NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sang Pewaris dan Obsesi yang Meledak

Tanpa keraguan sedikit pun, Damian menghujamkan tanda tangannya di atas kertas kontrak dengan gerakan yang mantap dan tegas. Persetujuan yang tadinya alot dan penuh tekanan, seketika berubah menjadi kerja sama paling lancar dalam sejarah Nicholas Group. Bagi Damian, angka triliunan di dalam dokumen itu kini tidak lebih berharga daripada fakta bahwa ia baru saja menggenggam akses resmi ke kehidupan Selene.

Setelah dokumen diamankan, suasana tegang di ruangan itu mencair, setidaknya bagi Tuan Aldrich. Ia menghela napas lega dan mulai berbicara dengan nada yang lebih akrab kepada mitra bisnis barunya itu.

"Terima kasih, Tuan Nicholas. Saya yakin kerja sama ini akan membawa Roxxfe Corp ke level yang lebih tinggi," ucap Tuan Aldrich sambil tersenyum bangga, sesekali melirik ke arah Selene yang duduk dengan tenang di sampingnya.

"Sebut saja Damian, Tuan Aldrich. Kita adalah mitra sekarang," balas Damian, suaranya terdengar lebih ringan namun matanya tetap terkunci pada Selene yang sedang berpura-pura sibuk dengan tabletnya.

Aldrich terkekeh, merasa tersanjung. "Baiklah, Damian. Sebenarnya, Selene adalah alasan utama saya bekerja keras. Dia sedang saya persiapkan untuk menjadi penerus tunggal Roxxfe Corp. Dia cerdas, hanya saja..." Aldrich menggelengkan kepalanya perlahan, "dia punya jiwa yang terlalu bebas. Kadang ia menghilang selama beberapa hari, meninggalkan tumpukan berkas di mejanya hanya untuk tidur di panti asuhan dan mengurus anak-anak itu."

Mendengar itu, Damian menyandarkan punggungnya ke kursi. Setiap kata yang keluar dari mulut Aldrich seperti bensin yang menyiram api di dalam dadanya.

Gadis ini bukan sekadar bunga yang cantik, batin Damian. Dia adalah permata yang memiliki dunianya sendiri.

"Dia selalu bilang bahwa uang perusahaan tidak ada artinya jika tidak bisa memberi makan perut yang lapar," lanjut Aldrich. "Dia keras kepala, sangat mirip dengan mendiang ibunya."

Damian merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Obsesinya yang selama ini berupa rasa penasaran, kini meledak menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan mendalam. Ia mencintai fakta bahwa Selene adalah wanita yang memiliki kuasa namun tetap rendah hati. Ia mencintai fakta bahwa Selene bisa menjadi singa betina di ruang rapat dan menjadi malaikat di panti asuhan.

Dia sempurna, pikir Damian. Dia terlalu berharga untuk dibiarkan berkeliaran bebas. Aku harus memilikinya, mengurungnya dalam duniaku, dan memastikan hanya aku yang bisa melihat sisi lembut itu.

Damian melirik Selene, sebuah seringai tipis yang sarat akan kepemilikan muncul di wajahnya. "Seorang penerus yang memiliki empati... itu aset yang langka, Tuan Aldrich."

Aldrich tertawa santai lalu bersiap pamit untuk kembali ke perusahaan nya karena banyak dokumen yang harus di kerjakan.

Tuan Aldrich melangkah pergi dengan wajah berseri-seri, masih tidak menyadari percikan api yang hampir membakar seluruh ruangan itu. "Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya, Damian! Selene, jangan pulang terlalu malam dari panti," pesannya sebelum menghilang di balik lift bersama rombongan asistennya.

Selene baru saja hendak berbalik untuk menuju parkiran, namun dalam sepersekian detik, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangannya. Sebelum ia sempat berteriak, Damian sudah menariknya dengan paksa namun terkendali, menyeretnya masuk ke sebuah ruangan arsip di sudut lorong yang tidak terpakai.

Brak!

Damian menutup pintu kayu berat itu dan menguncinya. Ruangan itu seketika menjadi gelap, hanya menyisakan sedikit cahaya dari celah bawah pintu.

"Apa-apaan ini, Damian?!" desis Selene, suaranya tertahan namun penuh amarah. Ia mencoba melepaskan tangannya, tapi Damian justru menghimpit tubuhnya ke dinding, mengurungnya di antara kedua lengan kekar pria itu.

Aroma maskulin Damian yang bercampur dengan bau kertas tua memenuhi indra penciuman Selene. Napas pria itu terasa panas di dekat telinganya.

"Menghilang berhari-hari, Selene?" suara Damian merayap rendah, terdengar berbahaya di tengah kesunyian ruangan itu. "Tuan Aldrich bilang kau sering menghilang. Dan kau membiarkanku gila mencarimu ke seluruh pelosok kota hanya untuk menemukanmu duduk dengan tenang di kantor ayahmu sendiri?"

"Aku tidak memintamu mencariku!" balas Selene berani, meski jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang terlalu dekat. "Dan lepaskan aku, aku harus ke panti. Anak-anak menungguku."

"Anak-anak itu bisa menunggu," bisik Damian. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Selene. "Tapi aku tidak. Kesabaranku sudah habis saat aku melihatmu masuk ke ruang rapat tadi."

Plak!

Suara tamparan itu bergema di ruangan arsip yang sempit dan sunyi. Kepala Damian terparing ke samping karena kerasnya hantaman tangan Selene. Namun, alih-alih marah atau membalas, Damian justru tetap diam dalam posisi itu selama beberapa detik.

Perlahan, ia memutar wajahnya kembali menatap Selene. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Bagi pria lain, itu adalah penghinaan, tapi bagi Damian yang sudah kehilangan akal karena obsesi, rasa panas di pipinya terasa seperti belaian yang paling intim. Ia menyukai keberanian Selene—nyali yang tidak dimiliki wanita mana pun di dunia ini saat berhadapan dengannya.

"Kau juga pembohong besar, Damian," desis Selene dengan napas memburu. Matanya berkilat penuh kemarahan. "Asisten? Kau bilang kau hanya asisten yang bekerja keras, tapi ternyata kau adalah pemilik gedung ini. Kau adalah orang yang selama ini ditakuti semua orang!"

Damian melangkah maju satu inci lagi, membiarkan dadanya bersentuhan dengan dada Selene yang naik turun karena emosi. "Aku harus menjadi 'orang biasa' untuk bisa masuk ke duniamu yang bersih, Selene. Jika aku datang sebagai Damian Nicholas sejak awal, kau tidak akan pernah membiarkanku duduk di sampingmu di panti itu."

"Tentu saja tidak!" potong Selene tajam. "Apalagi setelah aku tahu betapa menjijikkannya caramu bekerja. Ayah Clarissa... pria itu mencoba merobohkan panti asuhan kami! Dia menjilat Nicholas Group, memohon bantuanmu agar proyek penggusuran itu lancar. Dan kau? Kau adalah pusat dari semua kehancuran itu!"

Wajah Damian berubah datar, namun matanya tetap mengunci Selene. "Ayah Clarissa adalah sampah yang tidak berguna. Dia memang memohon padaku, tapi apa kau pikir aku akan mengabulkan permintaan pria yang ingin merusak tempat favoritmu?"

Damian mengulurkan tangan, kali ini dengan gerakan yang lebih lembut, menyisipkan anak rambut Selene ke belakang telinganya.

"Aku membohongimu karena aku ingin kau melihatku sebagai pria, bukan sebagai CEO kejam yang ditakuti ayahmu atau musuh panti asuhanmu," bisik Damian dengan suara serak. "Dan mengenai panti itu... kau tidak perlu khawatir. Sekarang panti itu berada di bawah perlindungan Nicholas Group secara langsung. Bukan karena aku peduli pada anak-anak itu, tapi karena tempat itu adalah duniamu. Dan apa pun yang menjadi duniamu, akan menjadi wilayah kekuasaanku."

Selene mencibir, matanya memerah. "Kau egois. Kau menggunakan kekuasaanmu untuk mengendalikan segalanya, termasuk aku."

"Memang," jawab Damian jujur tanpa penyesalan sedikit pun. "Aku akan melakukan apa saja—berbohong, memanipulasi, bahkan menjadi asisten rendahan sekalipun—hanya untuk memastikan kau tidak bisa lari dariku."

Damian mendekatkan bibirnya ke telinga Selene, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Sekarang kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya. Tidak ada lagi sandiwara. Hanya ada aku, kau, dan kenyataan bahwa kau tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayangku, Liora Selene Aldrich."

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!