satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja
Setelah makan mereka berdua ke mall Ramayana, karena di sana bajunya lumayan bermerk cukup kalau hanya untuk dipakai kuliah,
" Eh, Had, keliling keliling yuk, kita cari kamar kost " Ucap Satria saat mereka selesai belanja
" Kamar kost?, buat siapa?" Tanya Hadi heran
"Buat gw," Jawab Satria singkat
" Tunggu tunggu, buat loe, kan loe ada rumah?" Tanyanya lagi heran. Satria menghela napas panjang
" Rumah yang gw tempatin rumah kakek Pandu, dan kemaren adiknya datang dan mengambil alih, aku harus pergi dalam tiga hari," lanjut Satria pelan, matanya menatap lantai keramik yang sudah mulai kusam, seakan mencari jawaban di sana.
Hadi terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Ia tidak menyangka bahwa keluarga kakek Pandu akan bertindak secepat itu dan sekeras itu terhadap Satria yang sudah merawat kakek Pandu sampai akhir hayatnya.
"Gila ! Padahal selama kakek Pandu hidup, mereka nggak pernah kelihatan batang hidungnya. Sekarang kakek Pandu udah nggak ada, baru mereka datang mau ambil untung," gerutu Hadi, emosinya meledak mendengar cerita Satria. Ia merasa tidak terima melihat sahabatnya yang begitu baik harus diperlakukan seperti itu.
Satria hanya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Sudah lah, Had. gw nggak mau mempermasalahkannya. Lagipula, rumah ini memang milik kakek Pandu, dan sebagai adiknya, kakek Darto pasti punya hak atas itu. Aku sudah bersyukur banget bisa dirawat sama kakek Pandu selama ini. Dia sudah kasih aku kasih sayang yang nggak bisa dihitung dengan uang atau harta. Itu sudah lebih dari cukup buat aku." ucap nya sambil tersenyum
Hadi menatap Satria dengan tatapan kagum. Meski usianya masih muda, pemikiran Satria jauh lebih dewasa daripada orang-orang seusianya. Ia bisa menerima keadaan yang pahit dengan hati yang lapang, tanpa rasa dendam sedikit pun
" Aih loe ini ya... kadang gw heran sama loe. Orang lain pasti bakal marah atau protes kalau ada di posisi loe, tapi loe malah bisa senyum dan bersyukur."
"Ngapain marah, Had? Marah juga nggak bakal mengubah keadaan. Lagipula, aku yakin Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik buat aku ke depannya," jawab Satria tenang.
Awalnya Satria dan Hadi akan berkeliling di sekitar Kedaton, berniat mencari kamar kos untuk tempat tinggal sementara. Namun di tengah perjalanan pulang, telepon di saku celananya tiba-tiba bergetar.
Satria mengeluarkan ponselnya dan melihat nomor tak dikenal tertera di layar.
“ Assalamu'alaikum maaf dengan Siapa ?” Satria mengucap salam dengan sopan
“Hallo?”
“Selamat siang, apakah ini Saudara Satria?” suara seorang wanita terdengar dari seberang.
“Iya benar, saya sendiri.” jawab satria
“Saya dari kantor PTP Nusantara. Kami menerima surat lamaran kerja Anda kemarin.”
Satria langsung berdiri tegak. Hadi yang melihat perubahan ekspresi sahabatnya ikut memperhatikan.
“Iya mbak, benar saya yang melamar,” jawab Satria agak gugup.
“Kami ingin memberitahukan bahwa Anda diterima bekerja di bagian pemeliharaan kebun di Desa Munjuk Sempurna. Anda diminta datang secepatnya untuk melapor kepada mandor kebun.”
Satria terdiam beberapa detik.
Diterima?
Ia menatap Hadi dengan mata melebar.
“Mas? Mas masih di sana?” suara di telepon kembali memanggil. karena Satria terdiam cukup lama
“Iya mbak! Saya di sini,” jawab Satria cepat.
“Kalau begitu silakan datang besok atau paling lambat dua hari lagi.”ucapnya memberitahukan
“Baik mbak, terima kasih banyak.”
Telepon pun terputus.
Beberapa detik Satria masih berdiri mematung.
“Sat… kenapa?” tanya Hadi penasaran.
Perlahan wajah Satria berubah cerah.
“Gw diterima kerja, Di!”
“Serius loe?” Hadi berseru kaget.
“Iya! Di PTP yang kemaren kita kesana” sahut Satria
Hadi tertawa lebar lalu menepuk bahu Satria.
“Selamat Sat!” ucapnya senang sahabatnya di terima bekerja
Satria tersenyum lega. Semua kegelisahannya selama beberapa hari terakhir seperti terangkat dari dadanya.
“Berarti loe jadi pindah ke sana?” tanya Hadi.
Satria mengangguk.
“Iya. Kayaknya gw ga jadi nyari kos lagi.”
Hadi menghela napas.
“ tadinya gw berharap loe dapet kerja daerah sini” gumamnya sedih
Satria hanya tersenyum kecil.
“Namanya juga cari hidup.”
Sore itu Satria kembali ke rumah peninggalan Kakek Pandu. Ia duduk di teras sambil menatap halaman kecil yang selama ini menjadi tempatnya bermain sejak kecil.
Kenangan bersama Kakek Pandu terlintas satu per satu.
Ia teringat bagaimana kakeknya mengajarinya menanam cabai di pekarangan, memperbaiki pagar bambu, hingga sekadar duduk minum teh di sore hari.
Satria menghela napas panjang.
“Terima kasih, Kek,” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah dari luar.
Pak Sardi datang bersama beberapa warga.
“Nak Satria,” panggilnya.
Satria berdiri dan menyambut mereka.
“Iya paman.”
“ kamu sudah dapat tempat tinggal, kalau belum kamu bisa tinggal di rumah ku dulu?” ucap pak Sardi menawarkan tempat tinggal
Satria tersenyum.
" Terima kasih paman, kebetulan aku di terima kerja di perkebunan PTP dan mendapatkan mess disana " sahut Satria
" kamu diterima kerja, di PTP?" tanya Pak Sardi
“Iya paman. Besok saya berangkat ke Desa Munjuk Sempurna. saya di tempatkan di sana”
Beberapa warga yang tahu akan Desa Munjuk Sempurna mengernyitkan dahi
" Itu di kaki gunung Rajabasa?" tanya seorang warga memastikan
Satria mengangguk
" benar paman, di kaki Gunung Rajabasa" Satria membenarkan
" jauh bener" Sahut satu warga lagi
" tak apa paman, yang penting aku bisa bekerja dan menghasilkan uang yang halal" sahut Satria
“Bagus itu, nak. Kerja yang rajin.” Timpal pak Sardi salut
Tak lama kemudian seorang pria tua datang memasuki halaman.
Kakek Darto,adik kandung Kakek Pandu
Wajahnya terlihat datar saat memandang rumah itu.
Salah satu warga langsung berbisik pelan kepada temannya.
“Sekarang baru muncul.”
“Waktu Pandu hidup ga pernah kelihatan.”
Bisikan itu cukup jelas terdengar.
Beberapa warga memang kesal dengan sikap Kakek Darto yang tiba-tiba datang hanya untuk mengambil rumah peninggalan kakaknya.
Kakek Darto pura-pura tidak mendengar.
Ia menatap Satria.
“Kamu sudah siap pindah?”
Satria mengangguk tenang.
“Iya kek. Besok saya akan pergi.”
“Bagus. Rumah ini akan segera saya urus.”
Beberapa warga langsung mencemooh pelan.
“Warisan doang yang diingat.”
“Pas kakaknya sakit ga pernah datang.”
Pak Sardi sampai harus mengangkat tangan menenangkan warga.
“Sudah, sudah.”
Namun Satria sendiri tetap tenang.
Ia menatap rumah itu sekali lagi lalu berkata pelan.
“Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini selama ini.”
Ucapan itu justru membuat beberapa warga terdiam.
Satria benar-benar tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun.
Baginya, yang terpenting adalah kenangan bersama Kakek Pandu.
Keesokan paginya Satria sudah membereskan semua barangnya.
Tidak banyak yang ia bawa.
Hanya beberapa pakaian, buku lama, dan sedikit kenangan.
Gelang Candra Kirana yang kini menjadi tato emas masih melingkar di lengannya.
Ia merasakan energi hangat berdenyut pelan di dalam tubuhnya.
Namun ia belum berani mempelajari kekuatan itu lebih jauh.
Bruuum
bruuum
Di luar rumah terdengar suara mobil berhenti
Satria keluar rumah.
Hadi berdiri di samping mobilnya.
Di belakangnya terlihat seorang pemuda lain melambaikan tangan.
Bimo.
“Sat!” seru Bimo.
Satria tersenyum.
“Eh loe juga ikut?”
“Ya iyalah. Masa sahabat pindah kerja ga dianterin,” jawab Bimo.
Hadi membuka bagasi mobil.
“Ayo masukin barang loe.”
Satria memasukkan tasnya.
Tak lama kemudian Pak Sardi dan beberapa warga datang mengantar.
“Jaga diri baik-baik ya nak,” kata Pak Sardi.
“Iya paman.”
Seorang ibu bahkan memberikan bungkusan makanan.
“Ini buat bekal di jalan.”
Satria menerimanya dengan haru.
“Terima kasih bu.”
Beberapa warga masih melirik sinis ke arah Kakek Darto yang berdiri di teras rumah.
Namun Satria tetap menyalami lelaki tua itu.
“Terima kasih kek sudah mengizinkan saya tinggal di sini selama ini.”
Kakek Darto hanya mengangguk singkat.
Tak banyak bicara
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁