NovelToon NovelToon
Pria Titisan Raja

Pria Titisan Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:32.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Pentingnya Dokumentasi

"Tolong anak saya..." Kata si Bapak dengan wajah panik.

"Mana anaknya, Pak? Anaknya kenapa?" Tanya Wildan sambil celingukan mencari keberadaan anaknya.

"Anak saya di rumah, Pak. Kepalanya kesangkut di antara celah teralis jendela." Jawab si Bapak.

"Astaghfirullah! Kok bisa?" Tanya Oji.

"Gak tau, Pak. Namanya juga musibah." Jawab si Bapak.

"Iya juga, ya." Kekeh Wildan yang menular pada Oji.

"Yaudah, kita siapkan peralatan dulu ya, Pak." Kata Kalandra yang segera beranjak.

"Aku sama Oji ambil motor, Kal. Sekalian laporan." Seru Wildan yang di jawab acungan jempol oleh Kalandra.

Setelah semua siap, mereka segera pergi ke rumah si Bapak dengan berboncengan motor. Ternyata rumah si Bapak berada tak jauh dari Markas Damkar.

"Ya Allah, gimana bisa kepalanya masuk sini sih, Dek?" Kata Kalandra yang merasa heran sendiri.

"Gak tau ini, Pak. Ada aja proyeknya." Jawab si Ibu yang memegangi tubuh anak laki - laki berusia empat tahun itu.

"Mana cengar - cengir aja, kamu. Kamu gak tau, Bapakmu lari - lari sampe gak sempet nafas gara - gara kamu." Kata Oji yang membuat mereka tertawa.

Kalandra dan Oji pun bersiap dengan menggunakan APD. Sementara Wildan membantu menyiapkan peralatan yang mereka butuhkan untuk memotong tralis besi. Tak lupa, mereka berdoa sejenak untuk memohon kemudahan dan keselamatan saat bertugas.

Setelah menutupi bagian kepala hinga leher si anak dengan handuk basah, Kalandra pun mulai menghidupkan mesin gerindra yang sudah di siapkan oleh Wildan.

"Jangan gerak - gerak ya, Dek. Ibunya tolong di peluk aja anaknya." Titah Oji yang sudah memegangi kepala si anak.

"Berdoa ya, Dek." Kata Kalandra yang bersiap untuk memotong besi.

Dengan suara keras, anak laki - laki itu justru membaca doa sebelum makan sambil memejamkan matanya. Bukannya mulai bekerja, mereka semua justru terbahak - bahak karena mendengar doa yang di baca si Anak.

"Aduh, ya Allah. Kok malah ngelawak." Komentar Kalandra di sela- sela tawanya.

Setelah kembali siap, Kalandra pun mulai memotong teralis besi dengan mengunakan grindra.

"Zikir, Dek. Gak usah takut, Om nya udah biasa motong yang keras - keras kok." Kata Oji.

"Motong apa Om? Motong besi?" Tanya si Anak.

"Bukan, tapi motong leher anak yang bandel." Sahut si Bapak yang membuat si Anak langsung menjerit.

Setelah berhasil memotong salah satu besi, Kalandra di bantu Wildan kemudian membenggangkan besi itu hingga dapat memperbesar celah untuk jalan keluar kepala si Anak.

"Tarik lagi, Wil." Kata Kalandra sembari mengamati ukuran celah yang ia buat.

"Susah, Kal." Jawab Wildan.

"Tahan lagi, ya. Aku potong bagian satunya." Kata Kalandra yang memberi instrusi pada Wildan.

"Sabar ya, Dek. Jangan gerak - gerak." Kata Klandra.

"Tuh, dengerin. Jangan gerak - gerak, nanti kepotong lehermu." Kata si Bapak yang justru meledek anaknya. Tak ayal, hal itu kembali membuat Kaladra, Oji dan Wildan terkekeh geli.

"Nah, coba tarik, Wil." Kata Kalandra setelah berhasil memotong bagian lain. Wildan dan Kalandra pun kembali membenggangkan besi itu.

"Sip! Bantu keluar pelan - pelan, Ji." Titah Kalandra ketika melihat celah itu sudah bisa di lewati.

"Pelan - pelan, Dek." Kata Oji yang membantu mengatur posisi kepala si Anak agar tak terkena bagian besi yang terpotong.

"Alhamdulillah." Lirih mereka semua hampir bersamaan saat si Anak berhasil di tolong.

"Makasih ya, Om Damkar." Ucap si Anak.

"Iya, sama - sama. Besok lagi jangan main sembarangan, ya." Pesan Kalandra yang di jawab anggukan oleh si Anak.

"Tuh! Dengerin, jangan di ulangin lagi. Aneh - aneh aj kamu ini mainannya." Gemas si Ibu sambil menarik hidung putranya.

"Makasih banyak ya, Pak. Maaf ngerepotin malem - malem." Ucap si Bapak.

"Iya, gak apa - apa, Pak. Kami permisi dulu kalau begitu." Pamit Kalandra.

"Pak ini, buat beli kopi." Kata si Bapak yang menyerahkan amplop sambil menyalami Kalandra.

"Eh! Jangan, Pak." Tolak Kalandra yang langsung menarik tangannya.

"Gak apa - apa, Pak. Saya ikhlas. Saya berterima kasih sekali." Kata si Bapak yang sedikit memaksa.

"Kami juga ikhlas kok, Pak. Memang ini salah satu tugas kami ntuk membantu masyarakat." Jawab Kalandra.

"Bener, Pak. kami jangan di kasih hadiah. Bisa - bisa kami di kasih sanksi karena menerima gratifikasi." Imbuh Wildan.

"Oh, gitu, ya? Yasudah, terima kasih banyak ya, Pak. Mudah - mudahan Allah memberi pahala yang berlipat ganda untuk Bapak Damkar semua." Kata si Bapak dengan tulus.

"Aamin. Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak." Pamit Kalandra.

Kalandra, Oji dan Wildan kemudian segera kembali ke Markas setelah menyelesaikan tugas mereka. Sesampainya di Markas, salah satu Anggota yang berjaga malam itu menghampir Kalandra, Oji dan Wildan yang baru memarkirkan motor.

"Kal, di panggil sama Komandan." Kata Rian dengan wajah khawatir.

"Kenapa, Yan?" Tanya Wildan.

"Itu, pemilik mobil yang tadi siang, dateng kesini dan mengajukan keluhan. Dia ngamuk - ngamuk karena mobilnya kita gulingin." Jawab Rian.

"Waah! Bener - bener tuh orang. Udah salah, tapi gak tau diri." Geram Oji.

"Komandan belum pulang?" Tanya Kalandra.

"Belum tuh, masih di ruangannya." Jawab Rian.

"Emang kamu gak nyampein itu ke Komandan, Kal?" Tanya Wildan.

"Udah. Udah ada di laporan yang aku buat dan aku serahin ke Komandan." Jawab Kalandra.

"Yaudah, aku ke ruangan Komandan dulu." Kata Kalandra yang kemudian berjalan cepat menuju ke ruangan Komandannya.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk." Suara si empunya ruangan yang mempersilahkan. Kalandra pun segera masuk ke dalam ruangan.

"Duduk, Kal." Titah Komandan. Pria itu tampak tenang seperti biasanya.

"Ada apa, Ndan?" Tanya Kalandra.

"Apa benar, tadi kalian menggulingkan sebuah mobil yang ada di tepi jalan?" Tanya Komandn Salim.

"Benar, Ndan. Mobil itu terparkir di tepi jalan sempit menuju ke Perumahan yang siang tadi terbakar." Jawab Kalandra yang membuat Komanda Salim manggut - manggut.

"Saya sebenarnya sudah membaca laporan yang kamu buat, tetapi ada beberapa bagian yang berbeda dengan yang di sampaikan oleh pemilik mobil." Kata Komandan Salim. Komandan Salim kemudian menceritakan kronologi kejadian versi si pemilik mobil.

Kalandra menghembuskan nafas panjang. Ia memang sudah menduga jika ini memang akan terjadi. Pemilik mobil pasti akan mencari - cari alasan atau bahkan memutar balikkan fakta supaya bisa mendapat kompensasi.

"Itu gak benar, Ndan. Bahkan warga gak tau siapa pemilik mobil itu dan dimana orangnya saat itu." Kata Kalandra.

"Saya memiliki bukti berupa foto dan vidio yang di ambil oleh beberapa warga yang ada di lokasi kejadian. Salah satu anggota kita juga sengaja merekam kejadian saat itu sebagai barang bukti." Kata Kalandra.

"Bagus!" Puji Komandan Salim sambil tersenyum lega.

"Kamu memang selalu teliti. Segera kirimkan bukti - bukti pada saya. Kalian gak usah khawatir, saya akan mengurus sisanya." Kata Komandan Salim tanpa ragu. Ia tentu sangat memercayai anggotanya. Mereka tentu tak pernah asal bertindak.

"Baik, Ndan." Jawab Kalandra.

"Baiklah, kamu boleh keluar." Ujar Komandan Salim yang di jawab anggukan oelh Kalandra.

Begitu keluar dari ruangan Komandan Salim, Kalandr segea mengambil ponselnya yang ada di dalam loker. Ia lalu mengiriman semua foto dan vidio yang ia dapatkan pada Komadan Salim.

"Kal! Gimana, Kal?" Tanya Oji.

"Gak apa - apa, aman." Jawab Kalandra.

"Semua buktinya udah aku kirim ke Komandan." Imbuh Kalandra kemudian.

"Alhamdulillah. Kirain kita bakal kena sanksi." Kata Oji yang merasa lega.

"Gak mungkin lah, lagi pula kita benar. Makanya, aku selalu bilang kalau dokumentasi itu penting. Selama ada bukti, semuanya pasti aman." Jawab Kalandra.

1
Ita Xiaomi
Kalandra kalimat terakhir tlg direvisi bs bikin emosi nih😁
Ita Xiaomi
Daddy berkelit aja tuh 🤣
Nurlaila Elahsb
fans ya😀di maklumi aja na😊
Dewi kunti
mengantar yaaa
Nuri 73749473729
ada2 aja kamu kal... lanjut💪
Esther
bagi coklatnya Naina, jangan dihabiskan sendiri nanti sakit gigi😄😂
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kal. bikin orang bete aja kata terakhir nya
Mulyani Asti
seru
Ita Rcwt
ga sabar ini nunggu lanjutannya😊
Nifatul Masruro Hikari Masaru
langsung dapat gelar mommy aja nih
Atik Kiswati
semoga langgeng sampe nikah ya....
Nuri 73749473729
lanjut thor💪
Dewi kunti
pacarnya boleh Nemu dihutan itu🤭🤭🤭🤭
Kristiana Subekti
semangat up nya thor 🥰
Faqisa Sakila
yg dsni happy2..
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wiiiih langsung gercep
Priyatin
mau .... ayo bang 🥰🥰🥰🥰
Priyatin
hah. ek kok aku yg kaget bang 😄😄😄
Atik Kiswati
lnjt..
Nuri 73749473729
nah tu na... mau dikenalin sama camer lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!