" canda Ibu Lastri sambil tertawa kecil, mencubit gemas pipi Nirmala.

Nirmala tertawa, suara tawanya terdengar renyah dan sangat manusiawi. "Jamu kasih sayang, Bu. Gratis setiap pagi."

Di halaman samping, Arka sedang membantu Aki memperbaiki pagar bambu yang sedikit miring. Matanya hari ini tidak mencari hantu. Ia hanya melihat seekor kucing liar transparan, sosok penjaga rumah yang sudah lama ada di sana, sedang tertidur pulas di atas tumpukan kayu bakar, ikut menikmati ketenangan keluarga itu.

"Arka talinya tarik sedikit lagi" instruksi Aki sambil memegang bambu dengan tangan tuanya yang masih kuat.

Arka menarik tali ijuk itu dengan mantap. "Sudah, Aki. Besok saya belikan cat kayu, biar pagarnya lebih cantik."

Aki menatap Arka, lalu menatap rumah mereka yang sederhana namun terasa sangat "bernyawa". "Kebahagiaan itu sebenarnya sederhana ya, Le. Tidak perlu menaklukkan dunia atau punya gedung tinggi. Cukup punya tempat untuk pulang dan orang-orang yang menunggu dengan nasi hangat di meja."

Arka mengangguk setuju. Ia memandang ke arah jendela dapur di mana ia bisa melihat siluet Nirmala yang sedang membantu ibunya. Lewat kemampuan barunya, ia tidak perlu lagi melihat energi hijau, ia cukup merasakan ketenangan yang memancar dari keberadaan Nirmala. Tidak ada lagi beban rahasia di antara mereka. Hanya ada rencana-rencana kecil tentang masa depan, tentang tanaman apa yang akan ditanam, atau kapan mereka akan pergi ke pasar bersama.

Momen puncak kedamaian itu terjadi saat siang hari. Mereka tidak makan di meja makan, melainkan menggelar tikar pandan di teras belakang yang menghadap langsung ke hamparan sawah hijau yang sedang menguning.

Menu siang itu sangat bersahaja namun terlihat seperti pesta bagi mereka, sayur lodeh tewel (nangka muda) dengan kuah santan yang gurih, tempe garit yang digoreng garing, sambal terasi mentah, dan lalapan pucuk daun pepaya.

"Ayo Arka, jangan malu-malu. Habiskan sambalnya." ucap Aki sambil menyuap nasi dengan tangan (muluk), sebuah kenikmatan yang tak tergantikan.

"Ini masakan Ibu yang paling enak Nir." puji Arka sambil mengunyah tempe yang masih panas.

Nirmala hanya tersenyum, menyodorkan piring berisi kerupuk kaleng ke arah Arka. Mereka mengobrol tentang banyak hal ringan, cerita Aki tentang masa mudanya yang lucu, hingga rencana Nirmala untuk membuat kebun herbal di pojok halaman agar bisa digunakan untuk membantu tetangga yang sakit ringan.

Tidak ada satu pun kata "Sandiwayang", "Saraswati", atau "Santet" yang keluar. Seolah-olah kata-kata itu adalah kotoran yang tidak boleh mengotori jamuan makan siang yang suci ini. Mereka tertawa lepas, sebuah tawa yang benar-benar lahir dari perut, bukan tawa pahit yang dipaksakan di tengah pelarian.

Saat matahari mulai condong ke barat, memberikan warna tembaga pada awan-awan di langit Yogyakarta, Arka dan Nirmala berjalan pelan di pematang sawah di belakang rumah. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma padi dan sedikit bau kayu manis dari dapur Ibu Lastri yang sedang merebus wedang jahe.

Mereka berhenti di sebuah jembatan kayu kecil di atas parit yang airnya jernih. Arka menatap wajah Nirmala yang kini terlihat sangat tenang di bawah cahaya senja. Tidak ada lagi retakan kristal, tidak ada lagi tatapan kosong yang menakutkan.

"Nir..." Arka meraih tangan Nirmala, menggenggamnya erat. "Terima kasih sudah memilih untuk pulang."

Nirmala menatap mata Arka. Lewat kemampuannya, Arka bisa melihat bahwa di dalam batin Nirmala sekarang hanya ada kedamaian, seperti telaga yang tidak lagi diganggu oleh badai.

"Aku yang berterima kasih, Arka. Karena kau tidak pernah melepaskan genggamanmu, bahkan saat tanganku sudah menjadi batu karang yang tajam." jawab Nirmala lembut.

Arka mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah cincin sederhana dari jalinan akar pohon kayu manis yang sudah kering namun wangi. Ia memakaikannya ke jari manis Nirmala. Bukan emas, bukan permata, tapi sesuatu yang hidup dan tumbuh dari bumi yang damai.

"Ini janji dariku Nir. Bahwa mulai hari ini, petualangan kita bukan lagi untuk lari dari kutukan, tapi untuk menjaga kebahagiaan ini. Apa pun yang datang nanti hantu, santet, atau apa pun, kita akan hadapi sebagai manusia biasa yang punya cinta luar biasa."

Nirmala mencium aroma kayu manis dari cincin itu, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arka. Di depannya, matahari terbenam dengan sangat anggun, seolah memberikan restu pada kehidupan baru mereka.

"Inilah kemenangan kita yang sebenarnya, Arka. Bisa melihat senja tanpa rasa takut akan kegelapan malam." bisik Nirmala.

Mereka berdua berdiri di sana, di ambang kehidupan baru mereka. Sebuah kehidupan di mana aroma kayu manis selalu menyertai setiap napas, dan cinta menjadi satu-satunya kekuatan yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang tak kasat mata.

1
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
angel angel Nirmala wes kacau pikirane kok🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
wet randu, yang menghasilkan kapok buat kasur kan🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
siapa wanita pinjaman itu?
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
So sweet🥰
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Aku mau nganan aja deh🤣🤣
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Itu lamaran tersirat?
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: udh diem mereka bukan lamaran hanya saling melindungi sajaaaa🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
lumayan tenangnya lebih dari se jam lah Arka. Othor dah baik nih, bentar lagi siap2 sesak napas
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: libur lagi😭
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Biasanya kalau kembali ke pengirimnya, itu bahaya. mitos gak othor? 😭🥺 tiba2 kepo🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: nanya Nirma dong, kabarnya yang ngirim kek mana? 🤣
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Yakinlah, kalian pasti bisa menghadapi setiap masalah bersama-sama
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Terserah yg penting seram dan seru/Proud/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Percayalah, kalian pasti bisa mengamalkan kemampuan kalian dijalan yg baik, yakni memberi pertolongan pada mereka yg membutuhkan😉
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mereka yang turun, aku yang sesak napas, kenapa ya? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: sabar sabar sabarrrr
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Syukurlah Nirmala selamat. Syukurlah kalian semua pulang dalam keadaan baik² saja🤧
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: iya masa dua duanya mengsedih nanti auto kena demo aku😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hidup nirmala selalu aja ada cobaan 🗿
💜⃞⃟𝓛 ѕ⍣⃝✰『⃟𝐉🌹ɔı༊²⁶
astaghfirullah kok aku pakai akun ini baca😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: wah wah gk bisa lupa dari happy eid Mubarak nih😭😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Apa²an ini othor/Curse/ jangan biarkan Nirmala pergi/Cry/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: kau juga gk tw ini kenapa 😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apa pula judul nya happy ied mubarak😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
janji apa?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
putri duyung? 😱
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
semoga berhasil nir
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah disana akan aman?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti ibu Lastri mau putra nya sembuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!