NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelang Topeng Rangda

Pukul 20.00 WITA.

Lokasi: Sebuah Resor Mewah Privat, Ubud, Bali.

Suasana pesta cokctail begitu mewah. Para tamu undangan memakai jas mahal dan gaun malam. Mereka bukan turis biasa; mereka adalah kolektor seni kelas kakap dari Rusia, Tiongkok, dan Eropa.

Di pojok ruangan, Dimas Pradipa berdiri memegang gelas jus jeruk (dia tidak minum alkohol). Dia memakai tuksedo hitam yang pas badan, rambutnya di sisir rapi, dan kacamatanya kini memiliki fitur augmented reality (AR) tersembunyi.

“Cek suara, Sar,” bisik Dimas pelan ke kerah jasnya.

“Jernih, Prof. Jangan kaku gitu dong, senyum dikit. Ada bule Rusia yang ngeliatin kamu tuh,” suara Sarah terdengar renyah di earpiece Dimas.

Sarah tidak ada di ruangan pesta. Dia berada di dalam mobil van pengintai di parkiran resor, dikelilingi layar monitor dan peralatan peretas (hacking) canggih.

“Gue nggak suka tempat ginian, Sar,” gumam Dimas. “Baunya aneh. Campuran parfum mahal sama… dupa mayat.”

“Fokus ke target,” instruksi Sarah. “Katalog Nomor 45. Topeng Rangda Berdarah.”

Dimas berjalan santai melewati kerumunan. Matanya memindai ruangan. Di atas panggung lelang, sebuah kotak kaca di tutupi kain beludru merah sedang disiapkan.

“Hadirin sekalian,” suara juru lelang terdengar. “Malam ini kita memiliki item istimewa. Ditemukan di sebuah pura terlarang di pedalaman Gianyar yang runtuh tahun 1965.”

Kain dibuka.

Di dalam kotak kaca, terdapat sebuah Topeng Rangda (Ratu Iblis Bali) yang lidahnya menjulur panjang. Rambutnya terbuat dari rambut mayat asli. Dan yang mengerikan: mata topeng itu seolah bergerak mengikuti arah penonton.

“Buka penawaran di 500.000 Dollar!”

Dimas menyipitkan mata. Dia mengaktifkan “Mata Batin”-nya (yang semakin tajam sejak pulang dari tahun 1357).

Dia melihat aura hitam pekat keluar dari topeng itu, membentuk tangan-tangan asap yang mencoba mencekik juru lelang.

“Sar, itu bukan topeng biasa,” bisik Dimas tegang. “Itu Wadah Sukma. Ada roh jahat yang dikurung disitu. Kalau segel kacanya dibuka atau pecah… satu gedung ini bakal kesurupan massal.”

“Oke. Rencana B,” kata Sarah. “Gue matikan listrik gedung dalam 3… 2… 1…”

PET!

Seluruh lampu resor mati total. Kegelapan menyelimuti ruangan. Para tamu berteriak panik.

“Sekarang, Dim!”

Dimas tidak panik. Dia memakai kacamata Night Vision-nya. Dengan gerakan gesit (hasil latihan fisik pasca-koma), dia melompati meja bar, berlari menuju panggung.

Di saat yang sama, dua penjaga keamanan (berbadan besar, tentara bayaran) menghadang.

“Minggir,” kata Dimas tenang.

Penjaga pertama memukul. Dimas menunduk, lalu memukul ulu hati penjaga itu dengan teknik totok saraf yang dia pelajari dari kitab kuno Majapahit. Penjaga itu ambruk sesak napas.

Penjaga kedua menarik pistol.

DOR! (Suara tembakan peredam).

Pistol penjaga itu terlempar.

Dari arah balkon atas, Sarah (yang ternyata sudah menyusup masuk) turun menggunakan tali rappelling. Dia memegang pistol bius. Dia memakai catsuit taktis hitam.

“Telat, Nyonya Professor,” ledek Dimas sambil menyambar kotak kaca berisi Topeng Rangda.

“Macet di ventilasi,” jawab Sarah santai sambil menembak bius satu penjaga lagi. “Ayo cabut!”

Mereka berlari menuju pintu belakang dapur.

Namun, disana sudah menunggu seorang pria bule tinggi besar dengan setelan jas putih. Dia memegang tongkat jalan yang ujungnya berbentuk tengkorak perak.

Mr. Vaan (Pemimpin Sindikat Kolektor Asia Tenggara).

“Ah, Profesor Dimas dan Dokter Sarah, “ sapa Mr. Vaan dengan logat Inggris yang kental. “Si Bonnie dan Clyde dunia arkeologi. Serahkan topeng itu.”

“Nggak bisa, Om,” jawab Dimas sambil memeluk kota kaca itu. “Barang ini ilegal. Dan berbahaya.”

“Bahaya adalah bisnisku,” Mr. Vaan menghentakkan tongkatnya ke lantai.

BLAR!

Gelombang energi ungu terpancar dari tongkat itu. Dimas dan Sarah terpental menabrak dinding dapur.

“Sihir Eropa?” Dimas meringis, memegangi pinggangnya. “Kuno banget.”

“Tapi efektif,” Mr. Vaan mendekat. “Kalian pikir kalian satu-satunya yang mengerti dunia gaib? Ordo Kala mungkin sudah hancur, tapi ilmu hitam itu universal.”

Mr. Vaan mengangkat tongkatnya, siap melepaskan serangan mematikan.

“Sar, Garami dia!” Teriak Dimas.

Sarah merogoh saku taktisnya, melemparkan sebuah bola kecil seukuran bola pingpong.

PYAR!

Bola itu pecah di kaki Mr. Vaan. Isinya bukan asap, melainkan debu putih halus. Garam Laut Mati yang sudah didoakan.

Mr. Vaan berteriak kesakitan saat kulit kakinya melepuh terkena garam suci itu. Konsentrasinya buyar.

“Lari!”

Dimas dan Sarah melompat keluar jendela dapur, mendarat di atas tumpukan karung sampah, lalu berlari menuju perahu speedboat yang sudah mereka siapkan di dermaga sungai Ayung.

Diatas Speedboat. Pukul 21.00 WITA.

Mesin speedboat menderu membelah sungai malam. Sarah mengemudi dengan liar, menghindari tembakan dari anak buah Mr. Vaan yang mengejar dengan jetski.

“Dimas! Segel topengnya retak!” Teriak Sarah.

Dimas melihat kotak kaca di pangkuannya. Ada retakan kecil. Asap hitam mulai merembes keluar.

“Sial! Rohnya mau keluar!”

Dimas membuka tasnya. Dia mengeluarkan Kain Batik Tulis dengan motif khusus (Rajah Penolak Bala) dan sebotol Minyak Misik.

Di tengah guncangan speedboat yang melaju 80 km/jam, Dimas harus melakukan ritual penyegelan darurat.

“Fokus, Dim… Fokus,” gumam Dimas.

Dia meneteskan minyak ke retakan kaca, lalu membungkus kotak itu dengan kain batik sambil merapal mantra Jawa Kuno yang dia ingat dari masa lalunya sebagai Dipa.

“Siapapun yang ada di dalam… tidur! Belum waktunya bangun!”

Asap hitam itu menjerit—suara jeritan wanita tua yang melengking—lalu tersedot kembali masuk ke dalam topeng. Kotak itu berhenti bergetar.

“Berhasil?” Tanya Sarah, napasnya ngos-ngosan.

“Berhasil. Sementara,” Dimas menyeka keringat dingin di dahinya. “Kita harus bawa ini ke Pura Besakih besok pagi buat disucikan sama Pendeta Tinggi.”

Sarah tertawa lega. Dia memelankan laju speedboat saat mereka sudah aman di laut lepas.

“Kerja bagus, Prof.”

“Kerja bagus juga, Bu Dok.”

Mereka berdua duduk bersandar, menatap langit Bali yang penuh bintang.

“Omong-omong,” kata Sarah sambil membetulkan rambutnya yang berantakan. “Tadi Mas Arya nelpon.”

Dimas menoleh. “Oh ya? Kakang bilang apa?”

“Dia nanya, ‘Kalian lagi di mana? Kok Bumi bilang dia liat berita ada di Resor Bali mati lampu mendadak’?”

Dimas tertawa. “Terus kamu jawab apa?”

“Aku bilang kita lagi honeymoon kedua. Biar dia nggak rewel,” Sarah mengedipkan mata.

Dimas menggeleng-gelengkan kepala.

“Bagus. Biarin Sang Panglima tidur nyenyak. Biar urusan hantu-hantu modern ini jadi bagian kita.”

Dimas menatap Topeng Rangda yang sudah terbungkus rapi.

“Satu artefak diamankan. Masih ada ratusan lagi di luar sana, Sar.”

“Siap lanjut ke petualangan berikutnya?” Tanya Sarah.

Dimas membetulkan letak kacamatanya. Senyum petualangnya mengembang.

“Selalu siap. Destinasi selanjutnya: Hutan Kalimantan. Ada rumor soal Kota Gaib yang muncul di citra satelit Google Earth.”

“Saranjana?”

“Bingo.”

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!