NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Malam itu kamar Quinn berantakan oleh buku dan lembaran PR.

Siswi kelas sebelas itu duduk bersila di lantai, rambut panjangnya diikat asal, alisnya berkerut tajam menatap soal ekonomi.

“Kenapa sih perusahaan harus rugi segala? Hidup gue aja udah cukup ribet.” gerutunya sambil mencoret jawaban.

Ia melempar pulpen ke meja.

“Udah latihan capek, disuruh mikir lagi. Nggak ada jeda hidup gue.”

Dengan kesal, Quinn berdiri dan berjalan keluar kamar untuk ambil minum. Saat melewati ruang keluarga, suara Selena—ibunya menghentikannya.

“Ra, sini dulu.”

Nada itu beda. Lebih serius.

Quinn melirik Armand—ayahnya yang juga duduk di sofa. Wajah keduanya terlihat tegang tapi lembut.

“Ada apa?” tanyanya, masih setengah kesal karena PR.

Armand menarik napas pelan.

“Kita harus pindah lagi ke Jakarta.”

Langkah Quinn terhenti.

“…Apa?”

“Usaha keluarga lagi ada masalah. Papa harus turun langsung ngurus di pusat. Kita nggak bisa LDR keluarga lagi.”

Quinn menggeleng pelan, seolah menolak kalimat itu masuk ke kepalanya.

“Pindah? Sekarang? Pa, aku baru nyaman di Bandung. Sekolah, tim dance, Finka…”

Ia terdiam sebentar.

“…Darren.”

Selena menggenggam tangannya.

“Mama tahu ini berat. Tapi ini bukan pilihan yang bisa kita abaikan. Keluarga lagi butuh kita.”

Quinn menatap lantai. Dadanya terasa sesak.

“Aku capek pindah-pindah,” katanya pelan. “Aku baru ngerasa punya tempat di sini.”

Armand bersuara lembut,

“Tempat itu bisa kamu bangun lagi, Ra. Kamu kuat.”

Hening cukup lama.

Quinn memang keras kepala, tapi ia juga paham arti keluarga.

“Kapan pindahnya?”

“Minggu depan.”

Cepat sekali.

Quinn mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk pelan.

“Ya udah. Kalau itu buat keluarga… aku ikut.”

Selena tersenyum lega dan memeluknya. Armand mengusap kepalanya pelan.

Quinn kembali ke kamar dengan langkah berat. Ia menjatuhkan diri ke kasur.

“Jakarta lagi…” gumamnya pelan.

Tiba-tiba—

Ponselnya berdering.

Finka is calling...

Quinn mengangkat dengan nada lesu.

“Apaan, Fin?”

Suara Finka langsung meledak heboh.

“QUINN! LO DI RUMAH?!”

“Iya. Kenapa sih teriak-teriak?”

“Dateng ke Vanta Club sekarang!”

Quinn langsung bangkit sedikit.

“Hah? Malam-malam gini? Buat apa?”

“Pokoknya penting!”

“Gue lagi nggak mood, Fin. Besok aja.”

“NGGAK BISA!” Finka terdengar hampir dramatis. “Please dateng, Quinn. Ini tentang masa depan lo.”

Quinn mengerutkan kening.

“Masa depan apaan? Lo habis nonton motivator TikTok ya?”

“Serius gue! Ini nggak bisa dijelasin lewat telepon. Lo harus dateng sendiri!”

Quinn mendesah panjang.

“Males ah. Gue beneran lagi nggak mood, Fin.”

“Buruan dateng ke sini, Quinn! Percaya sama gue!”

Quinn terdiam. Finka jarang terdengar seserius itu.

“Ini nggak ada hubungannya sama Darren kan?” tanya Quinn curiga.

“Dateng aja dulu!” Finka menghindar. “Kalau lo nggak dateng, lo bakal nyesel.”

Quinn memijat pelipisnya.

“Lo tau nggak sih gue capek?”

“Tahu. Tapi ini penting banget. Please, Quinn. Gue nggak bakal maksa kalau nggak urgent.”

Hening beberapa detik.

Quinn akhirnya bangkit dari kasur.

“Ya udah. Gue dateng.”

“YES! Gue tunggu! Cepet ya!”

Telepon terputus.

Quinn menatap layar ponselnya dengan kesal campur bingung.

“Ini anak kalau nggak penting, gue jitak.”

Meski hatinya sedang berat karena kabar pindah ke Jakarta, ia tetap mengambil jaket dan tas kecilnya.

Ia keluar kamar, menuruni tangga.

“Mau ke mana?” tanya Selena dari ruang keluarga.

“Ketemu Finka bentar. Penting katanya.”

Selena mengangguk.

“Jangan pulang terlalu malam.”

“Iya, Ma.”

Quinn melangkah keluar rumah, lalu masuk ke dalam taksi online yang sudah dipesan sebelumnya. Udara Bandung malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Sopir taksi tersebut segera melajukan mobilnya setelah Quinn menyebutkan tujuannya.

...----------------...

Lampu Vanta Club berkelap-kelip liar, musik menghentak keras memenuhi ruangan. Quinn baru saja saja tiba di sana lima menit yang lalu. Kemudian ia masuk dengan wajah sudah siap marah.

Ia langsung menemukan Finka di dekat bar.

“Apa sih penting banget sampe—”

“Nanti aja ngomelnya,” potong Finka cepat. Wajahnya tegang tapi penuh drama. “Noh… lihat tuh.”

Quinn mengikuti arah telunjuk Finka.

Dan dunia seperti berhenti.

Di sudut VIP, Darren—pacarnya—sedang mencium bibir Mega—rivalnya. Dengan tangan Darren melingkar di pinggang cewek itu.

Detik berikutnya, darah Quinn mendidih.

“Mak lampir sialan.” desisnya pelan, tapi nadanya bergetar penuh amarah.

Tanpa pikir panjang, ia melangkah cepat, hampir berlari. Orang-orang yang melihat langsung minggir.

“DARREN!” teriaknya.

Darren terlonjak kaget dan langsung melepas Mega. Tapi terlambat.

Quinn langsung menarik rambut Mega kuat-kuat.

“LO GILA YA?!” bentaknya, matanya menyala seperti singa betina yang wilayahnya diganggu. "DARREN ITU COWOK GUE! KEGATELAN BANGET LO!"

Mega menjerit.

“Lepasin, gila lo!”

Tapi Mega juga bukan tipe yang diam. Ia balas menjambak rambut Quinn. Keduanya saling tarik, hampir kehilangan keseimbangan.

Orang-orang mulai berteriak heboh.

Mega menyeringai sinis meski rambutnya ditarik.

“Darren suka sama gue karena gue bisa kasih yang nggak bisa lo kasih.”

Kalimat itu seperti bensin disiram ke api.

Quinn makin kalap.

“CEWEK ANJING LO! Sini lo!”

Ia mendorong Mega hingga hampir jatuh, lalu kembali menarik rambutnya. Rambut Mega sudah acak-acakan seperti singa habis badai.

Finka bukannya misahin. Malah makin ngomporin. Sahabat stress emang.

“Gas, Quinn! Jangan biarin dia lolos!” teriaknya semangat 45. “Jambak yang kuat! Itu hair extension mahal tuh!”

Darren panik setengah mati.

“WOY UDAH! SAYANG, STOP!”

Ia mencoba menarik bahu Quinn.

“Lepasin gue!” Quinn menepis tangan Darren keras.

Mega sudah mulai tercakar di lengan karena berusaha melawan.

“Darren! Ngapain lo cuma liat aja?!”

Darren akhirnya menarik tubuh Quinn dari belakang.

“Udah, sayang! Malu dilihatin orang!”

Quinn berhenti. Perlahan menoleh.

“Malu?” suaranya rendah dan tajam. “Lo yang selingkuh, gue yang bikin malu?”

Darren terdiam.

Tanpa ragu, Quinn menamparnya keras.

Plak!

Suara itu terdengar bahkan di tengah musik keras.

Darren terpaku.

Belum selesai, Quinn menendang keras ke arah bawah tubuh Darren, tepat pada aset masa depan pria malang itu.

DUG!

"AKHHH..."

Darren langsung membungkuk sambil meraung kesakitan memegangi junior kebanggaannya.

“Dasar cowok brengsek lo!” bentak Quinn dengan suara bergetar marah. “Kita putus.”

Suasana langsung hening beberapa detik.

Quinn berbalik pergi dengan langkah cepat, napasnya berat.

Finka menyusul, tapi sempat-sempatnya menendang pantat Darren kuat.

DUG!

"AKHHH..."

“Rasain!” katanya sengit.

Darren mengumpat kesakitan sambil mencoba berdiri.

“Anjir… sakit banget…”

Melihat Quinn menjauh, Darren panik.

“Sayang! Tunggu!”

Ia hendak mengejar, tapi Mega langsung memegang lengannya.

“Udah, Darren. Biarin aja. Dia emang temperamen. Kan masih ada gue di sini…”

Suaranya lembut, mencoba menenangkan.

Tapi Darren justru menarik lengannya kasar.

“Lepasin gue, sialan!” bentaknya.

Mega kaget.

“Lo pikir gue main-main? Gue cinta sama Quinn!” Darren berkata frustrasi. “Lo harus sadar posisi lo. Lo itu cuma jalang yang gue bayar buat muasin gue.”

Mega terdiam, wajahnya berubah kesal.

Darren tak peduli lagi. Ia langsung berlari keluar klub, mengejar Quinn.

Mega berdiri sendirian dengan rambut acak-acakan dan riasan sedikit luntur.

“Darren, brengsek!” umpatnya kesal.

...----------------...

Jalanan layang Jakarta malam itu berubah jadi arena.

Deretan motor sport berjejer, knalpot meraung, lampu depan menyorot aspal panjang yang akan jadi lintasan balap liar. Sorakan penonton menggema di antara gedung-gedung tinggi.

Ryuga duduk di atas motor sport hitamnya. Helm full-face terpasang, jaket kulit melekat pas di tubuh tinggi tegap itu. Tatapannya di balik visor gelap fokus lurus ke depan.

Di belakang garis penonton, terdengar bisik-bisik pelan yang berubah jadi desis kagum.

“Itu Ryuga, kan?”

“Iya… ketua RAVENIX.”

“Gila… tinggi banget. Auranya beda.”

“Aduh, dia kalau buka helm bikin jantung copot.”

Beberapa gadis saling sikut pelan, pura-pura nggak terlalu memperhatikan padahal mata mereka tak lepas dari sosoknya. Lampu jalan memantul di visor gelapnya, membuatnya terlihat makin misterius.

“Dia tuh kalau diem aja udah serem tapi keren…”

“Katanya dia nggak pernah kalah.”

“Dan nggak pernah pacaran.”

Kalimat terakhir itu bikin yang lain langsung heboh kecil.

“Serius?!”

“Iya, sombong banget katanya.”

“Sombong apanya… itu mah standar dewa.”

Sementara itu, Ryuga tetap tak bergerak. Tangannya menggenggam setang dengan tenang, seolah tak peduli pada sorakan, taruhan, atau bisikan kagum yang menyebut namanya.

Keano berdiri di sampingnya, teriak setengah tertawa.

“Ga! Kalau lo menang, hadiahnya duit 30 juta!”

Ryuga hanya mengangkat sedikit dagunya.

“Kalau kalah?”

Keano nyengir.

“Lo nggak pernah kalah.”

Zayden berdiri tak jauh, tangan di saku, tetap cool seperti biasa.

“Angin lumayan kencang. Tikungan kedua licin.”

Elric menambahkan datar,

“Jangan ambil jalur dalam terlalu cepat.”

Ryuga mengangguk tipis.

Naomi sejak tadi berdiri di samping Keano, wajahnya cemas tapi tak berhenti memperhatikan Ryuga. Akhirnya ia berjalan mendekat.

"Kamu hati-hati ya, Ga."

Ryuga meliriknya sekilas. "Hm."

Naomi menghela napas pelan, lalu kembali ke tempat semula.

Seorang gadis pengibar bendera berdiri di tengah.

Mesin meraung makin keras.

Satu…

Dua…

Tiga!

Bendera dikibaskan.

BRUMMM...

Motor melesat bersamaan, suara knalpot memekakkan telinga.

Ryuga langsung mengambil posisi kedua di awal, membiarkan satu pembalap di depannya memimpin di trek lurus pertama. Angin menghantam tubuhnya keras, tapi ia stabil.

Tikungan pertama.

Pembalap di depan terlalu agresif, hampir melebar. Ryuga memanfaatkan celah tipis di sisi dalam, memiringkan motor dengan presisi. Ban belakang sedikit bergesek, tapi ia tetap seimbang.

"WOOOOO..."

Sorakan pecah.

Keano teriak,

“Gas terus, Ga!”

Masuk trek lurus panjang. Speedometer melewati angka tinggi. Lampu kota berubah jadi garis cahaya samar di pinggir mata.

Satu lawan mencoba menyalip dari kanan. Ryuga menahan jalur, lalu mempercepat di detik terakhir sebelum tikungan kedua.

Tikungan kedua—yang tadi Zayden peringatkan.

Aspal sedikit lembap.

Ryuga mengurangi kecepatan sepersekian detik lebih cepat dari yang lain. Pembalap di belakang terlalu memaksa, motornya sedikit oleng.

Itu celahnya.

Ryuga keluar tikungan lebih bersih dan langsung memimpin.

Sisa lintasan tinggal lurus panjang menuju garis akhir.

Mesinnya meraung dalam. Angin seperti mencoba menariknya mundur, tapi tubuhnya condong rendah, fokus.

Garis finish semakin dekat.

Satu motor masih mencoba mengejar di kiri.

Ryuga memutar gas penuh.

Dan—

BRUMMM...

Ia melintas duluan.

"WOOOO..."

Sorakan meledak.

Keano melonjak kegirangan.

“ASEEKKK! GUE BILANG JUGA APA! 30 JUTA, BRO!”

Zayden tersenyum tipis.

“Clean race.”

Elric mengangguk.

“Kontrol Ryuga rapi.”

Naomi terlihat lega, senyumnya lembut saat Ryuga melepas helmnya.

Keringat membasahi pelipisnya, tapi ekspresinya tetap datar.

Keano menepuk bahunya keras.

“Party! Kita party! Klub biasa, full team!”

Beberapa anak RAVENIX lain ikut bersorak.

Ryuga turun dari motor, melepas sarung tangan. Tanpa banyak bicara, ia justru kembali menaiki motornya.

Zayden mengernyit.

“Mau ke mana lo?”

“Pulang.”

Keano langsung protes.

“Kok pulang? Kita mau party ke klub biasa. Nggak asik lah kalau ketua kabur!”

Elric menatapnya tajam.

“Lo jarang banget ikut.”

Ryuga memasang helmnya lagi.

“Lagi nggak mood.”

Keano mengangkat tangan frustrasi.

“Anjir, menang 30 juta tapi mukanya kayak habis kalah cinta.”

Naomi melangkah mendekat pelan.

“Ryuga… jangan pulang dulu.” Suaranya lembut. “Sekali-sekali santai bareng kita. Semua nunggu kamu lo...”

Ryuga menatapnya sebentar. Tatapannya tidak kasar, tapi juga tak memberi harapan.

“Kalian aja.”

Naomi menelan kecewa.

“Tapi—”

Mesin motor sudah menyala lagi.

Zayden menghela napas.

“Ya udah. Hati-hati.”

Keano masih berteriak,

“Ga! Duitnya jangan lupa ditransfer dulu minimal!”

Ryuga tak menjawab, hanya mengangkat jempolnya, tanda setuju, membuat Keano bersorak kegirangan.

Motor sport hitam itu melesat pergi, meninggalkan sorakan dan lampu-lampu kota di belakangnya.

Naomi berdiri diam, menatap arah kepergian Ryuga sampai lampu motornya hilang di tikungan.

Keano mendekat pelan.

“Dia kenapa sih akhir-akhir ini?”

Zayden meliriknya malas,

“Jangan tanya gue.”

Keano jadi ingin mengumpat melihatnya.

Elric menatap kosong ke jalan yang sudah sepi.

"Cabut." ucapnya datar, lalu melangkah pergi lebih dulu, diikuti yang lainnya.

Naomi menunduk, menggenggam tangannya pelan.

Di tengah kemenangan dan sorakan, hati Ryuga tetap terasa jauh—

seolah ada sesuatu yang lebih ia kejar daripada uang, kemenangan, atau pesta malam.

...----------------...

Mobil Finka berhenti tepat di depan rumah Quinn pukul 10 malam. Mesin sudah mati, tapi keduanya masih duduk diam di dalam mobil.

Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan ke wajah Quinn yang terlihat lelah… tapi tidak rapuh.

Ia menatap lurus ke depan. Tidak ada air mata.

Finka meliriknya dari samping.

“Quinn, lo oke? Kalau mau nangis nggak apa-apa. Gue janji nggak bakal ngeledekin lo.”

Quinn tersenyum miring, khas.

“Lebay lo. Tenang aja. Gue nggak apa-apa.”

Ia menyandarkan kepala ke jok. “Sebenernya udah lama gue mau putusin Darren.”

Finka langsung menoleh cepat.

“Hah? Serius lo? Kenapa?”

Quinn mengangkat bahu ringan.

“Gue nggak ada rasa sama dia.”

Finka makin mendekat, kepo maksimal.

“Terus kenapa pacaran?”

Quinn menghela napas tipis.

“Gue nggak tega. Dia ngejar gue terus. Nolak berkali-kali, tetap nggak nyerah. Ya udah… gue kasih kesempatan.”

Finka mengangguk pelan, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Tapi kok tadi lo kelihatan marah banget sama Mega?”

Quinn terkekeh kecil, tapi matanya tajam.

“Mau gimana pun Darren kan cowok gue. Ya gue nggak terimalah dia selingkuh sama Mega yang jelas standarnya di bawah gue.”

Ia mendengus pelan. “Itu sama aja Darren ngehina gue.”

Finka menganga, tak percaya, lalu mendengus sinis.

“Sialan lo.”

Quinn tertawa lepas untuk pertama kalinya malam itu. Tawa yang terdengar ringan… tapi tak sepenuhnya tulus.

Tiba-tiba tawanya mereda.

Ia terdiam.

“Lagi pula… gue udah cinta sama orang lain.” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Finka mengernyit.

“Hah? Lo bilang apa?”

Quinn tersentak, lalu menggeleng cepat.

“Nggak papa. Halusinasi abis drama tadi.”

Finka menatapnya curiga beberapa detik, tapi akhirnya menghela napas.

“Ya udah. Masuk sana. Jangan kepikiran. Besok kita bahas lagi.”

Quinn turun dari mobil.

“Thanks ya, Fin.”

Finka melambaikan tangan lalu pergi.

Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Quinn masuk ke kamar tanpa menyalakan lampu utama. Hanya lampu meja belajar yang ia hidupkan, menciptakan cahaya hangat yang redup.

Ia menghela napas panjang.

Langkahnya pelan menuju meja belajar. Ia membuka laci paling bawah… dan mengambil sebuah boneka mini cowok kecil dengan jaket hitam.

Boneka itu sudah sedikit usang, tapi masih terawat.

Pemberian seseorang.

Ryuga.

Teman SMP-nya dulu.

Quinn duduk di kursi, menatap boneka itu lama. Jemarinya mengusap kepala kecil boneka tersebut.

Tiba-tiba ingatannya kembali ke 3 tahun lalu.

Ruang kelas masih sepi. Hanya ada suara kipas angin tua berputar pelan dan lembaran kertas yang dibalik.

Quinn dan Ryuga duduk berdampingan mengenakan seragam SMP yang sama. Buku latihan terbuka lebar di meja mereka.

Quinn terlihat serius… selama lima detik.

Setelah itu, fokusnya buyar lagi.

Ia menatap wajah Ryuga yang sedang menjelaskan rumus dengan tenang. Alisnya rapi, ekspresinya serius, dan caranya bicara selalu pelan tapi tegas.

Quinn tersenyum lebar. Centil. Manja. Menggemaskan.

Ryuga yang awalnya sibuk menulis jawaban akhirnya sadar sedang diperhatikan.

“Vierra…” tegurnya lembut tanpa menoleh dulu.

Saat Quinn masih belum menjawab, ia melirik. “Fokus.”

Quinn malah cengengesan.

“Abisnya kamu ganteng banget, Ga. Otak aku jadi nggak sinkron.”

Ryuga langsung memalingkan wajah, menahan senyum yang hampir lolos. Ia berdehem, mencoba tetap cool. Lalu menatap Quinn datar.

Pelan, ia mengetuk kening Quinn dengan ujung pulpen.

Tuk.

“Isshhh!” Quinn meringis, mengusap keningnya.

“Sakit tau!”

“Jangan bercanda. Sebentar lagi ujian.” kata Ryuga tenang, tapi sudut bibirnya nyaris terangkat.

Quinn kembali menatap buku, pura-pura serius.

“Iya, iya. Kalau aku dapat nilai bagus ada hadiah nggak?”

Ryuga menghela napas tipis.

“Hm. Kamu mau hadiah apa?”

Quinn memiringkan kepala, tatapannya centil banget.

“Cium kamu boleh?” godanya pelan. “Kayak gini.”

Dan sebelum Ryuga sempat mencerna kata-katanya—

CUP

Quinn mengecup cepat pipinya.

Ryuga membeku.

Benar-benar membeku.

Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. Tangannya yang memegang pulpen berhenti di udara.

Quinn tertawa kecil melihat reaksinya.

“Eh, kok diem? Error ya sistemnya?”

Ryuga akhirnya menoleh, menatapnya dengan wajah yang berusaha tetap datar… tapi jelas gagal total.

“Kamu ini…” gumamnya pelan.

Quinn hanya tersenyum puas.

Momen kecil yang sederhana. Tapi hangat.

Kembali ke masa sekarang

Quinn masih duduk di kursi belajarnya, boneka mini itu di tangannya.

Senyumnya muncul tanpa sadar saat mengingat wajah Ryuga yang merah padam waktu itu.

“Lucu banget…” gumamnya pelan.

Tapi sedetik kemudian, ekspresinya berubah.

Ia mengerutkan kening.

Kesal.

Tanpa pikir panjang, ia melempar boneka itu kembali ke dalam laci dan menutupnya rapat.

“Ngapain sih aku malah mikirin dia.”

Ia berdiri, berjalan ke tempat tidur dengan langkah cepat.

“Inget, Quinn… dia cuma cowok brengsek. Jangan diinget terus.”

Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Lampu kamar dimatikan.

Quinn merebahkan diri, menatap langit-langit gelap.

Dan meski matanya terpejam—

kenangan itu tetap muncul, membuat hatinya semakin berantakan.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!